Like Yesterday [Chapter 1/2]

Cast :     Kim Taeyeon

Hwang Miyoung

Jung Sooyeon

Kwon Yuri

Nickhun

Lee Sunwoong (Tablo)
Genre : Romance, Drama, YURI

***

Like Yesterday – J

Fly – Epik High

Even In My Dream – G.O (MBLAQ)

She – DBSK

I Gave You – ShinHwa

Love Song – ShinHwa

Lie – BigBang

Not Over You – BoA

Distance – Boa

Mistake – SNSD

Tears – SNSD

I’m Not Alone – Kim Taeyeon

Fix You – ColdPlay

My Love Like A Star – Demi Lovato

Ordinary Day – Vanessa Carlton

Something About You – Chrystian

Because Of You – Keith Martin

—————————————————————————————————————–

Kau tidak perlu mengucapkan apa-apa lagi

Tapi jika kau menginginkan kembali bersamaku

Aku akan selalu menunggu

***

fall-leaves-cup-photo-wallpaper-1920x1080

Taeyeon POV

Percaya. Kehangatan yang sejak lama kunikmati dalam lingkup kisah cintaku, berusaha selalu terjaga keutuhannya, tak kusangka tembok kokoh itu hancur juga. Hanya karena satu kata yang ternyata sangat mematikan dalam hubungan kami. Kepercayaan. Benar adanya jika cinta memang tak sempurna tanpa rasa saling percaya. Dan ternyata aku juga yang akhirnya merasakan itu. Tertinggalkan, terabaikan, dan tersakiti. Itu lah aku yang sekarang ini. Aku bukan lagi wanita bahagia yang memiliki seorang malaikat manis disisiku. Malaikat yang setiap waktu selalu memberikan segalanya untukku. Aku patut menyesal dengan keadaan ini. Aku menyia-nyiakan cintanya yang sedemikian besar untukku. Sempat ada rasa cinta yang terabaikan dariku untuknya. Tapi ternyata aku bukanlah seorang yang bisa setia. Memberikan cinta seutuhnya untuk satu orang, hanya satu orang. Aku tak melakukan itu. Aku bermain perasaan dengannya. Lebih tepatnya aku mempermainkan perasaannya. Dan kali ini aku yang mendapat imbasnya.

Like yesterday. Aku ingin kembali ke hari-hari kemarin. Aku ingin memperbaiki segalanya. Aku ingin melupakan semuanya. Aku ingin menganggap semua ini tak pernah terjadi dihari-hariku yang sekarang. Merombak semua rangkaian hidupku, dimana aku hanya bisa mencintainya. Hanya dia seorang.

Besar kesalahanku padanya. Aku tau kini dia sangat jauh dariku. Aku tak tau dimana dirinya, aku tak tau bersama siapa dia sekarang. Jujur, aku sangat merindukannya. Aku takut untuk menghubunginya. Aku takut akan penolakan. Aku yakin penolakan itu akan memukulku kencang. Memang itu yang seharusnya aku terima. Hanya saja aku berharap kau tak mengatakan itu walau aku berbuat seperti ini.

Pantaskah aku jika kau sempat mencintaiku? Pantaskah aku jika aku mengharap kau kembali lagi disampingku? Aku tau kau tak akan bertanya, kenapa aku meninggalkanmu. Kerena aku tau, penghianat sepertiku tak akan pernah menggapai kebahagiaan. Aku gagal.

Menguap. Segalanya menguap seperti kopi panas dihadapanku saat ini. Lambat laun akan menjadi dingin. Dan akhirnya rasa sempurna dari kopi itu akan hilang. Hambar. Aku mengerti segalanya. Keadaan, dan takdir memang susah untuk ditentukan. Hanya tertebak dan mungkin juga tebakan itu lebih banyak meleset daripada mendekati tepat.

Aku bisa merasakan betapa beratnya menjadi dirimu. Aku hanya takut jika kisah cintaku kini berhenti dan tidak kembali lagi. Aku hanya bisa mengharap kau menengokku kembali dan melihat air mata ini. Air mata penyesalan karena menyia-nyiakan hari-harimu yang ternyata hanya kau gunakan untuk mencintai orang bodoh seperti diriku.

9 March. Hari ini. Aku hanya bisa menikmati hari jadiku yang ke 20 ini sendirian. Kunyalakan lilin yang tertancap kokoh diatas kue tart kecil dihadapanku. Mengucapkan sebuah permohonan yang sedari tadi hanya bisa kurutuki dalam hati kecilku. Alone.

 “happy birthday my lovely venus.” aku masih mengingatnya dengan pasti saat dia mengucapkan kalimat itu. Aku hanya mengulas senyum tipis menanggapi kejutan dipagi hari darinya. Saat itu aku tak bisa merasakan apa-apa. Aku buta akan cintanya yang begitu besar untukku.

Penyesalan selalu datang diakhir. Mengapa aku harus melakukan semua ini? Dan akhirnya aku lelah dengan segalanya. Karena ternyata memang aku tak cukup baik untukmu. Jadi, aku menjanjikan diriku sendiri, suatu saat nanti ketika bagian cinta kita kembali lagi, Tersenyum dan membiarkanmu pergi, berharap yang terbaik untukmu. Biarkan diriku disini selalu merasa bersalah. Tapi semua itu akan tetap menjadi memory terindah untukku.

“seperti inikah kim taeyeon yang kukenal? Huh! Menyedihkan.” Satu suara membangunkanku dari lamunan. Aku menengok kearah sang pemilik suara. Menatapnya sebentar, memperhatikan wajah mengejek yang kini terulas diwajahnya.

“oppa. Bisakah kau mengetuk pintu atau memencet bel sebelum masuk ke rumah orang?” aku kembali mengalihkan pandanganku. Kembali bersandar nyaman dikursi balkon yang sedari tadi menemaniku sendirian.

Baru beberapa detik aku memejamkan mata, sesuatu yang dingin menyentuh dahiku. “hanya ini yang bisa ku lakukan dihari ulang tahunmu.” Dia menempelkan sekaleng jus jeruk didahiku. Aku terdiam menatapnya. Dia adalah seorang sahabat terdekatku, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai seorang kakak. Setiap aku sedang bersedih, dia yang selalu berhasil mencairkan pikiranku.

“sunwoong oppa~”

“datanglahh. Aku tak akan menolakmu jika kau datang padaku disaat kau membutuhkan teman. Aku sudah menganggapmu seperti adik kecilku. Aku akan ikut bersedih jika melihatmu seperti ini.” Aku masih menatapnya, merasa tersentuh dengan apa yang baru saja dia ungkapkan. Ucapan tadi membuatku merasa sedikit tenang, karena masih ada sunwoong oppa yang tak pernah berhenti menghiburku.

Masih banayk orang yang sangat berharga disekitarku. Tapi entahlah… Aku masih merasa kurang sempuran dengan semua ini. Masih ada yang hilang. Masih ada banyak hal yang membuatku merasa seperti ini. Hanya karena dia, hal tersebut menjadi besar, dan ternyata memang membuatku selalu merasa tertekan. Semlua memang karena aku.

***

Hari ini aku dan sunwoong oppa bersama akan melihat drama musical. Tadi pagi tiba-tiba dia datang dengan teriakan – teriakan yang membuatku terbangun dari tidurku. Dan ternyata itu semua hanya karena dia ingin memerkan tiket yang berhasil dia beli.

“taeyeonn~ahhh. Cepat sedikit. Aku tak ingin duduk dibelakang dan hanya bisa melihatnya dari jauh.” Dia menarik tanganku, mempercepat langkahku yang ternyata sejak tadi aku sudah tertinggal langkah darinya. Dasar maniak girl group.

“aahhhhh! Woongie hyungg!” seseorang berteriak dari depan kami berdua. Soerang laki-laki dengan postur tinggi. Dia sedikit berlari menghampiri kami.

“khuniieee!” kini keduanya saling berteriak, dan tingkah mereka itu membuat banyak orang disekitar kami menengok kearah kami pastinya.

“yaaa!! Sudah kuduga kau pasti ada disini hyungnimm..” aku hanya bisa berdiri dan mendengar percakapan mereka.

“bahkan aku juga berpiran seperti itu. Kau sendirian?”

“aniii… aku bersama seseorang.” Kini mata lelaki itu mengarah padaku. Memandangku sejenak lalu tersenyum.

“akhirnya kau melepas status lajangmu hyungnimm..”

“she’s just my little sister. Taeyeon~ahh. Kukenalkan kau pada temanku.” Kini sunwoong oppa menarik tanganku. Reflect aku sedikit terkejut karena sedari tadi aku hanya mendengarkan dan melamun saja.

“a-annyeeoonng. Kim Taeyeon imnida.” Kupasang senyum termanis yang pernah aku miliki. Laki-laki dihadapanku kini membalas senyumku tak kalah lembut. Aku rasa dia bukan kelahiran korea. Wajahnya lebih condong kearah wajah barat. Aku akui laki-laki ini memang tampan.

“neeee kim taeyeon~shiii. Nickhun imnida.”

Satu bunyi ringtone membuat kami dia setelah beberapa menit mengobrol.

“ahhhh.. mianheee… arrraaa.. aku akan segera masuk… baguslahhh kalau kau sudah memesan tempat yang paling nyaman. Neee~”

“hyung, taeyeon~shii. Kita harus segera masuk, atau kita akan ketinggalan acara musicalnya.”

“ahhh iyaaa!” dengan cepat sunwoong oppa berubah dalam mode panik, Karena ternyata sudah lebih dari 10 menit kami mengobrol. Benar-benar pecinta girl band.

Kami mulai memasuki theater, nickhun oppa lebih dulu meninggalkan kami berdua karena dia harus mencari temannya yang sudah lebih dulu masuk kedalam. Dinginnya air con membuatku merapatkan jacket yang kukenakan. Duduk dan mulai menikmati musical ini. Bisa dibilang lumayan menghibur karena siapapun castnya, aku juga termasuk dalam penggila musical. Tak jauh berbeda dari sunwoong oppa, dan juga dia. Hwang miyoung. Andai saja aku masih bersamanya, kurasa kali ini aku akan duduk berdampingan dengannya disini.

1 jam lebih berlalu dan musical telah selesai. Kuregangkan seluruh ototku yang terasa pegal karena terlalu lama duduk.

“taeyeon~ahhhh… aku laparrrr..” laki-laki disebelahku kini mulai beraegyo. Aku menatapnya heran. Orang ini, sudah berumur tapi tetap saja bertingkah seperti anak-anak.

“yaa!! Kenapa kau melihatku seperti itu? Jangan sampai kau jatuh hati padaku! Huh!” jitakan ringan mendarat tikepalaku, membuatku reflect sedikit mengerang.

“oppaaa! Kau terlalu berharap. Aku bukan tipeku! Dan lagi-“

“hyuuuuunggnnimmmmm~” satu seruan membuatku tak melanjutkan kalimatku. Dengan cepat, aku dan sunwoong oppa menengok bersamaan kearah datangnya sumber suara. Nickhun oppa. Dannn

*deeeeegggggggg

Seketika satu sentakan dari dalam mengenaiku telak. Sosok gadis dihadapanku saat ini membuatku nyaris terjatuh jika sunwoong oppa tak menyangga pinggangku. Aku menutup mata seketika, pening kini menyerangku. Melahap seluruh kesadaranku. Rasanya aku tak ingin membuka mataku. Kurasakan tubuhku semakin melemas. Tak ada tenaga. Kenapa harus seperti ini tiba-tiba? Kenapa harus secepat ini aku kembali merasakan rasa sakit ini? Apa ini hanya visualku saja? Kalau iya, aku tak ingin ini menjadi nyata. Aku belum merasa siap dan pantas untuk menampakan wajahku dihadapannya. Aku masih takut untuk itu.

“Taeyeon~ahh. Gwenchaannaa?” kurasakan satu usapan lembut dipipiku. Aku masih tetap terpejam. Berusaha menyingkirkan rasa pening yang kini benar-benar menghajarku. Aku masih tak percaya, ini kenyataan atau hanya sebuah halusinasi belaka yang memang akhir-akhir ini sering muncul dalam mimpiku.

Aku mencoba terbangun dan membuka mata, menatap lurus kearah gadis yang kini berada dihadapanku. Dia tertunduk, kenapa? Aku hanya ingin memastikan dan berharap gadis itu bukan dirinya. Aku belum siap untuk menampakan diriku dihadapannya, aku akan terus merasa bersalah jika saat ini dia benar-benar hadir dihadapanku.

“hyung, taeyeon~shii. Perkenalkan. Dia kekasihku. Hwang miyoung.” Kekasih? Aku tersentak. Rasa tercekat ditenggorokanku datang tiba-tiba. Kelu. Aku ingin enyah dari sini, aku ingi berlari dan berteriak sekeras mungkin. Kurasakan dekapan sunwoong oppa mengerat. Ya. Dia tau segalanya, dia tau tentang kisah cintaku dengan gadis itu. Dia tau segalanya. Aku hanya bisa merasa lemas saat ini.

“ahhhh.. khunie, sepertinya kami harus buru-buru pulang. Kurasa dia sedang tak enak badan.” Ucap sunwoong oppa. Gomawooo oppaa. Kau benar-benar penyelamatku.

“ahhh,, jinnjjaaa? Taeyeon~shii, gwenchanaa?” aku mendongakkan kepalaku, sebentar menatap nickhun oppa dan mengangguk dan tersenyum tipis, kembali kutatap gadis itu, masih sama. Dia tetap tertuduk diam. Mianhee miyoung~ahh. Jongmal mianhe.

***

Kembali kurasakan kesepian, dan sepi. Malam yang cerah dengan purnama dan bintang-bintang yang membantu penerangan dibumi. Berbeda halnya disini. Dikamar ini. Begitu gelap. Aku hanya bisa menatap jendela kamarku yang tertutup. Memandang daun-daun yang terjatuh karena angin dari pohong didepan rumahku.

Kuraih sebuah buku dari meja kecil disamping tempat tidurku. Buku diary berwarna pink. Entah kenapa aku tak pernah bosan membaca dan sering sekali hanya memandang coretan-coretan sang pemilik diary ini. Kurasa hanya ini yang bisa kubuka saat aku sangat merindukannya. Dan ternyata setiap waktu aku selalu membukanya.

Flash Back

“miyoung~ahh.. hadiah untukmu!” taeyeon kecil berteriak kegirangan sambil berlari kearah tiffany.

Tiffany yang sedikit terkejut karena kedatangan taeyeon membelalakan matanya. Kedatangan taeyeon yang ternyata lebih cepat dari yang diperkirakan.

“taetae,, kenapa kau kembali secepat ini?”

“karena aku merindukanmu. Ini untukmu, dan ini untukku. Aku ingin kau mengisi segalanya yang kau rasakan diantara kita berdua didairy ini. Dan suatu saat nanti jika kita sudah besar, kita bisa saling menukar. Kau memegang punyaku, dan aku memegang punyamu.” Taeyeon kecil tersenyum menatap tiffany kecil. Mereka berdua masih terlihat sangat polos dan tentunya satu sama lain sudah memiliki rasa yang terpendam.

Diary itullah yang akhirnya menyatukan mereka saat mereka tumbuh dewasa.

End Flash Back

Hmmm… miyoung~ahh.. aku ingin mendengarkan lagu yang kau tulis didiary ini. Mendengarkan kata-kata cinta yang indah yang ada didalam lyricnya. Akan lebih mengesankan jika kau bisa menyanyikan lagu itu saat aku akan pergi tidur. Sepertinya sangat menyenangkan. Mimpi yang sangat indah bukan? Huh!

Setiap kali aku membaca diary ini, aku merasa sama dengan saat aku membaca novel cinta, dan aku bisa membayangkan kalau tokoh utamanya adalah aku dan dirinya. Aku sudah membacanya hingga selesai, dan hanya ada namaku dan juga dia.

Kututup kembali buku diary ini, dan kudekap dalam pelukanku. Membayangkan dirinya kini berada didepanku dan tersenyum lembut penuh dengan rasa kasih sayang seperti yang selalu dia peruntukan untukku dulu. Kembali aku harus merutuki diriki karena kembali aku terus merasa sangat bodoh. Aku yang melepaskan, dan aku sendiri yang saat ini menderita karena merindukan belaian cinta darinya. Kurasa ini tak adil untuknya. Jaid ini yang selama ini dia rasakan? Seperti inikah rasanya jika cinta itu bertepuk sebelah tangan. Ternyata benar-benar sangat menyiksa.

Kuraih handphoneku, kali ini  kuberanikan diri menghubunginya.

“yeoboseo” terdengar jawaban canggung dari seberang sana. Dia mengangkat. Tak menolakku?

“pany~ahh.. emmm~ kau tak keberatan jika kita bertemu sekarang?” ucapku sedikit tergagap. Jebal. Aku mohon miyoung~ahh..

Beberapa saat tak terdengar jawaban. “aku hanya ingin meminta maaf dan memulai kembali. Memperbaik hubungan kita.” Lanjutku.

Masih tak ada jawaban. Hanya suara nafas yang terdengar. “jeball. Kali ini saja. Aku tak akan mengganggumu lagi setelah ini.” Aku kembali memohon. Aku benar-benar berharap dia menerimanya. Setidaknya aku sangat ingin memperbaik hubungan ini. Aku tau jika aku memintanya kembali, itu akan percuma, dia tak akan kembali menerimaku. Aku tau ketakutannya. Dan lagi, khunie oppa sudah menjadi penggantiku. Dia berhak untuk bahagia.

“pany~ahh… arraseooo, aku tau kau masih tak akan mau berbicara denganku. Apapun jawabnmu, aku akan tetap menunggumu ditempat pertama kali kita bertemu. Aku tau kau masih mengingatnya. Tempat yang juga menjadi awal hubungan cinta kita. Gomawo karena masih mau menerima telfonku.” Aku memutuskan sambungan. Bergegas keluar kamarku, mengambil kunci mobil dan hoddieku.

***

30 menit berlalu. Dia belum juga datang. Udara dingin yang menerpa tak kuhiraukan. Aku masih tetap akan menunggunya. Menunggu hal yang tak pasti yang juga sia-sia. Tapi aku tetap yakin kalau dia akan datang. Entah darimana datangnya keyakinan itu, aku sendiri juga tak mengerti.

Aku menatap langit malam yang semakin mendung. Bintang yang mulai menghilang diganti dengan awan gelap yang mulai beriringan diatasku. Sepertinya aku tak menyadari sedari tadi kalau malam ini akan hujan.

Taman ini ternyata masih sama. Aku masih merasakan udara keindahan dimasa lalu, dimana aku dan dirinya sering menghabiskan waktu pulang sekolah kami ditempat ini. Membangun istana impian dengan pasir-pasir ini. Aku berjongkok diatas pasir-pasir yang dulu sering kami bangun menjadi istana. Aku rindu akan itu. Tanganku mulai beradu dengan pasir-pasir, membentuk bongkah demi bongkah menjadi bangunan istana kecil. Rintik air mulai berjatuhan dikulitku. Aku masih melanjutkan aktifitasku hingga akhirnya terbentuk sudah istana kecil ini. Aku tersenyum memandangnya. Kuraih handphoneku, dan kufoto. Masih kutatap hasil jepretan tadi. Kembali membayangkan masa laluku. Rintik air yang awalnya perlahan jatuh, kini semakin deras mengguyur. Mulai membasahi seluruh tubuhku.

“hujan.” Aku berucap pasrah. Kubaringkan tubuhku diatas pasir. Menatap bulir-bulir air yang dengan deras mengeroyokku. Kutatap jam dipergelangan tanganku. 50menit berlalu. Aku masih bersikokoh untuk tetap menunggunya. Taman ini tak terlalu jauh dengan rumahnya.

Aku mulai memejamkan mataku, sedikit nyeri saat air hujan yang deras jatuh tepat dimataku. Dan beberapa menit kemudian hujan berhenti. Benarkah? Aku masih mendengar derasnya air yang berjatuhan. Aku mencoba mengusap mataku dan mulai membukanya. Seorang gadis dengan payung berwarna pink berdiri tepat dihadapanku. Aku kembali mengusap mataku, mengurangi pandanganku yang kabur. Tiffany? Benarkah? Apa aku hanya bermimpi? Dia benar-benar datang.

“miyoung~ahhh..” aku terbangun dan terduduk saat benar-benar yakin kalau gadis yang ada dihadapanku ini adalah tiffany. Dia tak bergeming, menatapku lekat, ada tatapan kesedihan disana. Badanku yang semula sudah bergetar karena terguyur hujan, kini semakin menjadi dengan tatapan matanya yang tak biasa.

“bukan seperti ini caranya. Aku tau kau akan tetap menungguku, tapi aku tak ingin kau melakukan hal bodoh seperti ini.” Kali ini sikapnya membuatku kembali berfikir, kembali menuangkan segala penyesalanku dalam hati. Perlakuan sederhana yang membuatku masih merasa sangat bersalah. Dia menyelimutiku dengan hoddienya. Perhatiannya untukku masih sama. Seperti inikah cinta itu bekerja? Dan apakah selama ini aku harus memanggul gelar orang bodoh karena tak menyadari itu?

“mianhe miyoung~ahh.” Satu kata terucap dari mulutku dengan sangat bergetar. Kediaman dan kecanggungan tiba-tiba nampak diantara kami berdua, menyisakan suara rintik hujan yang semakin deras. Tak terasa airmataku mulai mengalir. Aku berharap dia tak akan melihat air mata ini. Air mata penyesalan yang sia-sia. Menyedihkan.

“a-aku menyesal untuk semuanya. Ya, aku menyesal karena mengkhianatimu.” Aku kembali berucap, masih tak kalah bergetar dengan sebelumnya. Bukan hanya bibirku yang kelu karena merasa sangat bodoh mengucapkan itu, tapi karena hati yang memaksa tubuhku untuk ikut merasakan getarannya. Kupaksa tatapanku untuk mengarah menghadapnya, rasanya berat untuk memperlihatkan air mataku dihadapannya. Dia hanya tertunduk. Seperti inikah sakitnya? Aku benci rasa sakit ini. Aku benci dengan apa yang kulakukan.

Masih diam, tak ada kata-kata yang terucap darinya. Aku tau ini akan terjadi, mudah untuk tertebak. Dia terlalu sakit menghadapi semua ini.

“mianhe. Aku seharusnya tak melakukan ini. Tak seharusnya aku yang saat ini sangat kau benci datang dihadapanmu, dan hanya bisa membuatmu semakin merasa tersakiti.” Aku menghela nafas sejenak, menghapus air mataku yang juga tak kunjung berhenti.

“miyoung~ahh. Aku ingin berusaha menerima segalanya. Aku akan menerima kebahagiaanmu sebagai kebahagiaanku juga, meskipun kau sekarang tak bersamaku. Ini hukuman untukku. Selama ini kau yang menanggung sakitnya, dan aku berharap kau bisa melepasnya, biarkan aku sendiri yang menanggunya. Sebagai ganti masa lalumu yang terbuang sia-sia hanya untukku. Gomawo, karena kau masih sudi menemuiku dan ini. Kukembalikan padamu. Perhatianmu selama ini akan kukenang.” Aku mengembalikan hoddienya yang sedari tadi menyelimutiku, mengurangi beban kedingananku. Aku beranjak berdiri, berjalan menjauh menuju mobilku.

Ini yang terakhir. Yang terakhir untuk bisa melihatnya. Aku akan terluka setelah ini. Sangat terluka. Aku terima itu. Kini hanya sendiri yang menjadi temanku. Cinta benar-benar akan menghilang dariku, menjauh sejauh mungkin, karena kurasa aku tak layak untuk mendapatkan cinta.

***

Tiffany POV

Kenapa aku harus melihatnya? Kenapa aku harus melihat air mata itu? Air mata yang sangat jarang aku lihat saat aku masih bersamanya. Dan lagi, kenapa aku harus kembali merasa terluka? Hanya dengan melihat air mata itu? Dia yang menyakitiku. Dia yang meninggalkanku. Dan dia juga yang tega mengkhianatiku. Kenapa aku harus tersakiti hanya dengan melihat air mata dan mendengar ucapan bodoh dari dirinya? Kenapa aku masih merasa ingin terus memperhatikannya? Kenapa ini terjadi? Kenapa masa laluku begitu tega mencabik-cabik habis kebahagiaanku? Sudah lebih dari 1 tahun. Tapi aku masih merasakan sakit yang mandalam? Karena cinta pertama? Atau karena aku yang terlalu bodoh, mudah sekali jatuh dalam penyiksaan batin oleh cinta.

Dia berjalan menjauh. Aku hanya bisa melihat punggungnya. Terlihat jelas, punggunya yang bergetar dari sini. Andai saja kau tau taeyeon~ahh. Sampai sekarang hanya dirimu yang selalu hadir disaatku bermimpi. Entah itu mimpi indah, dan juga mimpi burukku.

Aku berusaha mencari kebahagiaanku. Kebahagiaan yang kau katakana suram dimasa laluku. Ya, aku mendapatkan kebahagiaan itu sekarang. Tapi kenapa aku merasa kau masih menarikku kencang? Aku merasa kau masih berada dalam hidupku, walaupun aku sudah berusaha keras untuk mengusirnya jauh-jauh.

Memang benar, aku sangat membencimu. Aku merasa kalau rasa benciku padamu kini tak pernah akan padam. Aku tak ingin itu padam. Tapi mengapa kau harus seperti ini? Kenapa kau harus menangisi penyesalanmu sendiri? Kau membuatku sesak sesaat karena ucapanmu. Sekuat itukah rasa cintaku untukmu?

Andai saja aku bisa melihat masa depanku, aku tak ingin pernah menerimamu dalam kehidupanku. Malahan, aku tak ingin melihat, bahkan mengenalmu. Itu menyiksaku sekarang. Semakin menyiksa, meninggalkan scars yang sangat besar disini. Dilubuk hatiku yang terdalam. Aku bisa membayangkan, kini kau sangat kesepian. Dan seharusnya aku merasa sangat senang dengan itu. Aku ingin tertawa lepas karena kau merasakan apa yang dulu kau torehkan dalam dihatiku. Dan nyatanya, terbalik. Aku hanya merasa semakin sakit melihatmu sampai seperti ini. Penyesalanmu hanya udara kotor untukku. Yang seharusnya aku buang dan tak lagi aku hirup, semudah aku mengganti karbon dioksida dalam tubuhku menjadi oksigen segar.

Air hujan semakin mengguyurku. Berjatuhan sangat kencang dibalik paying yang kukenakan sebagai penghalang. Aku menatap bentukan-bentukan pasir yang mulai runtuh karena hujan dihadapanku. Ini mengingatkanku dimasa lalu, saat aku dan dirinya belum mengenal cinta. Masih sangat awam untuk merasakan hal itu.

Jika saja aku bisa berenkarnasi, aku ingin sekali menjadi pasir ini, supaya aku bisa menatapnya bahagia. Senyumnya yang tulus dan masih polos dimasa lalu. Senyuman terhangat yang ternyata lenyap saat aku dan dirimu semakin menyatu.

“kau bilang ini bahagia? Ini semakin menyakitiku jika kau tau.” Aku berucap tak kalah bergetar saat dia mengucapkan kata-katanya tadi. Aku sampai saat ini masih belajar untuk tetap berjuang dengan cinta yang saat ini aku jalin bersama nickhun oppa. Aku tak ingin mengecewakannya, aku menerimanya sebagai masa depanku. Aku ingin beranjak menjauh dari masa laluku. Berusaha menempatkan segalanya yang dulu aku terima saat masih bersama dirinya. Dia hanyalah kenangan indah yang mungkin bagiku susah untuk terabaikan, tapi aku tak bisa terus-terusan egois pada perasaanku. Aku takut jika nantinya aku akan mengorbankan banyak hati.

Sempat aku beranggapan, ‘what I’m supposed to do when I feel the best part of me is always you’ kata-kata itu terlalu sulit untuk aku lupakan. Bagaimana bias aku lakukan itu? Labil? It’s me. Tapi setidaknya aku akan tetap berusaha untuk sepenuhnya mencintai kekasihku saat ini. Mencintainya seperti saat aku mencintai masalaluku, atau bahkan aku bisa lebih dari itu.

Aku berani meninggalkan masalulu, dan aku juga harus bertanggung jawab atas itu. Dia memang terlalu berarti sampai sekarang. Aku tak bisa mengabaikan itu. Aku masih sangat sering merindukannya, jujur itu aku lakukan. Seandainya dia tau, mengapa aku sangat mencintainya. Tapi sayang, Tuhan belum menghendaki kau dan aku bersama. Aku tak akan memaksakan itu. Karena kembali lagi pada perkataan banyak orang yang mengatakan bahwa ‘jodoh ada di tangan Tuhan’ maka aku hanya bisa berdoa.

Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatanku kali ini. Tuhan kembali mendatangkan calon pendamping hidupku, kupertahankan itu. Dan tetaplah dalam kenangan dihatiku yang paling dalam untuknya. Kim Taeyeon. Nama itu sangatlah berharga bagiku. Terimakasih untuk masalalu yang indah dulu.

***

Taeyeon POV

“appa, ummaaa! Aku harus brangkat sekarang. Aku tak ingin ketinggalan pesawat.” Aku berlari kearah appa dan ummaku, memeluk mereka dengan erat. Aku akan sangat merindukan mereka.

“dan saat aku pulang nanti, akan kuperlihatkan hasil kerja kerasku pada kalian.” Aku melanjutkan dengan semangat

“taeyeon~ahh. Appa dan umma percaya, kau akan menjadi orang sukses disana. Kau adalah kebanggaan kami berdua. Berjuanglah. Dan jangan lupa sering-seringlah menghubingi kami” aku mengangguk. mereka berdua mulai menciumiku dan memelukku.

“oppa. Gomawo untuk semuanya. Jaga diri baik-baik. Jangan sampai kau sakit gara-gara aku jauh darimu untuk waktu yang mungkin terbilang sangat lama.” Aku memeluk Sunwoong oppa, menepuk-nepuk punggungnya.

Hari ini aku akan melanjutkan karirku di London. Mengejar kebahagianku disana.

“taeyeon~ahh. Kuharap kau juga bisa seperti itu. Kau itu mengkhawatirkan. Aku masih berat hati jika harus membiarkanmu hidup sendiri disana. Kau-“

“arraaaa oppa… aku tak akan membiarkanmu seperti itu. Aku akan jaga baik-baik diriku. Dan suatu saat nanti saat kembali lagi kemari, giliranku untuk menjagamu. Oppa, aku harus bergegas, pesawatku akan segeara terbang.” Aku mengacak pelan rambutnya. Dia hanya mengangguk. Kuharap dia benar-benar bisa menjaga kesehatannya.

“taeyeon~ahh. Hubungi aku jika kau ada waktu. Jangan membiarkanku kesepkan!” baru beberapa langkah, dia kembali berteriak. Dasar!

“arraaa oppa! Aku akan menemanimu saat aku sedang ada waktu luang. Akan kuhubungi kau setiap malam.”

***

Cinta itu sederhana,

Jika memang tak mampu untuk membuatnya tertawa,

Maka cukuplah dengan tidak membuatnya merasa terluka.

Taeyeon POV

5 years ago…

Tahun dengan cepat berlalu, aku tetap seperti ini. Diriku yang dulu, hanya berbeda situasi. Aku sudah berhasil merengkuh kesuksesanku di London. Merasa sangat bangga dengan apa yang saat ini aku jalani dan dapatkan. Sebuah perusahaan besar yang dulunya dikelola oleh seorang yang kukenal baik, kini jatuh ditanganku. Beliau mewariskan segalanya padaku. Dia adalah pamanku. 2 tahun yang lalu saat beliau meregang nyawa dan kembali pada sang pencipta. Aku tak menyangka jika segalanya akan beralih padaku. Aku sempat berpikir, beliau mewariskan semua ini untukku karena istrinya telah mendahuluinya, dan beliau juga tak mempunyai keturunan. Saat-saat terakhir, sang pengacara berbicara padaku bahwa beliau mempercayakan segalanya ditanganku karena aku mampu untuk menyukseskan kerja kerasnya. Dan sampai saat ini, aku masih terus dan akan tetap berusaha melanjutkan itu semua. Menjadikan perusahaan ini tertanama. Jika bukan karena beliau, mungkin aku tak akan sesukses saat ini.

Hari ini terasa sangat panjang. Sangat melelahkan rasanya. Meeting dibeberapa tempat membuatku kembali merasa pusing. Kondisiku hari ini memang tak sepenuhnya mendukung. Kurasa efek obat tidur yang kutenggak semalam kembali menimbulkan efek sampingnya.

“taeyeon~ahh.. berhenti meminum obat tidur! itu akan menghajar kepalu saat kau terbangun. Dan akhirnya seperti ini.” Omel gadis disebelahku. Aku menatapnya sesaat dan kembali terfokus pada layar handphoneku..

“anak ini benar-benar.” Satu gerakan darinya membuatku kembali menatapnya.

“aaaa… sicaaa, arraaaa! Aku tak akan menelan obat itu lagi. Itu semua gara-gara kau tak membuatkanku susu coklat panas. Kau meninggalkanku tersadar sendirian.” Aku memasang muka cemberut. Menunduk akan tingkah gadis disebelahku yang sudah mengambil handphone yang tadi kugenggam.

“kenapa kau tak membuat sendiri? Huh? Dasar manja” kini dia menundukan kepalanya, mencari mataku. Menengadahkan pipiku dengan kedua belah tangannya.

“mianhe taeyeon~ahh, semalam aku benar-benar lelah. Aku janji akan kubuatkan kau susu hangat saat kita sampai nanti” dia tersenyum lembut, masih dalam posisi yang sama. Tatapannya yang tulus membuatku selalu merasa bahagia.

Jessica adalah rekan kerjaku sekaligus sebagai teman paling dekat sejak aku datang ke London. Dia selalu memperhatikanku, aku menyayanginya.

Dibalik semua itu, Jessica merupakan korban dari cinta. Dan itu membuatku mengingat masa laluku sebagai orang yang menyianyiakan kekasih yang sangat mencintaiku. Jessica sangat mengingatkanku pada dirinya. Aku masih merasakan getaran rindu untuknya. Aku sangat sering bertemunya, bertemunya didalam mimpi indahku serta mimpi burukku.

Aku yakin saat ini dia sudah benar-benar bahagia. Aku tau itu, dia adalah tipe penyayang. Sama seperti Jessica. Dia sempurna. Tapi sayang, aku menyianyiakan itu semua. Entah kenapa sampai sekarang rasa salahku belum juga pudar.

“taeyeon~ahh, apa kau baik-baik saja?” satu sentuhan lembut dipundakku menyadarkanku dari lamunannku. Aku menatapnyanya sekilas lalu tersenyum manis. Berusaha menghilangkan rasa kekhawatirannya untukku.

“nona, apa saya harus menjemputmu pagi nanti?” ucap pelayanku.

“annioo ahhjussi. Aku akan berangkat sendiri besok. Kau beristirahatlah. Terimakasih untuk hari ini, mianhe kerena merepotkanmu.” Ucapku kembut.

“gwenchana nona, ini sudah menjadi kewajiban saya. Saya pamit nona. Jika nona membutuhkan bantuan, saya akan selalu siap.” Dia kembali berucap. Pelayanku yang satu ini memang yang terbaik menurutku. Walaupun masih baru, tapi aku salut atas kerjanya.

“gomawo ahhjussi,” aku kembali tersenyum padanya, hingga akhirnya dia mulain menjalankan mobil.

“taeyeon~ahh. Bersihkan tubuhmu, dan aku akan membuatkan susu hangat untukmu. Go!!!!” perintah Jessica setelah kami berdua masuk kedalam rumah..

Aku dan Jessica tinggal serumah. Aku sengaja mengajaknya tinggal karena kami disini sama-sama sendirian dan juga berasal dari korea. Dan lagi, Jessica sangat benci dengan sendiri. Dia selalu merasa takut oleh itu. Dan akhirnya kuputuskan untuk menagajaknya tinggal bersamaku.

“this is it” Jessica menyodorkan nampan dengan sandwich dan susu hangat. Terlihat jelas uap air yg menyembul dari susu itu. Dia benar-benar sangat perhatian.

“gomawoooo cicuuhh~ahhh.” Aku mengeluarkan aegyoku padanya. Dia membalasnya dengan mencubit pipi kiriku.

Aku menyalakan tv, mengganti-ganti chanel, mencari acara yang tepat dengan malam ini, kurasa film action akan pas. Mataku terpaku sesaat pada tv, dan tak sadar mulut masih penuh dengan sandwich yang kumakan.

“ya! Kunyahh! Dasar!” Jessica menepuk lembut lengan kiriku, membuatnya sedikit memekik karena terkejut. Untungnya aku tak mengeluarkan seluruh isi mulutku. Aku menepuk-nepuk pelan dadaku, berusaha melancarkan proses penelanaku. Mataku tetap terpaku pada adegan seru ditv.

“taengie~ahh. Apa kau tak merasa rindu dengan keluargamu dan teman-temanmu? Apa liburan besok kau tak ingin pulang?” ucapnya disela-sela sepinya ruang tengah. Aku menyesap susu panas darinya sebelum menjawab pertanyaannya.

“aku tak bisa meninggalkanmu sendirian Jessica. Ahhh! Bagaimana jika tahun ini, kita kembali ke Korea. Kurasa kau juga merindukan segalanya disana.” Ucapku dengan penuh semangat.

“tapi taeng, aku tak memiliki siapa-siapa disana.” Dengan cepat keadaannya berubah, yang sebelumnya ceria, kini memurung. Aku menyambutnya dengan rangkulan hangat, kurengkuh dia dalam rangkulanku, menepuk-nepuk pundaknya.

“gwenchana. Masih ada aku yang akan selalu menemanimu. Aku sangat ingin bertemu dengan seseorang yang sudah kuanggap sebagai kakakku. Aku ingin memperkenalkannya denganmu”

“nugu?”

“kau akan tau nantinya. Sekarang kau tidur. dan asal kau tau, aku sudah memesan tiket penerbangan untukmu dan untukku kemarin. Kita akan berangkat besok. Berkemas-kemas, dan segera tidur. arra!? Aku akan menunggumu disini selagi kau berkemas-kemas.” Aku menarikknya untuk berdiri dan mendorong pelan tubuhnya.

“yaaa!!! Kenapa mendadak?! Ishhhhh!!”

Aku hanya tersenyum menanggapi omelannya.

Besok adalah pertama kalinya aku pulang kerumah, untuk pertama kalinya setelah aku hidup dinegara ini. Aku sudah sangat tak sabar menunggu besok. Appa, umma, sunwoong oppa, aku akan mengejutkan kalian. Aku memang sengaja tak mengabari mereka terlebih dahulu karena itulah tujuanku.

Sebenarnya masih ada satu nama lagi yang masuk daftar kerinduanku. Tapi aku tak ingin berharap banyak. Aku sudah berjanji tak akan menemuinya lagi. Aku tak ingin mengganggu hidupnya. Aku sudah merelakannya untuk bahagia. Hwang Miyoung.

***

Jennnnngggg….Jennnnnggggg. author yang asli update nihhhh ^^ hahahaha. Udah lama banget sebenernya mau ngeluarin ni FF, tapi karena saya merasa readers masih menikmati FF This Love, jadi terundur sampe sekarang.

Dan semoga ni FF nggak mengecewakan ^^

39 thoughts on “Like Yesterday [Chapter 1/2]

  1. Taeng selingkuh??pengkhianat??
    Yepp…penyesalan itu selalu ada d blkang….

    5taun Taeng di London,gimna dgn hubungan KhunFany???
    Masih adakah kesempatan utk Taeny bersatu???
    Gw harap sih ada…..
    Heheheheheh

  2. selingkuh ma cpa taeng thor???hmmmn kasian pani….eh this love nya kpan thor???? update donk….brharp bgt nih hehehheheh semangat thor..good job

  3. annyeong…

    Taeyeong berkhianat sama ppany di masalalu nya??? o.ow😦
    Tapi sekarang malah taeng yg tersiksa dan menyesal ckck….
    Apakah masih ada harapan untuk taeNy kembali bersatu? mengingat mereka sudah tidaak pernah bertemu lagi selama 5 tahun?😦

  4. Sedih ya, TaeNy bs brsatu lg kan? Berharap boleh ya thor.. Dtunggu lanjutannya -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶

  5. ahhhh ngenes ihh taeng trnyta udh ptus dr miyoung. n miyoung udh jdian sm nichkun -_-
    taeng pnghianat? slingkuhkah dr miyoung?
    smga necxt chap mreka brsma yaa thor🙂

  6. Salam kenal author hehe reader lama yg baru comment nih *gak tau diri* haha lanjut thor trus this love nya dilanjutin yaaaah, gomawoooooo :*

  7. Tae selingkuh..?? Sm siapa..??
    Ahh taeny masi sama2 cinta tuuhh..
    Trs apa kabar sm ppani slth 5 thn pisah..? Jgn2 ntr mlh udh nikah sm nickhun..jangan ya thor..wkwkwkwk
    lanjut lah..ada sica..pasti next ada yul juga (sotoy gue XD)

  8. moga next chapter beri jawaban apa taeny ato taengsica….
    taeng berselingkuh dg siapa????? penasaran siapa yang berhasil buat taeng main mata di belakang tiffany…
    kutunggu lanjutan.

  9. TaeNy pisah.. Tp aku berharap mereka msh punya kesempatan utk bersama lg..
    Sica disakitin ama siapa? Ama si Kwonnie?
    Oke.. Lanjut thor..

  10. Yah Ñε̲̣̣̣̥ε̲̣̣̣ε̲̣̣ε̲̣. Taengsic  taeny Ɣªª ?
    N  taeny balikan lgi..
    N ditunggu chapter selanjut@..
    N kelanjutan this love jga chingu..
    N gomawo.. (^_^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s