Sad and Smile in the Last [Sequel]

quotes316

 

———————————————————————————————–

Kehidupanku berlanjut setelah beberapa bulan yang lalu kehilangan seorang kekasih yang sangat berharga dalam kehidupanku. Aku mengira bisa menghadapinya, ternyata jauh dari dugaanku. Kepergianya sama saja seperti menguburku dalam kesepian yang begitu pekat. Apakah aku harus membenci kota ini? Kota dimana aku lahir, dan juga kota yang dulunya memberikanku kebagian dan akhirnya merenggutnya juga.

Mengenal cinta, memunculkan cinta, berbagi cinta, dan akhirnya kehilangan cinta. Dia satu-satunya yang menjadi alasanku untuk mempertaruhkan hati, mempertaruhkan jiwa dan perasaanku. Dia satu-satunya kunci untuk membuka harta karun yang indah.

Mendeskripsikan cinta dengan sedemikian rupa macam kata-kata, tapi bagiku, aku bisa mendeskripsiknnya hanya dengan satu kata. “DIA” ucapan lirih yang membuatku menghela napas panjang.

Mendaki bukit, dan berharap menemukan sebuah jawaban, menemuka secarik tujuan, dimana tujuan itu adalah dia.

Waktu memang mustahil untuk kembali. Jika saja benar-benar ada alat bernamakan time machine, aku ingin kembali saat pertama kali kami bertemu.

***

Musim semi merekah. Pohon-pohon sakura yang sengaja ditanam didepan sekolahku mulai menampakkan keindahannya. Berguguran namun tak habis. Apa ini yang membuatku bersemangat untuk terus mengikuti jam demi jam di sekolah. Hanya pada musim semi. Apakah itu aneh? Aku masih berjalan lenggang menuju sekolah. Dengan pohon-pohon sakura dikanan dan dikiriku ini, serasa berjalan menuju pelaminan. Hahahaha. Hayalan bodoh!

“ini hari pertamaku. Aku harus bisa” seseorang gadis bergumam dengan dirinya sendiri tepat dihadapanku. Aku bisa mendengar apa yang dia gumamkan. Seragam yang dia kenakan sama sepertiku. Tapi wajahnya asing bagiku. Sepertinya dia memang siswa pidahan. Ini memasuki tahun ketiga bagi kami. Yang artinya, kami juga akan menghadapi ujian akhir.

“heii,,” aku menyapa. Dia berbalik badan, menghadapku. Cantik. Itu kesan pertama setelah melihatnya. Sangat mirip dengan boneka Barbie. Dia terlihat tampak gugup. Dari posturnya aku bisa memastikan dia nerveous.

“apa kau murid baru?”  aku mencoba mendekat selangkah. Karena kupikir dengan jarakku sebelumnya, seperti berbicara dengan orang yang kubenci.

Dia mengangguk. Masih tak mau mendongakkan wajahnya untuk menatap lawan bicaranya.

“taeyeon.” Aku memperkenalkan diri. Kuulurkan tanganku, untuk menunggu balasan jabatan tangannya.

“Jessica.” Akhirnya dia menjawab. Suaranya manis.

“kita akan terlambat.” Aku menarik tangannya, dan mengajaknya berlari menuju sekolah.

***

Awal yang aku piker baik, ternyata salah. Sooyeon~ahh. Apa aku jahat? Menganggap mencintaimu adalah sebuah kesalahan besar? Tak ingin diawal aku mencintaimu itu karena aku takut untuk kehilanganmu. Dan benar, ternyata itu menjadi kenyataan. Tapi aku tak bisa menghindari itu. First sight. Itu yang aku rasakan saat itu. Dan kini menjadi last sight saat aku tak bisa lagi menggapaimu. Aku tak lagi bisa menikmati hariku yang biasanya berwarna-warni saat bersamamu. Aku rasa kini hanya hitam yang bersamaku.

“taeyeon~ahh..” suara dari luar menyadarkanku kembali pada dunia nyata. Aku seperti bermain game MMORPG, menjelajah duniaku sendiri, menghilang dari dunia dimana seharusnya aku berada. Itu yang aku play setiap hari akhir-akhir ini. Merasa mencitai, tapi tak yakin itu akan tercapai.

“taeyeon~ahh.. kau harus sarapan. Hyoyeon sudah memasakan sarapan untukmu.” Suara sooyoung tampak khawatir. Ya, semua orang di rumah ini tampak begitu khwatir jika berhadapan denganku. Mereka teman-temanku, tapi juga menjadi keluarga kecil bagiku. Aku, hyoyeon, sooyoung, yuri, dan sunny.

Aku membuka pintu kamarku, mendapati sooyoung berdiri didepan pintu kamarku. Yang pasti dia lakukan setiap hari. Aku akan keluar jika mereka menyuruhku, aku tak ingin tampak begitu mengkhawatir dihadapan mereka sebenarnya. Tapi itu sepertinya sangat mustahil.

“gomawo youngie~ahh..” aku mengulas senyum tipis. Walau aku tak melihatnya, aku yakin wajahnya masih tetap tampak mengasihaniku.

Aku berjalan pelan, menuruni anak-anak tangga menuju pantry.

“apa obatmu masih?” satu suara lagi dari arah ruang tengah menyapa. Aku berenti, menatapnya sebentar dan tersenyum lembut.

“kurasa masih ada sisa untuk dua hari kedepan sunny~ahh.” Jawabku. Dia berjalan menghampiriku. Meletakkan telapak tangannya dipuncak dahiku. “masih hangat.” Katanya. Aku mengedipkan mata beberapa kali.

“gomawo sudah menjagaku semalaman.” Aku melepaskan tangannya dari dahiku, meremasnya lembut.

Kemarin aku sempat ambruk saat sedang bekerja, dan sempat dibawa kerumah sakit, dan seperti biasa, teman-temanku akan mengerti jika aku meminta pulang lebih awal, karena rumah sakit adalah musuh terbesarku. Aku merasa hal buruk akan terjadi jika berada ditempat itu.

“makanlah, dan habiskan tanpa sisa. Jika masih tersisa, aku akan memaksamu mengahbiskannya.” Perintahnya sambil mengusap-usap rambutku.

Teman-temanku memang sangat perhatian padaku, terlebih sunny. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku walau sebenarnya aku lebih tua beberapa bulan darinya. Sikapnya sudah layak disebut sebagai ibu. Di rumah inipun dia berperan sebagai ibu.

“kau mendengarkanku kan kid?”

“ahh.. neeee ummaaaa..” aku membungkuk menyetujui permintaan, ani… lebih tepat disebut sebagai ancaman. Aku mengulas senyum dan kembali berjalan menuju pantry. Teman-temanku yang lain ada disana, kecuali yuri.

“dimana yuri? Dia tak ikut sarapan?” aku mencobah memecah suasana yang sepi.

“yuri masih tertidur, dia pulang larut semalam.” Hyoyeon menyahut.

“apa dia sakit? Kalau begitu kita tung-“

“kau tak perlu khawatir, lebih baik kau khawatirkan dirimu sendiri dulu, dia baik-baik saja. Kami semua lebih khawatir padamu, yuri pun begitu khawatir padamu semalam.” Sunny kembali mengusap-usap puncak kepalaku.

Aku kembali terfokus pada makananku, menuruti apa yang sunny katakan, dan juga teman-temanku khawatirkan. Aku merasa bersalah pada mereka, karena mereka selalu mengkhawatirkanku akhir-akhir ini. Aku terus berpikir, bagaimana aku harus membalas perhatian mereka yang begitu baik padaku. Aku ingin melupakan masa laluku, tapi kurasa, itu sangat sulit, dan kini menjadi kompleks untukku. Sooyoung pernah bilang ppadaku jika aku terus-terusan seperti ini, maka hal ini pun akan menjadi phobia bagiku.

“jangan berpikiran yang aneh-aneh. Lekas habiskan makananmu dan kembalilah istirahat. Kau masih harus menerima IVmu pagi ini, dokter sudah menghubungiku kalau kau sudah selesai makan, dia akan datang.” Sooyoung menyadarkanku dari lamunan sesaat.

Aku mengangguk pelan, dan kembali melahap sisa makananku. Sudah 4hari ini aku terpaksa menerima IV karena kondisi badanku yang masih sangat lemah. Seharusnya aku memang berada diranjang rumah sakit.

***

“kau dengar sendiri apa yang dikatakan dokter bukan?” ucap sunny sembari menyibak helai demi helai rambut yang menutupi wajahku. Aku mengangguk.

“kondisiku masih sangat lemah, aku dianjurkan untuk terus beristirahat hingga kembali membaik, tapi setelah itu bukan berarti aku sudah boleh berkeliaran bebas, karena bisa saja, tubuhku kembali drop dan jatuh sakit seperti ini, dan aku juga bisa kembali meringkuk diranjang rumah sakit.” Aku mengulang kata-kata dokter untuk meyakinkan sunny.

“bagus kalau kau tau. Istirahatlah, aku akan membangunkanmu nanti siang saat jam makan. Aku dan yang lain harus berangkat kerja. Jika ada apa-apa, kau hubungi aku. Arraaa kid??” benar-benar naluri seorang ibu.

“neeeee umaaa               ~yaaa..” aku memarkan semua gigi depanku, menyengir riang. Selanjutnya sunny mengecup dahiku dan keluar dari kamarku.

Sepeninggalan sunny beberapa menit yang lalu, aku mencoba tertidur. Dan seperti biasa, hasilnya akan tetap nihil, walau IV sudah menancap sempurnah dipergelangan tanganku, tapi aku tidak mudah untuk terlelap.

Jung Sooyeon. Kenapa nama itu terus berterbangan dikepalaku? Aku bukan tom yang terbentur tembok, lalu jerry akan mengitari kepalanya, itu hanya terjadi didalam kartun atau animasi yang sering aku tonton dilayar TV dan bisa membuatku tertawa.

“drrrttttt” getaran handphoneku dari meja kecil disamping kasurku membuatku menoleh. Kuraih benda itu, kulihat siapa yang menelphone. Nomor asing. Belum ada didalam kontakku.

“annyeonghaseo?” sambutku. Aku menyandarkan kepalaku disandaran kasur. Mencari titik nyaman untukku berbicara dengan biasa.

“neee.. taetae???” satu suara yang sepertinya tak asing dengan panggilan yang diagunakan untukku.

“nugu?” tanyaku lemah. Sedikit lama aku berpikir, mengingat suara dan panggilan yang sangat tak asing bagiku.

“kau tak mengingatku? Siapa lagi yang memanggilmu taetae jika bukan hanya aku???” omelnya. Aku masih mencoba mengingat. Memang sangat familiar bagiku. tapi pikiranku sekarang hanya berisi Jung Sooyeon. Sial!! Aku mengambil posisi duduk, menyandarkan punggungku dibantalan ranjang.

“taeyeon~ahhh. Apa kau mengingat miyoungie?” dia lanjut bertanya. Aku masih mencoba mengingat.

“tega sekali kau melupakanku.” Ucap sedih dari seberang sana. Miyoungie? Jinnjjaaa!!! Kenapa aku merasa melupakan sesuatu yang beasar???? Sialll. Aku terus mencoba. Mencoba membuka berkas demi berkas dalam otakku. Miyoungie?? Ahhhh!!!

“fany~ahhhhh,,,” aku sedikit berteriak. Merasa lega, puas, dan bahagia karena berhasil mengingatnya. Dia, Hwang Miyoung. Kenanganku waktu aku kecil. Teman masa kecilku.

“aku hampir menangis karena kau tak mengingatku!”

“mianhe fany~ahh. Bagaimana kabarmu?” tanyaku lembut.

“buruk. Karena kau tak mengingatku, kau jahat sekali!” kali ini aku yakin, dia memasang wajah cemberut walau aku tak bisa melihatnya.

“jinnjjaa! Mianheyo fany~ahhh.. kapan kau akan kembali ke korea?”

“kenapa kau menanyakan itu? Kau merindukanku?”

“sangat! Sudah 8 tahun kita tak bertatap muka! Apa kau tak merindukanku juga? Aku yakin kau juga merindukanku.” Entah kenapa, dengan sendirinya aku lebih bersemangat. Dia melakukan boost dalam moodku pagi ini, yang aku tau aku sedang lemah sekarang.

“kau menang. Apa kau sibuk sekarang?” aku terdiam sesaat.

“aku sudah sampai dibandara sekarang. Kau bisa menjemputku?” entah aku harus bahagia atau marah, saat ini aku tak tau mau melakukan apa. Bimbang karena aku tau dengan keadaanku yang sekarang aku tak yakin bisa berada dibandara untuk menjemputnya saat ini.

“arra! Kau tunggu sebentar. Aku akan menjemputmu. Aku akan menelfonmu lagi setelah sampai di bandara.”

Setelah itu aku kembali terfokus pada handphoneku, menekan speedcall number 4 yg kutunjukan untuk sooyoung. Aku yakin dia sedang tidak sibuk sekarang.

***

“kim taeyeon!”

satu teriakan mengambil perhatianku yg sedari tadi hanya melihat orang-orang berlalu lalang di depanku. Dia. 8 tahun berlalu, dan dia tetap bisa mengenali wajahku. Dan sebaliknya aku, dia tak berubah sedikitpun, yaa. Umur mempengaruhi pertumbuhan, hanya itu. Kulihat dia berlari kearahku. Senyumnya, senyum sang penyenandung surga. Tampak begitu menawan. Masih tetap anggun, sebenarnya aku terbungkam karena baru melihatnya sejak 8 tahun yang lalu. Tapi entah kenapa aku masih bisa cerewet merutuki didalam hati, betapa indahnya gadis ini.

Pelukan ini masih berlangsung. Erat! Tak bisa kupungkiri, aku memang sangat merindukannya. Sooyeon~ahh. Apa benar kau berenkarnasi? Apa ini tak terlalu cepat? Seharusnya kau memberiku sedikit lagi waktu untuk tetap mengenangmu dan menyimpanmu didalam lemari hatiku yg penuh dengan labirin. Waktu. Ternyata benar, kau memang menjanjikan itu. Dan aku akan tetap berusaha untuk menepati janjiku.

“ya!! Kenapa kau melamun?” dia mengguncang pelan tubuh mungilku. Aku tersenyum sekilas, menatapnya dengan lebih dekat setelah kami berpelukan sedikit lama.

“aku merindukanmu!” satu senandung meluncur lembut dari mulutnya, dan mendarat dengan indah tepat dikedua telingaku. Dia kembali memelukku, hangat. Hanya itu yang aku rasakan. Ini kembali menarikku kedalam hamparan daratan luas nan indah, hanya ada aku dan dirinya.

“disini juga. Mianhe, aku melupakanmu. Emm.. hanya suaramu.” Bisikku ditelinganya. Wangi khas darinya tak berubah.

“why? Apa kau sedang sakit? Badanmu panas, dan wajahmu pucat.” Dia mengusap pipiku, menangkupkan kedua tangannya dikedua belah pipiku. Menatapuku dengan lembut. Ini kembali terjadi. Cahaya lembut dalam hatiku kembali muncul. Merekah indah. Aku bisa merasakan itu.

Aku mengangguk pelan sebagai jawaban.

“yaa! Kenapa kau tak istirahat saja?”

“tenang. Aku tak menyetir sendirian, sooyoung sudah menunggu ditempat parkir. Aku tau aku tak akan selamat sampai disini jika kupaksakan.”

“kau tak berubah! Selalu mengkhawatirkan! Kajja! “

***

Mentari pagii menyeruak disetiap penjuru ruanganku. Warna biru tua terlihat menjadi putih. Aku masih berusaha mencari kembali kesadaranku setelah semalam tenggelam dalam mimpi. Indah. Entahlah, sampai sekarang hanya Jung Sooyeon yang berhasil kutemui didunia mimpi. Kurasa itu terjadi karena hanya dia yang tak bisa kujumpai didunia nyata. “sooyeon~ahh. I still try to fix it” ucapku lembut, sembari menatap keluar jendela kamarku. Pada cahaya yang kuharap bisa menyampaikan ini padanya.

The last song for you, I can’t sing it for you. This is from my heart, just for you. I can imagine if you still heard. I should have known this wasn’t real. And fought it off and fought to feel. What matters most? Everything. That you feel while listening to every word that I sing. I promise you I still bring you home. I will bring you home. In my heart.

“taeyeon~ahh..” satu sapaan menyadarkanku. Sapaan lembut dari sang pemilik suara ini membuatku tersenyum tulus memandang wajahnya. Malaikat lamaku yang kembali. Gomawoyo sooyeon~ahh, kau benar-benar terus memberikanku kebahagiaan.

“apa yang kau lamunkan?” dia berjalan pelan menghampiriku. Wajahnya yang masih lemas, dengan piyama pink yang masih melekat ditubuhnya.

“nothing. Aku hanya terpesona dengan cahaya ini. Entah mengapa begitu lembut menyapaku pagi ini.” Ucapku lirih.

“kau tak berubah. Aku selalu tersentuh dengan apa yang kau katakan. Seperti puisi.” Eyesmile ini menghiasi wajahnya.

“kau juga. Senyumanmu juga seperti puisi. Indah.” Rona merah terlihat jelas dikedua belah pipinya.

Rasa ini kembali meruak dalam tubuhku. Hanyut terbawa suatu perasaan yang aku sendiri tak tau bagaimana menjelaskannya. Jessica benar-benar menepati janjinya, aku percaya dia tetap akan membahagiakanku walaupun aku tak bisa lagi bersama dengannya. Antara sedih atau harus senang. Dilemma. Dia memang punya banyak cara untuk membahagiakanku. Kalau begini caranya, aku merasa terbodohi oleh janjiku sendiri. Apa yang harus aku lakukan dengan keadaan sebegini rumit? Sebenarnya tidak rumit. Tapi akulah yang membuat keadaan ini menjadi rumit.

“why?” ucapnya pelan. Dia menatapku dengan wajah polosnya.

“why?” aku balik bertanya tanpa memberikan jawaban pasti yang sebenarnya aku tau kemana arah dia bertanya.

Dia kembali menatapku polos. Tak sadar kami bertatap mata menciptakan eye contact. Masih benar-benar indah. Tak ada yang berubah memang. Sejak dia Nampak didepan mataku aku kembali jatuh, jatuh dalam dekapan cinta.

“kenapa kau menatapku seperti itu? Ada yang salah denganku?” kurasa aku benar-benar tak sadarkan diri ketika menatapnya. Kupikir aku hanya tenggelam dalam pikiranku, dan ternyata aku memperhatikannya dengan berlebihan.

Aku tertawa malu “aniyoo. Ayo sarpan. Perutku sudah memakan tanganku!” aku mencoba memberikan intermezzo sebagai pengalih topik.

“mwoyaaa??!” dia mengerutkan dahi.

Aku menarik tangannya, mengajaknya bangun dan berjalan menuju pantry.

***

Terik siang ini tak begitu hebat. Duduk dibalkon lantai 2 ditemani dengan secangkir kopi. Mengoleskan warna demi warna dikanvas yang akhir-akhir ini menemaniku. Melukis sepertinya menjadi hobyku untuk melalui waktu selangku.

“aku tak tau kalau seorang kim taeyeon bisa melukis.” Satu sapaan lembut membelaiku. Aku menoleh mendapati sang pemilik suara bersandar disamping pintu dengan segelas entah apalah itu ditangannya. Anak ini. Benar-benar mirip.

“bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?” dia berjalan mendekat kearahku.

“why? Aku tak boleh melakukan itu?” aku menaikan nada bicaraku.

“lukis aku taeyeon~ahh.”

Aku mengerutkan keningku, mencondongkan kepalaku kekanan sambil menatapnya.

“berhentilah! Dan lukislah aku!” seketika aku mengangguk menuruti perintahnya.

Aku membalikan lembar kertas kanvasku, mulai meramu warna yang akan kugunakan untuk melukisnya. Kejadian ini kembali menarikku pada masa lalu dimana sang ratu juga pernah melakukan hal ini padaku. Ini adalah kali kedua aku melukis seseorang. Sebenarnya ini masih menjadi phobia untukku. Lukisan sang ratu masih ada dilemari dimana aku menyimpan kenanganku saat bersamanya. Aku tak ingin lagi membukanya, karena aku yakin melakukan hal itu sama saja mengecewakannya. Kurasa ini saatnya aku mencicil kegiatan move-on ku.

Aku menelusuri sudut demi sudut mulai dari wajahnya dengan mataku. Ini kembali membuat kami saling bertukar pandang. Aku merasakannya. Sesuatu yang bergejolak dihatiku. Sedikit ragu aku akan melanjutkannya. Dia tersenyum. Senyuman hangat yang membuatku setidaknya menjadi sedikit lebih tenang. Mulai ku torehkan tinta hitam dikanvas, aku mulai yakin, yakin dengan tujuanku dan yakin dengan perasaanku yang aku yakini masih belum mau untuk menerima.

Beberapa saat kemudian, aku tersenyum menang menatap hasil karyaku. Sketch indah ini jika aku terus melanjutkan akan menjadi indah seperti aslinnya.

“apa kau sudah selesai dengan sketchnya? Aku sudah mulai lelah bergaya seperti ini.” Eluhnya. Aku mengangguk sebagai jawaban. Dia berjalan mendekat dibalik punggungku.

“beautifull taeyeon~ahhh!!” dia mendekapku dari balik punggungku. Kedua tanganya terikat erat melingkari perutku. Aku diam dan menikmatinya, bersenandung lembut dalam hati sambil tak henti menatap lukisan ini. Akankah dia benar-benar menggantikan tempatmu dihatiku sooyeon~ahh?? Aku masih takut untuk kembali merasakan cinta, yang selama ini aku tau bahwa cinta itu menyakitiku. Meninggalkanku. Jatuh cinta membuatku takut. Tak ada yang abadi memang, tapi setidaknya aku sangat ingin menikmati cinta hingga aku berhenti bernafas. Apakah aku mencintaimu itu sebuah kesalahan? Sooyeon~ahh, aku membutuhkan jawaban. Sampai saat ini kubiarkan hatiku kosong, tapi tak sekosong lembaran kertas putih. Seumpama sebuah kotak, disana ada lubang yang menghubungkan dengan ruangan luas dimana kau tersimpan dengan baik didalam ruangan itu. Hanya aku dan Tuhan yang tau tentang itu. Kupikir kau yang sekarang berada jauh disana bisa tau apa yang ada didalam sini.

***

“taeyeon~ahh!”

suara decak tangis terdengar nyaring ditelingaku. Tapi entah mengapa aku tak sanggup membuka mataku. Di alam bawah sadarku aku berdiri tegak dengan mata terbuka. Hanya putih. Dimana ini? Apa aku sudah mati? Jika memang aku sudah mati, aku seharusnya bisa melihatnya. Melihat kekasih lamaku.

“sooyeon~ahhh!” aku berteriak lantang. Hanya gema yang menjawabku. Berulang-ulang dan tanpa berhenti. Ujung duniakah ini? Tapi tak ada matahari disini. Cahaya putih yang ada. Aku seperti berada didalam ruangan putih 10x10M berjalan 4langkah kekiri, kanan, depan, dan belakang, tapi tak ada perubahan.

“taeyeon~ahh. Lama tak bertemu.” Suara lembut tak asing terdengar lembut disertai gema yang lagi membuatku mencari sosoknya.

“sooyeon~ahh! Dimana kau?” aku berucap dengan sedikit berteriak, melihat sekelilingku tapi aku tak bisa menatapnya.

“I’m allways in your heart taeyeon~ahh.”

“jeballl sooyeon~ahh! Kau tau? Aku sangat merindukanmu. Aku ingin melihatmu lagi. Walaupun aku tau aku tak mungkin lagi bertemu denganmu lagi.” Aku menundukan kepalaku, menangis sejadi-jadinya. Lututku terasa berat untuk menopang tubuhku. Lambat laun, kaki ini benar-benar lemah, aku sujud tersungkur masih dengan air mata yang mengalir deras.

Satu sentuhan dipundakku membuatku mengalihkan tatapanku.

“ya! Kenapa kau menangis? Aku sudah mengatakan kalau aku akan selalu berada disini.” Jari telunjuknya menyentuh dadaku, setelah itu, kedua tangannya menopang daguku mengangkat kepalaku dan otomatis aku menatapnya. “sooyeon~ahh-“ aku tak sanggup melanjutkan ucapanku. Kembali tenggelam dalam tangisan. Meluap sudah semuanya. Kerinduan, rasa cinta, dan seluruh emosiku mencuahh tinggi.

“taeyeon~ahh. Jika kau sedih, maka aku akan ikut sedih. Kau tak boleh seperti ini. Kau melarangku untuk menangis, kau selalu mengingatkanku untuk menyimpan baik-baik air mataku.”

“aku merindukanmu Jessica! Aku sangat merindukanmu!” aku sedikit berteriak, menatapnya dengan air mata penuh disekitar mataku.

“I know it. Kau selalu merindukanku, akupun begitu. Aku selalu merindukanmu. Tapi sekarang aku hanyalah kupu-kupu yang terbang bebas, bebas didalam hatimu. Menjaga hatimu agar tak ada yang menyakitimu.”

“aku tak ingin kemana-mana lagi. Aku ingin disini, aku ingin disini denganmu.” Aku kembali merengek.

Whisper a Wish To a Butterfly, and It Will Fly Up  To Heaven and Make It Come True. Aku selalu ada untukmu. Kau harus kembali, kau belum menepati janjiku. Kau harus bahagia taeyeon~ahh. Dan bukan disini. Kau harus meraih itu disana. Kupu-kupu ini akan tetap berada ditempatnya, dihatimu. Waiting your wish and make it come true. Arraa??”

Seketika aku terbangun dari tidurku. Pusing mengambil alih kesadaranku, baru sedetik aku membuka mataku, tapi terpejam kembali.

“taeyeon~ahh!” suara itu lagi-lagi memanggilku, masih sama dengan isakan. Aku masih berusaha membuka mataku hingga akhirnya secercak cahaya kembali memaksaku untuk terpejam. Sebenarnya apa yang terjadi padaku. Terakhir aku mengingat, aku terkapar ditengah jalan, dan setelah itu aku tak tau apalagi yang terjadi denganku, hingga saat ini untuk melihat cahaya saja sangat sulit.

“enghhh~” aku sedikit mengerang untuk meyakinkan orang-orang yang berada disekitarku merespon.

“taetae!”

“taeyeon~ahh.”

“taenggoooo~” sudah kuduga, ternyata aku benar. Dan kali ini aku berhasil beradaptasi dengan cahaya yang langsung menyorotku, walalupun membutuhkan waktu lebih dari 20menit.

Satu sosok kini Nampak dihadapanku. Walaupun masih samar, tapi aku mengenal jelas wajahnya. dia begitu penuh dengan air mata. “kenapa kau menangis?” tanyaku lemah. Tanganku bergerak menggenggam tangannya. Sedikit bergertar namun pasti. Dia membalasnya dengan tak kalah erat

“karena aku mengkhawatirkanmu.” Ucapnya lirih. Suaranya terlalu tenggelam dalam isakan.

“mengkhawatirkanku? Kenapa kau mengkhawatirkanku?” satu pertanyaan yang mengalir begitu saja dari mulutku. Aku merasa diriku ini sangat cerewet setelah kesadaranku pulih, aku sadar karena aku tau kalau aku sebelumnya berada dalam sebuah accident.

Genggamannya ditanganku semakin mengerat. Dia Nampak ragu untuk mengatakan sebuah jawaban. Tatapannya tak lepas dari mataku. Lembut. “karena aku mencintaimu tae.”

***

Matahari menyapu kesadaranku dari mimpi semalam. Aku meregangkan ototku perlahan pasti. so fresh! Aku memalingkan padanganku pada seseorang yang kini meringku manis disampingku. Masih tertidur. Wajahnya tetap bersinar dengan seulas senyuman yang terpampang saat ini. Aku mulai menelusuri sudut demi sudut wajahnya dengan tanganku. Lembut. Dengan pasti aku mendekatkan wajahku padanya. Mengecup kecil ujung bibirnya. Aku bahagia.

Merekah kembali. Bunga matahari yang selama ini tak menampakkan keindahannya, kini kembali merekah. Seperti itulah yang kurasakan saat ini. Aku kembali merasakan cinta, aku kembali mengenal cinta. Walaupun aku masih menyimpan rasa takut itu, tapi kali ini aku harus tetap yakin dengan kesempatan kedua yang kali ini aku dapatkan. Sooyeon~ahh, aku akan memulainya lagi, dan aku bisa benar-benar memenuhi apa yang kau inginkan. Yakksooo!

“eeuunngg~”

“enggg… kau sudah bangun taetae?” aku sedikit terpenjat. Sejak tadi aku hanya memandangi wajahnya, dan tanpa sadar dia terbangun. Aku mengangguk, dan mengulas senyum untuknya. Dia membalas senyumku, dan setelah itu dia melakukan hal yang sama saat pertama kali aku terbangun tadi.

“kau tetap cantik tae.” Matanya menatap lurus menembus mataku.

“apa ini sebuah gombalan dipagi hari?” aku membalas tatap itu tak kalah dalam.

“bukan. Itu ungkapanku secara langsung dari hatiku. Apa kau mengingkan gombalan setelah kau terbangun dari tidurmu?” dia menyunggingkan sebelah matanya.

Aku terdiam, merasa tergoda oleh apa yang gadisku ini tawarkan. Sepertinya dia menangkap apa yang saat ini aku pikirkan. Wajahnya mendekat, semakin mendekat, dan hingga menyisakan jarak beberapa centi dari wajahku. Tatapanku tak lepas darinya. Begitu juga dirinya.

“aku terbangun karena sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.”

Aku yakin kali ini pipiku memerah semerah buah tomat. Wanita ini benar-benar mengalihkan pagiku dengan keindahan yang lebih.

“apa kau ingin merasakannya lagi?” aku menelan salivaku sesaat setelah berucap.

“lakukan. Kau harus bertanggung jawab karena membangunkanku dengan sesuatu yang saat ini sangat aku suka. Ciumanmu.”

Aku tersenyum. Semakin menghilangkan jarak yang memang sudah sangat dekat. Mulai merasakan kelembutan bibir gadisku. Awalnya aku dan dia menikmati hanya dengan saling menyentuhkan bibir kami. Aku membuka mataku, dan tak kuduga dia pun melakukan hal yang sama. Kami saling tatap. Ini cinta. Sama seperti dulu. Hanya berbeda pada dimana lawanku yang menatapku. Aku kembali mengatupkan mataku, melumat dengan perlahan dan lembut bibirnya. Dia membalasnya. Dia melingkarkan tangnya dileherku. Ini lebih dari cukup untuk bisa menggantikan sarapan pagiku. Kami menikmati ciuman ini, cukup lama kupikir, sebelum dia menghentikan kegiatan ini.

“saranghae my precious soul.” Dia kembali mengecup kecil bibirku yang masih basah.

“nado miyoung~ahh.”

***

19 bulan berlalu dengan cepat. Aku pikir semua akan berjalan dengan apa yang sejak awal aku prekdisikan dan aku yakini. Dan ternyata, kenyataan merubah itu semua. Dan kembali karena satu kata yang memang membuatku terpuruk dalam kehancuran. CINTA. Memang benar apa yang pernah aku bulatkan. Cinta tak akan pernah abadi. Tak akan pernah bertahan. Aku memang akan sangat sulit berteman dengan cinta. Kurasa itu semua karena kutukan. Huhh! Percaya pada kutukan mungkin itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal. Ini sudah era modern dan masih percaya pada kutukan? Dan ternyata, aku sendiri yang mengucilkan pendapat tersebut. Aku merasakannya sendiri. Dikesempatan pertama aku gagal melanjutkan dadu kehidupanku. Dan setelah itu aku berada pada kesempatan kedua, aku bisa menikmati sedikit lama putaran demi putaran dadu sebagai langkahku mengarungi cinta. Dan akhirnya aku kembali terhenti. Berdiri dipulau terpencil, dan tak bisa bergerak kemana-mana lagi. Pembunuh paling kejam dalam hidupku. CINTA.

Entah kenapa aku terus-terusan meneteskan air mata karena kata itu. Dia sudah meninggalkanmu dengan mudahnya. Dia mengatakan kalau dia harus menikah kerena sudah dijodohkan. Dia memang seharusnya tak bersamaku. Dia memang seharusnya bahagia dengan seorang laki-laki tampan yang bisa memberinya segalanya. Aku mana bisa melakukan hal itu. Mustahil.

Aku akan berhenti. Berhenti untuk mengejar apa yang tak pasti. aku akan bernhenti mengejar cinta yang terus berlali dan mempermainkanku. Setidaknya aku sudah berusaha untuk menjangkaunya. Sooyeon~ahh. Mianhe. Kurasa kau sudah cukup untukku mendiami hatiku ini. Aku bahagia sekarang. Walau tanpamu disini. Tapi kau mengatakan kau tak akan meninggalkanku dan selalu ada dihatiku. Selalu ada dimana aku mendayung perahu kehidupanku.

“kenapa kau berpikiran seperti itu?” satu suara menyentuh telingaku dengan lembut. Suara yang aku tau tak akan pernah aku dengar lagi.

“sicaa?”

“kau masih belum menggunakan kupu-kupu itu untuk meraih lagi kebahagiaanmu.”

“mianhe sooyeon~ahh. Kurasa aku tak akan bisa menepati janji yang masih kau titipkan. Dan kurasa aku memang akan sulit untuk bahagia jika itu tidak bersama dirimu.” Aku menundukan kepalaku sedih. Tak terasa air mata ini kembali turun.

“hei… kenapa kau tak yakin? Bahkan aku sangat yakin kalau kau akan bahagia. Dan kebahagiaan itu tak akan pernah memudar setelah ini.” Angin hangat nan lembut menyapaku. Aku merasa sesuatu menyentuhku dengan sangat halus. Aku merasakan aroma yang sudah sangat lama aku rindukan. Sudah hampir 3 tahun aku tak merasakan aroma ini

“sooyeon~ahhh. Aku… aku.” Entah kenapa rasanya aku tercekat untuk melanjutkan percakapan ini. Walau halusinasi, tapi aku tetap bisa merasakan kehadirannya disini. Didekatku, dan sangat dekat saat ini. Aku merasakan sentuhan lembutnya.  Ini membuat Nampak seperti orang gila. Memang aku sudah gila diperlakukan seperti ini oleh cinta. Jung Sooyeon, Hwang Miyoung kedua gadis yang membuatku tergila-gila dan akhirnya pergi.

“aku yakin kau tak akan mengecewakanku taeyeon~ahh… dan aku yakin, rasa cinta diantara kau dan dia tak akan pernah luntur. Dia cinta pertamamu. Aku tau itu. Kejar dia. Jangan biarkan rasa itu hanya mengambang diantara hatimu dan hatinya.” Perkataanya barusan membuatku berpikir. Logicaku mencoba untuk memahami apa yand dia katakan, apa yang dia utarakan.

“kenapa kau membiarkanku bahagia bersamanya? Kenapa kau tak membiarkanku sendiri dan hanya mencintaimu?” aku menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan ungkapanku.

“ Apa aku salah jika aku tetap mencintaimu. Cintaku untukmu juga tak akan pudar sooyeon~ahh.” Aku kembali tenggelam dalam isakanku. Merasakan gejolak yang besar saat mengatakan itu semua.

“aku tau itu. Kau juga akan selalu mencintaiku. Aku pun tetap akan selalu mencintaimu karena kau adalah cinta pertama dan terakhirku. Arti cinta adalah saling memberi kebahagian antara satu dengan yang lain.”

“Jika kau tetap mencintaiku, kau tak akan bahagia. Kau akan bahagia hanya bersama dengannya. Dan aku pun juga akan bahagia. Maka cinta untukku akan tetap ada darimu.”

***

Memperjuangkan cinta? Termasuk hal bodoh kah itu? Jika memang itu sesuatu tindakan bodoh, tapi entah mengapa aku tetap melakukannya. Rela untuk terbang ke LA hanya karena sebuah cinta. Teman-temanku mengatakan kalau memang ini yang harus aku lakukan. Awalnya hanya aku yang tak akan pergi ke pesta pertunangan itu. Tapi aku menjadi kuat karena sang malaikatku yang memberiku keyakinan untuk tetap berjuang. Dan lagi karena sejak awal aku memang harus menuntaskan janjiku padanya.

Aku membuka buku diaryku. Aku menggunakan buku ini hanya saat aku ingin menulis lyric lagu. Selama aku menjalani kesempatan keduaku, dia selalu membuatku terkesan, dan akhirnya aku ungkapkan dengan menulis lyric-lyric cinta untuknya. Dia menyukainya. Dulu dia menyukai apa yang aku tulis walaupun itu hanya penggambaran situasi hatiku saja.

Tak terasa aku sudah 18 jam duduk terdiam, dan ternyata pesawat yang aku tumpangi sudah mendarat dibandara. LA. Kota dimana aku akan kembali mengejar cinta. Mengejar kebahagiaanku.

***

Hari dimana dia akan melangsungkan pertunangannya, sampai sudah. Dan sampai sini, hatiku kembali merasa mundur. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Kegamangan menyelimutiku sekarang.

Aku memandang keluar jendela hotel. Memandang langit yang cerah. Langit ini bertolak belakang dengan apa yang saat ini terjadi dihatiku. Mendung.

Seekor kupu-kupu terbang dihadapanku, terbang menghiasi angkasa. Ini mengingatkanku pada apa yang Jessica ucapkan. “aku mencintainya. Aku sangat mencintainya. Aku menginginkan Tiffany kembali kepelukanku. “ aku berucap pelan sambil memejamkan mataku. Air mata kembali mengalir disini. Isakanku kali ini memburu dengan cepat.

“yakinlah!” suara itu kembali muncul. Kembali memberiku kekuatan didalam sini. Didalam hatiku. Aku akan tetap mencoba, setidaknya aku akan memperjuangkan cintaku. Jessica yakin akan itu, dan aku juga harus yakin sebagai diriku yang diyakininya.

Aku segera merapikan gaunku yang memang sudah aku kenakan sejak tadi. Aku memang rencana akan hadir pada pesta pertunangan itu. Tapi karena suasana hatiku, aku mengurungkannya dan kali ini akhirnya aku benar-benar yakin.

Aku mulai melangkahkan kaki ku. Melangkah untuk berpetualang didalam gejolak kisah cintaku. Aku berharap ini akan menjadi yang terakhir.

“tetaplah bersamaku, dan bimbing aku my butterfly”

***

Masih ada waktu. Aku berlari melewati pelataran gereja dimana pertunangan tiffany dilangsungkan. Berlari secepat dan semampuku. Aku sempat terjatuh karena high heels yang aku kenakan. Aku tetap berdiri. Tetap menahan rasa sakit yang aku rasakan. Aku tau kaki ku kini terkilir, tapi adrenalinku memaksaku untuk membiarkan itu.

“klapp.” Pintu gereja terbuka saat aku sedikit mendorongnya sekuat tenaga. Bisa kulihat dengan jelas semua mata tertuju kearahku. Menatapku dengan bingung. Dia. Dia Nampak canti dengan gaun putih itu disana. Aku menatapnya tanpa henti, berjalan pincang karena ternyata rasa sakit itu semakin terasa.

“taeyeon~ahh.” Walau aku tak mendengar, tapi aku bisa melihat dia menyebut namaku lirih.

I didn’t have a chance to be in pain although I let you, although you left me
Happy memories of us are endless and still remain
The sound of your footsteps that I got used to back then makes my heart rush again

Because I love you so much, because I miss you so much
I couldn’t forget you in the end – because I’ve been waiting for all this time
I just, I just, I just smile and smile again
Because of you, who is standing before me again

I smile and smile, smile and smile, smile and smile again and
I pull you into my arms

The endlessly flowing tears have stopped, this isn’t a chance, it’s a miracle
I can’t dream a better dream than this, even if I die twice, I won’t ever let you go

I can’t hide my swelling heart that feels like it’ll explode, I can’t hide it
Even I am proud of myself for enduring through it, for waiting for you

As if I’m looking into the sun, my eyes are blinded
You are still so pretty, more than anyone else

Because I love you so much, because I miss you so much
I couldn’t forget you in the end – because I’ve been waiting for all this time
I just, I just, I just smile and smile again
Because of you, who is standing before me again

I smile and smile, smile and smile, smile and smile again and
I pull you into my arms

***

Aku menyanyikan sebuah lagu yang aku gambarkan untuknya. Untuk dia yang kini berada dihadapanku. Sangat deras, air mataku mengucur setelah aku menyanyikan lagu ini. Aku pun melihatnya menangis. Dan akhirnya aku runtuh. Pertahananku ternyata tak sekuat apa yang aku perkirakan. Dia berlari kearahku. Mendekapku dalam pelukannya. Sangat erat. Kubiarkan dia menangis bersamaku. Aku akui memang kali aku benar-benar sudah pecah. Segala emosi dan cinta yang ada dihati membludak.

“kau cantik sekali dengan gaun itu miyoung~ahh..” aku berucap lemah disela isakanku.

Dia tak merespon ucapanku.

“taeyeon~ahh! I LOVE YOU!” dia berteriak. Itu membuatku terkejut. Ternyata benar. Semua yang dikatakan oleh Jessica benar. Dia tetap akan mencintaiku.

“I love you so much taeyeon~ahh. Aku menunggumu selama disini. Aku terus menangis menunggumu. Aku sangat merindukanmu.” Dia kembali memelukku erat, tampak tak peduli dengan apa yang saat ini seharusnya terjadi. Mengacuhkan semua mata yang ada didalam gereja ini yang saat ini tertuju pada kami.

***

“taman bunga matahari yang sangat indah.” aku buka suara.

“hmm… aku tau. Taman bunga ini seindah perasaan yang kini aku rasakan untukmu.”

“miyoung~ahh. Aku ingin memperkanmu dengan seseorang yang memberiku kekuatan untuk terus meraih cintaku.”
“nugu?”

Aku menengadahkan tatapanku kelangit. “dia adalah kupu-kupu yang selalu singgah dihatiku, dia selalu mendengarkanku. Dan aku tak menyangka dia akan membimbingku hingga aku bisa kembali berbahagia denganmu.”
“apa aku harus berterima kasih dengannya?” aku mengangguk menanggapi pertanyaannya.

“gomawo kupu-kupu, karena kau telah  mempertemukan kami berdua kembali.” Ucapnya dengan polos. Aku tersenyum padanya. Menatapnya lembut dengan penuh cinta. Menikmati pemandangan indah dihadapanku yang tak kalah indah dengan taman bunga matahari ini. Aku meraihnya dalam pelukanku. Kepalanya bersandar nyaman didadaku. Angin lembut berhembus menerpa kami berdua.

“gomawo sooyeon~ahh.”

***

–>>>>

waaaaaaaa… ternyata saya sudah 2 bulan kagak update. banyak kerjaan sekaligus karena susah dapet mood buat balik nulis lagi. dan ternyata dapet wangsit entah darimana bisa dapet mood buat ngelir ni sequel yang sebenernya udah kerancang lama. wkwkwkwk😀 oke dehhh nggak panjang2. selamat menikmat dan terimakasih untuk masukannya ^^

18 thoughts on “Sad and Smile in the Last [Sequel]

  1. annyeong…

    aaaaaaahhh~ ngena banget ihh ceritanya,bikin mewek aja >.<"
    sooyeon menjadi penyemangat taeng untuk mengejar cinta nya kembali😀 dan ternyata semua ucapan sooyeon terbukti kalau kebahagiaan taeng itu terletak pada ppany🙂

  2. anyeong….
    thank you very much for jessica membimbing taeyeon memperjuangkan cinta.
    kukira ini sad ternyata happy.

  3. Heii..
    Ak new reader ne..

    Berakhir dgn taeny…~yeeeyyy~
    Ni uda End,ato masih lanjut lagii??
    Lanjooott dong….^^

  4. Huhuhuhu😥 sedih dah😥 gak tahu harus komen apaan . Tapi, yang pasti ini menyentuh. Bener dah._.v
    Kebahagiaan taeng bener bener terdapat didiri ppany sendiri ^^
    Sooyeon.. Gomawoyo~ (: haha
    Diakhiri dengan happy ending. Thank’s thor.
    Oke, next ff ditunggu (:

  5. Yeyeyeyeyey akhirnya taeng bahagia kembali..dan memang taeng tuh harus lebih cocok dengan pany..jingkrak-jingkrak..

  6. Wooooww. . .bnrn baca nie ff ngubek2 perasaan. . .hihihihi. . .pas baca sepenggal mkir taeny bkln gk nyatu, trus baca lagi, ach psti nyatu, eh baca lagi, gk nyatu. . .dan terakhiiirrr akhirx nyatuuuuu. . .hehehehe. . . Good job. . .

    Keep spirit. . .:D

  7. akhir nya happy ending.. wlopun berbagia rintangan harus taeyeon lalui.. TaeNy always and forever in my heart.. ^_^
    thank to sooyeon udh bimbing taeyeon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s