Like Yesterday [Chapter 1/2]

Cast :     Kim Taeyeon

Hwang Miyoung

Jung Sooyeon

Kwon Yuri

Nickhun

Lee Sunwoong (Tablo)
Genre : Romance, Drama, YURI

***

Like Yesterday – J

Fly – Epik High

Even In My Dream – G.O (MBLAQ)

She – DBSK

I Gave You – ShinHwa

Love Song – ShinHwa

Lie – BigBang

Not Over You – BoA

Distance – Boa

Mistake – SNSD

Tears – SNSD

I’m Not Alone – Kim Taeyeon

Fix You – ColdPlay

My Love Like A Star – Demi Lovato

Ordinary Day – Vanessa Carlton

Something About You – Chrystian

Because Of You – Keith Martin

—————————————————————————————————————–

Kau tidak perlu mengucapkan apa-apa lagi

Tapi jika kau menginginkan kembali bersamaku

Aku akan selalu menunggu

***

fall-leaves-cup-photo-wallpaper-1920x1080

Taeyeon POV

Percaya. Kehangatan yang sejak lama kunikmati dalam lingkup kisah cintaku, berusaha selalu terjaga keutuhannya, tak kusangka tembok kokoh itu hancur juga. Hanya karena satu kata yang ternyata sangat mematikan dalam hubungan kami. Kepercayaan. Benar adanya jika cinta memang tak sempurna tanpa rasa saling percaya. Dan ternyata aku juga yang akhirnya merasakan itu. Tertinggalkan, terabaikan, dan tersakiti. Itu lah aku yang sekarang ini. Aku bukan lagi wanita bahagia yang memiliki seorang malaikat manis disisiku. Malaikat yang setiap waktu selalu memberikan segalanya untukku. Aku patut menyesal dengan keadaan ini. Aku menyia-nyiakan cintanya yang sedemikian besar untukku. Sempat ada rasa cinta yang terabaikan dariku untuknya. Tapi ternyata aku bukanlah seorang yang bisa setia. Memberikan cinta seutuhnya untuk satu orang, hanya satu orang. Aku tak melakukan itu. Aku bermain perasaan dengannya. Lebih tepatnya aku mempermainkan perasaannya. Dan kali ini aku yang mendapat imbasnya.

Like yesterday. Aku ingin kembali ke hari-hari kemarin. Aku ingin memperbaiki segalanya. Aku ingin melupakan semuanya. Aku ingin menganggap semua ini tak pernah terjadi dihari-hariku yang sekarang. Merombak semua rangkaian hidupku, dimana aku hanya bisa mencintainya. Hanya dia seorang.

Besar kesalahanku padanya. Aku tau kini dia sangat jauh dariku. Aku tak tau dimana dirinya, aku tak tau bersama siapa dia sekarang. Jujur, aku sangat merindukannya. Aku takut untuk menghubunginya. Aku takut akan penolakan. Aku yakin penolakan itu akan memukulku kencang. Memang itu yang seharusnya aku terima. Hanya saja aku berharap kau tak mengatakan itu walau aku berbuat seperti ini.

Pantaskah aku jika kau sempat mencintaiku? Pantaskah aku jika aku mengharap kau kembali lagi disampingku? Aku tau kau tak akan bertanya, kenapa aku meninggalkanmu. Kerena aku tau, penghianat sepertiku tak akan pernah menggapai kebahagiaan. Aku gagal.

Menguap. Segalanya menguap seperti kopi panas dihadapanku saat ini. Lambat laun akan menjadi dingin. Dan akhirnya rasa sempurna dari kopi itu akan hilang. Hambar. Aku mengerti segalanya. Keadaan, dan takdir memang susah untuk ditentukan. Hanya tertebak dan mungkin juga tebakan itu lebih banyak meleset daripada mendekati tepat.

Aku bisa merasakan betapa beratnya menjadi dirimu. Aku hanya takut jika kisah cintaku kini berhenti dan tidak kembali lagi. Aku hanya bisa mengharap kau menengokku kembali dan melihat air mata ini. Air mata penyesalan karena menyia-nyiakan hari-harimu yang ternyata hanya kau gunakan untuk mencintai orang bodoh seperti diriku.

9 March. Hari ini. Aku hanya bisa menikmati hari jadiku yang ke 20 ini sendirian. Kunyalakan lilin yang tertancap kokoh diatas kue tart kecil dihadapanku. Mengucapkan sebuah permohonan yang sedari tadi hanya bisa kurutuki dalam hati kecilku. Alone.

 “happy birthday my lovely venus.” aku masih mengingatnya dengan pasti saat dia mengucapkan kalimat itu. Aku hanya mengulas senyum tipis menanggapi kejutan dipagi hari darinya. Saat itu aku tak bisa merasakan apa-apa. Aku buta akan cintanya yang begitu besar untukku.

Penyesalan selalu datang diakhir. Mengapa aku harus melakukan semua ini? Dan akhirnya aku lelah dengan segalanya. Karena ternyata memang aku tak cukup baik untukmu. Jadi, aku menjanjikan diriku sendiri, suatu saat nanti ketika bagian cinta kita kembali lagi, Tersenyum dan membiarkanmu pergi, berharap yang terbaik untukmu. Biarkan diriku disini selalu merasa bersalah. Tapi semua itu akan tetap menjadi memory terindah untukku.

“seperti inikah kim taeyeon yang kukenal? Huh! Menyedihkan.” Satu suara membangunkanku dari lamunan. Aku menengok kearah sang pemilik suara. Menatapnya sebentar, memperhatikan wajah mengejek yang kini terulas diwajahnya.

“oppa. Bisakah kau mengetuk pintu atau memencet bel sebelum masuk ke rumah orang?” aku kembali mengalihkan pandanganku. Kembali bersandar nyaman dikursi balkon yang sedari tadi menemaniku sendirian.

Baru beberapa detik aku memejamkan mata, sesuatu yang dingin menyentuh dahiku. “hanya ini yang bisa ku lakukan dihari ulang tahunmu.” Dia menempelkan sekaleng jus jeruk didahiku. Aku terdiam menatapnya. Dia adalah seorang sahabat terdekatku, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai seorang kakak. Setiap aku sedang bersedih, dia yang selalu berhasil mencairkan pikiranku.

“sunwoong oppa~”

“datanglahh. Aku tak akan menolakmu jika kau datang padaku disaat kau membutuhkan teman. Aku sudah menganggapmu seperti adik kecilku. Aku akan ikut bersedih jika melihatmu seperti ini.” Aku masih menatapnya, merasa tersentuh dengan apa yang baru saja dia ungkapkan. Ucapan tadi membuatku merasa sedikit tenang, karena masih ada sunwoong oppa yang tak pernah berhenti menghiburku.

Masih banayk orang yang sangat berharga disekitarku. Tapi entahlah… Aku masih merasa kurang sempuran dengan semua ini. Masih ada yang hilang. Masih ada banyak hal yang membuatku merasa seperti ini. Hanya karena dia, hal tersebut menjadi besar, dan ternyata memang membuatku selalu merasa tertekan. Semlua memang karena aku.

***

Hari ini aku dan sunwoong oppa bersama akan melihat drama musical. Tadi pagi tiba-tiba dia datang dengan teriakan – teriakan yang membuatku terbangun dari tidurku. Dan ternyata itu semua hanya karena dia ingin memerkan tiket yang berhasil dia beli.

“taeyeonn~ahhh. Cepat sedikit. Aku tak ingin duduk dibelakang dan hanya bisa melihatnya dari jauh.” Dia menarik tanganku, mempercepat langkahku yang ternyata sejak tadi aku sudah tertinggal langkah darinya. Dasar maniak girl group.

“aahhhhh! Woongie hyungg!” seseorang berteriak dari depan kami berdua. Soerang laki-laki dengan postur tinggi. Dia sedikit berlari menghampiri kami.

“khuniieee!” kini keduanya saling berteriak, dan tingkah mereka itu membuat banyak orang disekitar kami menengok kearah kami pastinya.

“yaaa!! Sudah kuduga kau pasti ada disini hyungnimm..” aku hanya bisa berdiri dan mendengar percakapan mereka.

“bahkan aku juga berpiran seperti itu. Kau sendirian?”

“aniii… aku bersama seseorang.” Kini mata lelaki itu mengarah padaku. Memandangku sejenak lalu tersenyum.

“akhirnya kau melepas status lajangmu hyungnimm..”

“she’s just my little sister. Taeyeon~ahh. Kukenalkan kau pada temanku.” Kini sunwoong oppa menarik tanganku. Reflect aku sedikit terkejut karena sedari tadi aku hanya mendengarkan dan melamun saja.

“a-annyeeoonng. Kim Taeyeon imnida.” Kupasang senyum termanis yang pernah aku miliki. Laki-laki dihadapanku kini membalas senyumku tak kalah lembut. Aku rasa dia bukan kelahiran korea. Wajahnya lebih condong kearah wajah barat. Aku akui laki-laki ini memang tampan.

“neeee kim taeyeon~shiii. Nickhun imnida.”

Satu bunyi ringtone membuat kami dia setelah beberapa menit mengobrol.

“ahhhh.. mianheee… arrraaa.. aku akan segera masuk… baguslahhh kalau kau sudah memesan tempat yang paling nyaman. Neee~”

“hyung, taeyeon~shii. Kita harus segera masuk, atau kita akan ketinggalan acara musicalnya.”

“ahhh iyaaa!” dengan cepat sunwoong oppa berubah dalam mode panik, Karena ternyata sudah lebih dari 10 menit kami mengobrol. Benar-benar pecinta girl band.

Kami mulai memasuki theater, nickhun oppa lebih dulu meninggalkan kami berdua karena dia harus mencari temannya yang sudah lebih dulu masuk kedalam. Dinginnya air con membuatku merapatkan jacket yang kukenakan. Duduk dan mulai menikmati musical ini. Bisa dibilang lumayan menghibur karena siapapun castnya, aku juga termasuk dalam penggila musical. Tak jauh berbeda dari sunwoong oppa, dan juga dia. Hwang miyoung. Andai saja aku masih bersamanya, kurasa kali ini aku akan duduk berdampingan dengannya disini.

1 jam lebih berlalu dan musical telah selesai. Kuregangkan seluruh ototku yang terasa pegal karena terlalu lama duduk.

“taeyeon~ahhhh… aku laparrrr..” laki-laki disebelahku kini mulai beraegyo. Aku menatapnya heran. Orang ini, sudah berumur tapi tetap saja bertingkah seperti anak-anak.

“yaa!! Kenapa kau melihatku seperti itu? Jangan sampai kau jatuh hati padaku! Huh!” jitakan ringan mendarat tikepalaku, membuatku reflect sedikit mengerang.

“oppaaa! Kau terlalu berharap. Aku bukan tipeku! Dan lagi-“

“hyuuuuunggnnimmmmm~” satu seruan membuatku tak melanjutkan kalimatku. Dengan cepat, aku dan sunwoong oppa menengok bersamaan kearah datangnya sumber suara. Nickhun oppa. Dannn

*deeeeegggggggg

Seketika satu sentakan dari dalam mengenaiku telak. Sosok gadis dihadapanku saat ini membuatku nyaris terjatuh jika sunwoong oppa tak menyangga pinggangku. Aku menutup mata seketika, pening kini menyerangku. Melahap seluruh kesadaranku. Rasanya aku tak ingin membuka mataku. Kurasakan tubuhku semakin melemas. Tak ada tenaga. Kenapa harus seperti ini tiba-tiba? Kenapa harus secepat ini aku kembali merasakan rasa sakit ini? Apa ini hanya visualku saja? Kalau iya, aku tak ingin ini menjadi nyata. Aku belum merasa siap dan pantas untuk menampakan wajahku dihadapannya. Aku masih takut untuk itu.

“Taeyeon~ahh. Gwenchaannaa?” kurasakan satu usapan lembut dipipiku. Aku masih tetap terpejam. Berusaha menyingkirkan rasa pening yang kini benar-benar menghajarku. Aku masih tak percaya, ini kenyataan atau hanya sebuah halusinasi belaka yang memang akhir-akhir ini sering muncul dalam mimpiku.

Aku mencoba terbangun dan membuka mata, menatap lurus kearah gadis yang kini berada dihadapanku. Dia tertunduk, kenapa? Aku hanya ingin memastikan dan berharap gadis itu bukan dirinya. Aku belum siap untuk menampakan diriku dihadapannya, aku akan terus merasa bersalah jika saat ini dia benar-benar hadir dihadapanku.

“hyung, taeyeon~shii. Perkenalkan. Dia kekasihku. Hwang miyoung.” Kekasih? Aku tersentak. Rasa tercekat ditenggorokanku datang tiba-tiba. Kelu. Aku ingin enyah dari sini, aku ingi berlari dan berteriak sekeras mungkin. Kurasakan dekapan sunwoong oppa mengerat. Ya. Dia tau segalanya, dia tau tentang kisah cintaku dengan gadis itu. Dia tau segalanya. Aku hanya bisa merasa lemas saat ini.

“ahhhh.. khunie, sepertinya kami harus buru-buru pulang. Kurasa dia sedang tak enak badan.” Ucap sunwoong oppa. Gomawooo oppaa. Kau benar-benar penyelamatku.

“ahhh,, jinnjjaaa? Taeyeon~shii, gwenchanaa?” aku mendongakkan kepalaku, sebentar menatap nickhun oppa dan mengangguk dan tersenyum tipis, kembali kutatap gadis itu, masih sama. Dia tetap tertuduk diam. Mianhee miyoung~ahh. Jongmal mianhe.

***

Kembali kurasakan kesepian, dan sepi. Malam yang cerah dengan purnama dan bintang-bintang yang membantu penerangan dibumi. Berbeda halnya disini. Dikamar ini. Begitu gelap. Aku hanya bisa menatap jendela kamarku yang tertutup. Memandang daun-daun yang terjatuh karena angin dari pohong didepan rumahku.

Kuraih sebuah buku dari meja kecil disamping tempat tidurku. Buku diary berwarna pink. Entah kenapa aku tak pernah bosan membaca dan sering sekali hanya memandang coretan-coretan sang pemilik diary ini. Kurasa hanya ini yang bisa kubuka saat aku sangat merindukannya. Dan ternyata setiap waktu aku selalu membukanya.

Flash Back

“miyoung~ahh.. hadiah untukmu!” taeyeon kecil berteriak kegirangan sambil berlari kearah tiffany.

Tiffany yang sedikit terkejut karena kedatangan taeyeon membelalakan matanya. Kedatangan taeyeon yang ternyata lebih cepat dari yang diperkirakan.

“taetae,, kenapa kau kembali secepat ini?”

“karena aku merindukanmu. Ini untukmu, dan ini untukku. Aku ingin kau mengisi segalanya yang kau rasakan diantara kita berdua didairy ini. Dan suatu saat nanti jika kita sudah besar, kita bisa saling menukar. Kau memegang punyaku, dan aku memegang punyamu.” Taeyeon kecil tersenyum menatap tiffany kecil. Mereka berdua masih terlihat sangat polos dan tentunya satu sama lain sudah memiliki rasa yang terpendam.

Diary itullah yang akhirnya menyatukan mereka saat mereka tumbuh dewasa.

End Flash Back

Hmmm… miyoung~ahh.. aku ingin mendengarkan lagu yang kau tulis didiary ini. Mendengarkan kata-kata cinta yang indah yang ada didalam lyricnya. Akan lebih mengesankan jika kau bisa menyanyikan lagu itu saat aku akan pergi tidur. Sepertinya sangat menyenangkan. Mimpi yang sangat indah bukan? Huh!

Setiap kali aku membaca diary ini, aku merasa sama dengan saat aku membaca novel cinta, dan aku bisa membayangkan kalau tokoh utamanya adalah aku dan dirinya. Aku sudah membacanya hingga selesai, dan hanya ada namaku dan juga dia.

Kututup kembali buku diary ini, dan kudekap dalam pelukanku. Membayangkan dirinya kini berada didepanku dan tersenyum lembut penuh dengan rasa kasih sayang seperti yang selalu dia peruntukan untukku dulu. Kembali aku harus merutuki diriki karena kembali aku terus merasa sangat bodoh. Aku yang melepaskan, dan aku sendiri yang saat ini menderita karena merindukan belaian cinta darinya. Kurasa ini tak adil untuknya. Jaid ini yang selama ini dia rasakan? Seperti inikah rasanya jika cinta itu bertepuk sebelah tangan. Ternyata benar-benar sangat menyiksa.

Kuraih handphoneku, kali ini  kuberanikan diri menghubunginya.

“yeoboseo” terdengar jawaban canggung dari seberang sana. Dia mengangkat. Tak menolakku?

“pany~ahh.. emmm~ kau tak keberatan jika kita bertemu sekarang?” ucapku sedikit tergagap. Jebal. Aku mohon miyoung~ahh..

Beberapa saat tak terdengar jawaban. “aku hanya ingin meminta maaf dan memulai kembali. Memperbaik hubungan kita.” Lanjutku.

Masih tak ada jawaban. Hanya suara nafas yang terdengar. “jeball. Kali ini saja. Aku tak akan mengganggumu lagi setelah ini.” Aku kembali memohon. Aku benar-benar berharap dia menerimanya. Setidaknya aku sangat ingin memperbaik hubungan ini. Aku tau jika aku memintanya kembali, itu akan percuma, dia tak akan kembali menerimaku. Aku tau ketakutannya. Dan lagi, khunie oppa sudah menjadi penggantiku. Dia berhak untuk bahagia.

“pany~ahh… arraseooo, aku tau kau masih tak akan mau berbicara denganku. Apapun jawabnmu, aku akan tetap menunggumu ditempat pertama kali kita bertemu. Aku tau kau masih mengingatnya. Tempat yang juga menjadi awal hubungan cinta kita. Gomawo karena masih mau menerima telfonku.” Aku memutuskan sambungan. Bergegas keluar kamarku, mengambil kunci mobil dan hoddieku.

***

30 menit berlalu. Dia belum juga datang. Udara dingin yang menerpa tak kuhiraukan. Aku masih tetap akan menunggunya. Menunggu hal yang tak pasti yang juga sia-sia. Tapi aku tetap yakin kalau dia akan datang. Entah darimana datangnya keyakinan itu, aku sendiri juga tak mengerti.

Aku menatap langit malam yang semakin mendung. Bintang yang mulai menghilang diganti dengan awan gelap yang mulai beriringan diatasku. Sepertinya aku tak menyadari sedari tadi kalau malam ini akan hujan.

Taman ini ternyata masih sama. Aku masih merasakan udara keindahan dimasa lalu, dimana aku dan dirinya sering menghabiskan waktu pulang sekolah kami ditempat ini. Membangun istana impian dengan pasir-pasir ini. Aku berjongkok diatas pasir-pasir yang dulu sering kami bangun menjadi istana. Aku rindu akan itu. Tanganku mulai beradu dengan pasir-pasir, membentuk bongkah demi bongkah menjadi bangunan istana kecil. Rintik air mulai berjatuhan dikulitku. Aku masih melanjutkan aktifitasku hingga akhirnya terbentuk sudah istana kecil ini. Aku tersenyum memandangnya. Kuraih handphoneku, dan kufoto. Masih kutatap hasil jepretan tadi. Kembali membayangkan masa laluku. Rintik air yang awalnya perlahan jatuh, kini semakin deras mengguyur. Mulai membasahi seluruh tubuhku.

“hujan.” Aku berucap pasrah. Kubaringkan tubuhku diatas pasir. Menatap bulir-bulir air yang dengan deras mengeroyokku. Kutatap jam dipergelangan tanganku. 50menit berlalu. Aku masih bersikokoh untuk tetap menunggunya. Taman ini tak terlalu jauh dengan rumahnya.

Aku mulai memejamkan mataku, sedikit nyeri saat air hujan yang deras jatuh tepat dimataku. Dan beberapa menit kemudian hujan berhenti. Benarkah? Aku masih mendengar derasnya air yang berjatuhan. Aku mencoba mengusap mataku dan mulai membukanya. Seorang gadis dengan payung berwarna pink berdiri tepat dihadapanku. Aku kembali mengusap mataku, mengurangi pandanganku yang kabur. Tiffany? Benarkah? Apa aku hanya bermimpi? Dia benar-benar datang.

“miyoung~ahhh..” aku terbangun dan terduduk saat benar-benar yakin kalau gadis yang ada dihadapanku ini adalah tiffany. Dia tak bergeming, menatapku lekat, ada tatapan kesedihan disana. Badanku yang semula sudah bergetar karena terguyur hujan, kini semakin menjadi dengan tatapan matanya yang tak biasa.

“bukan seperti ini caranya. Aku tau kau akan tetap menungguku, tapi aku tak ingin kau melakukan hal bodoh seperti ini.” Kali ini sikapnya membuatku kembali berfikir, kembali menuangkan segala penyesalanku dalam hati. Perlakuan sederhana yang membuatku masih merasa sangat bersalah. Dia menyelimutiku dengan hoddienya. Perhatiannya untukku masih sama. Seperti inikah cinta itu bekerja? Dan apakah selama ini aku harus memanggul gelar orang bodoh karena tak menyadari itu?

“mianhe miyoung~ahh.” Satu kata terucap dari mulutku dengan sangat bergetar. Kediaman dan kecanggungan tiba-tiba nampak diantara kami berdua, menyisakan suara rintik hujan yang semakin deras. Tak terasa airmataku mulai mengalir. Aku berharap dia tak akan melihat air mata ini. Air mata penyesalan yang sia-sia. Menyedihkan.

“a-aku menyesal untuk semuanya. Ya, aku menyesal karena mengkhianatimu.” Aku kembali berucap, masih tak kalah bergetar dengan sebelumnya. Bukan hanya bibirku yang kelu karena merasa sangat bodoh mengucapkan itu, tapi karena hati yang memaksa tubuhku untuk ikut merasakan getarannya. Kupaksa tatapanku untuk mengarah menghadapnya, rasanya berat untuk memperlihatkan air mataku dihadapannya. Dia hanya tertunduk. Seperti inikah sakitnya? Aku benci rasa sakit ini. Aku benci dengan apa yang kulakukan.

Masih diam, tak ada kata-kata yang terucap darinya. Aku tau ini akan terjadi, mudah untuk tertebak. Dia terlalu sakit menghadapi semua ini.

“mianhe. Aku seharusnya tak melakukan ini. Tak seharusnya aku yang saat ini sangat kau benci datang dihadapanmu, dan hanya bisa membuatmu semakin merasa tersakiti.” Aku menghela nafas sejenak, menghapus air mataku yang juga tak kunjung berhenti.

“miyoung~ahh. Aku ingin berusaha menerima segalanya. Aku akan menerima kebahagiaanmu sebagai kebahagiaanku juga, meskipun kau sekarang tak bersamaku. Ini hukuman untukku. Selama ini kau yang menanggung sakitnya, dan aku berharap kau bisa melepasnya, biarkan aku sendiri yang menanggunya. Sebagai ganti masa lalumu yang terbuang sia-sia hanya untukku. Gomawo, karena kau masih sudi menemuiku dan ini. Kukembalikan padamu. Perhatianmu selama ini akan kukenang.” Aku mengembalikan hoddienya yang sedari tadi menyelimutiku, mengurangi beban kedingananku. Aku beranjak berdiri, berjalan menjauh menuju mobilku.

Ini yang terakhir. Yang terakhir untuk bisa melihatnya. Aku akan terluka setelah ini. Sangat terluka. Aku terima itu. Kini hanya sendiri yang menjadi temanku. Cinta benar-benar akan menghilang dariku, menjauh sejauh mungkin, karena kurasa aku tak layak untuk mendapatkan cinta.

***

Tiffany POV

Kenapa aku harus melihatnya? Kenapa aku harus melihat air mata itu? Air mata yang sangat jarang aku lihat saat aku masih bersamanya. Dan lagi, kenapa aku harus kembali merasa terluka? Hanya dengan melihat air mata itu? Dia yang menyakitiku. Dia yang meninggalkanku. Dan dia juga yang tega mengkhianatiku. Kenapa aku harus tersakiti hanya dengan melihat air mata dan mendengar ucapan bodoh dari dirinya? Kenapa aku masih merasa ingin terus memperhatikannya? Kenapa ini terjadi? Kenapa masa laluku begitu tega mencabik-cabik habis kebahagiaanku? Sudah lebih dari 1 tahun. Tapi aku masih merasakan sakit yang mandalam? Karena cinta pertama? Atau karena aku yang terlalu bodoh, mudah sekali jatuh dalam penyiksaan batin oleh cinta.

Dia berjalan menjauh. Aku hanya bisa melihat punggungnya. Terlihat jelas, punggunya yang bergetar dari sini. Andai saja kau tau taeyeon~ahh. Sampai sekarang hanya dirimu yang selalu hadir disaatku bermimpi. Entah itu mimpi indah, dan juga mimpi burukku.

Aku berusaha mencari kebahagiaanku. Kebahagiaan yang kau katakana suram dimasa laluku. Ya, aku mendapatkan kebahagiaan itu sekarang. Tapi kenapa aku merasa kau masih menarikku kencang? Aku merasa kau masih berada dalam hidupku, walaupun aku sudah berusaha keras untuk mengusirnya jauh-jauh.

Memang benar, aku sangat membencimu. Aku merasa kalau rasa benciku padamu kini tak pernah akan padam. Aku tak ingin itu padam. Tapi mengapa kau harus seperti ini? Kenapa kau harus menangisi penyesalanmu sendiri? Kau membuatku sesak sesaat karena ucapanmu. Sekuat itukah rasa cintaku untukmu?

Andai saja aku bisa melihat masa depanku, aku tak ingin pernah menerimamu dalam kehidupanku. Malahan, aku tak ingin melihat, bahkan mengenalmu. Itu menyiksaku sekarang. Semakin menyiksa, meninggalkan scars yang sangat besar disini. Dilubuk hatiku yang terdalam. Aku bisa membayangkan, kini kau sangat kesepian. Dan seharusnya aku merasa sangat senang dengan itu. Aku ingin tertawa lepas karena kau merasakan apa yang dulu kau torehkan dalam dihatiku. Dan nyatanya, terbalik. Aku hanya merasa semakin sakit melihatmu sampai seperti ini. Penyesalanmu hanya udara kotor untukku. Yang seharusnya aku buang dan tak lagi aku hirup, semudah aku mengganti karbon dioksida dalam tubuhku menjadi oksigen segar.

Air hujan semakin mengguyurku. Berjatuhan sangat kencang dibalik paying yang kukenakan sebagai penghalang. Aku menatap bentukan-bentukan pasir yang mulai runtuh karena hujan dihadapanku. Ini mengingatkanku dimasa lalu, saat aku dan dirinya belum mengenal cinta. Masih sangat awam untuk merasakan hal itu.

Jika saja aku bisa berenkarnasi, aku ingin sekali menjadi pasir ini, supaya aku bisa menatapnya bahagia. Senyumnya yang tulus dan masih polos dimasa lalu. Senyuman terhangat yang ternyata lenyap saat aku dan dirimu semakin menyatu.

“kau bilang ini bahagia? Ini semakin menyakitiku jika kau tau.” Aku berucap tak kalah bergetar saat dia mengucapkan kata-katanya tadi. Aku sampai saat ini masih belajar untuk tetap berjuang dengan cinta yang saat ini aku jalin bersama nickhun oppa. Aku tak ingin mengecewakannya, aku menerimanya sebagai masa depanku. Aku ingin beranjak menjauh dari masa laluku. Berusaha menempatkan segalanya yang dulu aku terima saat masih bersama dirinya. Dia hanyalah kenangan indah yang mungkin bagiku susah untuk terabaikan, tapi aku tak bisa terus-terusan egois pada perasaanku. Aku takut jika nantinya aku akan mengorbankan banyak hati.

Sempat aku beranggapan, ‘what I’m supposed to do when I feel the best part of me is always you’ kata-kata itu terlalu sulit untuk aku lupakan. Bagaimana bias aku lakukan itu? Labil? It’s me. Tapi setidaknya aku akan tetap berusaha untuk sepenuhnya mencintai kekasihku saat ini. Mencintainya seperti saat aku mencintai masalaluku, atau bahkan aku bisa lebih dari itu.

Aku berani meninggalkan masalulu, dan aku juga harus bertanggung jawab atas itu. Dia memang terlalu berarti sampai sekarang. Aku tak bisa mengabaikan itu. Aku masih sangat sering merindukannya, jujur itu aku lakukan. Seandainya dia tau, mengapa aku sangat mencintainya. Tapi sayang, Tuhan belum menghendaki kau dan aku bersama. Aku tak akan memaksakan itu. Karena kembali lagi pada perkataan banyak orang yang mengatakan bahwa ‘jodoh ada di tangan Tuhan’ maka aku hanya bisa berdoa.

Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatanku kali ini. Tuhan kembali mendatangkan calon pendamping hidupku, kupertahankan itu. Dan tetaplah dalam kenangan dihatiku yang paling dalam untuknya. Kim Taeyeon. Nama itu sangatlah berharga bagiku. Terimakasih untuk masalalu yang indah dulu.

***

Taeyeon POV

“appa, ummaaa! Aku harus brangkat sekarang. Aku tak ingin ketinggalan pesawat.” Aku berlari kearah appa dan ummaku, memeluk mereka dengan erat. Aku akan sangat merindukan mereka.

“dan saat aku pulang nanti, akan kuperlihatkan hasil kerja kerasku pada kalian.” Aku melanjutkan dengan semangat

“taeyeon~ahh. Appa dan umma percaya, kau akan menjadi orang sukses disana. Kau adalah kebanggaan kami berdua. Berjuanglah. Dan jangan lupa sering-seringlah menghubingi kami” aku mengangguk. mereka berdua mulai menciumiku dan memelukku.

“oppa. Gomawo untuk semuanya. Jaga diri baik-baik. Jangan sampai kau sakit gara-gara aku jauh darimu untuk waktu yang mungkin terbilang sangat lama.” Aku memeluk Sunwoong oppa, menepuk-nepuk punggungnya.

Hari ini aku akan melanjutkan karirku di London. Mengejar kebahagianku disana.

“taeyeon~ahh. Kuharap kau juga bisa seperti itu. Kau itu mengkhawatirkan. Aku masih berat hati jika harus membiarkanmu hidup sendiri disana. Kau-“

“arraaaa oppa… aku tak akan membiarkanmu seperti itu. Aku akan jaga baik-baik diriku. Dan suatu saat nanti saat kembali lagi kemari, giliranku untuk menjagamu. Oppa, aku harus bergegas, pesawatku akan segeara terbang.” Aku mengacak pelan rambutnya. Dia hanya mengangguk. Kuharap dia benar-benar bisa menjaga kesehatannya.

“taeyeon~ahh. Hubungi aku jika kau ada waktu. Jangan membiarkanku kesepkan!” baru beberapa langkah, dia kembali berteriak. Dasar!

“arraaa oppa! Aku akan menemanimu saat aku sedang ada waktu luang. Akan kuhubungi kau setiap malam.”

***

Cinta itu sederhana,

Jika memang tak mampu untuk membuatnya tertawa,

Maka cukuplah dengan tidak membuatnya merasa terluka.

Taeyeon POV

5 years ago…

Tahun dengan cepat berlalu, aku tetap seperti ini. Diriku yang dulu, hanya berbeda situasi. Aku sudah berhasil merengkuh kesuksesanku di London. Merasa sangat bangga dengan apa yang saat ini aku jalani dan dapatkan. Sebuah perusahaan besar yang dulunya dikelola oleh seorang yang kukenal baik, kini jatuh ditanganku. Beliau mewariskan segalanya padaku. Dia adalah pamanku. 2 tahun yang lalu saat beliau meregang nyawa dan kembali pada sang pencipta. Aku tak menyangka jika segalanya akan beralih padaku. Aku sempat berpikir, beliau mewariskan semua ini untukku karena istrinya telah mendahuluinya, dan beliau juga tak mempunyai keturunan. Saat-saat terakhir, sang pengacara berbicara padaku bahwa beliau mempercayakan segalanya ditanganku karena aku mampu untuk menyukseskan kerja kerasnya. Dan sampai saat ini, aku masih terus dan akan tetap berusaha melanjutkan itu semua. Menjadikan perusahaan ini tertanama. Jika bukan karena beliau, mungkin aku tak akan sesukses saat ini.

Hari ini terasa sangat panjang. Sangat melelahkan rasanya. Meeting dibeberapa tempat membuatku kembali merasa pusing. Kondisiku hari ini memang tak sepenuhnya mendukung. Kurasa efek obat tidur yang kutenggak semalam kembali menimbulkan efek sampingnya.

“taeyeon~ahh.. berhenti meminum obat tidur! itu akan menghajar kepalu saat kau terbangun. Dan akhirnya seperti ini.” Omel gadis disebelahku. Aku menatapnya sesaat dan kembali terfokus pada layar handphoneku..

“anak ini benar-benar.” Satu gerakan darinya membuatku kembali menatapnya.

“aaaa… sicaaa, arraaaa! Aku tak akan menelan obat itu lagi. Itu semua gara-gara kau tak membuatkanku susu coklat panas. Kau meninggalkanku tersadar sendirian.” Aku memasang muka cemberut. Menunduk akan tingkah gadis disebelahku yang sudah mengambil handphone yang tadi kugenggam.

“kenapa kau tak membuat sendiri? Huh? Dasar manja” kini dia menundukan kepalanya, mencari mataku. Menengadahkan pipiku dengan kedua belah tangannya.

“mianhe taeyeon~ahh, semalam aku benar-benar lelah. Aku janji akan kubuatkan kau susu hangat saat kita sampai nanti” dia tersenyum lembut, masih dalam posisi yang sama. Tatapannya yang tulus membuatku selalu merasa bahagia.

Jessica adalah rekan kerjaku sekaligus sebagai teman paling dekat sejak aku datang ke London. Dia selalu memperhatikanku, aku menyayanginya.

Dibalik semua itu, Jessica merupakan korban dari cinta. Dan itu membuatku mengingat masa laluku sebagai orang yang menyianyiakan kekasih yang sangat mencintaiku. Jessica sangat mengingatkanku pada dirinya. Aku masih merasakan getaran rindu untuknya. Aku sangat sering bertemunya, bertemunya didalam mimpi indahku serta mimpi burukku.

Aku yakin saat ini dia sudah benar-benar bahagia. Aku tau itu, dia adalah tipe penyayang. Sama seperti Jessica. Dia sempurna. Tapi sayang, aku menyianyiakan itu semua. Entah kenapa sampai sekarang rasa salahku belum juga pudar.

“taeyeon~ahh, apa kau baik-baik saja?” satu sentuhan lembut dipundakku menyadarkanku dari lamunannku. Aku menatapnyanya sekilas lalu tersenyum manis. Berusaha menghilangkan rasa kekhawatirannya untukku.

“nona, apa saya harus menjemputmu pagi nanti?” ucap pelayanku.

“annioo ahhjussi. Aku akan berangkat sendiri besok. Kau beristirahatlah. Terimakasih untuk hari ini, mianhe kerena merepotkanmu.” Ucapku kembut.

“gwenchana nona, ini sudah menjadi kewajiban saya. Saya pamit nona. Jika nona membutuhkan bantuan, saya akan selalu siap.” Dia kembali berucap. Pelayanku yang satu ini memang yang terbaik menurutku. Walaupun masih baru, tapi aku salut atas kerjanya.

“gomawo ahhjussi,” aku kembali tersenyum padanya, hingga akhirnya dia mulain menjalankan mobil.

“taeyeon~ahh. Bersihkan tubuhmu, dan aku akan membuatkan susu hangat untukmu. Go!!!!” perintah Jessica setelah kami berdua masuk kedalam rumah..

Aku dan Jessica tinggal serumah. Aku sengaja mengajaknya tinggal karena kami disini sama-sama sendirian dan juga berasal dari korea. Dan lagi, Jessica sangat benci dengan sendiri. Dia selalu merasa takut oleh itu. Dan akhirnya kuputuskan untuk menagajaknya tinggal bersamaku.

“this is it” Jessica menyodorkan nampan dengan sandwich dan susu hangat. Terlihat jelas uap air yg menyembul dari susu itu. Dia benar-benar sangat perhatian.

“gomawoooo cicuuhh~ahhh.” Aku mengeluarkan aegyoku padanya. Dia membalasnya dengan mencubit pipi kiriku.

Aku menyalakan tv, mengganti-ganti chanel, mencari acara yang tepat dengan malam ini, kurasa film action akan pas. Mataku terpaku sesaat pada tv, dan tak sadar mulut masih penuh dengan sandwich yang kumakan.

“ya! Kunyahh! Dasar!” Jessica menepuk lembut lengan kiriku, membuatnya sedikit memekik karena terkejut. Untungnya aku tak mengeluarkan seluruh isi mulutku. Aku menepuk-nepuk pelan dadaku, berusaha melancarkan proses penelanaku. Mataku tetap terpaku pada adegan seru ditv.

“taengie~ahh. Apa kau tak merasa rindu dengan keluargamu dan teman-temanmu? Apa liburan besok kau tak ingin pulang?” ucapnya disela-sela sepinya ruang tengah. Aku menyesap susu panas darinya sebelum menjawab pertanyaannya.

“aku tak bisa meninggalkanmu sendirian Jessica. Ahhh! Bagaimana jika tahun ini, kita kembali ke Korea. Kurasa kau juga merindukan segalanya disana.” Ucapku dengan penuh semangat.

“tapi taeng, aku tak memiliki siapa-siapa disana.” Dengan cepat keadaannya berubah, yang sebelumnya ceria, kini memurung. Aku menyambutnya dengan rangkulan hangat, kurengkuh dia dalam rangkulanku, menepuk-nepuk pundaknya.

“gwenchana. Masih ada aku yang akan selalu menemanimu. Aku sangat ingin bertemu dengan seseorang yang sudah kuanggap sebagai kakakku. Aku ingin memperkenalkannya denganmu”

“nugu?”

“kau akan tau nantinya. Sekarang kau tidur. dan asal kau tau, aku sudah memesan tiket penerbangan untukmu dan untukku kemarin. Kita akan berangkat besok. Berkemas-kemas, dan segera tidur. arra!? Aku akan menunggumu disini selagi kau berkemas-kemas.” Aku menarikknya untuk berdiri dan mendorong pelan tubuhnya.

“yaaa!!! Kenapa mendadak?! Ishhhhh!!”

Aku hanya tersenyum menanggapi omelannya.

Besok adalah pertama kalinya aku pulang kerumah, untuk pertama kalinya setelah aku hidup dinegara ini. Aku sudah sangat tak sabar menunggu besok. Appa, umma, sunwoong oppa, aku akan mengejutkan kalian. Aku memang sengaja tak mengabari mereka terlebih dahulu karena itulah tujuanku.

Sebenarnya masih ada satu nama lagi yang masuk daftar kerinduanku. Tapi aku tak ingin berharap banyak. Aku sudah berjanji tak akan menemuinya lagi. Aku tak ingin mengganggu hidupnya. Aku sudah merelakannya untuk bahagia. Hwang Miyoung.

***

Jennnnngggg….Jennnnnggggg. author yang asli update nihhhh ^^ hahahaha. Udah lama banget sebenernya mau ngeluarin ni FF, tapi karena saya merasa readers masih menikmati FF This Love, jadi terundur sampe sekarang.

Dan semoga ni FF nggak mengecewakan ^^

This Love [Chapter 5]

Chapter 5

Bagaimana bisa kau meminta ku untuk  mendapatkan kebahagiaan ku yang lain saat kau tau bahwa kebahagian ku itu adalah kamu.

 Heart-photography-6960592-2560-1920

Flasback POV

“seobang bangun..” suara itu terdengar  meminta pada kekasihnya yang kini sedang tertidur dengan lelap.
“eunghh~~..” yuri  hanya mengerang pelan.
jessica yang terlihat gemas dengan wajah yuri  saat tertidur pun hanya tersenyum dan membuatnya tak tahan untuk mengecup setiap sudut wajah yuri.
mulai dari kening turun ke mata, lalu kedua pipi yuri,hidung yuri dan terakhir ia mengecup kilat bibir yuri.
“isshh.. aku bilang bangun” pinta jessica dan sekali lagi memberikan kecupan singkat di bibir yuri saat kekasihnya tak memberi respon padanya.
yuri masih tidak bergeming bahkan tidak sedikit pun membuka matanya,
“seobang banguuunnn…” kini jessica merengek manja sambil kembali mengecup kilat bibir yuri.

Tanpa di duga yuri langsung memeluk erat tubuh jessica,kini posisi jessica sudah berada di atas tubuh yuri.
“kau  terlalu berisik baby, mengganggu saja..” yuri berkata dengan suara huskynya sambil menghirup aroma rambut kekasihnya
jessica yang ada di pelukan yuri pun membalas pelukan yuri,
“jangan salahkan aku, kau yang sulit untuk di bangunkan” ujar jessica sambil membenamkan wajahnya di lekukan leher yuri.

Yuri meraih telepon gengganggamnya yang berada di meja samping tempat tidurnya, ia melihat jam pada layar handphonenya tanpa melepas jessica.
“yaa.. kau lihat ini bahkan jam setengah 3 pagi dan kau membangunkan huh?” yuri pura-pura kesal pada jessica.
jessica kini mengangkat kepalanya menatap yuri dan tertawa kecil penuh arti.
“baiklah nona  jung berikan alasan mu membangunkan ku” pinta yuri pada jessica.
“hehe.. aku hanya tidak bisa tidur sayang, tadi aku sudah keluar kamar dan menonton tivi sendirian. Lalu aku duduk sendiri juga di balkon tapi tetap saja aku tidak bisa tidur, aku bosan sendiri” jawab jessica sambil menatap yuri dengan mata yang di buat sepolos mungkin.
“yaa!! Jangan menatap ku seperti itu atau aku akan memakan mu sekarang juga” ancam yuri, jessica pun semakin tak bisa menahan tawanya.
“lalu kenapa kau tak memakan ku saja seobang” jessica setengah berbisik dan sengaja mengeluarkan suaranya se sexy mungkin untuk menggoda kekasihnya.
“menantang ku huh..” ucap yuri tak kalah menggoda.
sesaat bibir mereka pun sudah menempel satu dengan yang lain saling mengecup lalu berganti saling menyesap dan melumat bibir masing-masing seolah tak ada waktu lagi untuk mereka esok hari. Ciuman mereka bukan lah ciuman penuh nafsu dan gairah yang hanya untuk memuaskan keinginan masing-masing  tapi ciuman ini terkesan lebih manis karena mereka menggunakan rasa cinta, cinta yang teramat dalam dan hanya mereka yang dapat merasakannya.

Mereka melepaskan tautan bibir itu saat mereka berdua merasa membutukan oksigen.
“saranghae baby” ucap yuri pelan sambil mengecup lembut dahi jessica, jessica hanya membalas dengan senyum manis dan mengangguk pelan.
“setelah ini apa yang kau inginkan baby” tanya yuri sambil membelai lembut pipi jessica dan menyelipkan rambut jessica ketelinga jessica.
“mmm.. bagaiamana jika kita berjalan-jalan saja sekarang” usul jessica.
“kau mau kemana ini bahkan sudah dini hari” jawab yuri mengeratkan tangannya di pinggang  jessica.
“hanya berkeliling entah lah yang penting aku ingin menghirup udara segar yul..” kembali jessica merengek pada yuri.
“aigooo.. berhenti melakukannya, kau tak akan bisa seimut sunny, wajah mu terlalu dewasa untuk merengek kau tau.” Yuri pun tertawa dan merasa senang berhasil menggoda kekasihnya
“Ya!! Aku tidak setua itu, aku juga bisa terlihat imut seperti sunny” protes jesica sambil memukul pelan bahu yuri dan mengerucutkan bibirnya menunjukkan wajah kesalnya.
“kekasih macam apa kau yang tidak pernah bisa memuji ku, menyebalkan” lanjut jessica menatap yuri tajam.
“owhh.. kekasih ku sedang marah” yuri masih terkikik.
“dengar aku tau kau dalah orang yang tidak bisa di puji, saat aku memujimu imut, cantik atau apapun kau akan selalu bersikap dan menunjukkan sisi seperti itu setiap saat dan kau akan menunjukkan juga pada orang lain. Aku tidak suka itu” ujar yuri sambil mengecup bibir jessica yang mengerucut.
“aku hanya ingin kau untuk ku bukan untuk orang lain, cantik mu hanya untuk ku, aegyo mu hanya untuk ku, kehangatan mu hanya untuk ku, sifat manjamu hanya untuk ku bahkan aku hanya ingin kau berbagi kekesalan mu hanya untuk ku. Kau sudah mengerti sekarang nona Jessica Jung Sooyeon?” tanya yuri dan menatap mata jessic yang tersipu.
“so cheesy, kau bukan kwon babo ku jika sudah seperti ini” ucap jessica sambil tertawa.
“hahaa… makanya jangan pernah memancing ku untuk bersikap se cheesy ini pada mu” yuri menjulur kan lidahnya seolah meledek jessica.

“bangunlah baby, kita mencari angin segar sekarang” perintah yuri dan langsung dituruti oleh jessica, iya bangkit dari posisinya yang menindih diri yuri dan merapikan rambutnya.
“kajja kita pergi” ujar yuri yang kini sudah berdiri di tepi ranjang dan mengulurkan tangannya pada jessica.
“piggy back” jessica kembali merengek, entah kenapa seorang kwon yuri tak akan pernah bisa menolak apapun permintaan seorang Jessica jung, pesona Jessica sangat berhasil membuatnya bertekuk lutut.

“hmm.. kau tau punggung mu adalah punggung ternyaman yang pernah aku punya” ujar jessica sambil menyandarakan kepalanya ke punggung yuri yang kini menggendongnya.

 

Flashback POV end

***

Author POV

“apa kau yakin akan pulang ke dorm malam ini?” hyun joong menatap jessica yang menyandarkan tubuhnya di jok mobil.
“mmm aku sudah berjanji pada yoona untuk pulang oppa”  jawab jessica  sambil menutup matanya menghilangan sejenak lelahnya.
“baiklah kalau itu maumu” hyun joong melajukan mobil nya.

Sejak pertengkaran dengan Yuri, Jessica memang memilih untuk menghindar sejenak dan menghabiskan waktu kosongnya dengan menyibukkan diri  sekedar untuk merawat tubuhnya di perawatan kecantikan,  berbelanja  ataupun kegiatan yang lain apapun  yang penting ia dapat mengalihkan segala  hal yang membuatnya sedikit setres dan tertekan akan hubungan nya dengan Yuri yang tak disangka akan seperti ini.

Tak bisa dipungkiri apa yang terjadi dengan hubungannya dengan kekasihnya tak pernah di sangka oleh Jessica, hubungannya dengan yuri memang  bukan tanpa konflik seperti pasangan lainnya keduanya sering terlibat pertengkaran2 kecil namun seberat apapun keduanya selalu berusaha saling terbuka dan bisa menyelesaikan masalah mereka. Tapi kini untuk masalah yang bahkan jessica tak tahu apa sebabnya membuatnya harus benar2 bisa bersabar untuk menghadapi semua ini.

Di perjalanan baik Hyun Joong maupun Jessica sibuk akan pemikiran mereka masing2 Jessica yang tak bisa berhenti memikirkan Yuri dan Hyun Joong yang hanya berkonsentrasi dengan mobil yang ia kendarai. Sesekali ia melirik Jessica yang duduk di sebelahnya yang  menikmati jalanan kota seoul lewat kaca mobilnya.
Hyun joong tak ingin memulai pembicaraan dengan jessica ia tahu gadis yang sebenarnya sudah lama ia cintai ini sedang memikirkan orang lain yang sangat ia cintai.

Selama pertengakaran Yuri dan Jessica Hyun joong lah orang yang setia menemani Jessica dan selalu berusaha ada untuk Jessica sesibuk apapun ia akan selalu menyempatkan waktunya untuk selalu ada di samping Jessica.
dulu mungkin ia bisa di bilang memiliki obsesi sendri bersama jessica tapi seiring berjalannya waktu Hyun joong merasa bahwa Jessica tak akan pernah berpaling dari seorang Kwon yuri itu membuatnya berfikir bahw ia tak bisa memaksakan perasaan Jessica terhadapanya. Baginya yang terpenting ia tetap bisa menjaga Jessica dan selalu ada untuk wanita yang ia cintai sekalipun Jessica tak pernah bisa membalas rasa cinta itu padanya.

Tak terasa mobil Hyun joong kini sudah berada di area parkir Apartement SNSD .
“sudah sampai” ucap Hyun joong singkat  namun Jessica tidak meresponnya, diliriknya Jessica yang kini ternyata sedang tertidur di mobilnya.
“hmmm.. kau sangat lelah yah?” Hyun joong berkata lembut sambil mendekatkan wajahnya kearah Jessica
“bahkan kau sangat cantik saat tertidur” ucap Hyun joong lagi sambil menggerakkan tangannya untuk merapikan rambut Jessica yang menutupi sebagian wajah Jessica
“apa semua sesakit itu bagimu? Tenang lah kau masih memiliki ku” Hyun joong melanjutkan meskipun tanpa mendapat respon dari Jessica.
“eungh~~” jessica melenguh pelan sambil membuka matanya.
“kita sudah sampai oppa?” tanyanya sambil mengusap matanya pelan
Hyun joong merasa Jessica sangat imut saat melakukannya pun tak dapat menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi Jessica.
“cute” ucap hyun joong sambil tersenyum manis pada wanita di hadapannya.
“appo isshh” jessica mengerucutkan bibirnya sambil mengelus pipinya sendiri yang sedikit merasa nyeri karena cubitan Hyun joong.
“sudah sampai kenapa tak membangunkan ku, kau tukang taksi yang payah” protes Jessica yang hanya di tanggapi tawa oleh Hyun joong
“aku sudah membangunkan mu princess tpi kau yang tak bangun2 jangan salahkan aku” Hyun joong mengacak pelan rambut Jessica.
“isshh kau membuatnya berantakan tau” protes jessica sambil merapikan rambutnya.

Sementara itu saat Hyun Joong dan Jessica sedang bercanda di dalam mobil, Yuri yang baru saja sampai untuk membeli perlengkapan yang kurang untuk makan malam mereka  hanya bisa menatap tajam dua sosok itu.
tak bisa di pungkiri saat ini hatinya sangat ingin meledak rasanya, ada rasa sakit dan juga cemburu melihat Jessica dan Hyun joong terlihat bahagia ketika bersama.
Sooyoung yang pergi bersama yuri dan juga ikut melihat Jessica dan Hyun joong hanya bisa mengusap pelan bahu Yuri ia sangat tau Yuri akan sangat cemburu saat melihat Jessica bersama Hyun Jong jangankan melihat mereka saat mendengar Jessica menghabiskan waktu bersama Hyun joong pun Yuri sudah sangat cemburu.
sebelumnya mobil yuri lebih dulu sampai di parkiran saat yuri dan sooyoung ingin keluar keduanya melihat sebuah mobil  yang juga baru sampai, Yuri tau itu adalah mobil milik hyun joong dan ia menahan dirinya untuk tidak keluar dari mobil, ingin melihat sedekat apa Jessica dan Hyun joong.
ia melihat saat hyun joong membenarkan rambut jessica,ia melihat saat hyun joong mencubit pipi jessica, ia melihat saat hyun joong membelai rambut jessica ya yuri melihat semuanya.

“mm.. baiklah aku rasa sudah waktunya aku masuk oppa aku rasa para member sudah menunggu ku” jessica melepas seatbelt .
“yaa.. masuk lah aku juga harus pulang besok pagi aku harus pergi ke hongkong” jawab hyun joong tersenyum manis pada Jessica
“okay.. bye Mr. Hyun, nikmatilah pekerjaan mu besok” pamit Jessica sembari keluar dari mobil Hyun joong.
hyun joong pun tersenyum dan mengangguk sembari menutup kaca mobil dan melajukan mobilnya.

Saat  jessica berjalan kearah elevator yang kan mengantarkannya ke dorm  jessica sedikit terkejut saat melihat Yuri dan juga Sooyoung yang baru saja keluar dari mobil Yuri.
raut wajah yuri benar2 menunjukkan ia sangat kesal dan ada sedikit rasa senang di hati jessica ia yakin yuri melihatnya dengan Hyun joong tadi dan tak pelak lagi yuri langsung terbakar cemburu.
“hei Youngie aa.. dari mana kalian” sapa jessica
“ini kami membeli bahan2 yang kurang untuk makan malam kita” ucap soo menunjukkan kantong belanjaan ia dan yuri.
sementara yuri hanya diam dengan wajah yang dingin, Yuri adalah orang yang tidak bisa di tebak ia terkadang bisa sangat ceria tapi ia juga kan cepat berubah mood nya saat sesuatu hal yang tak ia sukai terjadi dan asal kau tau yuri sangat lah buruk dalam hal menutupi mood nya jika sudah jelek.

yeoboseyo.. aahhh unnie sudah mau sampai baiklah aku menunggu unnie di parkiran mobil saja” sooyoung terlihat menerima teelpon dari kakaknya.
“yul, sica kalian masuk ke dorm duluan saja aku masih menunggu Soo jin unnie di sini, ia ingin mengantarkan barang ku yang tertinggal di rumahnya” jelas sooyoung.

Jessica dan yuri kini hanya saling menatap, Yuri berfikir inilah adalah moment  yang sangat tidak pas bagaimana mungkin ia akan masuk ke elevator hanya berdua dengan Jessica saat rasa cemburunya kini sangat lah memuncak, ia tak ingin kembali terjebak saat jessica mulai memancingnya.
sementara itu juga jessica pun merasa ini akan menjadi canggung bagi keduanya.
“mmm tidak aku akan disini menunggumu soo” tolak Yuri
“tak usah yul, aku yakin para member sudah menunggu kalian untuk  makan malamnya” jawab sooyoung meyakinkan.
“ aku lelah aku rasa aku akan masuk duluan saja” Jessica tiba2 bersuara dengan gaya cuek yang dimilikinya
“ya.. jika kau lelah masuk lah,dan yul kau juga bisa masuk dengan sica terlebih dahulu” pinta sooyoung.
dalam hati yuri hanya bisa mengumpat ia merindukan Jessica tapi ia benar2 tak ingin jika saat ini dan dalam kondisi seperti ini ia hanya akan berdua bersama jessica waluapun menggunakan elevator ke lantai 19 itu sangat cepat tapi tidak jika hati mu sedang tak nyaman sepert i yuri.

Setelah akhirnya yuri berusaha menolak namun gagal juga kini Yulsic sudah memasuki elevator hanya berdua.
hening dan canggung hanya itu yang terasa di elevator itu, baik Jessica ataupun yuri merasa sama2 canggung dan bingung untuk memulai pembicaraan apa yang bisa membuat mereka bisa lebih santai.
“apa kabarmu?” yuri akhirnya memecahkan keheningan diantara mereka.
“kau menanyakan kabar ku seolah2 kita tidak pernah bertemu dalam waktu yang lama.” Ucap Jessica dingin
glek  yuri menelan salivanya bagaimana tidak ia hanya berusaha menghilangkan kecanggungan diantara mereka yang kini tercipta dan menanyakan kabar hanya itu yang terlintas di kepala yuri kini, tapi benar kata Jessica untuk apa dia menanyakan kabar jika ia setiap hari bisa melihat Jessica meskipun hanya di pertemukan untuk pekerjaan mereka. Lagi ia sangat terlihat bodoh jika sudah begini.
“lalu apa yang kau lakukan seharian tadi?” tanya yuri , ia sebenarnya sangat ingin mengetahui kemana saja kekasihnya seharian ini apakah iya mengahabiskan waktunya bersam hyun joong.
“aku tidak ada jadwal dan seharian ini aku hanya menghabiskan waktuku bersama hyun joong oppa” jawab Jessica santai tapi di balik itu ia ingin melihat yuri kembali cemburu.
“ohh bersamanya ya” jawab yuri singkat dan tak bisa di pungkiri dari nada bicaranya ia benar2 cemburu.
jessica yang menyadari yuri sedang cemburu pun merasa sangat puas dalam hati nya setidaknya ia tau yuri masaih sama seperti dulu sangat cemburu jika tau ia dan hyun joong bersama dan jika sudah begitu bisa di pastikan jika yuri masih sangat mencintainya.
“huum.. ia bahkan rela mengorbankan waktu free nya hanya untuk menemani ku hari ini” jessica semakin berusaha membuat yuri cemburu padanya,
“baguslah kalian terlihat cocok jika bersama” yuri berusaha menanggapinya dengan setenang mungkin.
“benarkah? Banyak orang mengatakan begitu” sica kini tersenyum puas sementara yuri merasa hatinya sesak dan juga ia benar2 cemburu.
“ kalau begitu kenapa tidak bersama saja” ucap yuri ketus
“mmm… tidak untuk sekarang, tapi aku tak tau mungkin akan seperti itu dalam waktu dekat ini” sica menjawab tenang.
“iyaaa dia lelaki tampan dan sempurna kau pantas bersamanya beda dengan diri ku” ucap yuri yang kini benar2 tak bisa mentupi lagi rasa cemburunya mendengar semua jawaban jessica
“bagi ku cinta bukan se simple itu, tapi tidak ada yang tak mungkin suatu saat nanti antara aku dan oppa” jawab Jesica lagi
“baguslah cari kebahgiaan mu dan bersamanya itu jauh lebih baik” jawab yuri yang kini sudah menaikkan nada bicara dan sudah tak bisa mengontrol rasa cemburunya, saat itu juga pintu elevator terbuka dan mereka sudah sampi di lantai 19  dorm  soshi.

Yuri pun langsung keluar tanpa melihat jessica dan terlihat dari derap langkahnya ia begitu kesal.
“babo masih sangat mencintai ku tapi ingin melepas ku, kau tak akan bisa Kwon” ucap jessica sambil tersenyum senang dan melangkah kan kakinya di belakang yuri.
Braak!!! Yuri membuka pintu dorm dengan kencang ia kesal sangat kesal rasa cemburu itu sudah menumpuk di ubun2nya.
“Ya!! Kwon yuri bisakah kau pelan2, mengagetkan saja kau tau” taeyeon yang terkejut dengan suara pintu pun reflek meninggikan suaranya
mianhe”  ucap yuri singkat sambil menaruh kantong belanjaan di atas meja makan.
jessica yang di belakang yuri pun ikut menaruh kantong belanjaan yang dititipkan oleh sooyoung.
“kau sedang kenapa yul?” tanya tiffany sambil mengeluarkan barang2 dari kantong belanjaan yang di bawa yuri dan jessica.
“tidak hanya sedikit lelah” elak yuri yang kini melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dorm  mereka.

Tiffany dan taeyeon k ini menatap Jessica yang tersenyum sendiri.
“apa yang kau lakukan dengan seobang mu huh?” tanya taeyeon
aniyo.. aku tak melakukan apapun, hanya mungkin ia cemburu” jawab Jessica sambil sedikit berbisik pada pasangan taeny
“memangnya kenapa?” tanya tiffany ingin tau
“ia melihat ku bersama hyun joong oppa, kau tau kan bagaimana sensitifnya ia jika melihat aku bersama oppa” jessica menjawab tenang.
“hahaha… si babo sedang cemburu?”  taeyeon tertawa
“sayang pelankan suaramu jika yuri mendengarnya ia kan semakin kesal” tegur  tiffany pada kekasihnya.
“hahahah… ini lucu baby “ taeyeon tetap tertawa, terkadang memang membernya ini terlihat sangat kekanakan  dalam menjalin hubungan.

“eomma” suara Yoonna mengalihkan obrolan taeny dan Jessica, kini ia sudah memeluk Jessica dari belakang. Melingkarkan kedua tangannya di bahu jessica sambil menyandarkan kepalanya di bahu Jessica
“ouuww.. my baby yoongie apa kau merindukan ku” tanya Jessica sambil mengusap lembut rambut Yoona yang ada di belakangnya.
neoumu..neoumu.. bogoshipoyeo, aku fikir kau tak akan datang malam ini unnie jawab Yoona manja .
jessica membalikkan badannya menghadap Yoona dan menangkupkan kedua tangannya ke pipi Yoona, tak bisa di pungkiri diantara member selain Yuri sebagai kekasihnya Jessica sangat bergantung pada Yoona juga. Dongsaeng yang kini berdiri dihadapannya memang selalu bisa membuatnya tertawa lepas bahkan saat Yuri mengacuhkannya beberapa hari ini sejak konflik diantara mereka, Jessica bisa tertawa lepas hanya bila di hadapan Yoona.
Yoona terkadang bisa sangat menjadi pelindung bagi Jessica, bisa juga sangat manja dengan Jessica dan bisa menjadi penghibur hati Jessica jika sedang memikirkan hubungannya dengan Yuri.

“bukan kah aku sudah berjanji padamu kemarin, kau lupa aku bukan orang yang suka ingkar janji hmm..” ucap jessica lembut pada Yoona
“aku fikir akan begitu mengingat kau begitu sibuk menghabiskan waktu dengan ahjushi itu” Yoona mengerucutkan bibirnya
ahjushi nugu?”  tanya Jessica
“Oppa kesayangan mu unnie” Yoona memutar bola matanya membuat jessica tertawa.
“kau cemburu huh?” goda Jessica
“bukan aku tapi appa kwon ku yang babo” ucap Yoona menyeringai
“memangnya dia peduli” ucap Jessica menyipitkan matanya
“dia hanya berpura2 tak peduli tapi kenyataannya di sudah terpancing oleh mu” jawab Yoona sambil menjulurkan lidahnya bergaya mengejek Jessica
“hahaha… sekali babo tetap babo” tawa Jessica
“aigoo.. kalian berdua selalu seolah memiliki dunia sendiri jika bersama pantas saja jumlah shipper kalian semakin bertambah banyak” tegur Taeyeon menginterupsi obrolan unnie dan dongsaeng itu
“dari mana kau tau unnie?” tanya Yoona
“hei aku selalu mengecek para Sone apa yang sedang mereka bicarakan,apa yang sering mereka debatkan dan apa yang sedang menjadi topic hangat mereka” jawab Taeyeon santai
“dan kau tau selain hubungan ku yang katanya renggang dengan Jessica kini kau dan unnie mu ini yang banyak mereka bicarakan” lanjut taeyeon
“kau menjadi stalker bagi sone kita” tanya Yoona
“tentu saja iya” jawab taeyeon cepat “aku rasa bukan hanya fans yang bisa selalu menjadi stalker untuk idolnya. Tapi idol juga harus tau tentang fans mereka sehingga mereka bisa tau apa yang fans ingin dari mereka dan apa saja yang butuh kita klarifikasi, aku rasa jika begitu kita akan lebih dekat dengan mereka”  Taeyeon sambil menata rapi makanan di atas meja makan
“benar juga” yonna mengangguk
“aku masih heran kenapa sone berfikir aku dan kau terlibat perang dingin taeng” tanya jessica pada taeyeon yang berdiri di seberang meja.
taeyeon hanya menyeringai.
“babo jelas saja karna kita terlihat sangat jarang berinteraksi baik di panggung atau di manapun sica, padahal jika kita ingat dulu kau dan aku cukup sering terlihat bersama” jelas taeyeon santai.
“hmm kau benar apa kita terlihat ada masalah?” tanya Jessica lagi
“apa kau merasa memiliki masalah dengan ku?” taeyeon tersenyum jahil
“Ya!! Pendek aku serius” protes Jessica
“hahahaha… kau jangan lupa sebelum kita bersama dengan kekasih kita sekarang kau dan aku hampir berpacaran bukan dan saat itu terlihat sangat jelas kita sering bersama. Tapi seiring berjalannya waktu kita nyatanya tidak bisa bersama karena kita lebih cocok sebagai sahabat bukan? Setelah itu kita memiliki  cerita cinta masing2 dan memiliki kekasih masing2 bukan” taeyeon mengaduk jjajangmyun di hadapannya mencampurkan bumbu dengan mienya.
“lalu kau selalu asik berlovey dovey dengan seobang mu begitu juga aku dengan miyoung” lanjut taeyeon.
“hmmm benar juga apakah mereka juga lupa jika aku pernah mangatakan tentang ini di salah satu acara Variety show. Saat MC bertanya siapa member yang dulu dekat tapi sekarang tidak, aku menunjuk dirimu tapi sudah aku jelaskan jika aku dan dirimu menjauh karena jadwal kita yang sama2 padat dan jarang menghabiskan waktu bersama bukan?” jessica mencoba megingat kejadin dulu dan taeyeon pun menganggukkan kepalanya
“hmmm aku rasa mereka lupa itu sica” jawab taeng

“kadang sone lebih tau apa yang terjadi pada kita dari pada diri kita sendiri hahaha.. tapi itu makanya aku mencintai mereka. Sekalipun kita tak mengenal mereka satu persatu tapi ikatan batin kita dengan mereka sangat lah kuat, bahkan mereka adalah orang2 yang sadar jika kita sedang sakit sekalipun kita sudah  berpura2 terlihat baik2 saja”  Jessica tersenyum manis.
“itulah yang membuat ku sangat berterima kasih pada mereka” ujar taeyeon
“semuaaa…. makanan sudah siap mari kita makaaannn” teria taeyeon pada semua membernya yang masih menyebar di apartement mereka.
sunny yang terlihat baru bangun tidur berjalan ke arah panty, yuri yang baru saja selesai mandi mengikuti sunny dari belakang dan di susul oleh hyoyeon dan seohyun yang sedang ngobrol  di ruang tengah dorm mereka.

Taeyeon tersenyum melihat semua wajah membernya, ada rasa senang di hatinya melihat mereka bisa berkumpul seperti ini. Biasanya ia hanya bisa menghabiskan waktunya bersama hyoyeon dan tiffany di apartement sebesar ini.
“miyoung mana?” tanya taeyeon pada membernya saat menyadari kekasihnya belum ada di pantry
“mungkin di kamarnya taeng” jawab yuri sambil duduk.
“sebentar aku akan memanggilnya ” taeyeon melangkah menjauh dari pantry dan menuju ke kamar kekasihnya.
di bukanya pintu kamar tiffany pelan sambil memasukkan sebagian kepalanya di kamar tiffany, taeyeon tersenyum dorky saat dilihatnya kekasihnya yang sedang memainkan iPadnya di kursi riasnya.

“miyoung aahh.. makanan sudah siap ayo kita makan baby” taeyeon melangkah mendekati tiffany
“sebentar sayang tadi manager oppa menelpon ku ia mengatakan besok jadwal ku ada sedikit pengunduran” jelas tiffany sambil menggenggam tangan taeyeon yang kini berdiri di hadapnnya.
“diundur bagaimana?”tanya taeyeon sambil mnegelus lembut rambut tiffany
“entah lah kata manager oppa pihak panitia sedikit ada masalah” jelas tiffany
taeyeon tersenyum dan menarik lembut kekasihnya untuk berdiri .
“lupakan biar manager oppa yang mengurus semua itu sayang, lebih baik kita keluar member lain sudah menunggu kita” taeyeon menggenggam tangan tiffany dan di balas senyuman manis oleh wanita yang bisa meluluhkan siapa saja yang melihat senyumnya.

“unnie berhenti minum aku tak ingin kau mabuk” tegur seohyun pada yoona yang sedang menuangkan soju ke gelasnya
“tenang hyunie aku tak akan mabuk aku hanya minum sedikit aku janji” yoona tersenyum sambil meneguk minuman beralkohol itu
“ tak ada masalah jika kita sedikit berpesta jika bersama jo hyun aaahh” ujar yuri tersenyum pada seohyun
“ne.. aku mengerti unnie tapi kalian akan benar2 mati jika kalian mengkonsumsi semua ini lihat lah” tunjuk seohyun dengan semua makanan yang tersaji di meja makan mereka.
“dari dulu sampai sekarang kau tak pernah bisa mengganti kata2 mu yang itu jika kami sudah mengkonsumsi  jung food  dan juga alkohol hyunie” sooyoung berniat meledek maknae mereka
“karen aku peduli makanya aku mengur kalian” jawab seohyun tenang
“hei.. kau kenapa sayang seperti kau sensitif sekali hari ini” yoona memeluk seohyun dari samping
“entah hari ini aku juga merasa sangat sensitif, maafkan aku jika membuat kalian tidak nyaman” tanya seohyun pelan smbari menarik nafas dalam
“ahhh… ayolah harusnya hari ini kita bisa menikmati  kebersamaan ini” tegur yuri
“ mmm yul unnie benar, lupakan lah mari kita makaaaannn” ujar yoona bersemangat
Chup~ yoona mencium kilat pipi seohyun “ lupakan yang tadi baby” yoona menatap seohyun sambil tersenyum pada kekasihnya

“kalian anak2 kurang ajar bisanya mulai makan tanpa menunggu kami” suara taeyeon terdengar di pantri tempatnya dan member berkumpul
“salah sendiri kalian terlalu lama tidak tau kah kalain kami sangat lapar” jawab sooyoung sambil melahap santapan di hadapannya
“telan dulu makanan mu baru bicara shiksin” ejek taeyeon pada sooyoung
“baby ini untuk mu, makan lah” tawar tiffany menyodorkan piring yang berisi makan malam mereka pada taeyeon.
“my miyoung always understand me” taeyeon tersenyum bangga dan mengecup kilat bibir tiffany
“aisshh… bisakah kalian menahan hormon kalian, ini tempat makan “ tegur hyoyeon yang melihat leader dan membernya kembali mengumbar kemesraan mereka
“ne.. hyo mama” koor taeny sambil tertawa
sementara itu tanpa sadar saat taeny sedang berlovey dovey di hadapan mereka yulsic yang saling berseberangan meja pun langsung saling tatap, dulu mereka juga tak akalah mesra dengan tiffany dan taeyeon merka bahkan sering melakukan hal itu kapan saja mereka maw tapi kini mereka hanya bisa menjadi penonton untuk taeyeon dan tiffany.
Yuri langsung melepas kontak mata itu diantara mereka dan melanjutkan makannya.

***

Di  sudut ruangan tempat latihan 2pm wooyoung terlihat duduk menyendiri dan tidak bergabung dengan para membernya.
lelaki tampan itu terlihat asik hanyut dengan dunianya sendiri dunia dimana ia bisa mengenang masa lalunya.
ia terlihat memainkan Ipad di tangannya menikmati  foto seorang wanita yang masih amat ia cintai sampai detik ini.
Kim Taeyeon tak akan ada satupun yang dapat menolaki pesona wanita bertubuh mungil dan sangat terlihat kekanakan di usianya yang sudah beranjak dewasa semua akan terhanyut oleh pesonanya itu, begitu pula Wooyoung mantan kekasihnya yang sudah2 bertahun2 memutusukan hubungan cintanya dengan taeyeon.
terkadang  Wooyoung menyesali semuanya, ia menyesal sudah melakukan hal bodoh menghianati  taeyeon dengan wanita lain yang sebenarnya hanya menjadi cinta sesaatnya.

“kau hidup sangat bahagia sekarang taenggo” ucap wooyoung sambil tersenyum
“sedangkan aku bisa di bilang menyedihkan” lanjutnya lagi sambil tetap memandangi foto taeyeon
“tiffany orang yang tepat untuk mu, bahkan aku tak pernah memandang mu rendah dengan hubungan yang kau jalani dengan siapa pun itu. Bagi ku asal kau bahagia itu sudah cukup” wooyoung menghela napasnya
“sudah ku tebak kau tak akam pernah bisa melupakannya” sebuah suara mengalihakn perhatian taeyeon dari foto yang terpampang di Ipadnya
“aisshhh menganggu saja” wooyoung memasang wajah kesalnya
“hahaha.. sampai kapan kau akan seperti, hei mana wooyoung yang ku kenal senang tebar pesona dengan para wanita itu” taecyeon merangkul pundak Wooyoung sambil menggodanya
“ya.. kau tau itu tak mudah bagi ku” ucap wooyoung pelan

Taecyeon mendorong pelan kepala wooyoung
“kalau sudah seperti ini kau ingin menyalahkan siapa huh?” taecyeon duduk bersila
“tidak ada yang bisa ku salahkan karena semua ini aku benar2 kesalahanku tapi aku sangat menyesalinya” jawab wooyoung lemah
“sudah tau begini kau menyesal? Hah aku rasa itu adalah hal yang sangat bodoh. Kau yang membuat semua menjadi seperti ini” taecyeon melanjutkan
“iya aku tau tapi entah lah aku benar2 merindukannya hyung” wooyoung kembali menghela nafasnya
“akan ku hajar kau jika berani menggoda taeyeon kembali” taecyeon berpura2 mengancam wooyoung
“aku hanya butuh satu hari aja untuk kembali berkencan dengannya hyung” wooyoung kini benar2 tak bisa menutupi rasa rindunya.
hanya sehari ya wooyoung hanya ingin satu hari saja ia dan taeyeon bisa kembali hanya untuk menghilangkan rasa rindunya pada taeyeon. Wooyoung sangat mencintai taeyeon tapi karena sebuah perselingkuhannya dengan salah satu  hoobae ia harus kehilangan taeyeon.

Pada dasarnya taeyeon adalah orang yang sangat sensitif jika sudah berhubungan dengan sebuah kata sayang , ia rela mengorbankan apapun yang ia miliki jika ia sudah menyayangi seseorang dan  ia bisa sangat lemah saat ia mulai tersakiti. Tapi jangan fikir ia tipe pendendam ia hanya akan sulit untuk bisa move on  jika sudah tersakiti tapi dia bukan orang yang sulit memaafkan.

“akan ku hajar kau jika menyakiti tiffany juga ” lanjut taecyeon
“yaa… kan aku hanya menginginkan itu belum tentu juga taeyeon mau” wooyoung memasang muka cemberutnya
“hahhaha… saat ini hidup taeyeon hanya terisi dengan  tiffany dan aku yakin ia tak akan memikirkan hal lain” tawa taecyeon
“makanya itu aku tak yakin”  ucap wooyoung pelan
“carilah wanita lain yang bisa membuat mu jatuh cita lagi” taecyeon menepuk pundak wooyoung pelan sambil berdiri
“itu juga aku usahakan” jawab wooyoung singkat dan ikut berdiri untuk melanjutkan latihan mereka

***

beberapa member kini sedang berkumpul di ruang tengah
“ya.. taeyeon kau curang!! “ protes sunny saat taeyeon mematikan game yang sedang mereka mainkan
“hahahha… aku tak ingin kalah aku tak mau kalah lagi dengan mu” taeyeon tertawa puas
“aisshh.. mana boleh begitu kau yang menantang ku duluan bodoh” sunny memasang wajah kesalnya, sementara taeyeon tak bisa menghentikan tawanya melihat wajah kesal sunny
“aku bosan kau selalu menang dari ku” taeyeon merong
“isshhh dasar pendek curang” sunny masih kesal
“yaa! Kau ukur sana tinggi badan mu ” kini taeyeon yang protes dan memasang wajah kekanakannya
“ya..ya.. kau dan aku memang lebih tinggi kau tapi nyatanya otak ku dengan otak mu masih pintaran otak ku” kini sunny membalas taeyeon
“mwo?? Kau menantang ku huh?”taeyeon mulai kesal
mendengar taeyeon yang mulai kesal dan panas ia mulai tertawa mengejek sengaja untuk membuat leadernya tertantang untuk melanjutkan permainanannya.
“baiklah kau menantang ku sunkyu, mari lanjutkan game ini” taeyeon kembali memegang stick untuk kembali bermain
“hahaha.. liat saja taenggo kali ini aku akan membantai mu lebih dari yang tadi” sunny tak kalah bersemangat

sementara para member di ruang tengah sedang menikmati waktu kebersamaan mereka seperti yang terlihat jessica dan yoona sedang berbagi cerita kini posisi yoona merebahkan kepalanya di pangkuan jessica lalu satu tangan jessica mengelus lembut rambut yoona benar2 terlihat seperti ibu yang memperlakukan anaknya
lalu ada seohyun yang bernyanyi dan memainkan piano terdengar merdu namun semua keindahan yang seohyun sajikan dihancurkan seketika dengan tingkah konyol sooyoung dan hyoyeon yang terlihat berdansa tak jelas dan menyanyi2 keras.

“yul kenapa menyendiri” tegur tiffany pada yuri yang terlihat duduk sendiri di balkon apartement mereka menyenderkan tubuhnya di kursi panjang yang ada
“hei.. tiff” sapa yuri dengan senyum hangatnya
tiffany mendekat dan duduk di kursi samping yuri, ia mengahadap kan wajahnya ke yuri
“aku lihat dari tadi kau tak henti2nya minum yul” tegur  tiffany
“ehehehe.. bukan kah sudah biasa aku begini” yuri menunjukkan senyum dorkynya sambil memainkan gelas berisi minuman beralkohol itu
“aku hapal dengan mu yul jangan membohingi ku, aku tau kau suka minum tapi tidak separah ini jika kau  baik2 saja” tiffany menatap kedalam mata yuri
“ada apa dengan mu dan jessie” tanya tiffany to the point
“seperti yang kau lihat tak begitu baik” jawab yuri kembali menyesap wine yang ada ditangannya
“kali ini apa yang menjadi masalah utamanya?” tanya tiffany
“tak ada hanya mungkin aku yang terlalu cemburu melihatnya dekat dengan Hyun joong oppa” bohong yuri

Bagi yuri tak ada pilihan lain selain berbohong pada tiffany karena jika ia jujur itu sama saja ia membuat taeyeon  juga dalam masalah, ia sudah sepakat pada taeyeon untuk menutupi ini semua dari pasangan mereka bukan berarti mereka tak ingin mencoba menyelesaikan semua ini dengan pasangan mereka tapi mereka hanya tak ingin baik tiffany dan jessica tersakiti jika tau apa yang diinginkan Mr.park pada hubungan mereka.

“hmm.. aku mengerti yul tapi jika kau tak coba bicarakan dengan jessie maka kalian tak akan bisa menyelesaikan semua” saran tiffany
“aku tau tiff tapi bagi ku hanya waktu saja yang tak ada untuk mulai membahas ini dengan sica’ jawab yuri pelan
“kau tau beberapa waktu lalu jessica menangis saat kita latihan” tiffany mulai bercerita
“saat itu ia hanya melihat poto kalian berdua di Iphonenya setelah itu ia termeneung sendiri dan tiba2 menangis, saat aku mendatanginya ia langsung memelukku dan ia menangis keras di pelukan ku saat itu jessi bilang bahwa ia sangat mencintai mu mu yul dan aku sangat bisa merasakan jika ia sangat tersakiti” jelas tiffany
yuri langsung mengepalkan tangannya erat mendengar kisah tiffany tentang jessica, lagi ia merasa mebuat jessica tersakiti lagi oleh tingkahnya
“lalu setelah itu apakah dia menangis lagi fany ahh?” tanya yuri dan di jawab gelengan oleh tiffany
“aku rasa setelah itu jessi bisa sedikit tenang yul, yah walapun tak bisa di pungkiri ia terlihat murung” jelas tiffany lagi
“aku tak berguna sangat tak berguna fany ahh, selalu saja aku membuatnya terluka” ucap yuri lirih dan dengan suara serak menahan tangis
tiffany mendekat pada yuri mengusap pundak yuri pelan
“yul coba kau bicarakan semuanya pada jessi, aku rasa kau sangat kekanakan jika kau tiba2 mengacuhkan jessie hanya karena ia dekat dengan Hyun joong oppa” ujar tiffany pelan
“aku yakin kau sangat tau sebesar apa rasa cinta jessi kepada mu dan aku yakin kau pun begitu, hubungan kalian terlalu kuat untuk di pisahkan. Apalagi jika hanya karena alasan bodoh macam itu” lanjut tiffany
“jessi orang yang keras kepala dan menyukai kebebasan tapi ia kan jadi penurut jika itu kau yang menghentikannya” jelas tiffany lagi
yuri hanya tertunduk ia tak menyangka bahwa jessica begitu tersakiti saat ini
“aku hanya butuh waktu fanny ah untuk menjelaskan semua ini pada sica” ucap yuri
“aku sangat mencintainya bagi ku ia segalanya ” yuri tak bisa menahan air matanya lagi
“sshhh… berhenti menangis yul , kau hanya butuh menyiapakan waktu untuk bisa menyelesaikan semua ini” tiffany memeluk yuri
yuri hanya bisa menangis mengeluarkan semua beban yang ada di hatinya

“miyoung aku kesal si pendek itu mengalahkan ku terus” taeyeon tiba2 muncul dan melapor pada kekasihnya yang kini memeluk yuri
seketika tiffany langsung tersenyum melihat wajah kekasihny yang kesal seperti itu semakin menunjukkan wajah imutnya
“yaa.. kwon kau kenapa” taeyeon menangkup kedua pipi yuri agar yuri menatapnya
“kau habis menangis?” tanya taeyeon yang kini dapat tatapan dari kekasihnya untuk tak bertanya pada yuri
“ani aku hanya ingin bermesraan dengan tiffany, taeng” yuri yang sudah mulai stabil pun menggoda taeyeon
“ucapkan sekali lagi ku patahkan tulang mu babo” taeyeon menjawab kesal
“auuu… your taetae is overptect fany” yuri kembali menggoda leadernya
“yaa!! Ppany ah lepaskan tangan mu darinya” tegur taeyeon saat melihat kekasihnya masih melingkarkan tangannya di pinggang yuri
“mmm yul badan mu hangat sekali” tiffany juga ikut menggoda kekasihnya yang kini semakin kesal
“yaa!! Apa2 an kau ppany ahh.. issh kalian menyebalkan” taeyeon menghentakkan kakinya sebelum melangkah pergi masuk kembali ke dorm mereka

Seketika tiffany dan yuri tak bisa menahan tawa mereka melihat tingakah kekasih dan leader mereka bersikap sangat kekanakan
“hahaha.. fany ahh masuk lah ikuti dia, taeyeon sangat sensitif jika property nya di ganggu” yuri masih tertawa
“hahhaaha.. kau tau selain sikap dewasanya dan hangatnya sisi pencemburu berat yang ia miliki itu yang membuat ku semakin jatuh cinta padanya yul” tiffany juga masih tertawa
“ ya.. aku tau tak ada leader yang seunik dia fany ahh, kau segera lah masuk sebelum ia benar2 marah padamu” pinta yuri
“ne.. arraseo aku masuk duluan yul dan cepat selesaikan masalah mu dengan jessi” tiffany berdiri dan mengusap lembut rambut yuri
“hmm… aku usahakan. aku ingin masuk juga berkumpul dengan yang lain” yuri dan tiffany melangkah masuk bersama
tiffany langsung masuk kekamarnya untuk membujuk taeyeon sementara yuri ikut bergabung dengan sooyoung dan hyoyeon yang masih berpesta sendiri

***

Tiffany membuka pintu kamarnya perlahan namun ia tak melihat sosok taeyeon di dalam sana
ia pun memutuskan untuk mencari taeyeon di kamarnya
tiffany tersenyum saat di lihatnya gadis mungil itu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, tanpa fikir panjang tiffany langsung  naik keatas ranjang dan duduk di atas perut taeyeon. Sontak hal itu mengejutkan taeyeon
“yaa… mengagetkan saja” ucap taeyeon kesal sementara tiffany masih tersenyum enggan berpindah posisi
“aku datang kesini hanya untuk minta maaf pada my taetae karena sudah membuatnya kesal” tiffany berusaha membuka selimut yang menutupi wajah menggemaskan kekasihnya
“permintaan maaf di tolak” ucap taeyeon singkat
“ahhhh.. begitu kalau begitu aku tak akan beranjak dari sini” goda tiffany
“dan kau akan membuat ku terbunuh dengan berat badanmu” jawab taeyeon dibalik selimutnya

Tiffany yang tak sabar pun membuka selimut yang menutupi wajah kekasihnya, namun taeyeon yang masih merajuk pun menutup matanya tak ingin melihat tiffany yang masih duduk di perutnya
cup~
satu kecupan lembut di berikan tiffany pada kekasihnya
“hei..  bahkan Yuri itu member mu sendiri tae” ucap tiffany lembut sambil mengusap pelan pipi taeyeon
“aku tau, tapi asal kau tau dia juga member yang palling sering membuatku cemburu” jawab taeyeon ketus
tiffanny tersenyum
“bukan kah kau tau yuri dan aku sangat dekat” tiffany masih mengusap pipi taeyeon
“iya saking dekatnya kalian, si hitam itu seperti monyet yang selalu bergelantungan jika dengan mu” kini taeyeon membuka matanya dan menatap tiffany dengan wajah sebalnya
“aigoo.. sampai kapan cemburuan mu hilang huh?” tiffany mencubit kedua pipi taeyeon sedikit memainkannya
“sampai kau tak membuat ku cemburu lagi dengan tidak melakukan banyak skinship dengan yang lain” taeyeon mengerucutkan bibirnya
“my cute taetae” tiffany yang gemas melihat wajah taeyeon pun mengecup kilat kekasihnya
“Ya!! Masih sempat menciumku juga hah?” taeyeon terlihat kesal
“mwo?? Kau tak ingin aku mencium mu lagi??  baiklah jika itu yang kau mau” tiffany pura2 kesal untuk memancing taeyeon
ia pun pura2 menggeser tubuhnya seakan ingin meninggalkan taeyeon di kamarnya
“kau mau kemana? Jangan pergi” taeyeon dengan sigap menggenggam erat tangan tiffany
tiffany yang masih membelakangi taeyeon pun tersenyum puas
“bukan kah kau menolak ku? Lalu untuk apa aku disini” tantang tiffany
“isshhh… jangan seperti ini jika tak ada kau bagaimana aku bisa tidur nyenyak” taeyeon mengerucutkan lagi bibirnya
“kau bisa memeluk guling dookong mu bukan?” tiffany masih mempertahankan wajah pura2 kesalnya
“aku yang sedang nagmbek kenapa kau yang marah2 sekarang” taeyeon memasang muka melasnya
“disinilah hanya dengan ku ppany –ah” pinta taeyeon seperti merengek
tiffany yang tak tahan melihat wajah kekasihnya segera  menundukkan wajahnya mensejajarkan wajahnya pada taeyeon. Seketika tanpa komanda taeyeon mengecup kilat bibir tiffany sembari menyeringai dengan wajah kekanakan
“babo” tiffany menepuk pelan kepala taeyeon
ia pun kini kembali duduk di ranjang taeyeon mendekatkan tubuhnya pada kekasihnya
taeyeon langsung memeluk erat tubuh tiffany menyadrakan kepalanya di ceruk leher tiffany
tiffany membelai lembut rambut taeyeon
“jangan bersikap kekanakan begini sayang aku tak suka” pinta tiffany lembut
taeyeon tak menjawab hanya bisa mengeratkan pelukannya
“kau bisa percaya pada ku, tae kau lah satu2nya dan aku tak pernah berniat dekat dengan siapa pun apalagi menyerahkan hati ku pada orang lain” lanjut tiffany
“aku hanya takut pany- ahh” suara taeyeon terdengar serak
tiffany menjauh kepala taeyeon yang bersandar padanya menatap langsung ke bola mata taeyeon dalam
“kau tau penghianatan itu masih menyisakan trauma dalam diri ku, aku bukan tak mempercayaimu tapi ahh aku tak mengerti” taeyeon menunduk lemah
“tatap aku tae” pinta tiffany, taeyeon pun menurutinya
“lihat lah mata ku, aku hanya mencintaimu tidak dengan yang lain. Aku bisa dekat dengan siapa pun aku bisa saja berselingkuh dengan siapa pun. Tapi kau tau aku tak pernah memikirkannya, aku hanya ingin kan kau tae, aku hanya memikirkan mu” tiffany berucap serius
“mianhe” jawab taeyeon singkat kembali memeluk  tiffany erat
“cukup percaya pada ku dan aku kan menjaga semua itu” tiffany meyakinkan dan di jawab anggukan kecil oleh taeyeon

“sudah malam lebih baik kita tidur saja tae besok kau ada jadwal pagi2 bukan”  tiffany mengajak taeyeon untuk merebahkan tubuhnya
“hmmm peluk aku dan jangan lepaskan miyoungie” suara taeyeon manja
“aigoo.. aku benar2 mengurus bayi tua jika begini” canda tiffany lagi sembari  mengecup lembut kening taeyeon
“tak akan aku tak kan melepaskan mu tae” ucap tiffany pelan sembari memeluk taeyeon erat

***

“Yaa… kalian berhenti minum” tegur sooyoung pada yuri dan sunny yang sedang taruhan minum
“aku masih kuat baby” sunny menyeringai pada kekasihnya
“kau masih kuat tapi kau tak lihat si bodoh itu sudah benar2 mabuk sayang” jawab sooyoung ketus
“isshhh.. bukan salah ku ia yang menantang ku duluan soo” protes sunny
“aku tak peduli hentikan sekarang juga sunny-ah” pinta sooyoung
“aisshh… sunkyu kekasih mu berisik sekali” yuri protes dengan gaya mabuknya
“kau diam babo.. aku tak ingin mengurus orang mabuk berat apalagi sampi mengurus mu muntah2 nanti” sooyoung mulai marah
sunny yang menyadari bahwa sooyoung sudah mulai serius untuk melarang mereka pun segera menaruh gelas yang berisi alkohol itu ke meja ruang tengah tepat mereka kini berkumpul
“baiklah aku berhenti sayang jadi jangan marah” sunny mulai beraegyo
“dan aku harap kau juga menaruh botol yang ada di tangan mu itu babo” ucap sooyoung tegas
“no.. aku tak mau aku masih kuat minum soo” tolak yuri
“aku bilang berhenti kau akan membunuh diri mu sendiri Kwon yuri, lihat kau sudah menghabiskan 10 botol soju dan hampir 1 botol wine. Kau isshhh” sooyoung berusaha mengambil botol soju yang ada di tangan yuri namun yuri segera menjauhkannya dari  jangkauan sooyoung
“aku bilang tidakk!! Yaa tidaak…” yuri mulai menaikkan nada bicara
“anak ini benar2 menguji kesabaran ku” sooyoung mulai berang
“aku bilang taruh botol itu dan berhenti minum Kwon Yuri!!” bentak sooyoung

Pasangan taeny yang baru saja ingin tidur pun keluar dari kamar taeyeon saat mendengar sedikit keributan antara member mereka
“suara mu terlalau tinggi soo” tegur taeyeon dengan wajah mengantuknya
“kau.. kau kemari lah dan hentikan si bodoh ini” tunjuk sooyoung sambil meminta taeyeon untuk menghentikan tingkah membernya ini
“yuri-ah berhentilah kau benar2 akan menghancurkan diri mu sendiri” tegur taeyeon
“aniyo.. taenggo aku baik2 saja jangan khawatir kan aku” yuri tetap menolak dan mulai berbicara tak jelas seperti orang mabuk pada umumnya
“berhenti yul” taeyeon ingin mengambil botol yang ada di tangan yuri yang duduk di lantai namun kembali yuri menjauhkan dari jangkauan taeyeon
“yul” taeyeon masih berusaha menjauhkan botol berisi minuman beralkohol itu dari tangan yuri tapi masih gagal juga
seketika ada tangan lain yang berhasil mengambil botol soju itu dari tangan yuri. Jessica yang tak tahan melihat tingkah yuri yang menguji kesabaran para membernya dengan menolak untuk berhenti minum pun membuat jessica yang tadi duduk berusaha tak peduli akhirnya mengambil alih juga
“kalian tidur lah biar si bodoh ini aku yang mengurus” jessica sudah memasang wajah tanpa ekspresinya
“tapi biar kami yang meng-” ucapan sooyoung terhenti saat jessica menatapnya tajam
seolah mengerti dengan sikap jessica yang menahan emosinya agar tak meledak dari tadi akibat kekasihnya ini , para member pun memutuskan untuk kembali kekamarnya masing2

“jangan bersikap keras padanya jessi” pinta tiffany sambil mengusap pelan bahu jessica dan mengikuti langkah kekasihnya kmbali kekamar
“bodoh” jessica menendang pelan badan yuri yang tersungkur di lantai
sesaat kemudian jessica berusaha memapah yuri dan membawa tubuh yuri untuk tidur di ranjangnya.
“kebiasaan mu masih sama, berkeringat saat mabuk  babo seobang” jessica tersenyum tipis dan mengelap keringat yang terlihat di kening yuri
“aku tau kau menyembunyikan sesuatu dari ku yul, dan sesuatu itu pasti sangat menyakiti mu” jessica masih mengelap wajah yuri
“bisakah kita selesaikan bersama jangan seperti ini, aku tersiksa yul” jessica mulai menitikkan air matanya, namun ia melap cepat air mata itu
jessica merebahkan tubuhnya di sebelah yuri menatap wajah yuri seperti malam2 sebelumnya
perlahan ia mendekatakan tubuhnya ke tubuh yuri yang sudah terhanyut ke alam mimpi, memeluk tubuh yuri dan membenamkan tubuhnya ke dada yuri merasakan kehangatan tubuh itu kembali dan membiarkan dirinya ikut terlelap dan terhanyut dalam mimpi bersama seobangnya.

***

Paginya yuri bangun dengan kepala yang teramat pusing dan juga merasakan berat pada bahu nya ia berusaha membuka matanya pelan, sedikit terkejut melihat jessica yang kini  tidur disampingnya dan memeluk tubuhnya erat.
yuri masih tak percaya ia pun mulai membelai lembut wajah cantik jessica menyingkarkan rambut yang menghalangi pemandangannya. Ada rasa senang dan takut saat menyadari itu benar2 jessica.
senang karena ia bisa melihat wajah jessica yang masih tertidur di pagi hari dan memeluknya erat seperti ini satu moment yang amat yuri rindukan semenjak hubungan mereka menjauh, namun ia takut juga ia takut tak bisa mengendalikan semua perasaannya lagi
yuri mulai berkaca2 tanpa mengalihkan pandangannya pada jessica
mianhe baby ..  love u so much” yuri tetap menatap wajah jessica
love u more seobang”  jessica membuka mata tersenyum dan tiba2 mengecup bibir yuri cepat
membuat yuri membelalakan matanya tak percaya benar2 terkejut dengan apa yang di lakukan jessica

 

TBC

===> aaaaa >.< sorry readers yang nungguin. akhir2 ini sibuk banget gara2 kegiatan kulaih. authornya juga lagi bolak-balik urusan sekeripsi. jadi telat updatenya. sebenernya udah dikirim dari kemarin sama authornya, tapi karena sayanya yg memang belon ada waktu, jadi mundur 2 hari. sekali saya minta maap ^^ hehehe.. caoooo dahh! sampai bertemu di next chap. semangatin buat authornya yeaaaaa :)

This Love [Chapter Four]

Chapter 4

Aku tak pernah menuntut apapun tentang cinta yang kuinginkan hanya bisa bersama mu tanpa keraguan

Heart-photography-6960592-2560-1920

Taeyeon POV

Kepala ku masih terasa pusing. Jelas saja bagaimana tidak? Aku baru bisa tdur jam 2 pagi dan satu jam kemudian tiba-tiba Nickhun oppa menelfon ku, meminta ku kembali membujuk wooyoung oppa yang lagi-lgai mabuk..

Hhhh~~.. meskipun Wooyoung oppa mantan kekasih ku dan sempat membuat ku terluka  tapi aku tak bisa membiarkannya begitu saja.

Kami sudah sama-sama sepakat untuk menjalani hubungan normal setelah kami memutuskan untuk berpisah bisa di bilang  ‘dari teman menjadi teman’.  Mungin hal ini akan terasa sulit bagi mantan pasangan kekasih lainnya. Bersikap akrab seolah tak terjadi apa-apa, dan membangun hubungan pertemanan yang nyaman setelah kau tau kau di khianati oleh mantan kekasih mu itu.

Jangan tanya apakah saat wooyoung oppa mengkhianati ku dulu aku tak merasa kecewa, Sedih Atau patah hati. Dan dengan mudah pasti tau jawabannya, siapa yang tak merasakan semua hal itu saat hubungan mu dan kekasih mu terjalin begitu manisnya dan boom! semua itu harus berakhir karena sebuah penghianatan. Aku sempat terpuruk karena hal ini, menyendiri dan sering mengabaikan orang-orang yang ada di dekat ku. Itulah dampaknya bagiku.

Di waktu itulah aku menyadari bahwa aku mengabaikan seseorang yang benar-benar mencintaiku dan sangat perduli padaku. Hwang miyoung. Dia lah yang pada akhirnya membantu ku benar-benar melewati masa keterpurukan itu, menghapus semua rasa ketidak percayaan  ku akan cinta, membantu ku bisa berdiri saat aku aku terjatuh, perlahan  memenuhi ruang hati ku yang sempat kosong dan membantu ku menata semua yang berantakan itu kembali tertata rapi.

Aku sudah sampai di club malam yang di tunjukkan oleh Nickhun oppa, aku sangat tau club malam ini karna tempat ini salah satu club malam yang sering di datangi Hyoyeon. Dentuman musik, bau alkohol dan juga asap rokok yang tercium di sana sini membuat kepala ku pusing, aku bukan lah orang yang suka tempat semacam ini aku lebih suka ketenangan, menghabiskan waktu ku bersama kekasih ku.

“babo cepat pulang aku sudah mengantuk” aku menghampiri Wooyoung oppa dan memukul pelan lengannya yang terlihat mabuk dan menyandarkan kepalanya dimeja bar. Nickhun oppa hanya melihat ku dan menggelengkan kepalanya pada ku.

“taeyeon ~~aah kau datang?” sapa Wooyoung oppa yang masih mabuk, tanpa banyak bicara aku menarik tangannya dan memapahnya perlahan untuk keluar dari club ini.

Seperti biasa lelaki ini tak pernah menolak ku, sesampainya di mobil aku mendorong perlahan tubuhnya masuk kedalam mobil.

Ku biarkan ia merebahkan kepalanya di pangkuan ku dan Nickhun oppa mengendarai mobil ku menuju dorm mereka. Sesampainya aku di dorm mereka, kembali ku pasang penyamaran ku dan memapahnya sampai masuk ke dorm mereka dan merebahkan tubuh Wooyoung oppa dikasurnya dibantu oleh nickhun oppa.

“dia putus cinta lagi oppa?” tanya ku pada Nickhun oppa yang duduk di sebelah wooyoung oppa, nickhun oppa pun mengangguk dan tersenyum pada ku.

“kau seperti tak tau saja jika ia patah hati seperti apa?”  nickun oppa terkekeh

“sejak putus dengan mu dia terlalu banyak berpindah hati taeng dan akan sama, berakhir dengan patah hati dan yaahhh mabuk seperti ini” lanjut nickhun oppa.

Aku hanya tertawa miris, sambil berusaha perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.
“siapa suruh dulu menjadi penghianat” canda ku sambil mendorong perlahan kepala wooyoung oppa dan hal itu membuat nickhun oppa hanya tersenyum.

“ahh oppa aku sudah sangat mengantuk dan aku rasa ppany pasti mencari ku” aku menguap sambil berdiri dari kasur itu

“aku pulang dulu, jika ada apa-apa kau bisa menghubungi ku kembali” aku menepuk pelan pundak nickhun oppa.

“hmm terima kasih taeng, maaf sudah mengganggu mu malam ini” ujar nickhun sambil tersenyum.

“bukan hanya mengganggu tapi kau dan si bodoh ini sudah sangat mengganggu. kau tau” kata ku sambil mengepalkan tangan ku berpura-pura akan memukul nickhun oppa.

“hahhahha,,, okay SNSD leader’s maafkan aku. Karna jika bukan dirimu anak ini tak akan mau pulang” ucap nickhun tersenyum lebar.

“hahaha… jaga dia baik-baik oppa, dia sangat mengerikan saat patah hati” aku melangkahkan kaki ku keluar kamar wooyoung oppa.

***

Normal POV

Taeyeon baru sampai dormnya saat ia melangkah masuk ia melihat seseorang yang sangat ia cintai duduk di sofa, menyandarkan kepalanya di lengan sofa sambil memeluk guling kesayangan taeyeon.

Melihat tingkah kekasihnya yang terlihat begitu imut pun taeyeon sempat terkekeh sambil menghampiri kekasihnya.

“kenapa sudah bangun ppany ~~ ah?” tegur taeyeon kepada kekasihnya sambil membelai lembut rambut tiffany

Tiffany yang sedikit terkejut dengan kehadiran taeyeon yang tiba-tiba hanya mentap taeyeon sesaat.

“bagaiman mungkin aku bisa tidur nyenyak saat aku menyadari kekasih ku yang memeluk ku dengan nyaman tiba-tiba saja menghilang” ucap tiffany dengan nada datar.

“apa kau marah pada ku?” jawab taeyeon sambil menggenggam  tangan tiffany.

“menurut mu?” tanya tiffany balik sambil memicingkan matanya

“hmm.. tadi wooyoung oppa mabuk lagi dan harusnya kau salahkan sahabat  mu nickhun oppa yang mengganggu tidur nyenyak ku dan meminta ku untuk menjemput mereka di club itu” jelas taeyeon sambil satu tangannya mengelus lembut kepala belakang tiffany.

“mabuk lagi? Patah hati lagi?” tanya tiffany dan di jawab anggukan dan senyuman oleh Taeyeon.
“whoaaamm.. apa lagi jika bukan itu” jawab taeyeon sambil menguap.

aigoo… sampai kapan Woyooung oppa terus begitu taeng, hmm dia bisa membunuh dirinya sendiri secara perlahan” ucap tiffany dengan raut wajah agak cemas
“ mungkin dia masih sangat menginginkan ku untuk kembali padanya”. Ucap taeyeon sambil memberikan smirk pada kekasihnya

Tiffany yang sadar bahwa kekasihnya tengah menggodanya pun hanya memukul lengan taeyeon pelan.
“hei wooyoung oppa itu sangat tampan dan kau tau dia juga sangat sexy, sayang sekali kan jika dia menghabiskan waktunya hanya untuk bocah nakal seperti dirimu, bagaimana jika dia berkencan saja dengan ku?” tanggapan tiffany ini pun sontak membuat taeyeon langsung memasang wajah cemburunya
“YAA!! Tanggapan macam apa itu miyoung~ah, kau hanya milik ku hanya aku. Jangan pernah berpikir untuk bersama orang lain selain aku” ucap taeyeon cemberut sambil memeluk tubuh tiffany dari samping secara posesif.
tiffany pun tak bisa menahan tawanya melihat tingkah kekasihnya yang sekali lagi sangat pencemburu dan kau tau sangat posesif.
“makanya jangan memulai bodoh, kau tak akan berhasil jika kau menginginkan aku cemburu mendengar kata- kata mu tadi” kini tiffany sudah mengganti posisinya untuk duduk di pangkuan taeyeon sambil menangkupkan kedua tangannya pada kedua sisi pipi taeyeon.
“aku rasa kau sangat hapal pada ku bukan, aku tak akan menunjukkan rasa cemburu pada siapapun sekali pun itu kau” ujar tiffany sambil mengecup bibir taeyeon kilat.

“tapi aku juga ingin mendengar atau pun melihat mu cemburu pada ku sayang?” rengek taeyeon, hal itu  kembali membuat tiffany tertawa.
“jangan samakan aku dengan diri mu tae,  aku bukan kau yang tidak bisa menutupi rasa cemburu mu meskipun itu di hadapan banyak orang, jangankan aku dekat dengan orang lain dengan member kita pun kau tak bisa menutupi kecemburuan mu. Payah” tiffany mencubit gemas kedua pipi tayeon yang kini mengerucutkan bibirnya.
“aku bukannya tidak pernah cemburu padamu tae, tentu saja aku pernah merasakan hal itu saat kau dekat dengan siapa saja dan itu terlihat sangat dekat aku juga merasakan cemburu. Tapi bagi ku, aku tidak perlu lagi meragukan mu karena sudah terlalu banyak bukti yang kau tunjukkan bahwa memang aku yang hanya kau cintai, saling mempercayai dan juga bisa menjaga kepercayaan dari kita. Aku rasa itu akan semakin menguatkan cinta kita, bukan dengan cemburu buta tak jelas. Bukan begitu?” tiffany kini mengusap lembut wajah taeyeon.

“ahhh jika kau begini bagaimana mungkin aku tak semakin mecintaimu, saranghae my yeppunie” ujar taeyeon memeluk erat tubuh kekasihnya dan menenggelamkan kepalanya sambil mencium lembut tengkuk tiffany.
“yaa.. berhenti tae gelii” kikik tiffany namun bukannya melepaskan ciumannya taeyeon justru semakin memperdalam ciumannya di tengkuk tiffany dan menyesapnya kuat sehingga meninggalkan sedikit jejak di leher mulus itu.
“aku bilang berhenti taeng, siang nanti aku ada pemotretan majalah dan aku akan menghajarmu jika kau meninggalkan bekas disana” ucap tiffany sambil merusaha menjauhkan kepala taeyeon, taeyeon pun menarik kepalanya sambil tertawa.
“siapa suruh kau selalu mebuat ku tak bisa mengendalikan diriku sayang” bisik taeyeon secara seduktif.
“berhenti atau kau akan tidur di kamar mu selama satu minggu penuh dan jangan harap ada morning kiss atau ciuman-ciuman yang lain” ancam tiffany.
Andwe.. No.. baiklah aku tak akan melanjutkan yang tadi tidak” jawab taeyeon kekanakan segera dan kembali memeluk tiffany erat.
“anak pintar, kalau begitu aku mandi dulu” tiffany beranjak dari pangkuan taeyeon, namun tangannya di tahan oleh taeyeon.
“boleh aku ikut mandi bersama mu ppany aah~~” tanya taeyeon penuh harap.
“boleh tapi tak akan ada jatah..”
taeyeon segera memotong pembicaraan tiffany “aaahhh tidak..tidakk.. kau mandi saja dulu sendiri sana, aku akan mandi nanti setelah mu”.
“hahahaha…  my cuttie baby” tiffany mengelus kepala taeyeon dan mendekatkan wajahnya kepada taeyeon mengecup kilat bibir kekasihnya dan melanjutkan langkahnya kembali ke kamar untuk mandi.
“sekali mandi bersama bisa-bisa aku tak akan mendapat jatah selama satu bulan.. Aigoo  itu mengerikan” ucap taeyeon lirih sambil kembali merebahkan tubuhnya ke sofa.

***

Yuri POV
di sinilah aku sekarang menyandarkan kepala di sofa apartement ku dan kekasih ku Sica.
Kekasih? Masihkah aku menjadi kekasihnya saat ini? Aku tak bisa mengelak pertengkaran ku tadi pagi dengan Jessica. Itu membuat sesak hati ku, kata terakhir sebelum dia meninggalkan ku di apartement ini untuk tidak akan melepaskan ku masih jelas terekam dalam otak ku.
Hei bukan hanya dia yang tak mau melepaskan ku jika kau tau isi hati ku,aku SANGAT tak igin melepaskannya begitu saja. Tak akan mudah bagi ku juga itu jelas kalian tidak akan tau seberapa besar aku mencintainya sampai detik ini. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa jika pada akhirnya aku harus memilih antara mempertahankan cinta ku dengan Jessica atau  persahabatan ku dengan Kim Taeyeon.

Ini bukan lagi masalah siapa yang lebih penting dari pada siapa. Dua orang itu sangat penting bagi hidup ku, Kim taeyeon sahabat ku yang sangat ku sayangi, ku hormati dan sudah sangat sering mengorbankan dirinya sendiri untuk diri ku. Dan juga, Jessica. Wanita yang tak kalah berartinya bagi ku dalam hidup ini seorang wanita cantik yang memiliki hati yang baik dan selalu membuat ku terbuai dengan semua sikapnya, kesabarannya juga yang bisa menghadapi ku saat aku mulai membuatnya kecewa .

Hhhh~~ aku menghela nafas berat saat ini memejamkan mata ku sambil tetap menyandarakan kepala ku di sofa ini mengingat semua kejadian dimana kedua pilihan ini jatuh dihadapanku. Aku tak ingin memilih. Aku bukan tipe orang yang mudah untuk memilih. Jika bisa, aku akan mempertahankan kedua-duanya. Cinta sangat berarti untukku. Tapi jika hanya ada cinta, tak ada teman disisiku, maka sama saja. Sebaliknya, jika tak ada cinta, maka hampalah hidupku ini.

Saat itu kami baru saja comeback ke panggung music setelah satu tahun lebih kami tidak mengeluarkan album baru kami,  hubungan ku dengan Jessica masih berjalan normal seperti biasanya tak ada yang menghalangi kami untuk saling mengungkapakan perasaan kami bahkan saat kami mengadakan konser kami di  Thailand banyak mereka yang menyatakan diri sebagai yulsic shipper begitu terlihat sangat antusias saat kami menunjukkan sedikit skinship kami di atas panggung seolah semua sudah mendukung hubungan kami dan menerima kami apa adanya sebagi idola mereka.

Tapi semua keindahan hubungan kami saat itu langsung seolah terhenti saat wakil CEO Management kami menyodorkan foto ku dengan jessica dan taeyeon dengan tiffany sedang berciuman di dua tempat yang berbeda, saat itu lah wakil CEO kami langsung memanggil ku dengan Taeyeon ke ruangannya, tak bisa di pungkiri aku dan taeyeon sangat takut menghadapi kemarahan besar Mr. Park .

Flashback on

“Bodoh apa yang sudah kalian lakukan huh??! Kata Mr. Park dengan muka merah padamnya menahan emosi dan saat itu aku dan taeyeon hanya bisa tertunduk tak berani mengeluarkan sepatah kata pun padanya.
“kalian menjijikan
! Kim Taeyeon sekarang ku tanya pada mu bisa kah kau jelaskan pada ku tentang foto mu ini dengan Tiffany?” tanya Mr. Park dengan suara yang masih menunjukkan kemarahannya.
“aaa…ak..aku minta maaf Paman Park foto ii…itu memang aku dan tiffany” jawab taeyeon tergagap terdegar jelas dari suaranya iya sangat takut.
BRAAAKK!!! Mr.Park menggebrak meja kerjanya yang berhasil membuat ku dan Teyeon semakin ketakutan menghadapi kemarahannya.

Setelah itu Mr. Park mengalihkan pandangannya pada ku dan menatap ku tajam “dan ini apa KWON YURI?!” tanya Mr. Park pada ku sambil membentak ku.
“ii..iitu.. ehm juga benar foto ku dengan jessica paman Park” jawab ku tak kalah gugup dengan Taeyeon tadi.
kali in sebuah majalah cukup tebal mendarat tepat di kepala ku cukup keras aku memahami kemarahan besar Mr. Park ini aku tau ini akan mencoreng semuanya dan juga berakibat buruk bagi perusahaan kami.

“BODOH!! seBODOH itu kah kalian huh!!” Mr. Park masih dengan amarahnya yang memuncak.
“kalian ingin menghancurkan semua orang dengan hubungan menjijikan ini hah?? Menghancurkan semua yang sudah susah payah kalian raih?!” Mr. Park mengusap wajahnya kasar.
“Kim Taeyeon dan Kau Kwon Yuri tatap aku sekarang jangan hanya bisa menunduk kan kepala kalian!” perintah Mr. Park dengan masih membentak kami berdua.
aku dan Taeyeon kini mencoba mengumpulkan semua keberanian kami menatap wajah pria yang kami tau sangat menyayangi kami seperti anaknya sendiri ini, 
dia masih sangat terlihat emosi dengan perbuatan kami berdua.
foto yang menunjukkan saat aku dan jessica berciuman di taman  dekat apartment kami dan foto taeny yang terlihat berciuman panas di dalam mobil itu jelas membangkitkan kemarahan Mr. Park dan aku berusaha memhami kemarahannya, aku tau apa yang kami lakukan sangat membuatnya kecewa.

Hubungan kami sebenarnya sudah di ketahuinya sejak lama dan ia membebaskan pilihan kami tapi ia selalu memperingatkan kami untuk harus bisa menahan diri kami jika di depan public jangan sampai kami membuat skandal akan hubungan yang kami jalani dan menghancurkan tak hanya nama kami pribadi tapi juga semua orang yang bersangkutan dengan kami.
ya.. bagaimana pun hubungan kami bukan lah hubungn yang mudah untuk di jalani dan di terima banyak orang tak semua orang memiliki pemikiran yang terbuka tentang apa yang sudah kami pilih ini, Mr.park adalah tak hanya Wakil CEO perusahaan ini lebih dari itu dia sangat menyanyangi kami layaknya anak sendiri
.
dia yang setia mendampingi kami, dia yang melindungi kami dari banyak orang yang membenci kami saat awal debut dan dia juga yang tak pernah berhenti memberi kami semangat saat kami berada di bawah tekanan saat kami memulai karir kami di grup ini.

 “tadi pagi paket berisi foto-foto kalian itu masuk keruangan ku. pengirimnya mengancam akan memberikan foto-foto itu ke surat kabar yang sangat terkenal jika saja kita tak memberikannya uang yang ia minta” Mr. Park menghela nafas panjangnya.
“kalian benar
-benar hampir membuat jantung ku copot, jika saja aku tak segera mengirimnya uang yang ia minta dan meminta polisi untuk menangkap orang itu, selesailah kalian hanya dengan foto-foto bodoh itu, saat aku selesai mentransfer uang padanya aku langsung meminta polisi melacak di mana asal orang itu dari data-data dirinya melalui no rekenignya dan berdasarkan data-data yang ia isi saat membuat buku rekening tabungan” Mr. Park kembali mengusap pelan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“dan kalian tau dia adalah mantan penata rias kalian dulu yang di pecat lantaran ketahuan mencuri barang milik Jessica , Goo eunsoo jika kalian masih ingat orangnya”.

aku yang mendengar penjelasan Mr. Park pun terkejut bukan kah Jessica sudah melindungi  Eunsoo unnie saat ia ketahuan mencuri gelang milik jessica, jessica lah yang meminta pada Mr. Park untuk tak memecatnya dan memberikan Eunsoo unnie kesempatan untuk memperbaiki dirinya tapi memang saat itu Mr. Park yang tak ingin kejadian tidak mengenakan itu kembali terulang pun akhirnya tetap memecatnya, dendam kah dia pada kami sehingga dia melakukan semua itu? Entah lah aku masih tak mengerti alasan kenapa eunsoo unnie begitu tega pada kami sampai-sampai ia menguntit kami dan mengambil foto kami saat sedang berkencan sepert itu.

“maaf kan aku tapi sepertinya karena kejadian ini aku harus benar-benar tegas pada kalian dan pasangan kalian, aku tak ingin kalian mengahancurkan diri kalian sendiri dan grup kalian dengan apa yang sudah kalian lakukan. Aku rasa kalian sangat mengerti aku sudah sangat berusaha untuk memahami dan menghormati apapun keputusan kalian termasuk pilihan kalian untuk menjalin hubungan dengan sesama member seperti ini” Mr. Park duduk sambil menyandarkan bahunya ke kursi kerjanya tetap menatap kami tapi kali ini amarah yang tadi terlihat sangat meledak-ledak mulai perlahan mereda.
“taeyeon aahh~~… yuri aah~~ jika aku meminta kalian untuk memutuskan hubungan kalian dengan pasangan kalian masing
-masing apa kalian mau?” pertanyaan dari Mr. Park kini berhasil membuat ku dan Taeyeon tersentak kaget. Ini pilihan. Pilihan yang bisa membuat aku dan taeyeon jatuh dalam kesedihan. Bagaimana bisa aku melepaskan Jessica? Dan aku yakin taryron pun tak akan pernah bisa melepaskan tiffany. Sudah hampir 6 tahun mereka menjalin hubungan. Aku yakin itu sangat susah untuknya.

“aku tau ini tak akan mudah bagi kalian, kalian berdua sudah lama menjalin hubungan spesial itu tapi aku rasa jika aku membiarkan kalian tetap menjalin hubungan seperti ini sangat mungkin akan terjadi lagi. Saat ini kalian bisa saja berkata tak akan mengulangi semua itu tapi siapa yang akan tau apa yang terjadi nanti” Mr. Park kembali menghela napas panjangnya.

“aku tau di luar sana sangat banyak yang menyukai kalian, shipper kalian juga tak sedikit aku tau itu saat awal kalian debut tapi tak semua shipper pun benar-benar menginginkan kalian menjalin hubungan yang nyata, ketika mereka tahu jika kalian menjalin hubungan pasti tak sedikit pula dari mereka akan tidak terima, taeyeon ahh~~.. Yuri ahh~~ kalian sangat tau hubungan kalian ini berbeda dengan hubungan lainnya, bagaimanapun hal ini masih sangat tabu dan aku tak bisa menjamin saat mereka tau kalian menjalin hubungan ini, mereka akan tetap mencintai kalian.

“aku hanya tak ingin kalian mengorbankan semua yang kita awali dengan susah payah, kalian pasti masih sangat ingat bagaimana kalian pertama kalinya menghibur siswi-siswi di sebuah sekolah dengan panggung sempit dan juga tanpa pendingin ruangan saat itu kalian berkeringat sekali bahkan jessica sampai terduduk lemah hampir pingsan setelah menyelesaikan perform kalian, atau saat awal-awal debut kalian menghadapi serangan dari banyak antifanys yang sangat tidak menyukai kalian. Hampir setiap hari kalian menerima cacian, teror dan juga perlakuan kasar dari haters kalian.
tapi perlahan dengan kesabaran , tekat yang kuat dan juga kekompakan kalian
, kalian bisa berdiri tegap di atas panggung besar dan mengadakan konser di sana sini bahkaan nama So Nyeo Si Dhae yang membuat kalian awalnya hampir menangis karena nama grup yang kalian anggap menyedihkan itu kini di teriakan di mana-mana, tak hanya di negeri kita tapi juga dunia”

Aku dan taeyeon tak bisa lagi menahan air mata kami saat mendengar semua yang MR. Park ucapkan mengingat semua yang telah kami perjuangkan dan mendapat hasil seperti ini, bukan lah hal yang mudah mungkin jika saat itu kami bersembilan tak saling menguatkan dan team kerja kami pun tak saling menguatkan untuk terus menerus berjuang menghadapi semua ketidaknyamanan itu kami pastikan tak ada SNSD yang kalian tau saat ini. dan jika itu bukan kami, aku pastikan siapapun yang berada di posisi kami saat itu tak akan kuat secara mental maupun psikis. Tapi kembali lagi bond antar member yang kami miliki bisa mengalahakan segala hal berat yang menghadang kami saat itu.

“apa kah perpisahan kami jalan satu-satunya?” akhirnya taeyeon memecahkan keheningan di ruangan kerja Mr. Pak ini
Mr.Park mengangguk “ aku rasa iya taeyeon ahh~~
 aku tau kau dan tiffany. Kalian sudah menjalin hubungan special sebelum debut. Bahkan kalian adalah couple pertama di group. Tapi mungkin memang ini jalan satu-satunya” jawab Mr. Park dengan nada menyesal.
“jika memang beg
tiu baik lah aku akan mencoba untuk berpisah dengan tiffany” ucap taeyeon pelan dengan suara bergetar.
aku hanya bisa menatap taeyeon yang duduk di sebelah ku dengan tatapan tak percaya, aku sangat tau bagaiamna besarnya rasa cinta taeyeon dan tiffany tak akan mudah baginya begitu juga bagi ku dan jessica.
“berikan kami pilihan lain 
paman park aku mohon” mohon ku pada MR. Park kali ini dia hanya menunduk sambil memijat pelan pelipisnya.
diam sejenak seolah ia sedang menguras otaknya untuk memberi kami pilihan dalam menyelesaikan masalah ini.

“salah satu pasangan dari kalian harus putus, itu keputusan ku sekarang tinggal kalian yang memilih yuri dengan jessica atau taeyeon dengan tiffany yang putus, karena jika kalian semua tetap seperti ini aku tak ingin mengambil resiko akan ada yang tau tentang hubungan kalian. Hal ini aku lakukan karena aku tau kalian yang paling di sorot soal kedekatan kalian di bandingkan pasangan lainnya, karena tidak bisa di pungkiri kalian cukup terlihat jelas ada sesuatu tapi semua itu berhasil di tutupi dengan kata persahabatan tapi aku juga yakin fans kalian tak bodoh mereka tak hanya butuh bantahan dari mulut kalian yang menyatakan kalian sahabat baik tapi gessture kalian mengatakan lebih. Jika ada yang putus diantara kalian maka aku kan mensetting beberapa moment kalian dengan member lainnya seperti misalkan yuri dengan tiffany,sunny atau yang lain dan taeyeon dengan jessica,hyoyeon atau member lain jadi semua kecurigaan para fans dengan hubungan kalian sebenarnya akan bisa teralihkan.  Jika tak ada yag mau mengalah maka aku yang akan kesusahan untuk menutupi hubungan kalian, kalian terlalu nampak jika sudah bersama dan itu kan memusingkan ku untuk mensetting moment kalian dengan member lainnya.” Jelas Mr. Park

“ tapi bukan kah Sone pun tau bagaimana Bond kami pada sesama member dan Bond kami bukan sesuatu settingan aku rasa kau sangat tau itu paman? Kami saling menyayangi sesama member terlepas dari masing-masing kami berpacaran, hubungan kami bukan lagi tentang member yang berada di grup yang sama tapi saudara. 9 saudara yang sudah menjadi satu.” Jawab taeyeon lantang dan aku pun mengangguk –anggukan kepala ku membenarkan kata-katanya.
“aku tau tae.. kedekatan kalian bukan lah settingan heii.. aku sangat kenal kalian semua dan juga ikatan kuat yang tersimpan diantara kalian, tapi bukan Bond kalian yang ku maksud di sini tapi skinship kalian
, sadar tidak sadar kalian berempat itu yang paling nampak menjalin hubungan jika kalian sadar skinship kalian itu bagaimana diatas panggung eyecontact,holding hand, back hug banyak lagi yang menunjukkan jika kalian itu sepasang kekasih.
oleh karena itu, di sini aku ingin membuat skinship itu seolah semua sama antara kalian dengan member lainnya, pure skinship persaudaraan kalian mengerti apa yang ku maksud?” tanya Mr. Park.

“sekarang aku beri kalian waktu untuk saling berpikir dan memutuskan pilihan apa yang harus kalian ambil” aku dan taeyeon pun langsung keluar ruangan paman Park dengan wajah yang lesu dan sangat tertekan.
yang benar saja kami harus membuat keputusan pasangan mana yang haru putus, sementara aku dengan taeyeon sangat mencintai pasangan kami mereka adalah hidup kami.

“aku masih bingung taeng” ucap ku lemas
“ini berat yul sangat
 berat untuk kita hadapi tapi tak ada pilihan kita memang harus bisa memilih” taeng bersuara tenang.
“biarkan aku yang melepaskan jessica taeng.” Ucap ku pelan hal itu secara otomatis membuat taeyeon menghentikan langkahnya dan menatap ku tajam.
“bodoh aku leader dan aku yang harus bisa melindungi memberku  yul.” Ucap taeyeon masih dengan nada tegasnya.
“kau sudah sangat banyak berkorban taeng untuk kami, khususnya untuk ku” aku menundukkan kepala ku mengingat kembali semua kejadian yang terjadi dulu 3 tahun yang lalu di mana taeyeon melindungi ku dari kecelekaan mobil yang hampir merenggut nyawa kami.
saat itu aku dan taeyeon baru saja selesai dengan kegiatan kami dan aku memaksa taeyeon untuk menemani ku minum, saat 
perjalanan pulang mobil kami di tabrak oleh minibus yang melaju kencang dari arah berlawanan dan kecelakaan itu tak terhindarkan, saat itu harusnya aku yang teluka parah karena aku berada di samping taeyeon yang tengah menyupir tapi ia melindungi dengan merengkuh tubuh ku untuk masuk kepelukannya. Benturan keras pun mengahantam kepala taeyeon, ia di larikan ke Rumah sakit dan harus koma selama hampir satu bulan.
setelah kejadian itu aku merasa bersalah pada teyeon seandainya saja aku tak bersikeras memintanya  untuk menemani ku mungkin saat ini ia tak akan merasakan semua penderitaannya itu.
saat itu teyeon hampir saja kehilangan nyawanya saat dokter melakukan CT-Scan dokter mendiagnosa taeyeon sedang menderita “Epidurall Hematoma” yaitu perdarahan yang terjadi diantara pembungkus otak dan retaknya tulang belakang menurut dokter hal ini disebabkan oleh retaknya tulang kepala taeyeon akibat trauma akan benturan keras di kepalanya.
tapi aku patut sangat berterima kasih pada tuhan untuk tidak mengambil taeyeon secepat itu, setelah dokter melihat hasil CT-scan dokter langsung melakukan tindakan medis tidak dengan operasi memang karena menurut informasi yang ku tau apa yang tejadi dengan taeyeon masih bisa di sembuhkan dengan pemberian terapi dan setelah taeyeon sadar ia harus menjalani fisioterapi agar melatih saraf
-saraf motoriknya.

Tak hanya itu penderitaan taeyeon setelah kecelakaan itu taeyeon juga harus merasakan kesakitan yang luar biasa pada tangan kanannya tak bisa di pungkiri kecelakaan itu menyisakan cidera pada tangan taeyeon juga dokter mengatakan bahwa ada saraf-saraf taeyeon di bagian punggung belakang sebelah kanannya terjepit dan dokter meminta taeyeon untuk di terapi juga, namun saat itu taeyeon menolak mentah-mentah. ia mengatakan pada kami bahwa ia sudah sangat muak melewati segala macam bentuk fisioterapi.
itulah alasan utama ku memilih pilihan ku untuk mengorbankan hubungan ku dengan jessica.

Dari kecil taeyeon sudah sangat baik pada ku ia sudah sangat bersikap seperti seoarang leader dan juga melindungi semampunya, ia selalu rela mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk melindungi ku dan juga member lain, jangan sepelekan badan kecil mungilnya yang terlihat menggemaskan ini jika kau tau Kim taeyeon adalah leader yang sebenarnya. jiwa dan rasa tanggung jawabnya sangat luar biasa.

“yul.. kenapa tiba-tiba diam?” tanya taeyeon saat aku asik dengan pemikiran ku yang mengingat kejadian bersejarah dalam hidup ku itu.
“aniyoo.. tak ada hanya mengingat semua pengorabanan mu pada ku taeng” jawab ku pelan
“haha.. 
kau bercanda? pengorabanan yang mana huh?” tanya teyeon mengeluarkan tawa dorkynya
“jangan pura
-pura lupa taeng.. itu adalah sejarah dalam hidup ku” jawabku serius.
“cihh kau serius sekali ini kah kkab yul yang ku kenal?” taeyeon masih berusaha menggoda ku.
“taeyeon ahh~~” rengek ku padanya
taeyeon menghentikan tawanya dan  mengangguk “ehmm.. arsseo jika yang kau maksud kecelakaan itu, jangan pernah anggap aku berkorban karena mu. Aku hanya melakukan apa yang bisa ku lakukan pada saudara ku yul, dan jika saat itu aku yang celaka itu semua bukan salahmu tuhan memang sudah mentakdirkan semua itu terjadi pada ku dan yah aku sebagai makhluk ciptaanya tak pernah bisa berlari dari takdir yang sudah ada bukan?” taeyeon masih dengan suara tenangnya.
“biarkan kali ini aku dan tiffany yang berpisah yul kau jalani saja hubungan dengan jessica aku yakin kalian tak akan bisa berpisah”taeyeon mengusap pelan pundak ku
“dan kau fikir kau bisa berpisah begitu saja dengan tiffany taeng? Aku yakin tidak” kata ku tegas taeyeon hanya terseyum simpul pada ku
“cinta.. aku sangat mencintai  
tiffany yul, bagi ku dia adalah kehidupan ku. tapi saat ini aku rasa bukan lagi tentang itu,aku tidak boleh egois yul bagaiman pun kau member ku dan kau tau kalian adalah tanggung jawab ku” jelas teyeon, yang hanya bisa membuat ku berdiam dan meneteskan air mata ku lagi. Taeyeon mendekatkan dirinya pada ku dan memeluk tubuh ku, itu semakin membuat ku ingin menangis dalam pelukannya.

keesokan harinya aku menemui paman park dan menjelaskan padanya bahwa aku sudah memutuskan untuk menjauhi jessica perlahan dan memutuskan hubungan ku dengannya. Aku beralasan jika paman Park memaksa Taeny yang putus maka mereka akan rugi karena taeny bisa mendatangkan uang yang cukup banyak  bagi perusaahan ini, shipper mereka sangat banyak dan mereka bisa di bilang pasangan yang paling terkenal dari pada kami, belum lagi dengan kemampuan taeny dalam olah vokal perusahaan bisa menjadikan mereka sub unit atau juga kemampuan mereka yang sama2 ahli dalam hal MC. Aku tau sudah sangat banyak pekerjaan yang meminta taeyeon dan tiffany untuk bekerja sama. Apa lagi jika mereka berdua diikutkan dalam variety show seperti halnya WGM. Kurasa rating acara itu akan meningkat drastis. hal itu pula yang ku jadikan alasannya. Paman park pun akhirnya membenarkan semua alasan ku dan menyetujui keputusan ku.

Flash back END

***

Sore itu dorm SNSD terlihat ramai dengan hampir semua membernya berkumpul karena memang kebetulan jadwal mereka baik secara grup maupun pribadi sedang kosong.
“baik ceritakan pada ku bagaimana akahirnya kau bisa di maafkan oleh sunkyu mu youngie ahh~~” tanya hyoyeon antusias.
“aku menjelaskan padan my bunny bahwa saat itu aku tak bermaksud melakukan itu dengan hyesung oppa, aku menjelaskan lagi padahal saat itu aku sedang menunggunya pulang dari kegiatan nya.” Sooyoung menyendok makanannya
“susah memang menjelaskan padanya tapi dengan usaha yang benar-benar kulakukan akhirnya sunkyu mau memaafkan ku.” Lanjut Sooyoung
“apa setelah ini kau berniat mengulangi perbuatan mu lagi” jawab yuri menggoda sooyoung
“jika ia mengulanginya lagi akan ku pastikan tak akan lagi ada SooSun couple di dorm ini” jawab Sunny yang mendekati meja makan sambil membawa jus jeruk dan duduk di samping kekasihnya.

Sooyoung yang tau yuri menanyakan itu dengan sengaja saat tau sunny mendekati mereka pun hanya melotot menatap Yuri kesal dan hanya di tanggapi oleh seringaian usil dari Yuri.
“Tidak.. bunny aku tak akan mengulanginya lagi aku sudah, aku sudah berjanji pada mu” Sooyoung berusaha meyakinkan kekasihnya
hal ini membuat taeyeon,yuri,hyoyeon,yoona dan seohyun tetawa melihat wajah ketakutan Sooyoung yang seperti anak kecil kena hukum oleh gurunya.
“aku harap kau bisa menjaga kepercayaan ku youngie ahh~~” kata Sunny sambil mengelus pelan kepala Soyooung.
wajah takut sooyoung tadi pun berubah jadi sumringah mengingat kekasih nya kembali keperlaukannya semula yang memanjakannya hanya dengan sentuhan lembut seperti ini.

“issshhh bagaimana jika kini aku yang menjitak mu, bukan kah Yoongie dan Hyo sudah mendapat jatah mreka untuk menjitak mu. Taeng juga” goda yuri lagi sambil berpura2 berdiri mengangkat tangannya mengarahkan kepada Sooyoung bersiap untuk menjitak.
“jangan pernah macam-macam dengannya buluk, sudah cukup kekasih ku mendapat kan siksaan dan hukuman dari ku dan member yang lain” sunny menarik kepala sooyoung dan mendekapnya seolah melindungi Sooyoung, Sooyoung yang merasa terbela dengan kekasihnya pun tersenyum puas dan menjulurkan lidahny pada Yuri.
“iya lagi pula jitakan dari 3 orang sudah membuat ku hampir gegar otak jika kau tau, ah tidak lebih tepatnya dua jitakan keras dan satu lemparan garpul bodoh! Bunny sakiiittt” rengek Soyooung berlebihan.
“ya..yaa.. berhenti aku benar2 mual melihat mu unnie” sela Yoona yang terlihat kesal melihat ulah unnienya.
“memang sakit kok” jawab Sooyoung tetap bersikap kekanakan
“kau tau jika Yoong hanya bisa melempar mu dengan garpu aku bisa saja melempar mu dengan piring makanan ini jika kau mau” ucap yuri dengan suaranya yang di buat sedingin mungkin.
“tuh kan..tuh kan kalian senang sekali menyiksa kalian memang jahat” Sooyoung masih merengek.
“jangan berlebihan yooungie ahh~~ kau membuat ku mual kali ini”kata2 sunny itu sontak membuat tawa bagi member yang sengaja membully Sooyoung siang ini.

“berisik sekali kalian” terlihat tiffany dengan wajahnya yang baru bangun tidur dan suaranya yang masih parau berjalan pelan keruang makan
baby kami mengganggumu huh? Kemarilah” sambut  taeyeon mengulurkan tangannya dan meminta kekasihnya untuk mendekat padanya yang duduk di meja makan.
“sangat suara kalian terlalu kencang sampai aku terbangun” jawab tiffany yang kini sudah duduk di pangkuan taeyeon.
“mianhe.. kami memang kelepasan tadi saat menggoda Sooyoung” kini tangan taeyeon sudah melingkar sempurna di perut tiffany, memangku kekasihnya dipagi hari.
“kau mau?”  taeyeon menyodorkan potongan buah segar pada tiffany tanpa banyak bicara tiffany membuka mulutnya menerima suapan kekasihnya.
“kalian sudah berbaikan?” tanya tiffany yang melihat Soosun kembali mesra seperti biasanya dan mereka berdua pun mengangguk sambil tersenyum senang.
“hahaha.. bagus lah aku tak lama2 melihat perang pasangan kekasih di dorm ini” kata tiffany sambil memberikan acungan jempol pada Soosun.
“fany kau tau selama satu minggu tak di sapa oleh my bunny  itu sangat lah membuat ku menderita” lapor Sooyoung pada tiffany.
“makanya jika kau tak ingin di hukum lagi jangan pernah ulangi kesalahan itu” jawab tiffany yang 
tak akan” jawab Sooyoung singkat dan memeluk Sunny.

Saat mereka mengobrol dan saling berbagi cerita tentang fashion,syuting dan kegiatan mereka yang lain di luar kegitan grup.
terdengar suara pintu dorm  terbuka dan menampakkan sosok Jessica salah satu member mereka yang tidak ikut bergabung di dorm.
eomma bogoshipo..” sapa yoona yang terdengar antusias melihat unnie kesayangannya datang.
aigoo.. my aegy kekeke” jessica langsung memeluk hangat Yoona
“sangat merindukan ku kah” tanya jessica pada Yonna yang mememeluk erat perutnya, yoona hanya mengangguk.
“mmmm.. kau tau sudah berapa hari kita tidak berkumpul bersama dan aku sangat merindukan itu, akhir-akhir ini kau sibuk unnie bahkan setelah kau liburan di Paris kau bahkan tidak pernah menghabiskan waktu mu di dorm  bersama kami” terang yoona masih tetap memeluk Jessica
mianhe baby.. setelah liburan kemarin aku memang pulang kerumah. Umma meminta ku untuk menghabiskan waktu di rumah, entah lah akhir2 ini Mrs. Jung sangat ingin dimanjakan oleh ku maupun soojung~ie” jelas Jessica sambil tersenyum.

Yoona melepaskan pelukannya dari Jessica.
“jika begitu malam ini tidurlah di dorm kita makan malam bersama dengan yang lainnya juga” pinta Yoona seolah merengek.
jessica menatap yuri sekilas yang berada di samping Yoona, namun tak sesuai harapan yuri seolah mengacuhkannya bahkan seolah menyibukkan dirinya dengan cereal yang ia makan.
jessica menatap Yoona dan tersenyum hangat “mianhe dear.. aku tak bisa untuk hari ini, aku sudah ada janji” jawab jessica.
mendengar jessica sedang ada janji yuri pun sontak menolehkan kepalanya menatap Jessica mata mereka bertemu.
“dengan siapa?” tanya yoona penuh selidik.
jessica tetap menatap yuri “ Hyun Joong oppa, dia juga masih menunggu di luar” jawab Jessica pelan.
kini ia menatap Yoona hangat dan menangkupkan kedua tangannya pada dongsaeng kesayangannya.
“besok aku janji akan mengahabiskan waktu di dorm seharian bersama kalian okeey..” jessica terlihat seperti seorang ibu jika sudah menghadapi Yoona di banding member lainnya memang Yoona yang paling manja dengannya bahakan jika sudah manjanya kambuh Jessica tak akan bisa bebas menghabiskan waktu dengan yuri.
Dulu…

Yuri tetap berusaha memfokuskan dirinya untuk makan dan berusaha untuk menghilangkan rasa cemburunya saat Jessica menyebutkan nama Kim Hyun Joong.
diantara lelaki yang sempat di gosipkan atau sahabat-sahabat Jessica yang dekat dengannya Hyun joong adalah orang yang cukup sering membuatnya sangat cemburu, bahkan tak jarang yuri sering merajuk jika ia tau Jessica bertemu dengan Hyun Joong.
namun kini ia tak bisa melakukan apa pun, melarang Jessica untuk pergi dengan Hyun Joong sama saja akan menimbulkan harapan lagi bagi Jessica untuk memperbaiki hubungan mereka, dan perpisahan yang sudah Yuri janjikan pada Mr. Park tak akan benar2 terjadi.

“baiklah aku pergi dulu, aku tak ingin membuat Hyun Joong oppa menunggu ku lama” ujar jessica sambil mengecup lembut kening Yoona.
“unnie..” Yoona menahan pergerakan tangan Jessica seolah berat melepaskannya.
“aku janji besok akan menemani kalian di sini okey.. aku tak bisa lama aku hanya ingin mengambil iPhone ku yang tertinggal” Jawab jessica sambil mengelus lembut pipi Yoona
melambaikan tangannya ke member lain

“aku tagih janji mu besok unnie” teriak yooan kencang dan hanya di jawab acungan jempol Jessica yang dudah hilang di balik pintu dorm mereka.
“akhir-akhir ini aku sering mendengarnya menghabiskan waktu dengan Hyun Joong oppa, Yul apa kah Jessica meminta izin dulu terhadap mu?” tanya Sooyoung pada Yuri yang duduk dihadapannya.
aniyo.. tak perlu izin segala ia bisa pergi dengan siapa pun yang ia mau?” jawab yuri dengan nada dingin.
“ehhmm.. aku rasa aku lelah.. aku ingin tidur dulu” pamit yuri dengan wajah kesalnya tiba-tiba. Para member  yang menyadari atmosfer tak biasa dari Yuri pun hanya diam dan mengangguk membiarakan Yuri masuk kedalam kamarnya.

“apa Yulsic sedang bertengkar hebat?” tanya Sooyoung ingin tahu.
“entah lah tapi bisa saja itu terjadi, Yuri unnie akhir-akhir ini juga bersikap tak biasa pada Jessica unnie, jika ia dulu seolah tak bisa di jauhkan dengan Jessica unnie kini berbeda ia terkesan menghindar.” Yoona menghela napas sejenak.
“dan Jessica unni sebenara yang kau katakan unnie ia akhir2 ini sering menghabiskan waktunya bersama Hun joong oppa , padahal sudah sangat jelas Yuri unnie sangat tidak suka jika Jessica unnie terlalu dekat dengan Hyun Joong oppa” terang Yoona.
“mmm.. biarkan itu menjadi urusan mereka kids” pinta taeyeon tenang.
para member pun mengerti dan kini mereka sudah mengganti topik bahasan.

***

Jessica baru saja akan membuka pintu dorm untuk keluar, dan saat yang bersamaan Yuri sudah berdiri di hadapannya. Ia ingin masuk ke dalam dorm  pandangan mereka saling bertemu.
lewat sorot mata itu nampak dua pasangan itu sangat merindukan satu dengan yang lain dan tak bisa di pungkiri mata itu masih saling menatap penuh cinta, Yuri yang tak ingin terhanyut pun segera mengalihkan pandangannya dari mata indah itu.
“kau mau kemana sica?” tanya yuri
“keluar bersama Hyun Joong oppa” jawab Jessica singkat
“ohh.. hati-hati dan aku harap kau bisa memenuhi janjimu pada Yoona untuk bisa makan malam di dorm malam ini” pinta Yuri tenang.
Tenang? Aku pastikan Yuri saat ini hanya berusaha setenang mungkin dan tidak terpancing untuk menunjukkan rasa cemburunya lagi2 dengan Kim Hyun Joong.
sebenarnya bukan tanpa alasan jika Yuri sangat cemburu pada Hyun Joong, lelaki tampan itu sudah sangat menginginkan Jessica sebagai kekasihnya tapi ia tau jika Jessica sudah milik Yuri, dan ia tak ingin menghancurkan hubungan Jessica dengan Yuri.
tapi pernah suatu saat Hyun Joong meminta Yuri melepaskan Jessica dan membiarkan ia yang menjadi kekasih Jessica sontak hal itupun di tolak oleh Yuri yang berujung Yuri marah pada Hyun joong.
setelah sedikit perdebatannya dengan Hyun Joong mereka secara sadar tak sadar saling bersaing untuk Jessica, saat itu Hyun Joong sering menunjukkan perhatinnya pada Jessica seolah ia berusaha membuat Jessica berpaling dari Yuri. Mulai dari mengirimi Jessica paket makanan jika Jessica sedang syuting atau kegiatan lainnya, mengirimi mawar putih yang merupakan bunga favorit Jessica hampir setiap hari ke dorm SNSD dan tak jarang ia mengirimkan pesan teks  yang Yuri anggap berlebihan.

Semua usaha yang Hyun Joong lakukan tapi berakhir tak sesuai harapan Jessica tetap menganggapnya hanya sekedar kaka laki2 baginya tak ada yang lebih, karena seberusahanya seorang Kim hyun Joong pada kenyataannya tak bisa mengubah semua isi hati Jessica yang sudah ia berikan pada Kwon Yuri, ya hanya nama itu bukan yang lain.

“akan aku usahakan yul” jawab Jessica singkat sambil melangkah pegi keluar dorm mereka
yuri hanya bisa menatap nanar punggung Jessica yang perlahan menjauh pergi darinya.
“bisakah kau tetap di dorm bersama ku saja sica?” yuri menrik napasnya panjang.
“aku merindukan mu baby  sangat merindukan mu” ucap yuri lirih sambil mengusap air mata yang mulai perlahan keluar.

TBC

Note : Saya tidak akan pernah berpikir seberapa banyak komen yang masuk dalam setiap updatean FF ini, yang saya fikirkan hanya para reader yang menantikan kelanjutan FF saya yang masih sangat banyak kekurangan, sedikit apa pun jumlah orang yang mau membaca tulisan ini saya hanya ingin bertanggung jawab untuk menuntaskan semua rasa penasaran orang-orang yang sudah bersedia mengikuti FF ini J

Yuhuuyyyyyy! Tepuk tangan buat authornya. sebagai yang punya WP, saya juga mengucapkan terima kasihhh #lambai2tangan :3

This Love [Chapter Three]

Chapter 3

Meninggalkan dan di tinggalkan adalah sebuah kata yang terlihat sederhana namun terasa sulit untuk bisa diterima

 

Heart-photography-6960592-2560-1920

Author POV

Perlahan yuri melangkahkan kakinya mendekati jessica yang  tertidur pulas di kamar mereka, di tatapnya wajah cantik jessica. Ia tak ingin melakukannya tapi sepertinya otak dan hatinya tak bisa berada dalam satu jalan.

Ia tak ingin menyentuh jessica, berusaha menahan segala gejolak dan keinginan itu, tapi nyatanya ia kalah melawan keinginan dirinya sendiri, dibelainya lembut pipi jessica sambil menghapus bekas air mata yang terlihat masih basah.

‘”eungh..  jangan pergi seobang jangan lagi” jessica bergumam lirih dalam tidurnya. Perih, itu lah yang kini ia rasakan melihat jessica yang terlihat begitu menderita.

yuri  merebahkan tubuhnya di samping jessica di tatapnya dalam wajah cantik itu, di usapnya lembut dari alis, kelopak mata yang tertutup, hidung, dan turun kebibir  tipis itu, dimana biasanya jessica sangat suka berceloteh manja padanya. Dan bibir yang selalu menjadi candu bagi yuri sendiri.

“bermimpi buruk huh? Bermimpi saat aku meninggalkan mu?” yuri tetap mengusap lembut pipi jessica “ jangan lagi baby, aku tak ingin kau menangis karena orang seperti ku. Hiduplah bahagia baby jangan buat kau tersiksa karena ku”.

Di kecupnya bibir tipis itu didiamkan nya bibirnya tetap menempel pada bibir jessica seketika  air mata itu keluar dari mata  yuri.

“maafkan aku sayang, maaf” ucap yuri lagi, lirih, sebelum di rengkuhnya tubuh jessica yang mengurus akhir2 ini, “satu malam ini saja ku mohon biarkan seperti ini tuhan ucap yuri dalam hati sebelum ia memejamkan matanya ikut tertidur di samping jessica sambil tetap memeluk tubuh jessica. Membiarkan malam ini kembali pada malam-malam sebelumnya saat yuri dan jessica sealu berbagi kehangatan pelukan seperti ini.

***

Jesicca POV

Kehangatan ini, aroma tubuh ini, sepertinya ini miliknya. Ya hanya Kwon yuri, aku terlalu menghapalnya.

Apa aku sedang bermimpi? Jika iya, biarkan aku terus seperti ini aku tidak ingin bangun, biarkan aku merasakan semua ini kembali. Kehangatan ini, pelukan ini dan rasa terlindungi ini, membuat ku semakin nyaman untuk memejamkan mata. Aku tak akan ingin terbangun jika selamanya akan tetap seperti ini. Aku tak akan mau meninggalkan mimpi indah ini. Betapa rindunya aku, tak bisa terpungkiri jika ternyata aku sangat merindukannya. Segalanya yang ada padanya membuatku sangat rindu.

Beberapa saat kemudian

Aku membuka mata ku meraba tempat tidur itu berharap aku bisa menemukan sosoknya, kembali tidur di sini bersama ku dan berharap apa yang aku rasakan tadi malam bukan hanya mimpi manis pelengkap tidur ku saja. Tapi saat ku alihakan mata ku kesamping KOSONG aku tak menemukan siapapun hanya ada frame foto itu yang tergelatak, foto ku dan yuri saat kami berlibur ke  Eropa. Di foto itu, kami berdua terlihat sangat bahagia, aku yang tertawa lebar dalam rangkulannya dan ia mengecup mesra pipi ku. Betapa manisnya moment kami berdua saat itu. Mengahabiskan waktu senggang kami berdua. Aku ingin kembai seperti itu. Tapi, kini aku tak yakin jika keinginan ini akan menjadi sebuah petasan yang indah.

aku hanya bisa menghela napas panjang tersenyum miris pada diriku sendiri, ku lihat jam, sudah menunjukkan jam 10 pagi aku segera beranjak dari tempat tidur ku dan membersihkan diri ku di kamar mandi.

Setengah jam kemudian aku melangkahkan kaki ku keluar kamar aku merasa lapar. Aku  sedikit bingung mencium aroma masakan yang menyeruak di ruangan ini. Apa ini karena aku begitu kelaparan sampai-sampai rasa-rasanya aku mencium aroma masakan disini?

Kaki ku melangkah semakin mendekati asal aroma masakan itu semakin mendekat ke pantry aroma itu semakin kuat tercium, namun ada hal yang membuat ku terkejut. Apa yang ku lihat kini di depan mataku membuat ku membelalakkan mata.
Yuri? Kwon yuri? Dia disini sepagi ini? Apa aku salah lihat.

Aku pun semakin mendekatkan diriku padanya “yul kau kah itu?” tanyaku pada orang itu.

Dan benar itu adalah yuri, dia memalingkan wajahnya  yang tadi sedang terfokus pada peralatan masak  yang ada di hadapannya. Kini ia menatap ku dan tersenyum hangat.

“selamat pagi baby..” dia menyapaku dan mematikan kompor itu mengambil piring besar sambil terlihat sibuk menyajikan masakannya, “aku sudah menyiapkan nasi goreng kimchi kesukaannmu, duduk lah” ia memerintah ku dan seolah tersihir seperti orang bodoh, aku melangkahkan kaki ku ke meja makan kini aku duduk dan menghadap padanya. Memandang punggung indahnya dari belakang.

lidah ku terasa kelu, masih sangat terkejut. Ia kini di hadapan ku menyiapkan makan untuk ku, dan ya! Tadi malam aku berarti tidak bermimpi, saat aku merasakan ia sedang memelukku. Aku menggelengkan kepala ku berusaha menyadarkan diri ku sendiri untuk tidak berlebihan menjabarkan sesuatu yang belum tentu terjadi tadi malam. Jangan membuat ku gila yul. Apa sekarang aku masih berada dalam dunia mimpi? Dunia fatamorgana yang susah untuk dipercaya?

“kau kenapa hmm? Seperti tampak bingung sekali” yuri kini berdiri  tepat dihadapanku, di dekatkannya wajahnya dengan wajah ku, menatap mataku seperti biasa penuh kehangatan.

Aku masih diam tak menjawab pertanyaannya. Tak bisa ku pungkiri aku terkejut dan tak bisa kupungkiri juga dada ku  terasa berdegup kencang sama seperti pada awal aku  menyukainya dulu, harusnya hal ini sudah tak ku rasakan lagi karena sudah 4 tahun kami menjalin hubungan cinta. Tapi mengingat semua yang terjadi dengan hubungan kami akhir-akhir ini, wajar rasanya jika aku merasakan hal itu lagi.

Kini ia mengusap pelan bahu ku “sica kau baik-baik saja kan?” tanyanya. Dan kini wajahnya semakin mendekat, selanjutnya menempel kan dahinya ke dahi ku. Tuhan kal ini apa lagi Kwon yuri isshh.

aaa..annniyoo yul aku baik-baik saja” jawab ku gugup dan menatap wajahhnya yang terasa amat dekat dengan ku sampai-sampai aku bisa merasakan hembusan napasnya.

“baiklah, kalau begitu mari kita makan princess aku yakin kau sangat lapar “ yuri menegakkan tubuhnya, berjalan pelan dan duduk berseberangan dengan ku. Dia tersenyum dan menuangkan makanan itu ke piring sebelum memberikannya pada ku.

“makan lah jangan kebanyakan melamun” tegur yuri lagi, entah aku seperti robot yang kini menuruti semua perintahnya. Perlahan-lahan sesuap demi sesuap aku memakan sarapan pagi ini, aku masih seperti orang bodoh bahkan aku dan dia masih sibuk dengan kegiatan makan kami masing-masing. Bisa dibilang situasi ini sangatlah canggung untuk kami. Rasanya aku ingin pergi dari sini, tapi saraf motorikku tak mengizinkannya. Aku ingin menghindari kecanggungan ini. Tapi tak tau harus berbuat apa.

Aku masih mencuri pandang padanya dan saat aku masih menikmati wajahnya, yuri  seolah tau,  kini ia balas menatap ku, sontak hal itu membuat ku tersedak.

“uhuuuk..uhuk..uhukkk” aku terbatuk, tersedak makananku sendiri dan membuat yuri segera berdiri dan mengambilkan air putih untuk ku.

“isshhh kau ini kenapa sampai tesedak seperti ini?” raut muka yuri kini terlihat khawatir dan ia mengusap-usap bahu ku seolah hal itu dapat bisa mengurangi rasa sakit di tenggorokan ku.

“sudah reda?” tanyanya saat aku sudah tak terlalu terbatuk lagi, aku hanya mengangguk.

Yuri tiba-tiba menepuk pelan kepala ku “ babo” ucapnya singkat sebelum membersihkan meja makan dan membawa semua peralatan makan yang kotor itu ke tempat pencucian piring.

***

Normal POV

Yuri  mulai mebersihkan piring-piring yang kotor tadi, sementara jessica masih duduk dan memandangi punggung yuri. Jessica sangat menikmati moment seperti ini, baginya punggung yuri adalah punggung terbaik yang pernah ia tau.

Perlahan jessica menggerakkan kakinya melangkah mendekati yuri yang terlihat berkonsentrasi dengan kegiatannya, entah apa yang ada di pikiran jessica kini tiba-tiba saja ia memeluk yuri dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang ramping yuri dan menyandarkan kepalanya di punggung belakang.

Yuri yang merasakan pelukan tiba-tiba itu pun merasa terkejut dan seketika menghentikan kegiatannya tadi, namun ia tak bisa menampik begitu saja pelukan jessica, bagaimanapun hal ini salah satu moment yang ia rindukan selama kurang lebih setahun ini.

Back Hug seperti ini adalah salah satu hal yang sering jessica lakukan pada yuri dulu, ia selalu merasa nyaman saat menyandarakan kepalanya di bahu yuri.

Sesaat yuri tersadar, “sica apa yang sedang kau lakukan” tanya yuri pelan sambil melepaskan tangan jessica yang melingkar di pinggangnya.
jessica menghela napasnya “hannya memeluk kekasih ku, apa itu tidak boleh?” tanya jessica yang kini menatap mata yuri dalam
yuri pun menggeleng “tak ada yang salah sica tapi..”

“tapi apa Kwon Yuri? Kenapa kau seolah menolak ku?” tanya jessica yang terlihat sedih.
Yuri pun menggigit bibir bawahnya, ia kini bingung akan mengutarakan jawaban seperti apa pada jessica, yuri hanya bisa menundukkan kepalanya.
“jawab aku yuri~ahh. jawab..” jessica menaikkan nada suaranya “ selama in aku sudah menahan semuanya yul, aku menahan diri untuk tidak bertanya, apa yang membuat mu berubah pada ku, aku menahan diri ku sebisa mungkin yul” ucap jessica masih terdengar nada emosi sebelum ia menarik napasnya dalam.
“kau mungkin tak pernah mengerti yul seberapa aku merindukanmu, seberapa aku tersiksa dengan semua perubahan ini, setiap aku menyendiri, yang kulakukan hanya menangis. Dan bodohnya tangisan itu karena aku sangat merindukanmu! kau hampir membuatku gila Kwon yuri! “ Jessica diam sejenak sebelum kembali berucap.

Kembali di tatapnya wajah yuri  “aku tidak pernah bertanya yul, aku tidak pernah melakukan protes pada mu, aku sengaja mendiamkan mu dan semua perubahan ini karena aku yakin kau akan kembeli seperti dulu yul. Kwon yuri ku yang bodoh tapi penyayang, Kwon yuri ku yang selalu ada untuk ku, Kwon yuri yang selalu memeluk ku hangat, Kwon yuri ku yang tidak pernah lelah menghibur ku saat aku dalam kesedihan, Kwon yuri ku yang selalu menjadi penyemangat ku, bahkan Kwon yuri yang selalu bisa membuat ku ingin berada di dekatnya. Selamanya!” jessica pun tak bisa menahan air matanya untuk tidak terjatuh “aku rindu itu yul sangat merindukan semua hal yang ada dalam dirimu.” ucap jessica pedih.

Yuri hanya bisa berdiri terpaku. Untuknya, membuat jessica menangis adalah hal yang paling ia benci, melihat jessica yang begitu tersakiti seperti ini membuat yuri mengumpati dirinya sendiri, yuri pun mengepalkan tangannya menyalurkan segala kesalnya.

“jika kau merasa tersiksa dengan ku, maka pergi lah sica cari kebahagian mu.” Yuri menarik napas panjang sesaat “ aku tak akan pernah bisa membahagiakan mu”

Ucapan yuri langsung membuat Jessica menatap tajam dirinya, mecari kebenaran dalam setiap ucapan yuri. Matanya memerah padam. Masih dengan segala emosi yang memuncak diubun-ubun. Apa yang yuri ucapkan barusan membuatnya harus bertengkar dengan hati. Bertengkar dengan otaknya. Sangat menyakitkan. Bendungan sudah benar-benar pecah didalam jiwanya.

***

“unnie kenapa dorm sangat sepi kemana yang lain? aku bosannnnn…” yoona menghampiri hyoyeon yang kini sedang membuat sandwich untuk sarapan paginya.
hyoyeon memalingkan wajahnya dan tersenyum pada yoona yang terlihat menyandarkan kepalanya pada meja makan, “hmmm.. taeyeon dan tiffany pagi-pagi sekali sudah pergi yoong mereka bilang ingin mengantar si hitam itu ke dokter hewan. Yuri dan Jessica mereka, entahlah dari semalam aku tak mendapat kabar dari mereka, sooyoung masih tidur di kamarnya sepertinya iya sedang bertengkar dengan sunkyu” ucap hyoyeon seolah berbisik pada yoona. “Dan kekasih mu dia ada jadwal kuliah bukan pagi ini?” Tanya hyoyeon dan di jawab anggukan oleh yoona.

“huuhh.. mereka sibuk masing-masing. Menyebalkan” ucap yoona lemah dan sambil mengerucutkan bibirnya.

Hyoyeon yang sudah selesai masak pun melangkah mendekati yoona di meja makan sambil membawa sepiring sandwich yang baru ia buat. “sudah jangan banyak mengeluh makan lah, ini akan menghilangkan rasa bosaan mu” ujar hyoyeon sambil mengusap kepala yoona lembut.

“aaahhh mommy hyoo kau memang selalu mengerti apa yang ku mau hehehe… sandwich ini enaaakkk…” ucap yoona riang sambil memakan makanannya dengan penuh semangat hyoyeon hanya menggeleng melihat tingkah dongsaeng nya ini yang terlihat sangat mengerikan dan seperti monster jika melihat makanan apapun di hadapannya.

Saat yoona asik memakan sandwich nya, dengan refleks cepat ia menangkupkan kedua tangannya ke piring itu seolah melindungi makanan yang ada di hadapannya, kau tau kenapa yoona melakukan itu? Karena kini ada seorang shiksin lagi yang sudah mendekati meja makan dan duduk di hadapan yoona dan yoona tak ingin santapan lezatnya di rebut seperti biasa oleh Shiksin itu.

“eh tumben sekali tidak langsung merebutnya” ucap yoona pelan sambil memandang ke arah sooyoung yang kini duduk di depannya sambil meyandarkan kepalanya ke meja terlihat tak bersemangat.

“unnie kau baik-baik saja kan?” tanya yoona yang melihat sikap tak biasa membernya ini.

Sooyoung pun mengangkat kepalanya dan menggeleng pelan “aku baik2 saja yoong” jawab sooyoung tanpa semangat.

“jujur lah kau pasti sedang ada masalah kan? Kau bertengkar dengan sunkyu unnie?” tanya yoona lagi penasaran dan kini hanya di jawab dengan anggukan lemah oleh sooyoung

“hmmm.. baiklah cerita kan padaku unnie siapa tau aku bisa membantumu” ucap yoona pelan.

“aku tidak mengerti seberapa besar kesalahan ku yoong hwaa” jawab sooyoung sambil merengek.
sooyoung akhirnya menceritakan dari awal saat ia sedang berjalan-jalan ke taman dekat  dorm mereka, dia yang sedang menghirup udara malam sambil menunggu sunny yang pulang dari jadwal syutingnya. Saat sooyoung sedang asik menghirup udara bebas itu tiba-tiba hyesung menghampirinya dan memulai pembicaraannnya tentang masa lalu mereka sampai pada hyesung yang mencium sooyoung dan entah mengapa bukannya menolak tapi sooyoung malah membalas ciuman dari mantan kekasihnya itu, sampai pada akhirnya sunny melihatnya dan marah besar dengan sooyoung.

Saat sooyoung menceritakan semua itu, ia merasakan sebuah benda keras mendarat di dahinya “YA!!! Appo babo” ucap sooyoung dengan suara tinggi menatap tajam yoona yang menjadi tersangka utama pelemparan garpu kecil itu yang mendarat di kening sooyoung meninggalkan bekas merah.

“siapa suruh bersikap bodoh seperti itu unnie?” ucap yoona santai

“ini namanya kekerasan dalam rumah tangga bodohh.. aisshh kau dan taeyeon tak ada bedanya suka sekali menyiksa ku saat aku sedang bersedih gundah gulana seperti ini” ucap sooyung dengan kata-kata berlebihan.

“yaa..yaa.. berhenti berbicara seperti itu, kau menjiikan tau” ucap yoona sambil melotot, berpura-pura akan memukul sooyoung.

“kalau aku jadi sunny unnie aku tak akan hanya berlari dan menangis tapi aku patah kan dulu kaki hyesung oppa dan juga melemparkan mu ke sungai han” ucap yoona memasang tampang seriusnya

Sooyoung pun hanya menelan ludahnya mendengar kata-kata yang yoona ucapkan “ kau bahkan lebih brutal dari si kecil itu” kata sooyoung sambil memasang wajah takutnya.
ya bisa di bilang yoona adalah orang yang paling anti tentang kata perselingkuhan, baginya berselingkuh itu adalah hal yang sangat jahat yang di lakukan orang lain pada pasangannya.

“ada apa dengan wajah kalian berdua.. ommo sooyoung~ahh ada apa dengan kening mu?” hyoyeon yang baru saja kembali ke dapur dari kamar mandi pun memecahkan keheningan antara sooyoung dan yoona dan terkejut saat dilihat kening sooyoung memerah.

“gara-gara anak nakal itu unnie hwaaaaa” rengek sooyoung sambil memeluk pinggang hyoyeon.

Hyoyeon yang bingung pun menolehkan kepalanya pada yoona “ kau apakan dia yoong.. aigoo  kalian seperti ini anak kecil saja, berebut makanan lagi?” tanya hyoyeon sambil mengusap pelan kening sooyoung yang masih memerah.

“tanyakan saja pada si bodoh itu” ucap yoona yang masih kesal, kini tatapan hyoyeon pun beralih ke sooyoung yang masih menyandarkan kepalanya di perut hyoyeon.
“ada apa youngie~ahh? kenapa yoona jadi telihat kesal seperti itu pada mu hmm?” tanya hyoyeon

Sooyoung pun menghela napas panjangnya sebelum berbicara pada hyoyeon “kemarin sore saat aku menunggu sunny di taman dekat dorm tiba-tiba hyesung oppa muncul di hadapan ku dan ia seperti biasa meminta ku kembali, dan detik selanjutnya ia mencium ku dan dengan bodohnya aku malah membalas ciumannya. Dan kau tau sunny melihat langsung semua itu.. Begitulah kira2”sooyoung kembali mengulang kejadian itu kesekian kalinya dengan member yang berbeda.

Tuk! Kini giliran hyoyeon yang mendartkan jitakannya pada sooyoung walaupun tak sekeras taeyeon dan tak sesakit lemparan garpu kecil milik yoona tetapi itu berhasil membuat sooyoung semakin kesal dengan sikap para membernya.

“ya!!! Kali ini kau…” tunjuknya pada hyoyeon, melepas pelukannya dari hyoyeon dan mengusap kepalanya “ kalian jahat sekali padaku, tadi malam taeng sudah menjitak ku dengan keras, pagi ini anak itu yang melempar ku dengan garpu sialan ini dan sekarang giliran mu.. kalian keterlaluan pada ku, memang hanya tiffany yang bisa bersikap lembut pada ku dan mengerti aku..” omel sooyoung kesal pada hyoyeon dan yoona hal itu pun membuat duo anggota prangster itu tersenyum usil pada sooyoung

“salah mu sendiri bersikap bodoh” ucap hyoyeon santai ia pun kini menatap sooyoung dengan mata usilnya “ apakah hyesung oppa adalah good kisser sampai kau bisa terlarut sepert itu youngie~ahh?” tanya hyoyeon setengah berbisik, sengaja menggoda sooyoung.

Sooyoung pun langsung menggelengkan kepalanya, terlihat kekanakan “ NO.. my bunny is the best kisser tak ada yang lain” ucap sooyoung kekanakan hal itu pun membuat hyoyeon dan yoona tertawa melihat tingkah sooyoung.

“good kisser didorm ini tak lain dan tak bukan adalah taeyeon unnie. Walau dia belum pernah tersentuh bibir orang lain selain tiffany unnie. Tapi aku akui, jika kim taeyeonlah pemegang title itu.” Celetuk yoona disertai anggukan dari hyoyeon.

“bocah itu! Kenapa dia terkenal sekali?” ucap sooyoung.
“lalu kenapa kau bisa membiarkan dia mencium mu huh? Bahkan parahnya lagi kau membalasnya. Kau ini benar-benar.. isshh” hyoyeon memotong pembicaraan sambil menggelengkan kepalanya.

“selesaikan dengan baik-baik dan akui kesalahan mu jika kau tak ingin masalah semakin larut sooyoung~ahh saran hyoyeon sambil menepuk pelan kepala sooyoung dan sooyoung pun hanya membalas dengan anggukan lemah.

“aku sudah berusaha, tapi sunny  tak mau mendengarkan ku bahkan pagi-pagi sekali dia sudah meninggalkan dorm.. bagaimana ini “ kata sooyoung lemah memasang wajah memelasnya.

“biarkan sunny meredam emosinya dulu setelah itu kau coba bicarakan padanya, kau harus bisa meyakinkan sunny bahwa semua itu hanya salah paham dan kau tak ada perasaan apapun lagi untuk hyesung oppa. Yang terpenting kau mengakui kesalahan mu dan bisa membuktikan pada sunny untuk tidak mengulanginya lagi” saran hyoyeon lagi yang di tanggapi anggukan oleh yoona juga.

“benar yang hyoyeon unnie katakan kau harus mengakui kesalahan mu dan benar-banr membuktikan untuk tidak mengulanginya lagi, jika kau mengulanginya lagi aku yang akan turun tangan langsung menempelkan bibir mu kesepatu sunny unnie.” Kata yoona dengan suara yang mengancam sooyoung.

“isshh.. kau keturunan penjagal ya?? Kenapa ucapan mu sebrutal itu.. aigoo kau menyeramkan yoong~aahh~~”  kini sooyoung memasang wajah kekanakannya pada yoona yang membuat yoona tersenyum menang.
“makanya jangan macam-macam” ucap yoona sambil mengangkat sedikit dagunya, berlagak bangga pada diri sendiri.

“aku yakin jika taeyeon unnie akan melakukan hal yang sama padamu, bahkan mungkin lebih kejam dariku. Apa kau mau?” lanjut yoona.

“cihh bergaya sekali kau.. aku diam karena memang aku salah tapi saat aku tak salah dan kau memperlakukan ku seperti itu lagi akan ku habisi kalian berdua!” ucap sooyoung kesal dan hanya di balas tawa oleh hyoyeon dan yoona.

***

“apa kau bilang yul?” tanya jessica menatap tajam yuri. Kini keduanya saling menatap satu sama lain.

“pergilah jessica jung dan cari kebahagiaan mu aku tak bisa membuat mu bahagia” ulang yuri lagi, sulit bagi yuri mengeluarkan kalimat itu pada jessica tapi ini adalah kesempatan baginya untuk berpisah dengan jessica meskipun itu sangat berat.

Jessica memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya erat. Iya menaraik nafas panjang “ katakan bahwa kau sudah tak mencintai ku Kwon yuri” ucap jessica berusaha setenang mungkin menahan amarah nya.

“lihat aku ketika aku bicara padamu kwon yuri!!! Lihat aku!!” ucap jessica dengan penuh emosi

“iya!! Aku sudah tidak mencintai mu lagi. Tidak lagi jessica jung soo yeon!!” jawab yuri dengan tak kalah membentak jessica

Sakit,pedih, kecewa, bingung semua yang jessica rasa kini bercampur aduk. Namun jessica bertahan ia berusaha setenang mungkin dan menahan air mata itu jatuh, ia tak ingin terlihat lemah yang nyatanya memang ia sangatlah lemah dan rapuh. Ia tak ingin terlihat cengeng bagaimanapun rasa kesal di hati jessica menumbuhkan rasa gengsi pada dirinya untuk tak terlihat lemah di mata yuri.

“ucapkan sekali lagi yul” pinta jessica dengan suara bergetarnya menahan amarah, tetap di tatapnya tajam wajah yuri

Yuri menghela napasnya dalam “ aa..aku sudah tak mencintai mu lagi jessica jung ku minta kau pergi dan cari kebahagian mu pada orang lain bukan aku.” Meskipun itu sangat menyakitkan bagi yuri tapi ia tak ada pilihan lain.

Namun tanpa di duga jessica memajukan tubuhnya mendekat yuri menarik tengukuk yuri dan merapatkan bibirnya pada yuri. Ciuman kali ini bukan lah ciuman manis yang biasa mereka berdua bagi, ciuman kali ini adalah ciuman kemarahan, kekesalan dan kekecewaan yang menjadi satu.

Jessica menahan tengkuk yuri untuk tetap menempelkan bibirnya dan bibir yuri, di lumatnya bibir yuri kasar. Yuri berusaha melepaskan ciuman jessica tapi entah kenapa kali ini tenaga jessica seoah lebih kuat darinya.

“hmmppfftt… si..mmptt.. lepaskan” ucap yuri di sela ciuman itu namun jessica tak memperdulikan permintaan yuri rasa kesal dalam hati semakin membuatnya memperdalam ciuman itu. Yuri pun seolah terbawa dan kini tak lagi memberontak ia seakan terbawa saat jessica melakukan ciuman itu padanya.

Sesaat setelah ciuman yang cukup panas antara keduanya jessica pun melepaskan perlahan ciuman itu perlahan membuka matanya dan menempatkan tangannya tepat di jantung yuri.

Jesisica tersenyum sinis “bahkan ini masih sangat berdetak kencang saat kita berciuman kwon yuri” ujarnya sambil menatap dalam mata yuri “dan kau mengatakan kau sudah tak mencintaiku huh?” jessica menggeleng “tidak! Kwon yuri kau bisa membohongi orang lain tentang perasaan mu tapi tidak dengan ku, kau adalah pembohong yang buruk soal cinta Kwon yuri”.

Kata-kata jessica pun membuat yuri menelan ludahnya bodoh kenapa kau tak bisa menutupinya yuri~ahh? rutuknya pada diri sendiri.

“tapi tenang aku akan mengikuti permainan mu yul, apa yang kau mau akan aku turuti. Tapi jangan harap aku mau melepaskan mu saat kau benar-benar tak yakin pada ucapan mu sendiri bahwa kau sudah tak mencintaiku” ucap jessica tenang sembari meninggalkan yuri yang masih berdiri kaku dan merutuki kebodohan yang lagi-lagi kalah untuk menahan keinginannya saat harus menghadapi jessica. Sebisa mungkin ia menahan emosinya, tapi semua itu gagal. Ia menginginkan perpisahan yang ternyata keinginan itu menjadi keinginan palsu baginya. Sangat mustahil ia bisa memutuskan hubungannya dengan Jessica. Semata-mata hanya Jessica lahh sumber cinta baginya.

 

***

Malam hari di dorm SNSD

miyoungie~~~  aku tak bisa tidur lagi” tubuh mungil itu masuk kedalam kamar kekasihnya sambil membawa boneka kesayangannya. Wajahnya terlihat sangat kekanakan.

Tiffany yang sebenarnya baru ingin memejamkan matanya pun sontak membuka matanya saat mendengar suara bernada manja itu, iya tersenyum dan menepuk ranjang seolah memberi perintah pada kekasihnya untuk merebahkan tubuh mungil itu di sampingnya.

Dengan segera taeyeon pun merebahkan tubuhnya di samping tiffany tanpa kata-kata ia memeluk erat tubuh kekasihnya.

“kenapa tak bisa tidur lagi sayang?” tanya tiffany dengan suara lembut dan hanya di jawab gelengan kepala oleh taeyeon.

Taeyeon pun mengeratkan pelukannya pada tiffany, berusaha memejamkan matanya dalam dekapan kekasihnya “ usap bahu belakang ku dan tidurkan aku ppany~ah” pinta taeyeon.

Tiffany pun menuruti permintaan taeyeon dan mengusap lembut bahu taeyeon sambil sesekali mendaratkan kecupan-kecupan ringan pada taeyeon. Menghirup aroma rambut taeyeon yang sangat ia sukai, ikut memejamkan matanya bersama taeyeon. Tak lama taeyeon pun memejamkan matanya dalam pelukan tiffany.

Tiffany selalu tau apa yang membuat taeyeon bisa merasa nyaman dan itu yang membuat taeyeon tak bisa melepaskan dirinya pada tiffany perlakuan kecil tiffany selalu berhasil membuat taeyeon jatuh dalam kesempurnaan hidupnya.

Jam menunjukkann sudah jam 3 pagi taeyeon merasakan getaran di sebelahnya ia berusaha mengabaikan namun semakin diabaikan semakin getaran itu mengganggu taeyeon, karena tak ingin kekasihnya ikut terganggu taeyeon pun melepaskan dekapan tiffany padanya mengambil benda kecil itu dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

yoboseo..” suara taeyeon yang masih mengantuk pun terdengar serak.

“taeyeon bisakah kau membantu ku?” jawab suara di seberang sana sesaat taeyeon mengangkat telpon darinya.

“ apa oppa,, kau tak lihat ini jam berapa bahkan aku baru tertidur satu jam yang lalu kau tau?” tanya taeyeon kesal

“mianhe.. taeyeon~ aahh. Aku tak tau lagi meminta tolong pada siapa jika bukan kau” jawab lelaki itu.

“hmmm kali ini apa?” jawab taeng malas.

“wooyoung mabuk di bar dan ia tak mau di bawa pulang taeng, dari tadi juga di menyebut-nyebut nama mu. Aku bingung harus bagaimana membujuknya untuk pulang” tutur nickhun.

Ya kini nickhun dan wooyoung berada di salah satu bar ternama di korea, mereka menghabiskan malam dengan berpesta. Dan seperti biasa wooyoung mabuk dan sangat sulit untuk membujuknya pulang.

Hanya taeyeon yang mampu membujuk wooyoung pulang, bisa dikatakan meskipun status mereka adalah mantan kekasih tapi wooyoung sampi detik ini selalu menuruti segalanya yang taeyeon minta.

“hmm araa.. aku akan kesana. Di bar biasa kan? Tanya taeyeon sembari melangkahkan kakinya keluar kamar mandi mendekati kekasihnya yang masih terlelap tidur.
“ya tempat biasa taeng” jawab nickhun, tanpa basa basi taeyeon pun menutup sambungan telponnya sembari membenarkan posisi selimut tiffany dan mencium lembut kening tiffany.

Ia keluar kamar dan memakai hoodie pink yang di hadiahkan tiffany padanya, menyambar kunci mobil dan meninggalkan dorm ke bar yang sudah di sebutkan nickhun.

 

TBC

Say Thank you so much buat sang author Tante Epaaaa yg semangat update ^^

This Love [Chapter Two]

Heart-photography-6960592-2560-1920

 

 

Aku masih di sini untuk menunggu.. dan selalu bersabar untuk bisa merasakan hangat mu kembali.

 

Hening
seketika suasana yang hangat dan penuh keceriaan antara taeyeon dan yuri tadi langsung berubah menjadi hening.
kata-kata taeyeon tadi sontak menyadarkan yuri akan kehadiran seseorang  yang nyaris tak ia perdulikan kehadirannya akhir-akhir ini.
“yuri~ahh, kau baik-baik saja?” tanya taeyeon ragu saat melihat ekspresi wajah yuri yang terlihat tegang.
yuri tak bersuara hanya anggukan yang ia lakukan, gesture tubuh yuri yang seolah tidak nyaman itu pun membuat taeyeon reflek untuk mengusap punggung yuri.

Taeyeon, ya dia sangat tau apa yang baru saja ia ucapkan, menimbulkan sesak bagi membernya ini,  sebagai leader ia sangat tau bagaimana karakter yuri maupun member lainnya.
yuri yang terlihat lincah dan sedikit autis, humoris dan sangat ceria jauh di dasar dirinya adalah orang yang sangat rapuh dan sangat sensitif, apa lagi itu berhubungan dengan cinta.
yuri akan menjadi sosok yang paling lemah dan menyedihkan jika sudah menyangkut dengan hal-hal yang berhubungan dengan hati, bisa dibilang hampir sama dengan taeyeon.
hanya saja taeyeon masih sangat mampu untuk menyembunyikan semua itu dibalik sifatnya yang dork dan selalu ceria. Berbeda dengan yuri ia terlalu sulit untuk bisa menahan dirinya ketika ia harus mengahadapi hal yang menyangkut perasaan. Seperti contohnya adalah cinta.

“mianhe yuri~ahh tak seharusnya aku membicarakan hal ini saat kau lelah seperti ini” lanjut taeyeon.
yuri pun mengarahkan pandangannya menghadap taeyeon yang duduk di sampingnya, ia menggeleng dan tersenyum pada leadernya.
“aniyo taeng, ini bukan salah mu wajar jika kau mengatakan itu” yuri menghela nafas sejenak
“tapi aku rasa aku sedang tidak ingin membicarakan hal ini dulu tae, aku harap kau mengerti” lanjut yuri yang kini sudah mulai berdiri.
“aku rasa sudah terlalu larut, aku lelah, aku ingin tidur dulu. Dan juga lebih baik kau segera pergi untuk tertidur.” yuri pun meninggalakan taeyeon sendiri di ruang tengah itu dan masuk kedalam kamarnya.
“mianhe yuri~ahh, aku tau ini semua karena diriku” lirih taeyeon

***

Author POV
Pagi ini dorm SNSD terlihat lenggang masing-masing member sudah pergi untuk melakukan kegiatan mereka, yang tersisa saat ini hanya yuri yang baru saja terbangun dari tidurnya.
“jam sepuluh ya? Hmmm..” yuri menguap, “sepi sekali.” yuri pun bangkit dan pergi keluar kamar.
melangkahkan kakinya ke pantry  namun seketika  yuri terkejut melihat seseorang yang terlihat duduk di meja makan membelakanginya dan terlihat asik larut dalam dunianya sendiri sampai tidak menyadari bunyi pintu kamar yang yuri tutup tadi.
“sica” tegur yuri singkat menyebut namanya, yuri sangat hapal sosok itu. Entah akan di lihat dari mana pun ia sangat tau jessica meski ia membelakanginya seperti ini.
jessica pun langsung memalingkan wajahnya menghadap ke sosok yang kini berdiri tak jauh dari belakangnya.
“yuri~ahh” jawab sica singkat sambil menunjukkan senyum termanisnya untuk yuri.
yuri pun melanjutkan langkahnya mendekati refrigerator, mengambil air minum dan meneguknya secara cepat.
sica tak bergeming, ia bingung ingin melakukan apa pada yuri. Sendirinya bahkan takut jika yuri kembali menanggapinya secara dingin seperti biasanya. Kini yang dia lakukan hanya memandang sosok yuri yang kini berdiri membelakanginya.
setelah selesai minum yuri pun menatap jessica yang terlihat bermain dengan handphonenya.
“kau tak ada schedule hari ini?” yuri bertanya
sica yang sedikit kaget mendengar yuri memulai pembicaraan pun akhirnya menatap yuri lama, entah apa yang ada di pikiran jessica ia merasa bimbang ia merasa senang yuri memulai pembicaraan dengannya.
“aa..aniyo.. tak ada, kau sendiri?” Dengan ragu akhirnya jessica pun bertanya kembali pada yuri.
yuri hanya menjawab dengan gelengan.
“ tidak. hari ini aku juga free. Kalau begitu, aku kembali ke kamar. Aku masih ingin melanjutkan tidurku. Rasanya masih sangat lelah.” yuri pun langsung melangkah ke kamarnya meninggalkan jessica yang tak melepaskan tatapannya pada punggung yuri, ingin rasanya ia berlari dan memeluk yuri hanya untuk mengucapkan aku merindukan mu atau selamat beristirahat seobang tapi entah jessica kini merasa tubuhnya menjadi kaku dan ada sedikit rasa takut jika ia melakukan itu pada yuri . PENOLAKAN. Ya satu kata itu yang paling ia benci dalam hidupnya, jessica sangat benci ketika ia ditolak dan diabaikan. Kini yang bisa ia lakukan hanya tetap duduk dan menatap punggung yuri yang pergi menjauh dan semakin menjauh dengan tatapan kerinduan.
“apakah hal sekecil itu begitu sulit bagi mu kwon yuri?” ucap jessica lirih.

***

Tiffany POV
uhhh… kenapa siang ini begitu panas tak seperti biasanya, di tambah lagi tadi aku harus melakukan pemotretan ditempat terbuka. hufftt..
aaaahhh… tidak..tidak tiffany kau tidak boleh mengeluh, kau harus bisa mensyukuri semua yang kau dapat sekarang, karena diluar sana sangat banyak orang yang bermimpi bisa menjadi seperti mu sekarang ini.
aku  masih mengendarai mobil ku menyusuri jalanan menuju studio musik menjemput kekasih ku yang dari tadi merengek memintaku menjemputnya.

Kekasih ku itu  entah kenapa selalu saja mempunyai banyak cara untuk menarik perhatian ku , itu yang sampai saat ini membuat ku tak bisa melepaskannya begitu saja. dia pernah mengatakan padaku bahwa moodnya akan berbeda jika ia bersama ku. Dengan dia yang tidak sedang bersama ku. Seolah terbawa suasana, aku pun memiliki perasaan yang sama dengannya. Aku tak bisa tenang walau hanya sebentar berpisah darinya , jika ia tidak bersama ku setidaknya ia menghubungi ku sekedar  memberitahukan apa yang dia lakukan dan apa dia sudah makan atau belum itu sudah cukup membuat ku tenang dan juga senang. Entah lah ini terdengar berlebihan memang, tapi mungkin itu lah yang di namakan saling KETERGANTUNGAN antara kami berdua. Aku dan dia. Tiffany dan Taeyeon.

Bersikap tenang, bertanggung jawab dan rela mengorbankan dirinya demi para membernya itu lah Kim Taeyeon yang aku kenal sampai saat ini. Sekali pun ia sangat sering, bahkan hampir tiap hari bersikap kekanakan tapi kau akan menemukan sisi seorang leader jika itu berhubungan dengan para  membernya ia akan bersikap seperti seorang ibu, kakak dan juga penuh tanggung jawab ketika para membernya terlibat dalam sebuah masalah. Seprti contohnya saat dulu aku terlibat sedikit konflik dengan jessica, ia tak segan-segan memarahi ku sekalipun aku kekasihnya karna memang itu adalah kesalahan ku dan seperti yang kau tebak aku tidak akan berani padanya jika ia sudah marah. Karena jika hal itu terjadi maka itu adalah masalah yang benar-benar sudah keterlaluan baginya. Masalah kecilpun jika itu menyangkut group, dia akan tetap turun tangan. Dia memiliki karisma untuk itu. Tampak luar hanyalah topeng untuknya, tapi didalamnya, tersimpan banyak sekali kotak yang tertutup rapat, dimana kotak tersebut tersembunyi banyak sekali secret tentangnya.
Kini mobil ku sudah dekat dengan studio dimana kekasihku berlatih untuk bernyanyi. Tanpa perlu aku masuk ia sudah menyambut ku dengan dork laugh nya. Ia  terlihat seperti anak-anak dengan stylenya sekarang. Mengenakan T-shirt Iron man, celana hot pants berbahan jeans dan menggunakan topi yang sengaja di balik kebelakang. Cute. Hanya itu yang bisa terlintas di pikiran ku.
mobil ku pun segera menghampirinya, ia berlari kecil kesebelah kanan sisi mobilku dan masuk masih tetap dengan tawa kecilnya, duduk disebelahku.
chu~~  ia memberikan ku kecupan ringan di pipi , aku membalasnya dengan senyuman dan langsung menjalankan  mobil ku.
“apa perlu aku yang menyetir? Kau terlihat sangat lelah hari ini” taeyeon mengelus bahu ku lembut dan menunjukkan raut khawatirnya pada ku.
aku pun terpaksa memalingkan pandanganku sejenak untuk menatapnya dan balas menggenggam tangannya, “tidak sayang aku tidak lelah, lagi pula aku tidur tepat waktu tadi malam” aku menghela napas ku pelan “ memangnya kau! yang bahkan tidak tidur dari kemarin malam sampai saat ini” aku menunjukkan ekspresi seolah sedang marah dengan ekspresi cemberut.
“mian tapi tadi malam insomnia ku kambuh” taeyeon kini membelai lembut pipiku. Skinship yang paling aku suka dalam hubungan kami.
“aku tau. Tapi kenapa kau tidak membangunkanku, tau begitu aku bisa menemanimu daann..”

“dan menjadikan mu zombie pada besok harinya?” taeyeon memotong cepat pembicaraan ku dan menggelengkan kepalanya. Ekspresi wajah cutenya itu  membuat ku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Tanpa mengucapkan itupun aku otomatis akan tetap tertawa dengan hanya melihatnya.
“aku sangat hafal tentang mu sayang, jika kau kurang tidur besoknya mood mu akan sangat buruk dan tak jarang kau marah hanya untuk hal-hal yang sepele. Aku tidak ingin mengambil resiko seperti itu. Aku takut jika aku akan menjadi korbanmu.” taeyeon melanjutkan pembicaraannya yang ku akui itu sangat benar, aku memang bukan penggila tidur seperti jessica tapi aku akan kehilangan mood ku tiba-tiba jika waktu istirahat ku berkurang dan kau tau siapa lagi yang akan ku jadikan pelampiasan jika bukan kekasih ku ini.
“hahahaha…. anak pintar” aku pun menepuk – nepuk pelan kepalanya memperlakukannya seperti anak kecil, lihat saja sebentar lagi dia akan marah.
“Ya! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Ahhhh! Miyoung~ahhh!” bingo benar yang ku katakan kan? Taeyeon akan marah jika di perlakukan seperti itu. Salah siapa dia memiliki muka babyface diumurnya yang sudah dibilang tua. Emmm… tapi kenyataannya aku satu line dengannya. Tapi aku tak mau tau. Wajahnya akan tetap selalu seperti anak TK.
aku hanya tertawa dan kembali menjalankan mobil ku saat lampu hijau sudah menyala.

 

***

Author POV
“sudah kau lakukan apa yang telah kau janjikan?” suara seorang pria yang kini menatap tajam sosok dihadapannya sambil menyesap sedikit demi sedikit kopi yang tersedia dimeja kerjanya itu.
wanita yang duduk berseberangan dengannya membalas tatapan mata lelaki itu.
“aku sedang berusaha menjauhinya, aku harap kau bisa mengerti ini tidak mudah bagi ku paman”
lelaki itu pun hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pelan.
“kau yang memilih semua keputusan ini kwon yuri, tapi kenapa kau sendiri yang terjebak dalam keputusan mu huh?” lelaki itu menyandarkan punggungnya ke sofanya yang terlihat empuk itu dan kembali menatap lawan bicaranya yang tak lain adalah kwon yuri.

Yuri menundukkan kepalanya. Ia bingung harus berbicara apa lagi dengan lelaki ini
“maafkan aku paman, ini berat bagi ku. Sangat berat” yuri menjawab lirih sambil menahan air matanya untuk tidak menetes.
“kwon Yuri, bukan aku tidak mengerti perasaan mu tapi jika kau tak melepaskan jessica segera, aku takut petinggi manajemen kita tau dan ku rasa kau juga tau apa akibatnya bagi semua” lelaki itu menghela napasnya.
“saat aku memberikan mu pilihan itu dulu kau dengan tegas memilih untuk mengorbankan hubungan mu dengan jessica, sekarang kau malah mengulur – ngulur seperti ini”
lelaki itu pun beranjak dari kursinya mengahampiri yuri dan mengulurkan tangannya mengusap pelan kepala yuri dengan penuh kasih sayang seperti seorang ayah kepada anaknya.
“aku menganggapmu dan member lainnya seperti anak ku sendiri yuri~ahh, kita memulai semua dari bawah bersama-sama, sampai saat kalian bisa seperti ini. Kau tau betapa aku juga merasakan sakit melihat  kalian yang seperti ini” lagi-lagi lelaki itu menghela nafas “ tapi tak ada yang bisa kita lakukan yuri~ahh. itu pilihan mu, kau yang memilih untuk mengorbankan hubungan mu dari pada mengorbankan hubungan member mu yang lain dan aku harap kau bisa menjalankan keputusan mu itu” sosok itu kini beranjak pergi dari ruangannya.
meninggalkan yuri yang kini menangis terisak mengeluarkan semua rasa sesak di dalam hatinya.

“aku tetap akan memberi waktu. Aku tau kau akan berusaha keras. Karena aku sangat mengenalmu. Kau yang terbaik kwon yuri.” Sebelum meninggalkan ruangannya, lelaki itu tetap menyempatkan memberi ketenangan bagi yuri.
pilihan itu memang terasa sangat sulit baginya, melepas jessica bukan lah hal yang mudah. Bagaimanapun jessica teramat berarti bagi yuri. Jessica lah orang yang bisa membuat yuri bangkit dari keterpurukannya dulu, meninggalakan segala masa lalu kelamnya sampai ia bisa menjadi yuri yang lebih baik seperti sekarang ini.

 

***

“BRAKK!!!” Pintu dorm itu tiba2 terbuka dengan keras seorang bertubuh kecil sedang berjalan terburu dan di belakangnya sosok tinggi itu pun mengikuti langkah wanita kecil itu.
“bunny maafkan aku, tadi aku hanya tak sengaja bertemu dengannya” sooyoung masih berusaha mengejar sunny yang terlihat sedang emosi.
hal itu pun sempat mengagetkan taeyeon dan tiffany yang masih asik bercengkrama di ruang tengah dorm mereka bermain-main dengan semua peliharaan mereka.

Sunny pun terlihat tak mau mendengar kan kata-kata sooyoung iya tetap melangkahkan
kakinya masuk kekamar dan membanting pintu kamar sekencang mungkin.
“bunny dengarkan aku dulu jangan seperti ini sayang” sooyoung tetap berusaha membujuk kekasihnya di balik pintu kamar sunny.
taeyeon dan tiffany pun hanya menatap bingung pada sooyoung yang terlihat frustasi saat melihat kekasihnya marah seperti itu padanya.
ia pun terlihat menyerah dan melangkahkan kakinya kearah sofa. Mengahempaskan tubuhnya diantara taeyeon dan tiffany dengang lemas.
“kenapa dia mudah sekali marah? Aiiisshhhhh!” sooyoung pun mengehela napas panjang.
Taeyeon menatap sooyoung “kali ini apa lagi huh?” tanya nya pada sooyoung

“entah lah dia marah besar pada ku untuk hal yang bukan sepenuhnya salah ku. Hhaaahh! Jinnjjaa!” sooyoung memasang wajah kesalnya

Tiffany pun mengelus pundak sooyoung berusaha meredakan emosi membernya ini “ceritakan pada kami ada apa youngie~ahh?” tanya tiffany tenang.
“hmmm.. tadi aku sedang duduk-duduk di taman dekat apartement ini sendiri, lalu kau tau apa?” tanya sooyoung pada taeyeon dan tiffany keduanya yang tak mengerti pun menggelengkan kepalanya bersamaan.

“tiba-tiba Hyesung oppa mendatangi ku, kau tau kan jika dia menemui ku apa lagi yang akan dia bahas jika bukan meminta ku untuk kembali padanya. seribu kali pun aku menolak seribu kali pula ia akan mengucapkan itu lagi” .

“ lalu entah kenapa tiba-tiba ia menciumku” sooyoung mengucapkannya pelan  sementara taeyeon dan tiffany yang mendengar hal itu pun tak bisa menutupi keterkejutannya.

omo.. lalu apa kau menamparnya?” tanya tiffany, jeda sesaat sebelum sooyoung menggelengkan kepalanya pelan

ani.. akuu tidak menamparnya, aku diamkan saja bahkan aku juga membalas ciumannya” ucap sooyoung dengan suara pelan lagi.
PLETAAK!! Sebuah jiatakan yang cukup kencang pun mendarat di kepala sooyoung dan itu adalah  hadiah spesial dari leadernya sendiri “babo, pantas saja sunkyu sampai mengamuk seperti itu!” kata taeyeon.
“aiisssshhh!! Jinjjjaa! Appoyoo taengie~ahh!, hwaaa fany~ahh! kau ini aku kan sedang sedih kenapa kau semakin menambah rasa sakitnya?” ucap sooyoung sambil berpura-pura menangis dan memeluk tiffany.

“Ya! Berhenti minta perlindungan dari kekasih ku! Bodoh!” taeyeon pun semakin menaikkan suara nya “ lagi pula kau mencari penyakit mu sendiri! Youngie~ahh! Baboo!” lanjut taeyeon.
tiffany yang melihat taeyeon yang sedikit kesal dengan sooyoung pun menatap taeyeon seolah mengatakan “jangan marahi dia lagi sayang” taeyeon yang mengerti akan tatapan tiffany pun menghela napasnya kesal.
“kenapa kau bisa membalasnya ha? Apa kau masih mencintai hyesung oppa?” tanya tiffany lembut

“anniiyyoo fany~ahh! aniiyyoo.. aku sudah tidak mencintainya lagi tapi aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa larut dalam ciumannya begitu saja bahkan sampai aku tak menyadari bahwa sunny melihat ku dengannya. Bagaimana ini?” Jawab sooyoung sambil merengek dan memeluk tiffany erat
“ya!! Hentikan bermanja-manja dengan kekasih ku, kau nakal! kau anak nakal! isshhh ” taeyeon pun terlihat kesal kali ini.
“unniiee! berhenti memarahi ku, sekarang  bantu aku agar sunkyu tidak marah lagi dengan ku. Aku mohon” ucap sooyoung, kembali merengek, kini ia seperti anak kecil  yang merengek kepada kedua orang tuanya.

“kalau kau bukan member ku, sudah ku gantung kau di luar dorm” jawab taeyeon yang masih kesal.
Tiffany masih mengusap-usap punggung sooyoung yang kini masih ada di dalam pelukannya “sudahalah kau istirahat dulu. besok kita bicarakan lagi, biarkan sunny meredakan emosinya dulu percuma juga jika kau memaksa kan untuk membicarakannya pada sunny, saat ini dia tidak akan mau mendengarkanmu youngie~ahh.”
sooyoung pun menghela napas untuk kesekian kalinya dan mengangguk dan lanjut berdiri “baiklah aku ke kamar dulu. Anyeong miyoung unnie, taeyeon babo!” celetuk sooyoung.

“yaaaa!!!” taeyeon yang merasa tak terima dengan ucapan sooyoung, hendak berdiri dan akan memberi pelajaran padanya. Tapi tangan tiffany dengan cepat, menahan tangan mungil itu. Dan memberikan tatapan peringatan. Seakan taeyeon yang masih tak terima, hanya bisa mengerutkan bibirnya.
tiffany pun meberikan senyuman pada sooyoung “tidurlah, kita seleseaikan ini besok” sooyoung membalas senyum tiffany lemah.
“anak itu benar-benar membuat status darahku naik malam-malam begini hahh!” saat sooyoung sudah tiba di kamarnya, taeyeon pun kembali menyandarakan tubuhnya ke sofa.

Tiffany hanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke bahu kekasihnya dan melingkarkan tangannya pada pinggang taeyeon.
“kurasa sooyoung hanya terjebak dalam suasana sesaat saja tae” ucap tiffany

“tapi itu tak bisa dibenarkan” debat taeng singkat.

“yaa.. aku mengerti. Dan ini pasti menyakitkan bagi sunny. Tapi menyalahkan sooyoung terus menerus pun tidak ada gunanya, kita hanya bisa menegur jika ada member yang melakukan kesalahan. Bukan untuk menghakimi mereka, biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka masing-masing. Kita tidak perlu mencampuri terlalu jauh karena mereka sudah sangat dewasa untuk menyelesaikan masalah mereka masing-masing, itu kan yang selalu kau katakan pada ku” ucap tiffany sembari mengeratkan pelukannya pada taeyeon dan menghirup aroma tubuh taeyeon yang begitu ia sukai.
“emhhh.. Kau benar sayang. Kau memang pandai.” taeyeon menyeringai sekaligus menggoda tiffany.

“that’s me! fany..fany.. tiffany” kata tiffany membanggakan dirinya sendiri dan tertawa memamerkan deretan gigi rapi dan putihnya sekaligus memamerkan eyesmilenya yang selalu menjadi kebangganya.
aigoo bisa kah sehari saja kau tidak terlihat cantik miyoung~ahh” ucap taeyeon sambil mengecup bibir kekasihnya.
“mianhe kim taeyeon, aku sudah di takdirkan menjadi orang yang terlalu cantik. Jadi mau bagaimanapun ekspresiku, aku tetap cantik. hahaha” tiffany  pun mengucapaknnya dengan tertawa renyahnya.
taeyeon pun hanya menggelengkan kepalanya mendengar pengakuan yang emmmm.. ya memang benar di ucapakan oleh kekasihnya, baginya tak ada satu pun moment yang dapat membuat wajah tiffany mengecewakan di matanya.

Taeyeon semakin mengeratkan pelukannya pada tiffany “miyoung~ahh, berjanjilah pada ku, semuanya akan tetap seperti ini selamanya, jangan pernah berubah sedikit pun” ucapan taeyeon dan intonasi serius taeyeon pun membuat tiffany mendongakkan wajahnya dan menatap dalam mata taeyeon di tangkupukannya kedua tangannya ke pipi taeyeon, tiffany pun tersenyum.
“aku berjanji tae, semua akan tetap seperti ini sayang. Tidak ada yang berubah, baik aku maupun diri mu karena kim taeyeon adalah tiffany hwang dan tiiffany hwang adalah  kim taeyeon, aku rasa kau tau kita terikat dalam hal yang tidak mudah di pisahkan.” Kata-kata tiffany begitu terdengar meyakinkan di telinga taeyeon, membuat taeyeon tersenyum bahagia, kembali di ciumnya bibir tiffany kali ini bukan hanya sekedar kecupan ringan tapi ciuman panjang penuh cinta yang terasa manis bagi keduanya.

 

***

Dentuman keras music itu terdengar memggema di seluruh sudut ruangan klub mlam ini, yuri masih saja meneguk minuman beralkohol itu sudah bergelas-gelas ia habiskan. Tapi sendirinya terus dan terus menambah minuman beralkohol itu masuk ke tubuhnya, saat ia akan meminum sekali lagi sebuah tangan kekar menahan yuri.
ditariknya yuri secara paksa keluar dari klub itu, yuri yang sudah mabuk pun seolah tak bisa menahan tarikan lelaki itu. Dibiarkan lelaki itu tetap menariknya sampai kini ia ada di parkiran mobil.

Lelaki itu membuka pintu mobilnya dan mendorong pelan yuri untuk duduk di kursi penumpang.

“bodoh,sampai kapan kau mau menyiksa dirimu sendiri? Babo~yyaa!” kata itu yang keluar saat lelaki itu sudah duduk didalam mobil.

“aku tidak mabuk oppa, biarkan aku masuk lagi aku masih ingin menyegarkan otak ku” ujar yuri memohon

“no way! tidak akan ku biarkan kau masuk lagi bodoh, kau rasakan sendiri! untuk menegakkan kepalamu saja kau tak bisa” ucap lelaki itu lari melarang yuri

“isshhh Jaebum oppa! Tega sekali kau” yuri memejamkan matanya, ia tak bisa berbohong kepalanya terasa berat sangat pusing saat ini.

“terserah kau bilang aku tega atau apapun aku akan tetap melarang mu, kita disini dulu sampai mabuk mu itu berkurang baru aku akan mengantar kan mu ke dorm. Aku tak akan mengambil resiko dengan netizens yang bisa saja memergoki ku sedang memapah mu mabuk” ucap jaebum yang kini menatap yuri.

“terserah pada mu saja oppa” yuri membalas singkat sambil memejamkan matanya.

Beberapa waktu kemudian pengaruh alkohol itu seolah berkurang di tubuh yuri, jaebum pun menepati janjinya saat di lihatnya yuri sudah sedikit sadar. Ia langsung menyalakan mobilnya.

“kau ingin aku mengantar mu kemana yul?”

“antarkan aku ke partement ku saja oppa” jawab yuri datar

“apartement mu dengan sica atau…” tanya jaebum ragu.

“iya apartement ku dengan sica, aku ingin menghabiskan malam ini di sana” jawab yuri lagi. Jaebum pun mengangguk mengerti.

“ baiklah aku akan mengantarkan mu kesana sesuai yang kau mau, aku tau kau merindukannya kan?” Tanya nya lagi

Sesak rasanya saat jaebum menanyakan itu, tapi pertanyaan sekaligus pernyataan itu memang benar adanya. Dia sangat merindukan jessica. Dia yang biasa menghabiskan hampir 24 jam waktunya dengan Jessica, merasakan pelukan jessica, menikmati sikap manja jessica, mendapat kecupan ringan dari jessica semuanya ia sangat rindukan kini.
tapi tak ada yang bisa yuri lakukan, ia sudah memutuskan dan ia harus bisa mempertanggungjawabkan keputusannya untuk bisa menjauhi jessica dan melepaskan, ya melepaskan tapi hal itu sangat menyesakan baginya sampai detik ini pun yuri sangat amat tak yakin ia bisa melepaskan jessica dan menyandang status sebagai mantan kekasih jessica jung sooyeon. Ini semua membuatnya gila secara perlahan

“sampai kapan kau akan menyiksa diri kalian seperti ini yuri~ahh?” jaebum kembali membuka dengan bertanya tenang padaa yuri. Dan lagi-lagi yuri hanya bisa menghela nafasnya

“entah lah oppa aku bingung” jawab yuri sedih “kau tau betapa aku mencintainya dan melepasnya bukan hal yang mudah bagi ku oppa. Tapi aku harus” lagi yuri hanya bisa menangis kali ini.

Mungkin di depan para member atau orang lainnya yuri bisa menutupi segala kesedihannya ini, yuri terlihat tak peduli dan tetap bersikap konyol seperti biasanya tapi yuri tak pernah bisa menutupi perasaan sebeneranya hanya pada dua orang yaitu Park Jaebum dan Kim Taeyeon, hanya di depan mereka berdua yuri berani jujur apapun yang dirasakannya, hanya dengan mereka berdua lah yuri tidak akan berhasil memasang poker face miliknya. Dan hanya mereka berdua yang tau betapa rapuhnya seorang Kwon yuri.

Tak terasa mobil yang di kendarai jaebum dan yuri sudah ada di depan apartement. Jaebum yang merasa gadis disebelahnya benar-benar kacau ikut merasa dirinya sedih. Yuri adalah sosok adik bagi jaebum, bukan hanya yuri sebenarnya, Jaebum juga menganggap Jessica sebagai adiknya. Oleh karena itulah, ia sangat ingin melindungi mereka berdua.

“sudah sampai babo” jaebum tersenyum dan mengusap lembut rambut yuri

gomawo oppa” ucap yuri singkat

“yuri fighting” jaebum memberikan senyuman dan mengepalkan tangannya tanda memberikan semangat pada yuri “jangan siksa diri mu terlalu lama yul, karena ini juga akan menyiksanya dan aku berharap kau bisa bersabar dengan semua ini, jika kau ingin mabuk lagi panggil aku dulu sebelumnya arra?” ia kembali mengusap kepala yuri seperti adiknya sendiri.

ne.. aku mengerti kau bawel sekali oppa!” yuri pun tersenyum pada lawan bicaranya dan membuka pintu mobil sport  itu.

Tak lama mobil itu pun langsung melaju meninggalakan apartement yang ditempati oleh yuri juga jessica, iya ini adalah aparetement yang mereka beli bersama. Lebih tepatnya apertement ini adalah kado cinta dari yuri untuk jessica yang ia belikan dua tahun yang lalu saat ulang tahun jessica.

Yuri segera keluar dari lift dan melangkahkan kakinya kekamar apartementnya, saat sudah di depan kamar bernomor 518 di tempelkannya ibu jari pada alat pendectetor yang tertempel di pintu apartement itu. Secara otomatis pintu apartement itu pun terbuka. Yuri masuk dan mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang sudah tesedia namun dirinya merasa janggal saat di lihat sepasang  sepatu lagi di sana.

Yuri pun melangkahkan kakinya masih heran di tambah lagi lampu-lampu di apartement ini menyala terang seperti ada orang lain selain yuri. Apa dia ada di sini  batin yuri.

Dilangkahkan lagi kakinya kekamar yang dulu sering ia gunakan bersama jessica jika keduanya ingin menghabiskan waktu hanya berdua.

Saat ia membuka pintu kamar yuri pun melihat sosok itu tidur, ia mendekati sosok itu dan melihat ada bekas air mata dipipi gadis itu, air mukanya menunjukkan kesedihan,kepedihan dan juga kerinduan sekalipun dalam tidurnya.

Sosok itu terlihat tidur pulas sembari memeluk frame foto dimana tergambar dirinya dan yuri.

“maafkan aku sooyeon~ahh, maafkan aku karena aku sangat mencintaimu” ucap yuri lirih.

 

TBC

FF hanya sebuah wadah untuk seorang author menumpahkan segala imajinasinya yang ada
jadi reader yang bijaksan untuk bisa membedakan antara sesuatu yang REAL dan hanya IMAJINASI mungkin itu lebih baik J

FF ini hanya bentuk hiburan bukan sesuatu yang patut untuk di contoh karena sesuatu yang salah itu akan lah tetap salah tak ada hal yang bisa membenarkannya.

 

 

This Love [Chapter One]

Heart-photography-6960592-2560-1920

Dia bernama cinta ketika kehangatan itu ada

Dia bernama cinta ketika rasa bahagia itu ada

Dia bernama cinta ketika senyum itu ada

Dia bernama cinta ketika rasa terlindungi itu ada

Dan dia bernama cinta ketika keyakinan itu ada

Namun dia bernama keraguan saat semua itu terasa samar

————————————————————————————————-

Author POV
hari ini seperti biasa semua member SNSD harus menghadapi jadwal mereka yang sangat padat. Sebagai salah satu girl band besar yang sudah di kenal dunia. Tak banyak waktu luang untuk mereka bisa nikmati, tak ada waktu kosong walau hanya sekedar mengistirahatkan tubuh mereka, mereka bagaikan robot yang di paksa untuk teruss dan terus bekerja dan yang lebih nyata adalah tak ada kata KEBEBASAN yang bisa mereka rasakan seperti manusia pada umumnya.

“jinjeerr.. kemarilah..aaa..jinjer ~ yaa” sementara di pojok ruangan terlihat sang leader malah asik sendiri bermain dengan anjing peliharaannya, bukan dia lebih senang menyebutnya sebagai anaknya tentu saja anaknya bersama sang kekasih yang memiliki eyesmile dan sesekali terlihat tertawa lepas saat taeyeon mulai usil membuat “anak” mereka ketakutan karna mobil remote yg taeyeon mainkan.
“taetae, hentikan.Kau tak lihat ginger takut sekali dengan benda itu sayang” ujar tiffany sambil mengelus bahu taeyeon yang masih asik bermain mobil remmote dan mengusili ginger.
sementara taeyeon hanya tertawa dengan style dorknya saat sang kekasih menegurnya tanpa menghentikan permainan mobil2an itu..
“aku tida akan behenti sebelum kau mencium ku” taeyeon mengucapkannya tanpa melihat wajah tiffany yang ada di belakangnya.
tiffany yang mendengar kekasihnya berbicara seperti itu pun sontak memukul pelan kepala taeyeon dengan majalah yang ia pegang dari tadi “dasar! Apa kau tak bosan selalu menginginkan imbalan berupa ciumanku?”.
taeyeon yang kepala di pukul dengan majalah pun sontak meringis dan menggosok belakang kepala sambil membalikkan badannya mengahadap tiffany yang kini seolah2 memasng wajah datar.
“aigo ppany ~ah, aku hanya bercanda sayang lagi pula tdi pagi kau tidak memberiku.. mmmm.. morning kiss bukan?” taeyeon pun dengan ragu menatap tiffany yang berpura2 menatap tajam dirinya.
“ memang kenapa jika aku tak memberinya?” ucap tiffany dengan nada menantang
jujur pertanyaan tiffany itu pun membuat taeyeon menjadi kesal, di tatapnya tiffany dengan wajah kesal , “tidak apa2 bukan hal yang penting kan, hnya sekedar ciuman tak ada artinya juga bagimu.”
dengan kesal taeyeon membalikkan badannya kembali bermain mobil2an itu untuk menghilangkan rasa kesalnya dengan ucapan kekasihnya, sementara tiffany hanya menatap punggung taeyeon dengan senyum kemenangan dia merasa berhasil membuat kekasihnya kesal.
“ya!! Ginger kenapa kau terus berlari kau itu jantan kan kenapa harus takut hanya dengan mobil mainan bodoh ini huh!” taeyeon pun menaikkan nada suaranya dan seolah memarahi anjing peliharannya , namun sebeneranya dia hanya ingin menumpahkan kekesalannya yang tak bisa ia tumpahkan pada kekasihnya karena percakapan intermezo mereka tadi.
Tiffany pun mendekati taeyeon dan langsung memeluk tubuh kecil itu dari belakang, taeyeon yang sadar akan hal itu seolah ingin mengabaikan dekapan hangat sang kekasih..
“babo, kenapa harus menumpahkan amarah mu pada ginger kita. Aku tau kau kesal pada ku kan??”
Tiffany masih memeluk taeyeon yang saat ini masih memasang tampang kesalnya.
“sudah tau jawabannya masih bertanya” ucap taeyeon singkat, namun masih dapat terdengar jelas oleh tiffany. Kelakuan childish taeyeon itu membuat tiffany semakin geram dalam kegemasannya.
tiffany pun langsung melepas pelukannya dari taeyeon dan membalikkan tubuh kekasih mungilnya itu untuk menghadap padanya, di belainya lembut pipi taeyeon.
tiffany pun menatap dalam wajah taeyeon, wajah yang tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang dan wajah yang selalu dia rindukan setiap harinya.
dengan lembut juga di usapnya bibir taeyeon “hanya karena masalah sepele kau jadi marah2 seperti ini?? Aigoo.. my taetae ternyata kau lebih childish daripada sooyoung” ujar tiffany sambil tertawa sambil memamerkan tawa yang selalu membuat siapapun yang melihatnya akan luluh, sementara taeyeon masih mempertahankan wajah sebalnya pada kekasihnya.

“kau MENYEBALKAN sekali menyamakanku dengan makhluk tinggi itu! kau tau bukan masalah kau memberiku ciuman atau tidak tapi kata-kata mu barusan yang seolah menantang dan menganggap hal itu tak penting yang membuat ku kesal, aku bisa saja menerimanya karena aku menjadikan mu kekasih ku bukan hanya karena ciuman atau sentuhan tubuh tapi karna cinta ku yang memang tulus pada mu, memangnya apa pentingnya ciuman? aku hanya bercanda tapi kau malah menyulutku dengan kata mmmmhmmpp” saat taeyeon mengeluarkan segala kesalnya dengan mengomel pada tiffany, dengan cepat tiffany menarik taeyeon dan menempelkan bibirnya pada bibir kekasihnya.
di ciumnya lembut, taeyeon yang awalnya kaget pun seolah larut dalam permainan tiffany. Layaknya anjing diberi tulang putih nan segar. Luluh dengan cepat, dan bahkan menikmati tulang itu sampai mungkin menjadi kecil (?). keduanya masih tenggelam dalam dunia lumatan mereka. Menikmati saat-saat indah dimana mereka terlihat begitu sempurna untuk dipandang dalam posisi seperti ini. Saling mengaitkan cinta lewat ciuman. Bukan itu begitu indah?.
“kau galak sekali tadi aku hanya menggoda mu babo” ujar tiffany sambil mengusap lembut bibir taeyeon yang baru saja ia nikmati.
menyadari hal itu pun taeyeon hanya mengeluarkan seringaiannya kepada tiffany dan memeluk tubuh gadisnya ini “entahlah jadwal padat membuat ku sedikit sensitif, harusnya aku tidak marah-marah hanya karna masalh itu” taeyeon membenamkan wajahnya di leher tiffany.
tiffany pun hanya tersenyum mendengar  alasan dari kekasihnya. Beginilah jika keduanya semakin merekatkan cinta dengan solasi yg dioleskan juga dengan tinta cinta. Saling melengkapi, seolah mereka sangat berbeda dan akhirnya menjadi satu. Taeyeon dengan sifat childish dan Tiffany yang selalu tak ingin kalah dengan sikap taeyeon sendiri.

“miyoung~ahh..” taeyeon mengangkat kepalanya, menatap langit dorm nan putih. Masih menyandarkan tubuhnya dalam dekapan sang kekasih.
“hmm~?”

“tiffany..” taeyeon kembali memanggil kekasihnya. Senyumnya tersungging dengan sendiri ketika menyebut kedua panggilan itu. Memanggil kekuasaan teratas dihatinya yang saat ini mutlak diduduki oleh gadis yang saat ini menjadi sandaran tubuh mungilnya.

“why?” karena tiffany merasa penasaran dengan apa yang akan diucapkan kekasihnya.

“anniii. Aku hanya ingin menyebut namamu. Hanya dengan menyebut namamu saja aku merasa ada sesuatu yang memuaskanku.” Kata-kata ambigu taeyeon membuat tiffany mengerutkan dahi. Menatap kekasihnya bingung dengan banyak pertanyaan.

Satu pukulan ringan mendarat mulus dipucuk kepala taeyeon. “ya! Apa maksudnya dengan memuaskanmu? Dasar mesum!”

“kenapa kau ringan tangan sekali sih? Kata mesum itu seharusnya aku yang mengucapkan untukmu. Dasar mesum.” Kembali mereka bertengkar. Membuat ginger yang duduk manis sedari tadi memandang mereka dalam keheningan. Dalam hati mungkin ginger akan tertawa kencang melihat keduanya saling bertukar tingkah kekanak-kanakannya.

***

Sica POV
huuffttt hari ini sangat melelahkan untukku. tadi pagi-pagi sekali aku harus mengadakan syuting iklan sampai malam dan sekarang aku harus melanjutkan latihan bersama member2ku, saat ini kami sedang beristirahat sejenak dari latihan dance.
aku menyandarkan tubuh ku dan duduk dilantai sambil melihat seisi ruangan latihan ini. Mataku menangkap semua yang ada diruangan. Aku melihat seohyun dan yoona yang tertidur di sofa dengan tangan seohyun yang terlihat melingkar sempurna dipinggang yoona dengan posisi duduknya, sementara yoona terlihat tidur nyenyak di pangkuan seohyun, dipojok ruangan terlihat pasangan taeny yang makin hari makin mesra sedang asik bercanda dan bermain2 dengan peliharaan mereka namun, ya kau tau? Taeng sesekali mencuri ciuman dari tiffany. Aku tersenyum melihat tingkah leader ku itu,ia  adalah kekasih yang dorky dan juga byun hidupnya pun penuh dengan “modus” jika sudah berhubungan dengan tiffany tapi aku tau terlepas dari semua itu, taeyeon sangat mencintai tiffany dan aku yakin ia tak akan bisa hidup tanpa tiffany. Diantara kami taeyeon-lah yang sangat rentan akan cinta. Aku yakin dia akan sulit move on jika kejadian dulu kala terulang kembali ketika dia berhubungan dengan wooyoung oppa. Kuharap tiffany adalah yang terakhir untuknya. Aku sangat iri dengan hubungan mereka. Dimataku, merekalah sepasang kekasih yang sangat anggun dan mesra.
aku mengedarkan pandangan ku ke sisi lain terlihat hyoyeon yang masih asik dengan dancenya, member ku yang satu ini memang tidak pernah lelah dan dia adalah penggila dance nomor satu yang pernah aku temui, ia tak akan berhenti selama music masih menghentak.
sementara di dekat pintu sunny juga duduk dengan meluruskan kakinya sama dengan ku sambil bermain game kesayangannya.
hari ini kami hanya berlatih dengan  7 member karena sooyoung sedang syuting drama terbarunya dan,, ya si babo itu… kekasihku dia juga sedang sibuk syuting film terbarunya.
hmmm.. jika mengingat namanya terkadang aku merasa sesak yang teramat di hati ku, si babo  Kwon yuri dia adalah kekasih ku yang sudah selama 4 tahun ini menghiasi hari-hariku.
dia adalah si babo yang selalu membuat ku tergila-gila dengan sosoknya, senyumnya, tingkah konyolnya,kehangatannya, sentuhannya, perlindungannya, semuanya membuat ku menggila tak ada yang bisa menggantikannya.
namun akhir2 ini hubungan ku dengannya terasa amat jauh aku tak mengerti..
dia yang dulu selalu hangat pada ku kini berubah dingin. Dia yang selalu perhatian pada ku sekarang berubah seolah tak mau tau, dia yang selalu berusaha menjaga ku di manapun sekarang seolah tak mau bergeming.
huffftt… aku selalu saja berusaha untuk memperbaiki semua, berusaha mendapatkan perhatiannya entah bagaimanapun caranya tapi hasilnya akan tetap sama dia masih dingin, sampai sekarang pun aku bingung dengan status ku dengannya. Jika  aku kekasihnya bahkan aku pun sudah sangat jarang berkomunikasi dengannya walaupun aku mengunjungi dorm, aku jarang menghabiskan waktuku dengannya dia lebih memilih di kamar dan tidur. Lelah karna jadwal kuliah maupun syutingnya itu yang selalu jadi alasan untuknya, berbeda sekali saat dulu jika ia kelelahan biasanya dia akan berubah manja padaku meminta ku untuk selalu memeluknya, tidur di sampingnya dan menghabiskan waktu dengannya karna dia berkata jika akulah energi nya.
seobang ada apa dengan mu? Tau kah kau aku sangat merindukan mu saat ini? Kenapa semua terasa berubah yul.. aku rindu padamu.

flashback on


siang itu terdengar suara pintu dorm SNSD di buka dan terlihat sosok tinggi,berkulit kecoklatan dan ya kau tau berwajah tampan.
yuri baru saja pulang dari kegiatan pemotretannya, pemotretan itu di lakukan mulai dari tadi malam dan baru selesai siang ini.
bayangkan saja bagaimana dia begitu lelah karena jadwal itu.
perlahan dia mendekat ke sosok yang kini tertidur di sofa ruang tamu mereka, menundukkan badannya dan mensejajarkan wajahnya dengan sosok itu.
yuri tersenyum melihat sosok yang dicintai tertidur dengan pulasnya seolah tak terganggu dengan bunyi pintu tadi, di belainya wajah gadis itu dengan lembut dan penuh sayang.
Entah wanita yang kini ada dihadapan yuri seolah selalu bisa menyihir dirinya dan membuatnya terhanyut dengan kecantikannya, rasa lelahnya yang amat sangat itu terasa hilang sendirinya hanya dengan menatap wajah kekasihnya ini.
yuri pun mendekatkan wajahnya ke wajah sosok itu menempel kan bibirnya di kecupnya dengan lembut
sedikit melumat dengan perasaan nan lembut berkecemakuk oleh ukuran cinta yang sudah melebihi ambang batas yang seharusnya. Kegiatannya masih berlajur beberapa detik kedepan.
Yuri tersentak saat menyadari sosok itu membalas ciumannya, di tariknya wajahnya dan di tatapnya wajah yang tertawa di hadapannya.
“YA.. kau tak tertidur huh?” yuri memasang tampang kaget
sosok itu masih tetap tertawa tanpa bangun dari posisi tidurnya “ kau pikir siapa yang bisa tertidur nyenyak, saat aku merasakan ada seseorang yang mencari
-cari kesempatan untuk mencium ku saat aku tertidur?” sosok itu mengganti posisinya dengan duduk dan menyedekapkan tangannya.
“Mian
he baby aku mengganggu tidurmu” yuri menatap wajah jesssica dengan sorot mata bersalah

“babo aku sedang tidur dan bermimpi indah kau malah mencium ku dan secara otomatis saraf motorikku membangunkanku huh?” jessica tersenyum tipis dia merasa senang membuat yuri merasa bersalah seperti ini
yuri yang merasa bersalah pun kini mendekati jessica dan menggenggam tangan jessica, sementara jessica hanya tersenyum melihat seobangnya seperti anak kecil yang terlihat takut saat melakukan kesalahan.
“baiklah lanjutkan tidur mu aku tak akan mengganggu lagi hmm..” yuri menatap jessica dan menangkupkan kedua tangannya ke wajah jessica
jessica membalas perlakuan yuri dengan senyum “ kau terlihat lelah seobang? Maaf aku hanya sedikit menggoda mu tadi ” sica
kini yang berganti mengusap wajah yuri, yuri pun menggenggam tangan jessica yang kini ada di wajahnya dan tersenyum.
“seperti yang kau lihat” yuri mengeluarkan aegyonya
“ya!! Berhenti
! aegyo mu itu membuat ku mual” sica reflek memukul pelan bahu yuri
“isshhh kau ini galak sekali baby” jawab yuri  meringis dan menggosok bahunya
“aku galak kar
ena seobang ku yang babo ini” sica menjawab sambil menjulurkan lidahnya

“tega sekali” jawab yuri lagi dengan wajah kekanakannya, jessica yang melihat seobangnya makin seperti anak kecil pun semakin gemas dan menarik yuri kedalam pelukannya  dan dibalas yuri dengan membenamkan wajahnya ke lekuk leher milik sica
saat sica akan melepaskan pelukannya dari yuri, yuri tetap memeluk sica erat
“biarkan seperti ini dulu, aku masih ingin memeluk mu, kau tak tau aku sangat merindukan mu”.
jessica pun hanya menuruti keinginan yuri dan membiarkan yuri memeluknya lebih lama.

flashback off

***


tak terasa butiran halus itu mengalir di pipi jessica, saat ia mengingat hubungannya dengan yuri kini tak lagi sama semua terasa jauh, semua terasa berbeda tapi ia tak pernah bisa melepaskan yuri ia sangat mencintai yuri.
sebuah usapan lembut di bahunya membuat jessica tersadar dari lamunannya, dilihatnya kesamping tiffany  menatap matanya dan menghapus pipi jessica yang basah karena tangisannya.
“jessie, are you okay dear?” ucap tiffany sambil membelai lembut pipi sica
jessica pun memeluk tiffany dengan erat dan mengeluarkan tangisannya, entah mengapa ia sangat tak bisa menahan air matanya. Ini terasa begitu sesak bagi jessica sudah sekian lama ia menahan semua rasa sesak dan sakit sekaligus rasa takutnya kehilangan sosok yuri kekasihnya yang entah mengapa berubah
“aa..ku. men..cin..nn..tainya fany~ahh.. sa..ngaatt hiks..” jesiica pun mengeratkan pelukan pada tiffany mengeluarkan segala beban yang ia simpan selam ini.
“arraseo,, jessie,, arraseo dear” kata tiffany sambil membalas pelukan jessica, sakit juga bagi tiffany melihat orang yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri terlihat terluka dan rapuh seperti ini.
“menangis lah jika itu bisa membuat mu tenang aku ada di sini untuk mu, keluarkan semua yang menjadi beban mu saat ini.” tiffany tetap memeluk jessica dengan erat berusaha memberikan ketenangan pada jessica dan membiarkan jessica menangis dan menumpahakn segala kesedihanya saat ini.

taeyeon  yang melihat salah satu membernya menangis di pelukan kekasihnya pun ingin mendekati mereka namun langkahnya terhenti saat tiffany kekasihnya memberikan kode untuk taeyon tidak mendekati mereka dulu. Taeyeon pun mengerti dan menjauh dari mereka berdua, kembali ke tempatnya semula kembali bermain dengan anjing peliharaannya.

***

Saat ini sudah menunjukkan pukul 2 dini hari namun taeyeon masih terjaga, saat ini ia sedang  duduk di ruang tengah tempat biasanya ia dan membernya menghabiskan waktu luang untuk sekedar berkumpul ataupun menonton TV. Entah apa yang mengganggu pikiran taeyeon sehingga “penyakit” lamanya insomnia  sepertinya mulai kambuh, taeyeon merebahkan tubuhnya di sofa sambil menonton  TV.
saat asik menikmati film action, taeyeon di sadarkan oleh kehadiran yuri yang baru datang dari kegiatan syutingnya.
“kau belum tidur taeng?” tanya yuri sambil menghampiri taeyeon
taeyeon melihat yuri dan megubah posisinya menjadi duduk dan menjawabnya dengan gelengan kepala.
“mmm belum sepertinya insomnia ku kambuh yul” jawab taeyeon sambil memeluk guling dan ya kau tau leader itu sangat terlihat imut.
yuri pun tersenyum dan mengelus kepala taeyeon seperti perlakuan kakak ke adik kecil kesayangannya, sekalipun taeyeon lebih tua tapi wajah imutnya itu terkadang membuat orang-orang sekitarnya maupun para fansnya lupa bahwa taeyeon itu adalah wanita yang sudah menginjak umur 25 tahun.
“kenapa tidak meminum susu hangat saja huh?” tanya yuri

Taeyeon pun menjawab dengan menggeleng “ aku menunggu mu pulang dan menunggu mu membuatkannya untuk”
jawaban taeyeon membuat yuri mengerutkan dahinya, tidak biasanya leadernya bersikap seperti ini padanya.
“yaa.. kau kan bisa meminta miyoung mu itu yang membuatkannya kid” kata yuri
“entahlah susu hangat buatan mu itu berbeda yul, kau tau tangan mu itu sangat pas untuk meraciknya hmm..” jawab taeyeon sambil megeluarkan senyum dorknya.
“hahahaha… kau berlebihan sekali aigoo taengie~ahh” jawab yuri sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata berlebihan dari leadernya itu.
taeyeon pun ikut tertawa geli mengingat kata-katanya barusan.
“bukankah tigfany juga pintar meracik susu huh?” tanya yuri
taeyeon pun langsung menatap yuri dengan mata usilnya “ jika ppany yang membuat itu lain lagi susunya yul hahahahaha” tawa taeyeon pun pecah menyadari obrolan mereka mulai menjurus ke hal dewasa
“ya!! Babo kau memancingku dalam perbincangan dewasa huh” kata yuri sambil ikut tertawa dengan taeng
“kekeke… mmm sebenarnya lebih dari itu yul aku hanya merindukanmu saja” jawab taeng yang kini mengganti intonasi serius.
yuri pun menghentikan tawanya dan menatap lawan bicaranya yang kini duduk disampingnya.
“yaa.. memang jadwal syuting ku lebih padat akhir-akhir ini dari pada dirimu atau member yang lain taeng,” yuri menarik nafasnya sejenak dan melanjutkan “ kau tau kan inilah resikonya, lagi pula bermain film juga salah satu impian ku dari dulu taeng” taeyeon pun mendengar serius pembicaraan yuri.
arraseo.. kau memang sangat sibuk, tapi jangan lupakan kesehatanmu. Aku tak akan mau menjengukmu jika kau jatuh sakit” jawab taeyeon sambil mengempalkan tangannya dan mengepal didepan wajah yuri, yuri pun hanya tertawa dan merangkul leadernya itu yang sudah seperti saudarnya sendiri.

“arraaa my kid!” yuri mencubit ringan pipi taeyeon yang akhirnya menggelembung lucu.

“tapi kau tau yul dari pada aku atau member lain sica yang jauh lebih merindukan mu” kata-kata taeyeon pun seketika membuat yuri menghentikan senyum yang tadi merekah di bibirnya. Merasakan sedikit perasaan sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya. Sangat kencang.

TBC

wehehehe… saya kembali lagi dengan FF yg terencana antara saya dan author aslinya. perlu saya perkenalkan. dia adalah tante (panggilan saya ke sang author) Eva Tristin (coba cari epbenya kalau penasaran) :D yang katanya nggak isa nulis, ternyata kalau udah nulis, keren juga :D wkwkwk

coba featuring ngebikinnya, dan ternyata kalau beda pendapat agak sulit. tapi akhirnya bisa juga. oke dehhh nggak panjang lebar. selamat menikmati dan thanks untuk yang sudah berkunjung dan koment ^^ babaybanana u,u

Sad and Smile in the Last [Sequel]

quotes316

 

———————————————————————————————–

Kehidupanku berlanjut setelah beberapa bulan yang lalu kehilangan seorang kekasih yang sangat berharga dalam kehidupanku. Aku mengira bisa menghadapinya, ternyata jauh dari dugaanku. Kepergianya sama saja seperti menguburku dalam kesepian yang begitu pekat. Apakah aku harus membenci kota ini? Kota dimana aku lahir, dan juga kota yang dulunya memberikanku kebagian dan akhirnya merenggutnya juga.

Mengenal cinta, memunculkan cinta, berbagi cinta, dan akhirnya kehilangan cinta. Dia satu-satunya yang menjadi alasanku untuk mempertaruhkan hati, mempertaruhkan jiwa dan perasaanku. Dia satu-satunya kunci untuk membuka harta karun yang indah.

Mendeskripsikan cinta dengan sedemikian rupa macam kata-kata, tapi bagiku, aku bisa mendeskripsiknnya hanya dengan satu kata. “DIA” ucapan lirih yang membuatku menghela napas panjang.

Mendaki bukit, dan berharap menemukan sebuah jawaban, menemuka secarik tujuan, dimana tujuan itu adalah dia.

Waktu memang mustahil untuk kembali. Jika saja benar-benar ada alat bernamakan time machine, aku ingin kembali saat pertama kali kami bertemu.

***

Musim semi merekah. Pohon-pohon sakura yang sengaja ditanam didepan sekolahku mulai menampakkan keindahannya. Berguguran namun tak habis. Apa ini yang membuatku bersemangat untuk terus mengikuti jam demi jam di sekolah. Hanya pada musim semi. Apakah itu aneh? Aku masih berjalan lenggang menuju sekolah. Dengan pohon-pohon sakura dikanan dan dikiriku ini, serasa berjalan menuju pelaminan. Hahahaha. Hayalan bodoh!

“ini hari pertamaku. Aku harus bisa” seseorang gadis bergumam dengan dirinya sendiri tepat dihadapanku. Aku bisa mendengar apa yang dia gumamkan. Seragam yang dia kenakan sama sepertiku. Tapi wajahnya asing bagiku. Sepertinya dia memang siswa pidahan. Ini memasuki tahun ketiga bagi kami. Yang artinya, kami juga akan menghadapi ujian akhir.

“heii,,” aku menyapa. Dia berbalik badan, menghadapku. Cantik. Itu kesan pertama setelah melihatnya. Sangat mirip dengan boneka Barbie. Dia terlihat tampak gugup. Dari posturnya aku bisa memastikan dia nerveous.

“apa kau murid baru?”  aku mencoba mendekat selangkah. Karena kupikir dengan jarakku sebelumnya, seperti berbicara dengan orang yang kubenci.

Dia mengangguk. Masih tak mau mendongakkan wajahnya untuk menatap lawan bicaranya.

“taeyeon.” Aku memperkenalkan diri. Kuulurkan tanganku, untuk menunggu balasan jabatan tangannya.

“Jessica.” Akhirnya dia menjawab. Suaranya manis.

“kita akan terlambat.” Aku menarik tangannya, dan mengajaknya berlari menuju sekolah.

***

Awal yang aku piker baik, ternyata salah. Sooyeon~ahh. Apa aku jahat? Menganggap mencintaimu adalah sebuah kesalahan besar? Tak ingin diawal aku mencintaimu itu karena aku takut untuk kehilanganmu. Dan benar, ternyata itu menjadi kenyataan. Tapi aku tak bisa menghindari itu. First sight. Itu yang aku rasakan saat itu. Dan kini menjadi last sight saat aku tak bisa lagi menggapaimu. Aku tak lagi bisa menikmati hariku yang biasanya berwarna-warni saat bersamamu. Aku rasa kini hanya hitam yang bersamaku.

“taeyeon~ahh..” suara dari luar menyadarkanku kembali pada dunia nyata. Aku seperti bermain game MMORPG, menjelajah duniaku sendiri, menghilang dari dunia dimana seharusnya aku berada. Itu yang aku play setiap hari akhir-akhir ini. Merasa mencitai, tapi tak yakin itu akan tercapai.

“taeyeon~ahh.. kau harus sarapan. Hyoyeon sudah memasakan sarapan untukmu.” Suara sooyoung tampak khawatir. Ya, semua orang di rumah ini tampak begitu khwatir jika berhadapan denganku. Mereka teman-temanku, tapi juga menjadi keluarga kecil bagiku. Aku, hyoyeon, sooyoung, yuri, dan sunny.

Aku membuka pintu kamarku, mendapati sooyoung berdiri didepan pintu kamarku. Yang pasti dia lakukan setiap hari. Aku akan keluar jika mereka menyuruhku, aku tak ingin tampak begitu mengkhawatir dihadapan mereka sebenarnya. Tapi itu sepertinya sangat mustahil.

“gomawo youngie~ahh..” aku mengulas senyum tipis. Walau aku tak melihatnya, aku yakin wajahnya masih tetap tampak mengasihaniku.

Aku berjalan pelan, menuruni anak-anak tangga menuju pantry.

“apa obatmu masih?” satu suara lagi dari arah ruang tengah menyapa. Aku berenti, menatapnya sebentar dan tersenyum lembut.

“kurasa masih ada sisa untuk dua hari kedepan sunny~ahh.” Jawabku. Dia berjalan menghampiriku. Meletakkan telapak tangannya dipuncak dahiku. “masih hangat.” Katanya. Aku mengedipkan mata beberapa kali.

“gomawo sudah menjagaku semalaman.” Aku melepaskan tangannya dari dahiku, meremasnya lembut.

Kemarin aku sempat ambruk saat sedang bekerja, dan sempat dibawa kerumah sakit, dan seperti biasa, teman-temanku akan mengerti jika aku meminta pulang lebih awal, karena rumah sakit adalah musuh terbesarku. Aku merasa hal buruk akan terjadi jika berada ditempat itu.

“makanlah, dan habiskan tanpa sisa. Jika masih tersisa, aku akan memaksamu mengahbiskannya.” Perintahnya sambil mengusap-usap rambutku.

Teman-temanku memang sangat perhatian padaku, terlebih sunny. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku walau sebenarnya aku lebih tua beberapa bulan darinya. Sikapnya sudah layak disebut sebagai ibu. Di rumah inipun dia berperan sebagai ibu.

“kau mendengarkanku kan kid?”

“ahh.. neeee ummaaaa..” aku membungkuk menyetujui permintaan, ani… lebih tepat disebut sebagai ancaman. Aku mengulas senyum dan kembali berjalan menuju pantry. Teman-temanku yang lain ada disana, kecuali yuri.

“dimana yuri? Dia tak ikut sarapan?” aku mencobah memecah suasana yang sepi.

“yuri masih tertidur, dia pulang larut semalam.” Hyoyeon menyahut.

“apa dia sakit? Kalau begitu kita tung-“

“kau tak perlu khawatir, lebih baik kau khawatirkan dirimu sendiri dulu, dia baik-baik saja. Kami semua lebih khawatir padamu, yuri pun begitu khawatir padamu semalam.” Sunny kembali mengusap-usap puncak kepalaku.

Aku kembali terfokus pada makananku, menuruti apa yang sunny katakan, dan juga teman-temanku khawatirkan. Aku merasa bersalah pada mereka, karena mereka selalu mengkhawatirkanku akhir-akhir ini. Aku terus berpikir, bagaimana aku harus membalas perhatian mereka yang begitu baik padaku. Aku ingin melupakan masa laluku, tapi kurasa, itu sangat sulit, dan kini menjadi kompleks untukku. Sooyoung pernah bilang ppadaku jika aku terus-terusan seperti ini, maka hal ini pun akan menjadi phobia bagiku.

“jangan berpikiran yang aneh-aneh. Lekas habiskan makananmu dan kembalilah istirahat. Kau masih harus menerima IVmu pagi ini, dokter sudah menghubungiku kalau kau sudah selesai makan, dia akan datang.” Sooyoung menyadarkanku dari lamunan sesaat.

Aku mengangguk pelan, dan kembali melahap sisa makananku. Sudah 4hari ini aku terpaksa menerima IV karena kondisi badanku yang masih sangat lemah. Seharusnya aku memang berada diranjang rumah sakit.

***

“kau dengar sendiri apa yang dikatakan dokter bukan?” ucap sunny sembari menyibak helai demi helai rambut yang menutupi wajahku. Aku mengangguk.

“kondisiku masih sangat lemah, aku dianjurkan untuk terus beristirahat hingga kembali membaik, tapi setelah itu bukan berarti aku sudah boleh berkeliaran bebas, karena bisa saja, tubuhku kembali drop dan jatuh sakit seperti ini, dan aku juga bisa kembali meringkuk diranjang rumah sakit.” Aku mengulang kata-kata dokter untuk meyakinkan sunny.

“bagus kalau kau tau. Istirahatlah, aku akan membangunkanmu nanti siang saat jam makan. Aku dan yang lain harus berangkat kerja. Jika ada apa-apa, kau hubungi aku. Arraaa kid??” benar-benar naluri seorang ibu.

“neeeee umaaa               ~yaaa..” aku memarkan semua gigi depanku, menyengir riang. Selanjutnya sunny mengecup dahiku dan keluar dari kamarku.

Sepeninggalan sunny beberapa menit yang lalu, aku mencoba tertidur. Dan seperti biasa, hasilnya akan tetap nihil, walau IV sudah menancap sempurnah dipergelangan tanganku, tapi aku tidak mudah untuk terlelap.

Jung Sooyeon. Kenapa nama itu terus berterbangan dikepalaku? Aku bukan tom yang terbentur tembok, lalu jerry akan mengitari kepalanya, itu hanya terjadi didalam kartun atau animasi yang sering aku tonton dilayar TV dan bisa membuatku tertawa.

“drrrttttt” getaran handphoneku dari meja kecil disamping kasurku membuatku menoleh. Kuraih benda itu, kulihat siapa yang menelphone. Nomor asing. Belum ada didalam kontakku.

“annyeonghaseo?” sambutku. Aku menyandarkan kepalaku disandaran kasur. Mencari titik nyaman untukku berbicara dengan biasa.

“neee.. taetae???” satu suara yang sepertinya tak asing dengan panggilan yang diagunakan untukku.

“nugu?” tanyaku lemah. Sedikit lama aku berpikir, mengingat suara dan panggilan yang sangat tak asing bagiku.

“kau tak mengingatku? Siapa lagi yang memanggilmu taetae jika bukan hanya aku???” omelnya. Aku masih mencoba mengingat. Memang sangat familiar bagiku. tapi pikiranku sekarang hanya berisi Jung Sooyeon. Sial!! Aku mengambil posisi duduk, menyandarkan punggungku dibantalan ranjang.

“taeyeon~ahhh. Apa kau mengingat miyoungie?” dia lanjut bertanya. Aku masih mencoba mengingat.

“tega sekali kau melupakanku.” Ucap sedih dari seberang sana. Miyoungie? Jinnjjaaa!!! Kenapa aku merasa melupakan sesuatu yang beasar???? Sialll. Aku terus mencoba. Mencoba membuka berkas demi berkas dalam otakku. Miyoungie?? Ahhhh!!!

“fany~ahhhhh,,,” aku sedikit berteriak. Merasa lega, puas, dan bahagia karena berhasil mengingatnya. Dia, Hwang Miyoung. Kenanganku waktu aku kecil. Teman masa kecilku.

“aku hampir menangis karena kau tak mengingatku!”

“mianhe fany~ahh. Bagaimana kabarmu?” tanyaku lembut.

“buruk. Karena kau tak mengingatku, kau jahat sekali!” kali ini aku yakin, dia memasang wajah cemberut walau aku tak bisa melihatnya.

“jinnjjaa! Mianheyo fany~ahhh.. kapan kau akan kembali ke korea?”

“kenapa kau menanyakan itu? Kau merindukanku?”

“sangat! Sudah 8 tahun kita tak bertatap muka! Apa kau tak merindukanku juga? Aku yakin kau juga merindukanku.” Entah kenapa, dengan sendirinya aku lebih bersemangat. Dia melakukan boost dalam moodku pagi ini, yang aku tau aku sedang lemah sekarang.

“kau menang. Apa kau sibuk sekarang?” aku terdiam sesaat.

“aku sudah sampai dibandara sekarang. Kau bisa menjemputku?” entah aku harus bahagia atau marah, saat ini aku tak tau mau melakukan apa. Bimbang karena aku tau dengan keadaanku yang sekarang aku tak yakin bisa berada dibandara untuk menjemputnya saat ini.

“arra! Kau tunggu sebentar. Aku akan menjemputmu. Aku akan menelfonmu lagi setelah sampai di bandara.”

Setelah itu aku kembali terfokus pada handphoneku, menekan speedcall number 4 yg kutunjukan untuk sooyoung. Aku yakin dia sedang tidak sibuk sekarang.

***

“kim taeyeon!”

satu teriakan mengambil perhatianku yg sedari tadi hanya melihat orang-orang berlalu lalang di depanku. Dia. 8 tahun berlalu, dan dia tetap bisa mengenali wajahku. Dan sebaliknya aku, dia tak berubah sedikitpun, yaa. Umur mempengaruhi pertumbuhan, hanya itu. Kulihat dia berlari kearahku. Senyumnya, senyum sang penyenandung surga. Tampak begitu menawan. Masih tetap anggun, sebenarnya aku terbungkam karena baru melihatnya sejak 8 tahun yang lalu. Tapi entah kenapa aku masih bisa cerewet merutuki didalam hati, betapa indahnya gadis ini.

Pelukan ini masih berlangsung. Erat! Tak bisa kupungkiri, aku memang sangat merindukannya. Sooyeon~ahh. Apa benar kau berenkarnasi? Apa ini tak terlalu cepat? Seharusnya kau memberiku sedikit lagi waktu untuk tetap mengenangmu dan menyimpanmu didalam lemari hatiku yg penuh dengan labirin. Waktu. Ternyata benar, kau memang menjanjikan itu. Dan aku akan tetap berusaha untuk menepati janjiku.

“ya!! Kenapa kau melamun?” dia mengguncang pelan tubuh mungilku. Aku tersenyum sekilas, menatapnya dengan lebih dekat setelah kami berpelukan sedikit lama.

“aku merindukanmu!” satu senandung meluncur lembut dari mulutnya, dan mendarat dengan indah tepat dikedua telingaku. Dia kembali memelukku, hangat. Hanya itu yang aku rasakan. Ini kembali menarikku kedalam hamparan daratan luas nan indah, hanya ada aku dan dirinya.

“disini juga. Mianhe, aku melupakanmu. Emm.. hanya suaramu.” Bisikku ditelinganya. Wangi khas darinya tak berubah.

“why? Apa kau sedang sakit? Badanmu panas, dan wajahmu pucat.” Dia mengusap pipiku, menangkupkan kedua tangannya dikedua belah pipiku. Menatapuku dengan lembut. Ini kembali terjadi. Cahaya lembut dalam hatiku kembali muncul. Merekah indah. Aku bisa merasakan itu.

Aku mengangguk pelan sebagai jawaban.

“yaa! Kenapa kau tak istirahat saja?”

“tenang. Aku tak menyetir sendirian, sooyoung sudah menunggu ditempat parkir. Aku tau aku tak akan selamat sampai disini jika kupaksakan.”

“kau tak berubah! Selalu mengkhawatirkan! Kajja! “

***

Mentari pagii menyeruak disetiap penjuru ruanganku. Warna biru tua terlihat menjadi putih. Aku masih berusaha mencari kembali kesadaranku setelah semalam tenggelam dalam mimpi. Indah. Entahlah, sampai sekarang hanya Jung Sooyeon yang berhasil kutemui didunia mimpi. Kurasa itu terjadi karena hanya dia yang tak bisa kujumpai didunia nyata. “sooyeon~ahh. I still try to fix it” ucapku lembut, sembari menatap keluar jendela kamarku. Pada cahaya yang kuharap bisa menyampaikan ini padanya.

The last song for you, I can’t sing it for you. This is from my heart, just for you. I can imagine if you still heard. I should have known this wasn’t real. And fought it off and fought to feel. What matters most? Everything. That you feel while listening to every word that I sing. I promise you I still bring you home. I will bring you home. In my heart.

“taeyeon~ahh..” satu sapaan menyadarkanku. Sapaan lembut dari sang pemilik suara ini membuatku tersenyum tulus memandang wajahnya. Malaikat lamaku yang kembali. Gomawoyo sooyeon~ahh, kau benar-benar terus memberikanku kebahagiaan.

“apa yang kau lamunkan?” dia berjalan pelan menghampiriku. Wajahnya yang masih lemas, dengan piyama pink yang masih melekat ditubuhnya.

“nothing. Aku hanya terpesona dengan cahaya ini. Entah mengapa begitu lembut menyapaku pagi ini.” Ucapku lirih.

“kau tak berubah. Aku selalu tersentuh dengan apa yang kau katakan. Seperti puisi.” Eyesmile ini menghiasi wajahnya.

“kau juga. Senyumanmu juga seperti puisi. Indah.” Rona merah terlihat jelas dikedua belah pipinya.

Rasa ini kembali meruak dalam tubuhku. Hanyut terbawa suatu perasaan yang aku sendiri tak tau bagaimana menjelaskannya. Jessica benar-benar menepati janjinya, aku percaya dia tetap akan membahagiakanku walaupun aku tak bisa lagi bersama dengannya. Antara sedih atau harus senang. Dilemma. Dia memang punya banyak cara untuk membahagiakanku. Kalau begini caranya, aku merasa terbodohi oleh janjiku sendiri. Apa yang harus aku lakukan dengan keadaan sebegini rumit? Sebenarnya tidak rumit. Tapi akulah yang membuat keadaan ini menjadi rumit.

“why?” ucapnya pelan. Dia menatapku dengan wajah polosnya.

“why?” aku balik bertanya tanpa memberikan jawaban pasti yang sebenarnya aku tau kemana arah dia bertanya.

Dia kembali menatapku polos. Tak sadar kami bertatap mata menciptakan eye contact. Masih benar-benar indah. Tak ada yang berubah memang. Sejak dia Nampak didepan mataku aku kembali jatuh, jatuh dalam dekapan cinta.

“kenapa kau menatapku seperti itu? Ada yang salah denganku?” kurasa aku benar-benar tak sadarkan diri ketika menatapnya. Kupikir aku hanya tenggelam dalam pikiranku, dan ternyata aku memperhatikannya dengan berlebihan.

Aku tertawa malu “aniyoo. Ayo sarpan. Perutku sudah memakan tanganku!” aku mencoba memberikan intermezzo sebagai pengalih topik.

“mwoyaaa??!” dia mengerutkan dahi.

Aku menarik tangannya, mengajaknya bangun dan berjalan menuju pantry.

***

Terik siang ini tak begitu hebat. Duduk dibalkon lantai 2 ditemani dengan secangkir kopi. Mengoleskan warna demi warna dikanvas yang akhir-akhir ini menemaniku. Melukis sepertinya menjadi hobyku untuk melalui waktu selangku.

“aku tak tau kalau seorang kim taeyeon bisa melukis.” Satu sapaan lembut membelaiku. Aku menoleh mendapati sang pemilik suara bersandar disamping pintu dengan segelas entah apalah itu ditangannya. Anak ini. Benar-benar mirip.

“bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?” dia berjalan mendekat kearahku.

“why? Aku tak boleh melakukan itu?” aku menaikan nada bicaraku.

“lukis aku taeyeon~ahh.”

Aku mengerutkan keningku, mencondongkan kepalaku kekanan sambil menatapnya.

“berhentilah! Dan lukislah aku!” seketika aku mengangguk menuruti perintahnya.

Aku membalikan lembar kertas kanvasku, mulai meramu warna yang akan kugunakan untuk melukisnya. Kejadian ini kembali menarikku pada masa lalu dimana sang ratu juga pernah melakukan hal ini padaku. Ini adalah kali kedua aku melukis seseorang. Sebenarnya ini masih menjadi phobia untukku. Lukisan sang ratu masih ada dilemari dimana aku menyimpan kenanganku saat bersamanya. Aku tak ingin lagi membukanya, karena aku yakin melakukan hal itu sama saja mengecewakannya. Kurasa ini saatnya aku mencicil kegiatan move-on ku.

Aku menelusuri sudut demi sudut mulai dari wajahnya dengan mataku. Ini kembali membuat kami saling bertukar pandang. Aku merasakannya. Sesuatu yang bergejolak dihatiku. Sedikit ragu aku akan melanjutkannya. Dia tersenyum. Senyuman hangat yang membuatku setidaknya menjadi sedikit lebih tenang. Mulai ku torehkan tinta hitam dikanvas, aku mulai yakin, yakin dengan tujuanku dan yakin dengan perasaanku yang aku yakini masih belum mau untuk menerima.

Beberapa saat kemudian, aku tersenyum menang menatap hasil karyaku. Sketch indah ini jika aku terus melanjutkan akan menjadi indah seperti aslinnya.

“apa kau sudah selesai dengan sketchnya? Aku sudah mulai lelah bergaya seperti ini.” Eluhnya. Aku mengangguk sebagai jawaban. Dia berjalan mendekat dibalik punggungku.

“beautifull taeyeon~ahhh!!” dia mendekapku dari balik punggungku. Kedua tanganya terikat erat melingkari perutku. Aku diam dan menikmatinya, bersenandung lembut dalam hati sambil tak henti menatap lukisan ini. Akankah dia benar-benar menggantikan tempatmu dihatiku sooyeon~ahh?? Aku masih takut untuk kembali merasakan cinta, yang selama ini aku tau bahwa cinta itu menyakitiku. Meninggalkanku. Jatuh cinta membuatku takut. Tak ada yang abadi memang, tapi setidaknya aku sangat ingin menikmati cinta hingga aku berhenti bernafas. Apakah aku mencintaimu itu sebuah kesalahan? Sooyeon~ahh, aku membutuhkan jawaban. Sampai saat ini kubiarkan hatiku kosong, tapi tak sekosong lembaran kertas putih. Seumpama sebuah kotak, disana ada lubang yang menghubungkan dengan ruangan luas dimana kau tersimpan dengan baik didalam ruangan itu. Hanya aku dan Tuhan yang tau tentang itu. Kupikir kau yang sekarang berada jauh disana bisa tau apa yang ada didalam sini.

***

“taeyeon~ahh!”

suara decak tangis terdengar nyaring ditelingaku. Tapi entah mengapa aku tak sanggup membuka mataku. Di alam bawah sadarku aku berdiri tegak dengan mata terbuka. Hanya putih. Dimana ini? Apa aku sudah mati? Jika memang aku sudah mati, aku seharusnya bisa melihatnya. Melihat kekasih lamaku.

“sooyeon~ahhh!” aku berteriak lantang. Hanya gema yang menjawabku. Berulang-ulang dan tanpa berhenti. Ujung duniakah ini? Tapi tak ada matahari disini. Cahaya putih yang ada. Aku seperti berada didalam ruangan putih 10x10M berjalan 4langkah kekiri, kanan, depan, dan belakang, tapi tak ada perubahan.

“taeyeon~ahh. Lama tak bertemu.” Suara lembut tak asing terdengar lembut disertai gema yang lagi membuatku mencari sosoknya.

“sooyeon~ahh! Dimana kau?” aku berucap dengan sedikit berteriak, melihat sekelilingku tapi aku tak bisa menatapnya.

“I’m allways in your heart taeyeon~ahh.”

“jeballl sooyeon~ahh! Kau tau? Aku sangat merindukanmu. Aku ingin melihatmu lagi. Walaupun aku tau aku tak mungkin lagi bertemu denganmu lagi.” Aku menundukan kepalaku, menangis sejadi-jadinya. Lututku terasa berat untuk menopang tubuhku. Lambat laun, kaki ini benar-benar lemah, aku sujud tersungkur masih dengan air mata yang mengalir deras.

Satu sentuhan dipundakku membuatku mengalihkan tatapanku.

“ya! Kenapa kau menangis? Aku sudah mengatakan kalau aku akan selalu berada disini.” Jari telunjuknya menyentuh dadaku, setelah itu, kedua tangannya menopang daguku mengangkat kepalaku dan otomatis aku menatapnya. “sooyeon~ahh-“ aku tak sanggup melanjutkan ucapanku. Kembali tenggelam dalam tangisan. Meluap sudah semuanya. Kerinduan, rasa cinta, dan seluruh emosiku mencuahh tinggi.

“taeyeon~ahh. Jika kau sedih, maka aku akan ikut sedih. Kau tak boleh seperti ini. Kau melarangku untuk menangis, kau selalu mengingatkanku untuk menyimpan baik-baik air mataku.”

“aku merindukanmu Jessica! Aku sangat merindukanmu!” aku sedikit berteriak, menatapnya dengan air mata penuh disekitar mataku.

“I know it. Kau selalu merindukanku, akupun begitu. Aku selalu merindukanmu. Tapi sekarang aku hanyalah kupu-kupu yang terbang bebas, bebas didalam hatimu. Menjaga hatimu agar tak ada yang menyakitimu.”

“aku tak ingin kemana-mana lagi. Aku ingin disini, aku ingin disini denganmu.” Aku kembali merengek.

Whisper a Wish To a Butterfly, and It Will Fly Up  To Heaven and Make It Come True. Aku selalu ada untukmu. Kau harus kembali, kau belum menepati janjiku. Kau harus bahagia taeyeon~ahh. Dan bukan disini. Kau harus meraih itu disana. Kupu-kupu ini akan tetap berada ditempatnya, dihatimu. Waiting your wish and make it come true. Arraa??”

Seketika aku terbangun dari tidurku. Pusing mengambil alih kesadaranku, baru sedetik aku membuka mataku, tapi terpejam kembali.

“taeyeon~ahh!” suara itu lagi-lagi memanggilku, masih sama dengan isakan. Aku masih berusaha membuka mataku hingga akhirnya secercak cahaya kembali memaksaku untuk terpejam. Sebenarnya apa yang terjadi padaku. Terakhir aku mengingat, aku terkapar ditengah jalan, dan setelah itu aku tak tau apalagi yang terjadi denganku, hingga saat ini untuk melihat cahaya saja sangat sulit.

“enghhh~” aku sedikit mengerang untuk meyakinkan orang-orang yang berada disekitarku merespon.

“taetae!”

“taeyeon~ahh.”

“taenggoooo~” sudah kuduga, ternyata aku benar. Dan kali ini aku berhasil beradaptasi dengan cahaya yang langsung menyorotku, walalupun membutuhkan waktu lebih dari 20menit.

Satu sosok kini Nampak dihadapanku. Walaupun masih samar, tapi aku mengenal jelas wajahnya. dia begitu penuh dengan air mata. “kenapa kau menangis?” tanyaku lemah. Tanganku bergerak menggenggam tangannya. Sedikit bergertar namun pasti. Dia membalasnya dengan tak kalah erat

“karena aku mengkhawatirkanmu.” Ucapnya lirih. Suaranya terlalu tenggelam dalam isakan.

“mengkhawatirkanku? Kenapa kau mengkhawatirkanku?” satu pertanyaan yang mengalir begitu saja dari mulutku. Aku merasa diriku ini sangat cerewet setelah kesadaranku pulih, aku sadar karena aku tau kalau aku sebelumnya berada dalam sebuah accident.

Genggamannya ditanganku semakin mengerat. Dia Nampak ragu untuk mengatakan sebuah jawaban. Tatapannya tak lepas dari mataku. Lembut. “karena aku mencintaimu tae.”

***

Matahari menyapu kesadaranku dari mimpi semalam. Aku meregangkan ototku perlahan pasti. so fresh! Aku memalingkan padanganku pada seseorang yang kini meringku manis disampingku. Masih tertidur. Wajahnya tetap bersinar dengan seulas senyuman yang terpampang saat ini. Aku mulai menelusuri sudut demi sudut wajahnya dengan tanganku. Lembut. Dengan pasti aku mendekatkan wajahku padanya. Mengecup kecil ujung bibirnya. Aku bahagia.

Merekah kembali. Bunga matahari yang selama ini tak menampakkan keindahannya, kini kembali merekah. Seperti itulah yang kurasakan saat ini. Aku kembali merasakan cinta, aku kembali mengenal cinta. Walaupun aku masih menyimpan rasa takut itu, tapi kali ini aku harus tetap yakin dengan kesempatan kedua yang kali ini aku dapatkan. Sooyeon~ahh, aku akan memulainya lagi, dan aku bisa benar-benar memenuhi apa yang kau inginkan. Yakksooo!

“eeuunngg~”

“enggg… kau sudah bangun taetae?” aku sedikit terpenjat. Sejak tadi aku hanya memandangi wajahnya, dan tanpa sadar dia terbangun. Aku mengangguk, dan mengulas senyum untuknya. Dia membalas senyumku, dan setelah itu dia melakukan hal yang sama saat pertama kali aku terbangun tadi.

“kau tetap cantik tae.” Matanya menatap lurus menembus mataku.

“apa ini sebuah gombalan dipagi hari?” aku membalas tatap itu tak kalah dalam.

“bukan. Itu ungkapanku secara langsung dari hatiku. Apa kau mengingkan gombalan setelah kau terbangun dari tidurmu?” dia menyunggingkan sebelah matanya.

Aku terdiam, merasa tergoda oleh apa yang gadisku ini tawarkan. Sepertinya dia menangkap apa yang saat ini aku pikirkan. Wajahnya mendekat, semakin mendekat, dan hingga menyisakan jarak beberapa centi dari wajahku. Tatapanku tak lepas darinya. Begitu juga dirinya.

“aku terbangun karena sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.”

Aku yakin kali ini pipiku memerah semerah buah tomat. Wanita ini benar-benar mengalihkan pagiku dengan keindahan yang lebih.

“apa kau ingin merasakannya lagi?” aku menelan salivaku sesaat setelah berucap.

“lakukan. Kau harus bertanggung jawab karena membangunkanku dengan sesuatu yang saat ini sangat aku suka. Ciumanmu.”

Aku tersenyum. Semakin menghilangkan jarak yang memang sudah sangat dekat. Mulai merasakan kelembutan bibir gadisku. Awalnya aku dan dia menikmati hanya dengan saling menyentuhkan bibir kami. Aku membuka mataku, dan tak kuduga dia pun melakukan hal yang sama. Kami saling tatap. Ini cinta. Sama seperti dulu. Hanya berbeda pada dimana lawanku yang menatapku. Aku kembali mengatupkan mataku, melumat dengan perlahan dan lembut bibirnya. Dia membalasnya. Dia melingkarkan tangnya dileherku. Ini lebih dari cukup untuk bisa menggantikan sarapan pagiku. Kami menikmati ciuman ini, cukup lama kupikir, sebelum dia menghentikan kegiatan ini.

“saranghae my precious soul.” Dia kembali mengecup kecil bibirku yang masih basah.

“nado miyoung~ahh.”

***

19 bulan berlalu dengan cepat. Aku pikir semua akan berjalan dengan apa yang sejak awal aku prekdisikan dan aku yakini. Dan ternyata, kenyataan merubah itu semua. Dan kembali karena satu kata yang memang membuatku terpuruk dalam kehancuran. CINTA. Memang benar apa yang pernah aku bulatkan. Cinta tak akan pernah abadi. Tak akan pernah bertahan. Aku memang akan sangat sulit berteman dengan cinta. Kurasa itu semua karena kutukan. Huhh! Percaya pada kutukan mungkin itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal. Ini sudah era modern dan masih percaya pada kutukan? Dan ternyata, aku sendiri yang mengucilkan pendapat tersebut. Aku merasakannya sendiri. Dikesempatan pertama aku gagal melanjutkan dadu kehidupanku. Dan setelah itu aku berada pada kesempatan kedua, aku bisa menikmati sedikit lama putaran demi putaran dadu sebagai langkahku mengarungi cinta. Dan akhirnya aku kembali terhenti. Berdiri dipulau terpencil, dan tak bisa bergerak kemana-mana lagi. Pembunuh paling kejam dalam hidupku. CINTA.

Entah kenapa aku terus-terusan meneteskan air mata karena kata itu. Dia sudah meninggalkanmu dengan mudahnya. Dia mengatakan kalau dia harus menikah kerena sudah dijodohkan. Dia memang seharusnya tak bersamaku. Dia memang seharusnya bahagia dengan seorang laki-laki tampan yang bisa memberinya segalanya. Aku mana bisa melakukan hal itu. Mustahil.

Aku akan berhenti. Berhenti untuk mengejar apa yang tak pasti. aku akan bernhenti mengejar cinta yang terus berlali dan mempermainkanku. Setidaknya aku sudah berusaha untuk menjangkaunya. Sooyeon~ahh. Mianhe. Kurasa kau sudah cukup untukku mendiami hatiku ini. Aku bahagia sekarang. Walau tanpamu disini. Tapi kau mengatakan kau tak akan meninggalkanku dan selalu ada dihatiku. Selalu ada dimana aku mendayung perahu kehidupanku.

“kenapa kau berpikiran seperti itu?” satu suara menyentuh telingaku dengan lembut. Suara yang aku tau tak akan pernah aku dengar lagi.

“sicaa?”

“kau masih belum menggunakan kupu-kupu itu untuk meraih lagi kebahagiaanmu.”

“mianhe sooyeon~ahh. Kurasa aku tak akan bisa menepati janji yang masih kau titipkan. Dan kurasa aku memang akan sulit untuk bahagia jika itu tidak bersama dirimu.” Aku menundukan kepalaku sedih. Tak terasa air mata ini kembali turun.

“hei… kenapa kau tak yakin? Bahkan aku sangat yakin kalau kau akan bahagia. Dan kebahagiaan itu tak akan pernah memudar setelah ini.” Angin hangat nan lembut menyapaku. Aku merasa sesuatu menyentuhku dengan sangat halus. Aku merasakan aroma yang sudah sangat lama aku rindukan. Sudah hampir 3 tahun aku tak merasakan aroma ini

“sooyeon~ahhh. Aku… aku.” Entah kenapa rasanya aku tercekat untuk melanjutkan percakapan ini. Walau halusinasi, tapi aku tetap bisa merasakan kehadirannya disini. Didekatku, dan sangat dekat saat ini. Aku merasakan sentuhan lembutnya.  Ini membuat Nampak seperti orang gila. Memang aku sudah gila diperlakukan seperti ini oleh cinta. Jung Sooyeon, Hwang Miyoung kedua gadis yang membuatku tergila-gila dan akhirnya pergi.

“aku yakin kau tak akan mengecewakanku taeyeon~ahh… dan aku yakin, rasa cinta diantara kau dan dia tak akan pernah luntur. Dia cinta pertamamu. Aku tau itu. Kejar dia. Jangan biarkan rasa itu hanya mengambang diantara hatimu dan hatinya.” Perkataanya barusan membuatku berpikir. Logicaku mencoba untuk memahami apa yand dia katakan, apa yang dia utarakan.

“kenapa kau membiarkanku bahagia bersamanya? Kenapa kau tak membiarkanku sendiri dan hanya mencintaimu?” aku menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan ungkapanku.

“ Apa aku salah jika aku tetap mencintaimu. Cintaku untukmu juga tak akan pudar sooyeon~ahh.” Aku kembali tenggelam dalam isakanku. Merasakan gejolak yang besar saat mengatakan itu semua.

“aku tau itu. Kau juga akan selalu mencintaiku. Aku pun tetap akan selalu mencintaimu karena kau adalah cinta pertama dan terakhirku. Arti cinta adalah saling memberi kebahagian antara satu dengan yang lain.”

“Jika kau tetap mencintaiku, kau tak akan bahagia. Kau akan bahagia hanya bersama dengannya. Dan aku pun juga akan bahagia. Maka cinta untukku akan tetap ada darimu.”

***

Memperjuangkan cinta? Termasuk hal bodoh kah itu? Jika memang itu sesuatu tindakan bodoh, tapi entah mengapa aku tetap melakukannya. Rela untuk terbang ke LA hanya karena sebuah cinta. Teman-temanku mengatakan kalau memang ini yang harus aku lakukan. Awalnya hanya aku yang tak akan pergi ke pesta pertunangan itu. Tapi aku menjadi kuat karena sang malaikatku yang memberiku keyakinan untuk tetap berjuang. Dan lagi karena sejak awal aku memang harus menuntaskan janjiku padanya.

Aku membuka buku diaryku. Aku menggunakan buku ini hanya saat aku ingin menulis lyric lagu. Selama aku menjalani kesempatan keduaku, dia selalu membuatku terkesan, dan akhirnya aku ungkapkan dengan menulis lyric-lyric cinta untuknya. Dia menyukainya. Dulu dia menyukai apa yang aku tulis walaupun itu hanya penggambaran situasi hatiku saja.

Tak terasa aku sudah 18 jam duduk terdiam, dan ternyata pesawat yang aku tumpangi sudah mendarat dibandara. LA. Kota dimana aku akan kembali mengejar cinta. Mengejar kebahagiaanku.

***

Hari dimana dia akan melangsungkan pertunangannya, sampai sudah. Dan sampai sini, hatiku kembali merasa mundur. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Kegamangan menyelimutiku sekarang.

Aku memandang keluar jendela hotel. Memandang langit yang cerah. Langit ini bertolak belakang dengan apa yang saat ini terjadi dihatiku. Mendung.

Seekor kupu-kupu terbang dihadapanku, terbang menghiasi angkasa. Ini mengingatkanku pada apa yang Jessica ucapkan. “aku mencintainya. Aku sangat mencintainya. Aku menginginkan Tiffany kembali kepelukanku. “ aku berucap pelan sambil memejamkan mataku. Air mata kembali mengalir disini. Isakanku kali ini memburu dengan cepat.

“yakinlah!” suara itu kembali muncul. Kembali memberiku kekuatan didalam sini. Didalam hatiku. Aku akan tetap mencoba, setidaknya aku akan memperjuangkan cintaku. Jessica yakin akan itu, dan aku juga harus yakin sebagai diriku yang diyakininya.

Aku segera merapikan gaunku yang memang sudah aku kenakan sejak tadi. Aku memang rencana akan hadir pada pesta pertunangan itu. Tapi karena suasana hatiku, aku mengurungkannya dan kali ini akhirnya aku benar-benar yakin.

Aku mulai melangkahkan kaki ku. Melangkah untuk berpetualang didalam gejolak kisah cintaku. Aku berharap ini akan menjadi yang terakhir.

“tetaplah bersamaku, dan bimbing aku my butterfly”

***

Masih ada waktu. Aku berlari melewati pelataran gereja dimana pertunangan tiffany dilangsungkan. Berlari secepat dan semampuku. Aku sempat terjatuh karena high heels yang aku kenakan. Aku tetap berdiri. Tetap menahan rasa sakit yang aku rasakan. Aku tau kaki ku kini terkilir, tapi adrenalinku memaksaku untuk membiarkan itu.

“klapp.” Pintu gereja terbuka saat aku sedikit mendorongnya sekuat tenaga. Bisa kulihat dengan jelas semua mata tertuju kearahku. Menatapku dengan bingung. Dia. Dia Nampak canti dengan gaun putih itu disana. Aku menatapnya tanpa henti, berjalan pincang karena ternyata rasa sakit itu semakin terasa.

“taeyeon~ahh.” Walau aku tak mendengar, tapi aku bisa melihat dia menyebut namaku lirih.

I didn’t have a chance to be in pain although I let you, although you left me
Happy memories of us are endless and still remain
The sound of your footsteps that I got used to back then makes my heart rush again

Because I love you so much, because I miss you so much
I couldn’t forget you in the end – because I’ve been waiting for all this time
I just, I just, I just smile and smile again
Because of you, who is standing before me again

I smile and smile, smile and smile, smile and smile again and
I pull you into my arms

The endlessly flowing tears have stopped, this isn’t a chance, it’s a miracle
I can’t dream a better dream than this, even if I die twice, I won’t ever let you go

I can’t hide my swelling heart that feels like it’ll explode, I can’t hide it
Even I am proud of myself for enduring through it, for waiting for you

As if I’m looking into the sun, my eyes are blinded
You are still so pretty, more than anyone else

Because I love you so much, because I miss you so much
I couldn’t forget you in the end – because I’ve been waiting for all this time
I just, I just, I just smile and smile again
Because of you, who is standing before me again

I smile and smile, smile and smile, smile and smile again and
I pull you into my arms

***

Aku menyanyikan sebuah lagu yang aku gambarkan untuknya. Untuk dia yang kini berada dihadapanku. Sangat deras, air mataku mengucur setelah aku menyanyikan lagu ini. Aku pun melihatnya menangis. Dan akhirnya aku runtuh. Pertahananku ternyata tak sekuat apa yang aku perkirakan. Dia berlari kearahku. Mendekapku dalam pelukannya. Sangat erat. Kubiarkan dia menangis bersamaku. Aku akui memang kali aku benar-benar sudah pecah. Segala emosi dan cinta yang ada dihati membludak.

“kau cantik sekali dengan gaun itu miyoung~ahh..” aku berucap lemah disela isakanku.

Dia tak merespon ucapanku.

“taeyeon~ahh! I LOVE YOU!” dia berteriak. Itu membuatku terkejut. Ternyata benar. Semua yang dikatakan oleh Jessica benar. Dia tetap akan mencintaiku.

“I love you so much taeyeon~ahh. Aku menunggumu selama disini. Aku terus menangis menunggumu. Aku sangat merindukanmu.” Dia kembali memelukku erat, tampak tak peduli dengan apa yang saat ini seharusnya terjadi. Mengacuhkan semua mata yang ada didalam gereja ini yang saat ini tertuju pada kami.

***

“taman bunga matahari yang sangat indah.” aku buka suara.

“hmm… aku tau. Taman bunga ini seindah perasaan yang kini aku rasakan untukmu.”

“miyoung~ahh. Aku ingin memperkanmu dengan seseorang yang memberiku kekuatan untuk terus meraih cintaku.”
“nugu?”

Aku menengadahkan tatapanku kelangit. “dia adalah kupu-kupu yang selalu singgah dihatiku, dia selalu mendengarkanku. Dan aku tak menyangka dia akan membimbingku hingga aku bisa kembali berbahagia denganmu.”
“apa aku harus berterima kasih dengannya?” aku mengangguk menanggapi pertanyaannya.

“gomawo kupu-kupu, karena kau telah  mempertemukan kami berdua kembali.” Ucapnya dengan polos. Aku tersenyum padanya. Menatapnya lembut dengan penuh cinta. Menikmati pemandangan indah dihadapanku yang tak kalah indah dengan taman bunga matahari ini. Aku meraihnya dalam pelukanku. Kepalanya bersandar nyaman didadaku. Angin lembut berhembus menerpa kami berdua.

“gomawo sooyeon~ahh.”

***

–>>>>

waaaaaaaa… ternyata saya sudah 2 bulan kagak update. banyak kerjaan sekaligus karena susah dapet mood buat balik nulis lagi. dan ternyata dapet wangsit entah darimana bisa dapet mood buat ngelir ni sequel yang sebenernya udah kerancang lama. wkwkwkwk :D oke dehhh nggak panjang2. selamat menikmat dan terimakasih untuk masukannya ^^

Sad and Smile in the Last

Coffe-things-i-like

———————————————————————————————————————

Kurasakan cinta, saat bertemunya

Ternyata cinta itu benar-benar bersemi

Aku tak menduga

Awalnya hanya sebuah harapan.

Sempurna saat itu menjadi kenyataan

Senyumu menjanjikan kehangatan dalam diriku

Suaramu menjanjikan aku akan lupakan segala dukaku

Dan segala ucapanmu menjanjikan sejuta harapan dalam hidupju

—————————————–

“mau kau bawa kemana aku?” satu perkataan dia ucapkan. Sengaja aku menutup matanya untuk memberikan sedikit kejutan. Kejutan hadiah ulang tahun yg wajar diberikan dari sang kekasih untuk kekasihnya tercinta.

“hitung dari satu sampai lima, lalu buka matamu” ucapku lirih disebelah telinganya. Aku mundur dua langkah, menyilangkan tanganku didepan dadaku, menatap hasil kerja kerasku untuk dia. Untuk dia yang benar-benar aku cintai. Untuk dia yang sangat berharga bagiku.

“satu,dua,tiga,empat,lima” dia menghitung perlahan. Dan setalah itu terlihat dia mundur tepat dua langkah sehingga dia membentur tubuhku. Kusangga pundaknya untuk membantunya memperjelas penglihatannya.

“bagaimana?” kudekatkan pipiku mensejajarkan dengan letak pipinya. Kurasakan kelembutan dan keharuman kulitnya. Sempurna. Dialah malaikatku.

“inii… inii… apa kau yang membuatkannya untukku? seorang kim taeyeon yang benar-benar membuatkannya untukku?” tanyanya gugup. Telapak tanganya bergerak menutup mulutnya. Kurasa dia benar-benar terkagum.

Aku mengulas senyumku setelah aku berdiri dihadapnya. Menatapnya penuh kasih. Kukalungkan kedua tanganku dipundaknya. Aku mengangguk perlahan sambil kupejamkan mataku. “aku membuat ini dengan cinta. Apa kau menyukainya?”

Telapak tangannya masih berada menutupi mulutnya. Masih terlalu kagum melihat kejutan dariku. Kurasa begitu.

“ya! Kenapa kau menangis sooyeon~ahh? Apa kau tak menyukainya?” apa aku berbuat salah? Atau ada yang salah dengan hadiahku? Apa perkiraanku salah? Dengan kejutan ini, aku yakin bisa membuatnya bahagia? Tapi.. tapi kenapa dia menangis?

“bodoh! Aku bahagia, tapi aku tak tau mengapa aku bisa menangis? Aku terlalu bahagia.” Sedikit demi sedikit dia menyeka air matanya yang terus berjatuhan. Hmm.. gadis ini benar-benar mudah sekali menangis. Disaat sedih maupun bahagia, dia tetap bisa mengeluarkan air matanya dengan mudah. Itulah sebabnya, aku harus selalu disisinya, menjaganya, dan selalu mencintainya.

Perlahan kuraih tubuhnya dalam pelukanku. Masih kurasakan tubuhnya yang naik turun perlahan dan isakan pelan darinya. Apa benar hadihku yang hanya sebegini bisa membuatnya hingga menangis seperti ini? “ya! Kenapa kau masih menangis? Bajuku bisa basah jessica.”

“mianhee. Aku benar-benar terharu dengan ini.” jawabnya disela-sela isakannya

“ini hanya sekedar tempelan-tempelan kertas berbentuk hati yang aku tempel disebuah papan, dan kau dengan mudah menangis begitu saja.kau ini benar-benar cengeng.” Aku mengomelinya hanya sekedar bercanda supaya dia tidak terus-terusan menangis.

“kau tau, aku ini mudah sekali terharu. Apalagi dengan hal seperti ini. taeyeon~ahh! Kau sangat tau kelemahanku. Taeyeonku benar-benar tau bagaimana cara mengambil hatiku. Huh!” dia mengulas senyuman dengan mata yang masih basah.

“aku masih punya satu lagi hadiah untukmu. Karena hari ini bukan hanya hari ulang tahunmu, tetapi hari ini juga hubungan kita berumur 1tahun.” Aku mengeluarkan sesuatu dari saku hoddieku, belum berencana untuk melihatkan langsung padanya. “tutup matamu” perintahku, dan dia mengiyakannya dengan meletakan kedua telapak tangannya diwajahnya.

“aku akan menghitung dari satu sampai tiga, dank au buka matamu setelah hitungan ketiga.” Perintahku lagi.

“satu, dua, tiga.” Aku berlutut dihadapnya, meletakkan kotakan dengan bentuk hati  yang sudah kubuka tutupnya itu ditelapak tanganku.

“ini hanya cincin sederhana. Dan aku akan berjanji menggantinya saat nanti kita benar2 bisa menyatu, menjadi satu hati, tak akan terpisahkan.” Ucapku spontan.

Dan dia kembali meneteskan air matanya. Huffff.. anak ini benar-benar murah air mata. “sooyeon~ahh.. aku ingin kau melakukan sesuatu. Aku sangat mohon untuk ini. bisakah kau melakukannya?” aku berdiri, meraih tubuhnya dalam dekapanku.

“hmm… melakuakan apa?” dia memberi jawaban sambil mengusap-usap matanya yang berair.

“bisakah kau hemat air matamu? Aku tak ingin kau terus-terusan mengeluarkan air matamu sekalipun itu kau sedang bahagia.” ucapku.

“kenapa aku harus melakukan itu?” bahkan dia tak memberi jawaban pasti. Yang ada dia hanya berbalik Tanya. Ya, dialah gadisku.

“hmmm…” aku menghembuskan nafas lega sebelum mengatakan alasanku. “karena aku tak ingin menjadi lemah. Lemah karena aku membiarkanmu menangis.” Sejujurnya aku juga seorang gadis yang paling lemah jika melihat air mata keluar dari orang terdekatku. Entah mengapa itu menjadi kompleks bagiku. Tanganku bergerak lembut mengusap helai demi helai rambut jessica yang terurai bebas., menikmati lembutnya pesonanya yg kian lama kian membuatku mabuk untuk terus mencintainya. Candu asmara yang terlalu memancing duniaku untuk terus bersamanya.

***

“kenapa kau berhenti? Ada yg ketinggalan?” aku bertanya padanya setelah dia berhenti berjalan tiba-tiba. Kuperhatikan baik-baik kearah mana dia menatap.

“itu hanya roti, kenapa kau memandanginya sampai tak menghiraukanku jessica??” aku menepuk pundaknya karena dia tak mendengarkan apa yang aku katakana sebelumnya, dia terlalu terpesona melihat roti dengan bentuk bintang berwarna dengan cream biru muda.

“ahhh.. mianhe taeyeon~ahh, aku melamun.” Dia tersenyum manis. Ternyata anak ini masih tak mendengarkan kata-kataku. Aku berjalan masuk ketoko itu, membelikan roti itu untuknya. Untuknya yang terlalu kagum dengan ini.

“roti ini membuatku cemburu.” aku bersidakep dengan tangan kiriku, dan tangan kananku memegang roti bintang ini.

Yaaa! Kenapa dia memasang wajah konyol seperti itu? kekasihku ini benar-benar mengagumkan jika seperti ini.

“apa maksudmu?”

“kau bahkan tak mendengar kata-kataku tadi. Kau ternyata terlalu terpesona dangan roti berbentuk bintang ini, sampai-sampai kau memandanginya sedari tadi. Makanya aku membelikannya.”

“kau menyadarinya?”

“itu tergambar jelas dari caramu menatap jessica, kearah mana kau menatap, dan ternyata itu ini.” aku menyerahkan roti itu padanya. dia tersenyum senang setelah menerimanya.

***

“dinginnn” Jessica berucap lirih dalam dekapanku. Kurasakan tubuhnya yang sedikit bergetar. Malam ini udara memang sangat dingin. Pertengahan musim dingin, maklum jika hawa dingin yang berhembus belum turun.

Kueratkan pelukanku untung mengurangi rasa dinginnya. Sepertinya acara kampus hari ini benar-benar buta cuaca. Memperingati hari jadi universitas dengan acara concert outdoor, walaupun sekarang yang tampil adalah band favoriteku, tapi kau tak bisa membiarkan gadis ini mati kedinginan. Oleh karena itu aku memilih duduk bersama ditribun bersamanya.

“bagaimana dengan sekarang?” aku bertanya. Kujauhkan wajahku supaya aku bisa menatap wajahnya yang meringkuk nyaman dalam pelukanku.

“mendingan. Apa tidak masalah jika kau sibuk untukku saat ini taeyeon~ahh? kau kan menyukai concert. Apalagi jika itu idolamu sendiri. Secondhand Serenade.” Dia berbalik menatapku.

“ya, memang aku sangat suka. Tapi aku lebih memilih menyelimutimu supaya kau tidak kedinginan. Lagi pula aku juga masih bisa mendengar lagu-lagu mereka dari sini” aku mengulas senyum untuknya, memperlihatkan padanya bahwa aku lebih memilih dia daripada idol yang sangat aku sukai.

“taeyeon~ahh… bolehkah aku bertanya sesuatu?” ucapnya. Dia tetap rapat dalam pelukanku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban iya.

“kenapa kau mencintaiku?” satu pertanyaan darinya yang belum pernah aku dengar selama 1tahun lebih kami menjalin hubungan. Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti ini?

Aku berdehem sebelum menjawab pertanyaannya. “entahlah. Aku tidak tau mengapa aku jatuh cinta padamu. Rasa itu terbang didalam hatiku, dan itu masih terjadi hingga sekarang, dan akan berlanjut setiap saat. Aku iingin selalu melindungimu, menjagamu dari apapun, dan aku juga berharap kau bahagia, sooyeon~ahh.” Aku mengatakannya dengan sepenuh hatiku. Aku benar-benar mencintainya, setulus hatiku.

“gomawoyoo taeyeon~ahh. Aku tak mengira bisa memliki kekasih sepertimu. Kupikir aku yang lemah ini akan sulit untuk mendapatkan seorang kekasih. Tapi ternyata, kau datang. Kau membuatku selalu bahagia.” Aku masih menatapnya. Dia kembali mengeluarkan air mata. Air mata yang kembali keluar, aku selalu merasa kalau itu ada air mata lemah untukku.

“sooyeon~ahh. Kau sudah berjanji padaku tak akan menangis lagi. Tapi-“

“mianhee.” Tanganya melingkar manis dileherku, bibir lembutnya mengunci rapat bibirku, melumatnya lembut dan perlahan. Aku merasa terbang. Terbang ketempat yang benar-benar indah. apa ini surga? Pandanganku hanya menemukan warna putih. Hangat. Entah kenapa hanya cahaya putih disekelilingku membuatku begitu nyaman. panorama dengan satu warna, entah kenapa aku bisa menganggapnya sangat indah.

***

 “aku yakin, kalau kau akan sembuh!” ucapku lirih ditelinganya.

“taeyeon~ahh… apa kau tetap mencintaiku jika aku tak sembuh?”

“yaa!! Apa yang kau katakan?! You’re the last love for me jessica. Apapun yang terjadi padamu, aku akan tetap mencintaimu.” Aku melanjutkan langkahku mendorongnya yang masih tertuduk dikursi roda. Keadaan memaksanya harus terus bersama kursi roda ini hingga dia benar-benar tuntas dalam masa penyembuhannya.

“kau tau, aku sangat takut saat itu. aku pikir saat itu kau benar-benar meninggalkanku.”

“aku kembali untukmu, kau tau! Taeyeon~ahh.. kenapa aku bisa bahagia bersamamu?”

Aku terdiam sesaat menerima pertanyaannya. “kenapa kau bertanya padaku? Tanyakan pada hatimu sendiri sooyeon~ahh..”

“taman ini sangat indah. dan aku merasa, kau memiliki taman yang lebih indah didalam hatimu. Dan itulah kenapa aku tak akan menyerahkan hatimu pada siapa pun!” dia mendongak menatapku.

“aku tak akan menyerahkannya pada siapapun.” Aku berjalan menuju hadapannya, dan bersimpuh didepan pangkuannya, sambil menggenggam kedua tangannya. “kerena taman yang ada dihatiku hanya milikmu. Tak akan ada satu orang pun yang akan kubiarkan masuk kedalamnya. Hanya satu tiket untukmu.” Aku mencium punggung tangannya. Dia tersenyum manis. Senyuman yang membuatku mabuk mencintainya.

***

Sore ini hujan turun tak begitu deras. Aku berjalan malas bersama dengan payungku, melewati gedung demi gedung di kampusku.

“taeyeon~ahhh,,,” satu teriakan dari arah belakangku, mebuatku menoleh dengan cepat. Suara yang selalu ingin aku dengar.

“jessieeeeee…” dia melompat kearahku, dan kedua tangannya melingkar sempurna dileherku. Aku memberikan satu kecupan lembut dikeningnya, dia membalasnya dengan satu kecupan juga dibibirku. Sangat menawan.

“sooyeon~ahh… apa kau mau pergi merayakan hari festival bunga di kuil malam nanti?” aku memang sudah berniat mengajaknya. Bahkan aku sudah membawa brosur yang aku ambil dari madding kampus untuk aku perlihatkan padanya.

“apa kau akan menembakku lagi?” dia bertanya balik.

“kau menginginkannya? Kalau iya, datanglah bersamaku!” aku mengecup lagi puncak keningnya. Senyumnya terlihat begitu manis.

“arraassseeooo!!!”

Malam hari ketika festifal bunga dimulai, kami berjalan riang menusuri kedai-kedai yang sengaja dipampangkan untuk memeriahkan suasana. Tak jauh berbeda dengan festifal bunga di japan. Aku sering menonton anime yang menayangkan bagaimana situasi festifal bunga disana. Dan kurasa, disini pun tak kalah meriahnya.

“kau mengajakku kemari, tapi kenapa kau tersenyum tak mengajak-ajak aku!?” Jessica melontarkan protesnya. Lucu sekali anak ini. aku mencubit pipinya, dan dia menggelembungkannya. Rasanya aku ingin memakan pipi itu.

Kami terus berjalan, hingga keujung jalan yang menemukan kami dengan kuil besar yang sudah dipenuhi oleh orang. Aku melihat sekitarku, dan mencoba berpikir sejenak. Sepertinya festifal bunga ini sangat terkenal dikalangan remaja-remaja seumuranku. Remaja yang sedang dilanda badai cinta. Terlihat begitu banyaknya pasangan-pasangan, entah itu suami istri atau hanya sepasang kekasih yang cintanya belum benar-benar mekar.

“kenapa kau sedari tadi hanya asik dengan pikiranmu sendiri taeyeon~ahh!?” dia kembali cemberut. “aku akan pulang jika kau masih mengabaikanku.” Dia berhenti dan menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.

“hahahaha… mianhe sooyeon~ahh,, arraaseooo.. apa kau ada permintaan? Aku akan mengabulkannya untukmu, apapun permintaanmu.” Ucapku penuh semangat.

“apapun?” dia kembali bertanya untuk meyakinkan. Aku membalasnya dengan anggukan.

“emmhhh..” dia tampak berpikir. “apa aku boleh menyimpannya dulu? Karena kurasa aku akan membutuhkannya dilain waktu.” Ucapnya. Aku memiringkan wajahku, memandangnya dengan kebingungan.

Dia tersenyum. “jebal” dia merengek. Caranya memohon benar-benar bisa membunuhku. Bagaimana aku bisa menolaknya jika dia bersikap seperti ini. aigooo.. aku menghembuskan nafas, dan mengangguk. “neeeee chagiyaaa…” balasku sambil mencubit pipinya lembut.

“gomawoooooo!! Sebagai gantinya, aku juga akan melakukannya sama sepertimu. Apa kau punya permintaan? Aku akan mengabulkannya apapun itu. hanya untukmu.” Dia mengulas senyumnya lagi.

Aku berpikir sesaat. “emmhhh.. aku hanya ingin kau selalu mencintaiku, kau terus mencintaiku, dan kau akan terus bersamaku. Apa kau bisa mengabulkannya?”

***

Kenapa kau tiba-tiba seperti ini jessica? kenapa kau tak memberi tahuku kala kau punya penyakit separah ini? kenapa kau menyembunyikannya dariku selama ini? aku belum mau kehilanganmu, aku belum sanggup menerima kepergianmu. Kau terus tertidur. Sudah 2hari kau tertidur. Bangunn jessica! bangunlahhh!!! Aku merindukanmu. Aku ingin mendengar sang malaikatku bersenandung indah untukku.

“taeng” satu suara yang benar aku nanti-nantikan. Itu akhirnya muncul juga. Akhirnya aku mendengarnya, mendengar malaikatku bersenandung. Ini yang aku nantikan.

“Jessie.” Aku mendekap tangannya, kuusapkan tangannya disekeliling pipiku yang basah. Aku tak bisa berhenti menangis salam dia tertidur. Aku terus diguyur air mata selama ini.

“kau melarangku untuk menangis, tapi kenapa kau sendiri menangis?” ucapnya dengan penuh

Kepolosan. Wajahnya yang putih dan pucat membuatku semakin terpuruk dalam kesedihan. Ditambah dengan senyumnya yang lembut walau aku tau dia tetap menahan rasa sakitnya, oleh karena itu aku tak mampu menyembunyikan kesedihanku. Aku terus menggenggam tangannya. Betapa aku merindukannya, betapa banyak yang pastinya.

Detik itu juga, aku merasa kelembutan menyentuh bagian bawah kelopak mataku, aku merasakan sesuatu mengusap air mataku. Aku mebuka mataku perlahan mendapati dia tersenyum lembut menatapku masih dengan jarinya yang mengusap air mataku.

“kenapa kau belum berhenti menangis?” dia kembali bertanya dengan nada yang sama sebelumnya. Ini perlahan bisa membunuhku.

Aku mengambil alih tangannya, meletakanya didadaku. “aku takut kehilanganmu sooyeon~ahh.”

“kenapa kau berpikiran seperti itu? aku akan tetap berada disini untuk terus bersamamu” dia menggerakan tanganya didepan dadaku. Aku tau maksudnya. Dia mengucakap jika dia akan selalu dihatiku. Itu benar. Dia akan selalu dihatiku, selamanya akan ada disini.

“taeyeon~ahh…  terimakasih karena kau sudah menjadi bagian dari kebahagiaanku. Terimakasih kerana kau selalu menjagaku, selalu melindungiku. Dan juga karena kau sudah mau mencintaiku, menjadi kekasihku selama ini. aku benar-benar gadis yang beruntung. Taeyeonku adalah gadis yang hebat.”

“apa aku boleh mengutarakan keinginanku?” satu pertanyaan yang membuatku menatapnya. Menatapnya dengan sedih.

“aku ingin taeyeonku selalu bahagia. Taeyeonku jauh dari sedih, dan juga selalu mengingatku.” Air mataku terus mengalir, terus mengalir layaknya bendungan besar, yang tiba-tiba hancur karena tak bisa menampung lagi air yang deras mengalir.

“taeyeon~ahh… aku akan terus mencintaimu, aku akan terus bersamamu. Aku akan terus menjagamu. Itu permintaanmu bukan? Aku bisa melakukannya sampai kapanku. Jadi kuharap kau bisa mengabulkan permintaanku. Saranghae my Tae”

***

Lusa, aku melihat kelinci

Kemarin, aku melihat rusa

Hari ini, aku berharap bisa melihatmu.

Senyuman indah yang selalu aku banggakan.

Aku akan bahagia, bahagia untuk permintaanmu.

Aku percaya,

Kau terus mencintaiku, dan kau terus bersamaku.

-Jung Sooyeon, I Love You-

>The End<

—>>>

haiii, haiiii…. maafkan saya karena saya update hanya nge’PHPin readers semua. karena FF chapterku belum bisa kelanjut. entah kenapa penerangan saya untuk ngelarin itu FF jadi redup :( dan akhirnya saya putusin untuk tetep nulis, dan update, tapi belum isa ngelanjutin chapternya. mianheee semuaaaa…

P.S
ini adalah FF Sad ending pertama saya, jadi harap maklum kalau anehhhh #caaooooo ^^

Lost In Love [ONE SHOOT]

Main Cast : Kim Taeyeon – Hwang Miyoung

Other Cast : SNSD member

Genre : YURI

—————————————————————————————————-

Author POV

Angin bertiup sepoi-sepoi, menerpa dan mengayun-ayun rumput juga pepohonan yang tertancap kokoh dan indah di taman. Menyisakan sepi diantara 2 gadis muda yg sibuk dengan perasaan mereka masing2. Suara deru air pun sampai bisa terdengar, ketenangan yg sangat mendominasi tak terelakan, suasana mendung juga melengkapi suasana gamang yg tercipta. 10,20,30 menit berlalu begitu saja, dan belum ada kata2 terucap sejak pertama mereka berjanjian bertemu, hingga waktu sekarang sudah beranjak lebih dari 60menit. Awkward moment begitu terlihat diakhir2 ini, hubungan mereka mulai renggang, satu diantara mereka takut kehilangan, dan satunya lagi ingin memutuskan berpisah karena perubahan sikap dari lawan mainnya. Kim taeyeon, orang yg penyayang dan tak akan mudah untuk melepaskan kekasihnya yg saat ini menjalin kasih dengannya. Dia memang terlalu memforsir dirinya untuk menjauh dari kekasihnya untuk saat ini, entah karena apa, pikirannya memaksanya untuk melakukan itu.

“kau yang memanggilku kemari, kenapa kau hanya diam?” satu diantara mereka akhirnya meyerah untuk bertahan dari kediamannya.

“mianhe miyoung~ahh. Aku takut jika keputusanku menyakitimu, entah kenapa aku tak bisa menyembunyikan ini terlalu lama darimu, berbeda dengan aku yg sebelumnya, yg dengan mudah menyimpan sendiri apa yg aku rasakan.” Dia menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataanya.

“apa kau benar2 bahagia bersamaku?” satu pertanyaan yg menyita segala konsentrasi dari gadis yg duduk disebelahnya, yg sebelumnya menatap kosong ketenangan danau yg melengkapi keindahan taman ini.

Kembali kediaman tercipta, setelah beberapa saat sebuah pertanyaan terlontar dari mulut taeyeon.

“aku tau kau meragukan cintaku taeyeon~ahh. Aku tau kau akan susah percaya pada gadis seperti diriku ini. aku terima itu, mungkin kau yg terlalu sempurna bagiku, karena kesempurnaanmu itu menyeretku dalam cinta yg susah untuk aku abaikan.” Pernyataan ini membuat taeyeon terus terdiam.

“aku tau pernyataanku tadi mungkin susah untuk kau percaya taeyeon~ahh.. arrassoo. Aku tak akan memaksamu untuk percaya. 11 bulan ini semenjak pertama kali kau menyatakan cinta padaku, adalah saat2 dimana aku benar2 merasa bahagia bersama orang sepertimu. Berbeda dengan orang2 yg pernah menjalani kasih denganku, you’re the last for me. But now I feel I can’t meke you the last for me.” Tiffany beranjak dari tempatnya, berjalan melewati taeyeon yg masih terduduk diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. tetesan air mata jatuh begitu saja dari gadis yg terus berjalan menjauh, yg berharap dihentikan oleh gadis yg masih terduduk, tapi sayangnya itu tak terjadi. Ya, sangat menyakitkan, walaupun belum ada kata putus yang terucap, tapi ini begitu menyakitkan bagi kedua belah pihak.

Kediaman masih berlanjut untuk gadis yg belum beranjak dari tempatnya. Langit semakin gelap, awan hitam mulai mendominasi, hujan perlahan turun dari habitatnya. Suara deringan handphone terdengar, 1x,2x,3x. tak ada respon dari gadis itu. masih tetap terdiam.

————————————————-

Author POV

“aiggoooo. Kemana anak ini pergi? Hujan sangat deras, dan dia tak membawa mobil. Mana telfon juga tak diangkat.” jessica mengoceh, berharap taeyeon mengangkat telfonnya tapi tak ada jawaban.

“my princess.. tenang, dia bisa jaga diri. Taeng bukan anak kecil lagi. Toh dia pergi dengan tiffany kan?” yuri memeluk jessica dari belakang, menurunkan rasa kekhawatirannya pada taeyeon.

“iya yul, aku tau. Bukan hanya taeyeon yg tak menjawab, tiffany pun aku telfon juga tak mengangkatnya. Aigoooo” jessica kembali mengeluh

Pintu perlahan terbuka. Seorang gadis basah kuyup mulai Nampak, wajahnya sangat kacau, matanya membengkak.  Bruuukkkkk.. seketika itu dia terjatuh.

“yaaaa!!! Miyoung~ahhhh!” seisi rumah langsung mendekat pada gadis yg terjatuh itu. mereka segera menggotong tubuh gadis itu menuju ke kamarnya. Pakaian yang dia kenakan benar2 basah kuyup. Warga rumah hanya bisa terbengong tak tahu apa yg terjadi pada temannya itu.

“yaaa!! Taeyeonn~ahhh.. angkat telfonku!!!” jessica kembali berteriak jengkel.

“dia masih di taman, tolong jemput dia.” Suara lemah terdengar dari gadis yg terbaring ditempat tidurnya. Semua mata masih tertuju pada gadis itu. menerka-nerka apa yg terjadi diantara 2 insan yg biasanya selalu membagi cinta, namun kini terlihat begitu kacau.

Jessica segera berlari keluar dari kamar, meninggalkan teman2nya. Dengan tergesa menyambar kunci mobil diatas meja, dan menghilang dari dalam rumah.

———————————————-

Taeyeon POV

Aku terlalu perfect? Sebegitukah diriku? Aku bahkan tak bisa menerima kenyataan yg saat ini aku alami. Miyoung~ahhh,, mianhe. Bukan maksudku untuk tak mempercayaimu, aku sangat mencintaimu. Tapi entah kenapa aku merasa kau berubah, kau tak lagi hadir disaat aku membutuhkanmu, kau selalu meninggalkanku disaat aku ingin kau dekat. Aku takut kau berpaling pada yang lain. Tapi sungguh aku akan sulit jika benar hubungan ini berakhir. Aku akan benar2 sulit untuk menemui pengganti dirimu.

Kini tersisa aku dan hujan disini, aku tak bisa menahanmu pergi menjauh, entah kenapa tanganku kaku untuk menahanmu meninggalkanku tadi. Dingin. Kurasakan tubuhku mulai melemas dan menggigil. Bodohkah aku berbuat seperti ini? sengaja memintanya bertemu, tapi yang ada aku hanya diam.

“haaaaahhhhh” aku menghembuskan nafas panjang. Memeluk erat tubuhku sendiri, menguatkan tubuhku untuk tetap kuat menahan dinginnya udara.

“yaaa! Kim babo!” suara itu menyapaku, membuatku buyar akan segala pikiranku.

“sica..” kataku lirih. Ternyata aku menggigil. Benar2 dingin.

“apa yg kau lakukan disini? Cari penyakit? Yaa! Brapa umurmu?? Childish!” dia terus memberondongku dengan pernyataan2 yg sedikit membuatku tersadar atas tingkahku. Terlihat dia membuang payung yg sebelumnya dia pegang untuk melindunginya dari hujan.

“sooyeon~ahh??” dia berjalan mendekatiku, aku terus menatapnya, aku terus menatap matanya selama dia berjalan mendekat. Dan akhirnya dia sampai dihadapanku.

“apa yang terjadi dengan kalian?” tanyanya singkat. Aku kembali terdiam, belum ingin menjawab pertanyaan yg menyangkut hubunganku dengan tiffany.

“yaa! Aku membiarkanmu bersamanya untuk kau bisa bahagia. Jika bukan dia, aku benar2 akan sakit hati telah merelakanmu. Dan kau sudah berjanji denganku akan bahagia” Katanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya dipiku.

“mianhee. Aku tak menepati janjiku. Aku merasa terabaikan sooyeon~ahh. Bagaimana mungkin aku akan bahagia jika seperti ini?” aku meletakan kedua tanganku diatas punggung tangan jessica, menatapnya matanya dalam.

“mungkin dia yg terlalu sibuk sayang. Wake up honey! Aku benci melihatmu seperti ini. kau sangat jelek kim taeyeon. Tanpa tingkahmu yg kekanak-kanakan itu kau terlihat sangat buruk dimataku.” Jawabnya. Dia membalas tatapanku.

“apa sekarang kau bahagia?” tanyaku lirih.

“sebelum kau seperti ini aku sangat bahagia. Tapi aku tak bahagia lagi karena kau seperti ini.” jawabnya. Jessica adalah mantan kekasihku. 1 setengah tahun aku menjalin kasih dengannya. Dan dia merelakanku untuk tiffany saat itu. dia tau kalau aku dan tiffany sama2 mempunyai rasa.

Tubuhku semakin menggigil. Aku tak lagi menatap matanya, tubuhku terlalu lemah.

“taeyeon~ahh Bisakah kau berjanji tak menyakiti dirimu sendiri seperti ini? ini juga menyakitiku.” Kurasakan pelukan kuat dari Jessica. Aku ingin sekali membalas pelukannya, tapi susah untukku bergerak.

“mianhee.. jeongmalll mianhee.” Hanya itu yg mampu aku ucapkan.

“aku menyayangimu taeyeon~ahh. Aku akan selalu ada disampingmu saat kau membutuhkanku. Aku tak akan menbiarkanmu sendirian.” Dia melepaskan pelukannya, menyangga kepalaku sehingga aku bisa kembali menatapnya. Dia mendekatkan wajahnya. Jarak antara wajah kami kini hanya 1cm.

Bibir lembutnya menyentuh bibirku. Melumatnya pelan, aku tenggelam dalam ciuman ini. aku berbalik membalas ciumannya. Sudah lama aku tak merasakan kelembutan bibir jessica. mianhe sooyeon~ahh, mianhe miyoung~ahh.

Hujan semakin deras mengguyur kami berdua. Tapi pelukan dan ciuman yg masih kami nikmati terasa menghangatkan tubuhku. Aku kembali merasakan sentuhan cinta dari seorang Jung Sooyeon. Perhatiannya yang masih sangat terlihat membuatku kagum padanya.

———————————————-

Author POV

“yaa!! Apa yg kau lakukan?” sooyoung langsung menyambut taeyeon, mencengkeram kerah bajunya taeyeon. Tas yg dibawa taeyeon pun terjatuh.

“youngie~ahhh, biarkan dia tenang dulu, setelah itu kalau kau mau memarahinya silahkan.” Jessica memaksa melepas cengkraman sooyoung, dan membantu taeyeon berjalan menuju ke kamarnya.

“mianhe sooyoung~ahh..” kata taeyeon lirih sambil berlalu melewati  sooyoung.

“apa yang terjadi dengannya? Dan kenapa kau ikut basah seperti ini?” yuri mendekat pada jessica sambil membawa handuk, mengusap2 rambut jessica yg basah kuyup.

“dia tak mau pulang tadi, aku harus memaksanya dengan hujan2an, dan akhirnya aku pun juga basah kuyup.” Ucap jessica. dia tau dia tak akan jujur tentang apa yg terjadi, karena ini akan menyakiti banyak hati.

“kau tau apa yg terjadi dengan mereka?” sunny muncul dari pantry.

“bukannya aku tak mau menceritakan, tapi lebih baik biar satu diantara mereka yg mengatakannya sendiri.” Kata jessica. “aku mandi dulu.” Lanjut jessica dan pergi meninggalkan yang lainnya.

“wait for me baby. Akan kumasakan air hangat untukmu.” Celetuk yuri. Jessica membalas hanya dengan senyuman manis

——————————————

Tiffany POV
“fany~ahhh. Suhu tubuh mu panas sekali. Apa perlu ke rumah sakit?” hyoyeon yg merawatku saat ini. dia benar, aku memang paling mudah sakit, apalagi jika hujan2an seperti tadi, jelas itu akan membawa suhu tubuhku naik tinggi.

“aku,,, aku tak mau ke rumah sakit hyoyeon~ahhh..” bibirku gemetaran, badanku masih menggigil kencang. Sedikit sulit untuk bicara.

“apa kau mau bercerita sesuatu?” kata hyoyeon. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban, aku belum mau bercerita apa2. Sebenarnya apa yg terjadi denganku? Aku sendiri tak mengerti. Apa yang harus aku ceritakan?

“arrassoo. Banyaklah istirahat fany~ahh, akan ku bangunkan saat makan malam nanti.” Kata hyoyeon, dan setelah itu dia keluar dari kamarku. Aku kembali mencoba untuk terpejam, satu menit setelahnya, dan aku kembali membuka mata. Sulit rasanya untuk kembali tertidur, padahal badanku benar2 sedang demam. Deringan dari handphoneku memaksaku untuk terduduk, mengambilnya yg tadi sempat aku letakan diatas meja disamping tempat tidurku.

From : Kim Taeyeon

Apa kau tertidur?

Aku mengetikan kata2 untuk membalas pesannya “aku tak bisa kembali tertidur. Why?”. Tak beberapa lama dia membalasnya.

From : Kim Taeyeon

Bolehkah aku ke kamarmu?

Satu balasan singkat untuk mereplay pesannya. Aku yakin kediaman akan menenggelamkan kami berdua lagi. Seperti saat tadi di taman,dia yang memanggilku untuk datang, dia juga yg perlahan mengusirku dengan kediamannya. perlahan pintu kamarku terbuka, sosok lembut yg selama ini aku cinta terlihat dari sudut pandangku saat ini.

“hi.” Satu salam singkat yg begitu canggung diucapkan. Sepertinya dia benar2 berusaha untuk sesuatu yg besar yg susah untuk dia perlihatkan. Taeyeon yg biasanya tidak sediam ini. dia konyol, dia lucu, dia cute, dan dia menggemaskan. Yg saat ini didepanku bukanlah taeyeon yg biasanya.

“mianhe miyoung~ahh.. karena aku kau jadi demam seperti ini.” dia duduk ditepi kasur, memandang lurus keluar jendela. Aku menatapnya sesaat tanpa jawaban dari mulutku. Wajahnya tampak begitu gusar. Jelas sekalai kalau dia memaksakan diri untuk bersikap seperti ini. aku tak suka ini.

Pandangannya perlahan menuju menatap mataku. Kubiarkan aku juga menatapnya, eye contact yg teman2 bilang sebagai awesome love of eye contact.

“apa aku kehilanganmu?” pertanyaan ini mengalir tenang dari mulutku. Aku mencoba kuat untuk bertahan, menahan air mataku yang hampir membanjiri mataku. Dia terlihat berpikiri, berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya. Tapi sebagai orang terdekatnya, aku tau, dia juga tak kuat untuk menahannya.

“I’m here. Kenapa kau berbicara seperti itu?” jawabnya. Aku pun bisa mendengar sedikit suara paraunya.

“do you really my taenggo?” kini satu tembakan kembali aku luncurkan padanya. dan benar dugaanku, kediaman kembali merenggutnya. Aku tau, dia sulit untuk mengatakannya. Aku tadu dia memang sudah tak mencintaiku lagi, bahkan dia sulit untuk mempercayaiku.

“mm-mianhee miyoung~ahh. I’m not your taenggo now. Perkataanku yg tertunda tadi aku ucapkan sekarang. Kurasa aku begitu munafik, emm bukan, aku terlalu takut untuk mengatakan ini.” disatu sisi aku benci dengan gesturnya yg begitu tenang, tapi entah kenapa aku sulit menahan tubuhku untuk tidak memeluknya.
“kenapa kau lakukan ini padaku? Kau tak mencintaiku? Kenapa kau tega sekali taeyeon~ahh??” pelukanku semakin mengerat untuknya. Air mataku pun begitu deras mengalir, hingga tak sadar membasahi baju dipunggungnya

“miyoung~ahh.. I love you more than you know. But now, I cant fell my love for you again.” suaranya bergetar, aku bisa merasakan dadanya yg sesak. Dia menahan air matanya. Kubiarkan tetap memeluknya seerat mungkin, aku masih tak mau menerima mimpi burukku yg jadi kenyataan, mimpi yang paling aku takutkan, berpisah dengannya. Aku tak ingin bangun dari kenyamanan ini. benarkah kita berpisah?

“aku ingin waktu berhenti saat ini. aku ingin seperti ini selamanya. Aku tak peduli kalau kita sudah berpisah beberapa menit yg lalu. Forever you’re my beloved taenggo.” Ucapku. Aku tau dia mungkin susah mendengar kata2ku karena isakanku yang terlalu dalam.

“aku akan terus seperti ini sampai kau berhenti menangis, memelukmu seerat mungkin jika itu bisa membuatmu berhenti menangis. Aku akan tenang pergi jika kau berhenti menangis.” Pergi? Apa maksudmu dengan pergi?
“taeng?” sejenak aku melepaskan pelukanku, dan kembali menatap matanya, kali ini aku benar2 dalam, sangat dalam.

“pergi?” tanyaku lemah, kini kuberanikan tanganku kuletakan dikedua belah pipinya. Tatapanku masih lurus dan dalam menatap tepat dimatanya, ya. Mulai berair.

“aku akan melanjutkan studyku di prancis. Menggapai cita2ku sebagai seorang designer terkenal, lusa aku sudah harus berada disana untuk menemui kakak sepupuku. Dia yg merekomendasikanku untuk belajar bersamanya disana.” Degggg.. satu pukulan kencang tepat dihatiku. Tetes demi tetes kini kembali jatuh dari liang air mataku. Kembali kudekap dirinya dalam pelukanku, dan dia membalasnya tak kalah erat.

“temukanlah cinta sejatimu fany~ahh.. maaf jika selama ini aku sulit untuk percaya padamu. Kim taeyeon sangat jahat bukan? Aku yakin kau akan menemukan seseorang yg bisa membahagiakanmu. Hwang miyoung.” Suaranya masih tetap bergetar hebat. Aku tau dia sangat susah payah mengendalikannya.

“bagaimana jika cinta sejatiku itu kau?” tanyaku lirih, aku semakin menenggelamkan kepalaku ditengkuk leher mungilnya.

“itu tak mungkin fany~ahh.. aku tak akan bahagia bersamamu, kau pun juga tak akan bahagia bersamaku.” Jawabnya. Kami terus tenggelam dalam pelukan hangat yg menyakitkan. Untukku, aku tau ini hanya untukku, mencitai dengan sangat tulus, tapi orang yg kucintai, 360derajat berbeda dariku. Ya, dulu memang kau mencintaiku, tapi ternyata, kau sulit untuk percaya padaku, bukankah itu menyakitkan? Sangat menyakitkan. Semoga kau bahagia taeyeon~ahh… entah kenapa hatiku mengatakan kau lah yg paling terindah dan sulit tergantikan dalam hidupku.

———————————–

Author POV

Hari ini adalah hari dimana gadis ini harus berangkat meninggalkan tanah kelahirannya untuk mengejar cita2nya. Bandara begitu padat dengan orang2 yg berlalu lalang entah menunggu atau kembali dari perjalanan diatas langit.

“taeyeon~ahh.. kau harus kembali kemari setelah kau benar2 menjadi besar disana. Aku akan selalu merindukanmu. Chiki. Kau cinta pertamaku, jadi jangan sampai kau tak kembali kepelukanku.” Jessica, menghamipiri taeyeon yg berdiri tak jauh dari pintu keberangkatan.
“yaa!! Kau masih saja seperti itu. kau dan yuri adalah pasangan termanis yg pernah kulihat. Aku akan kembali kepelukanmu saat aku berhasil disana. Aku akan selalu mengingatmu.” Taeyeon menepuk pundak jessica lembut.

“cium aku.” Satu permintaan jessica yg membuat taeyeon menaikan satu alisnya. Bingung.
“aku tak ingin menyakiti yuri. Dia-“ belum selesai taeyeon berbicara jessica memotongnya.

“ya! Babo!! Aku memintamu menciumku bukan sebagai kekasih. Cium aku sebagai seorang yg terdekat olehmu dan sebagai mantan kekasihmu.” Perlahan taeyeon mengecup lembut pucuk kening jessica dengan manisnya, memeluknya dengan erat.

“kiddooo!!! Kau belum pernah merasakan hantaman genggaman tanganku?? Beraninya mencium kekasihku didepan mataku.” Yuri mendekat bersama teman2 yang lain.

“mianhe yuri~ahhh.. apa kau tak menginginkan ciumanku? Kau akan merindikanku bukan?” taeyeon menyengir jahil.
“hahahaha. Aku hanya bercanda. Take care and dot forget us.” Kata yuri.

“we are family, right?” dibelakangnya sooyoung menyambung.
“taeyeon~ahh,, kau bagian dari kami. 9 angels. Jangan lupakan itu.” hyoyeon ikut serta.

“unnie, you’re my best unnie!” ungkap yoona. Dan satu gadis gugup yg menatap intents dimata taeyeon.

“jaga diri baik2. Aku akan merindukanmu.” Gadis itu pun angkat bicara.
“fany~ahh.. aku juga akan merindukanmu. Kau juga jaga diri baik2.” Taeyeon perlahan membelai dan mengusap pipi tiffany lembut.

“neee… aku harus segera berangkat. Aku akan kembali, aku janji akan kembali dan menemukan kedelapannya sudah menjadi orang hebat. Salamkan pamitku pada sunny dan seohyun. I will miss you.” Lambaian tangan darinya harus memutus sementara pertemuan mereka. Dan mungkin akan memutus selamanya hubungan antara taeyeon dan tiffany.

——————————————–

Tiffany POV

Apapun yang kau katakan,

bagaimanapun kau menolaknya,

cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.

Aku tetap akan mencintainya.

dia memang melepasku,

tapi sulit bagiku untuk harus bisa melepaskannya juga.

Cinta hanya membutuhkan seperenam detik untuk terjadi,

namun butuh ribuan tahun untuk dapat melupakannya

dan itu pun jika ada yang beruntung.

Pada awalnya, semua itu adalah tentang senyuman,

hadiah romantis juga indah, kebahagiaan, dan sukacita.

Kemudian, saat cinta itumenghilang,

yang tersisa adalah kesepian yang mengerikan dan sakitnya tak tertahankan.

Ketika cinta menjauh pergi,

ia akan meninggalkan mimpi buruk yang mengganggu yang tidak akan berakhir bahkan setelah terjaga…

sampai kemudian,

ia pun akan menjadi bagian yang utuh dalam kehidupan ku.

Aku bisa saja mencari pengganti,

tapi apakah aku bisa mencitainya secara tulus sama seperti saat aku mencintaimu?

Apa aku bisa berjuang mempertahankan kehidupan cintaku,

setelah kau hancurkan dengan rapi puing2 hatiku yg kupersembahkan untukmu?

————————————-

“Sudah hampir 2 tahun lebih setelah kau berada jauh dariku. Apa kau sudah menemukan yg baru? Aku yakin iya. Kau sangat menawan bukan? Aku yakin kau dengan mudah mendapatkan seorang pencari cinta yg membutuhkan seorang putri sepertimu. Hhhaaahhh! Kurasa aku kembali merindukanmu. Aku merasa bersalah pada kekasihku saat ini. Aku ingin mencintainya, tapi kenapa aku selalu merindukanmu? Tapi aku benar2 mencintainya. Aku ingin bercerita panjang lebar padamu, tentang rencana pertunanganku dengannya. Aku yakin kau bahagia disana my TaeTae. Jaga dirimu baik2.” Sebercik tulisan yang selalu kutulis dibuku diaryku yang akhir2 ini menemaniku. Entah kenapa sudah beratus-ratus lebih halaman disini hanya tertulis tentang dirimu. Bahkan aku sudah menyimpan buku diaryku yang lama yg juga sudah penuh dengan tulisanku untukmu.

“fany~ahhh.. cepat sedikit. Klienku sudah menunggu.” Teriak yuri dari lantai bawah. Kehidupan baru kami. Aku, jessica dan yuri berada dalam satu rumah. Yuri meneruskan perusahaan ayahnya di seoul. Dan ternyata kami begitu beruntung. Delapan sahabat bekerja didalam satu kantor, dan aku tak habis pikir kami semua bisa menjabat sebagai director diperusahaan itu.
“iyaaaa.. aku turunnn..” aku berlari tergesa. Dan menghampiri yuri yg sudah ada didalam mobil.

“dimana jessie?” tanyaku. Yuri terfokus pada jalanan yg lumayan lenggang dipagi hari ini.
“yaa! Apa harus setegang itu caramu berkendara? Jelek sekali wajahmu.” Kurapikan helai demi helai rambut yg berantakan dibagian atas telinganya.

“ahhh.. emmm.. jessica berangkat lebih awal, dia harus berangkat ke jeju untuk tugasnya disana. Tadi pagi aku mengantarnya kebandara.” Ucapnya. Aku hanya menganggukan kepalaku sebagai jawaban.

“apa kau hari ini kosong?” lanjutnya.
“emmhh, aku jarang jobless yuri~ahh.. selalu penuh, dan aku sama sekali lupa akan khun oppa jika begini caranya.” Omelku. Yuri tertawa renyah. Dia beruntung karena jessica berada didekatnya, secara kami semua adalah partner kerja.

Setelah sampai, aku segera masuk dalam ruanganku, membuka handphoneku yg berdering saat perjalanan menuju ruanganku. Ternyata khun oppa menelfonku. Langsung aku tekan speed dial nomor 4.

“miyoung~ahhh.. kau lama sekali mengangkatnya.” Ucap sebal dari khun oppa.

“oppa. Kau cerewet sekali. Waee oppaa?? Tumben sekali kau pagi2 sudah menelfonku. Biasanya kau masih tertidur.”

“yaa! Aku juga punya pekerjaan. Kau sudah minta berbicara dengan yuri kalau mau mengambil cuti untuk acara pertunangan kita nanti di paris?” ahhhh.. aku sampai lupa membicarakan hal ini pada yuri.

“ahhh.. yuri sedang banyak klien oppa. Rencana akan berangkat kapan?”

“yaa! Kau ini cantik2 tapi pelupa. 3hari lagi kita brangkat honeyyy..”

“omoo.. oke oppaa.. hari ini aku akan bicara dengan yuri. Oppa, aku harus menerima klienku, akan kuhubungi lagi nanti saat makan siang.” Sekretarisku memberi tanda kalau ada orang yg ingin bertemu, jelas itu klienku yg sudah berjanji untuk bertemu.

———————————–

Author POV
“yuri~ahh,, 3 hari lagi aku akan berangkat ke paris, untuk acara pertunanganku dengan khun oppa. Jadi aku harus meninggalkan pekerjaanku. Kurasa 1 bulan aku akan berada disana.” Kata tiffany, menatap rekannya yg berada didepannya.

“emmh…” yuri belum menjawab. Dia masih sibuk menghabiskan makanan dalam mulutnya.

“yaaa! Kau tak mengundang kami?” celetuk sooyoung.

“aku berniat mengundang kalian. Tapi apakah kalian ada waktu???”

“oke miyoung~ahhh,, 3 hari mendatang kan? Arraseoooo. Kita akan kesana bersama2.” Sambung yuri setelah sekian lama menyelesaikan kunyahan demi kunyahan. Semua mata kini tertuju pada dirinya. Yuri memang memegang kendali besar diperusahaan ini, secara perusahaan ini adalah milik ayahnya.

“lalu? Siapa yg akan mengurus semuanya? Ayahmu?” sahut tiffany.

“yaa! Apa kalian tak mempunyai sekretaris? Paling juga kita disana selama satu sampai dua munggu. So? Ada masalah?” gestur dan cara bicara yuri begitu santai.

“daebaaakkk unnie! Rasanya ingin kulumat bibirmu itu..” celetuk yoona, dan langsung mendapat lemparan tissue dari yuri.

“fany~ahhh,, bagaimana dengan taeyeon? Apa kau tak mau memberitaunya?” sunny yg sedari tadi terdiam, akhirnya buka suara. Kini semua hanya terdiam menanggapi pertanyaan sunny.

Wajar jika mereka hanya diam, sudah hampir 3 tahun taeyeon meniti karir diluar negri, sampai sekarang belum ada kabar darinya.

“aku merindukan taeyeon unnie. Sudah seperti apa dia sekarang? Apakah sudah lebih tinggi dari aku?” celetuk seohyun.

“huuaahhh!! Gadis pendek itu benar2 menjengkelkan, dia bilang dia akan kembali secepatnya, dan akan selalu memberi kabar. Nyatanya sampai sekarang dia juga belum kembali, bahkan tak ada kabar sedikitpun darinya.” Omel hyoyeon.

“mungkin dia memang benar2 sedang sibuk.” Jawab tiffany singkat.

Suasana canggung mulai terasa, terutama untuk tiffany. Dia tau kalau luka lama yg sudah lumayan mengering kini terpaksa harus terbuka lagi. Terlebih karena sebentar lagi dia akan melaksanakan tunangan dengan kekasihnya yang sekarang, Nickhun.

—————————————

Author POV

Hari yg ditunggu-tunggu pun tiba, tiffany dan nickhun yang akan melaksanakan pertunangan mereka. Teman2nya pun ikut dalam rombongan.

“aku benar2 tak sabar merasakan udara paris. Aku ingin berlibur bersama bunnyku” celetuk sooyoung sambil memainkan pipi sunny yang ada disebelahnya.

“yaa! Choi sooyoung, nicky tidur, bisakah kau pelankan suaramu! Berisik sekali!” omel hyoyeon yang berada dibelakangnya.

“tak tau kah kau sekarang kita sudah dimana?? Makanya, kalau tau nicky tidur, liat pemandangan, jangan hanya memandangi wajah tidur baby nicolemu itu. Kita sebentar lagi sudah hampir sampai airport. Babo!” sooyoung membalas omelan hyoyeon.

Setelah menempuh 10 jam perjalanan udara, sampailah mereka di Charles de Gaulle International Airport.

“huaaaaa… ternyata dingin sekali.” Teriak yuri saat merasakan udara yang berhembus diluar airport.

“yuri~ahhh,, jika kau masih seperti itu, aku akan menolak gandengan tanganmu.” Ancam jessica, sambil mengecurutkan bibirnya.

“dasar kampungan” tambah sooyoung.
“mworagooo??! Ucapkan sekali lagi!” yuri berbalik badan dan menatap tajam pada temannya itu.
“yaa! Kalian berdua. Kalau kalian masih seperti ini, akan kupulangkan kau ke korea.” Tiffany turun tangan, dan membuat keduanya memasang wajah melas.

“setelah ini kita langsung menuju ke hotel. Akan kuceritakan sedikit, hotel ini adalah kepunyakan orang korea. Dia designer terkenal disini, dan aku sudah menyewa tempat untuk kita menginap dan yg pasti tempat untuk pelaksanaan pertunangan. Karena dia juga designer, dia juga sudah mempersiapkan design gaun yang akan kau gunakan.” Nickhun menceritakannya panjang lebar.

“permisi, apakah anda tuan nickhun dan rombongan?” percakapan mereka terhenti dengan seorang laki2 berjas rapi, dan berbahasa korea.
“ahh nee.. apakah anda pegawai ms. Kim?”

“ya. Saya bawahan dari ms. Kim. Beliau menyuruh saya untuk menjemput anda di airport.” Ucap sang laki2 itu.

“ne. kamsahamnida.” Segera mereka bergegas memasuki minibus yang sudah dipersiapkan dari pihak hotel.

—————————————-

Tiffany POV
15 menit kami menempuh perjalanan dari airport menuju ke hotel. Kesan pertama melihat hotel ini adalah. AWESOME. Sangat megah. Dan pasti sangat bangga, ada orang korea yg bisa mendirikan hotel semegah ini di negara lain. Aku masih melihat sekitar.

“oppaaa. Halamannya luas sekali. Bagaimana dengan dalamnya? Dari mana kau menemukan tempat seperti ini oppa?” tanyaku beruntun dengan muka yg masih terkagum-kagum. Kurasa bukan hanya aku, teman2ku pun juga begitu, bahkan mereka sekarang sedang berfoto2 ria di depan air mancur ditengah halaman hotel yang luas ini.

“hahaha. Jujur aku juga belum pernah melihat hotel ini. Aku mendapat saran dari rekan kerjaku yang sebelumnya pernah melaksanakan pertemuan besar perusahaan di tempat ini. Mewah sekali bukan?” jawab nickhun oppa. Aku hanya mengangguk. Masih terpesona dengan tempat ini.

“silahkan tuan, ms. Kim sudah menunggu anda di ruangannya.” Sambut laki2 yang tadi mengantar kami.

“aku akan menemuinya dulu, kau dan yang lainnya akan dihantar oleh mereka menuju ruangan meeting untuk membicarakan pertunangan kita nanti.” Sekilas khun oppa mencium keningku dan berjalan pergi.

“mari kami hantar.” Kata pelayan2 dengan ramah. Benar2 berasa menjadi seorang putri disini. Khun oppa daebaaakkkk!!!

Dan akhirnya aku bisa menyaksikan suasana dalam hotel, ini benar2 luar biasa. Di luar dugaanku. Benar2 seperti istana jaman modern, emm.. istana jaman modern seperti apa saja aku juga tak tau pasti. Ya yang pasti sangat indahhh.

“silahkan masuk.”

“apa ini benar2 ruangan untuk meeting??” celetuk sooyoung. Disisi lain aku setuju dengan sooyoung, ini tak bisa disebut sebagai ruang meeting. Ini lebih tepat disebut aula raksasa dengan taman kecil disetiap sudut ruangan.

Sang pelayan hanya mengangguk dan tersenyum ramah.

“yaa! Ini benar2 gila. Dari mana nickhun oppa mendapatkan tempat seindah ini miyoung~ahh??” sambung jessica.
“dia bilang, dia mendapat saran dari rekan kerjanya. Aku sendiri juga hanya bisa mengatakan WOW.” Jawabku.

“yakk! My princess dan teman2, ini dia sang pemilik hotel.” Seketika aku menengok kearah khun oppa yang berada di depan pintu ruangan. Tak sabar ingin menyapa orang korea yang benar2 berhasil ini.

“annyeonghaseoo. Kim Taeyeon imnida.” Degg… jantungku seketika berpacu sangat cepat, mataku terbelalak. Kim Taeyeon? TaeTae? Taeyeonie?

“taeyeon~ahhh.” Serentak teman2ku berteriak tak percaya.

Gadis ini? Kim Taeyeon. Aku menatapnya intens dari ujung kaki hingga kepala. Dia benar2 taeyeon. Apa aku bermimpi?? Apa ini benar2 terjadi?
“hello teman2. Aku tak menyangka bertemu kalian disini. Mianhe aku belum bisa menepati janjiku untuk kembali ke Seoul.” Ucapnya sambil memberikan bow.

—————————-

Author POV

Reunion. Mereka semua termasuk taeyeon tak percaya jika akan bertemu ditempat ini. Betapa rindunya mereka berdelapan pada taeyeon dan juga sebaliknya. Jessica berlari seketika dan langsung memeluk taeyeon.
“yaa!! Kau!! Apa kau benar2 My Beloved Chiki?” ucap jessica dalam isaknya. Mereka terharu. Ya. Yang pasti karena rasa rindu mereka, juga rasa bangga pada sahabatnya yang sudah benar2 menjadi besar.

“nee.. i’m your beloved chiki. Do you miss me??” jawab taeyeon santai.

“kau! Haaahh! Kalau saja aku tak mencintai yuri, rasanya aku ingin kembali mencintaimu!” jessica semakin mengeratkan pelukannya.

“hahaha. Aku tak akan menolakmu jika kau benar2 mencintaiku lagi. Honey” taeyeon mencium pucuk kening jessica.

“taeyeon~ahhh.. kau benar taeyeon gadis kecil ingusan yang 3tahun lalu pergi dari korea?” hyoyeon menatap tak percaya.

“yaa! Apa maksudmu dengan gadis kecil ingusan? Aiggoo hyonie~ahh.” Jawab taeyeon masih merengkuh jessica yg berada dipelukannya.

“aaaaaaa… kidddoooo!!!” yuri dan sooyoung serentak berlari dan menubruk taeyeon dan jessica.

“yaa! Kau berat yuri~ahhh! Minggiirrr!! Aku tak bisa bernafas! Apa kau juga mau membunuh kekasihmu!?” taeyeon berusaha mengelak pelukan mereka berdua.

Suasana gembira menerangi mereka. Satu diantara mereka merasa begitu canggung. Bagaimana tidak, pertemuan kembali yg sangat tak terduga, dan tak tepat waktunya. Apakah ini yang dinamakan takdir??

“mereka begitu senang. Apa kau tak mau ikut bersama mereka honey?” ucap nickhun, memberikan backhug untuk tiffany

“ahhh.. oppa.” Hanya itu yang terucap darinya.

“lama tak jumpa miyoung~ahhh..” dan akhirnya taeyeon memulai terlebih dahulu.
reaksi yang sama seperti sebelumnya. Awkward.

“ahhh.. ne taeyeon~ahh..” hanya itu yg terucap. Singkat, dan yang pasti dengan begini akan menyakiti kedua belah pihak.

Setelah beberapa saat selang pertemuan, mereka semua berkumpul dalam satu meja, membicarakan banyak hal. Yg terutama adalah tentang pertunangan tiffany dan nickhun.

—————————-

Taeyeon POV

Sudah terjadi. Aku yang melepas, dan aku yang menderita. Bodoh bukan? Merasa tidak rela karena dia akan melangsungkan pertunangan. Baru pertunangan, belum pernikahan. Dan ini benar2 membuatku menahan segalanya. 2 jam sudah kami menghabiskan waktu bercakap-cakap. Yg jelas tentang rencana pertunangan tiffany dan nickhun~ssi. Semenjak pertama kali tau kalau ternyata tunangan nickhun~sii adalah tiffany, betapa robohnya semua yg ada dalam diriku. Mungkin ini karma untukku, melepaskan seseorang, dan dilepaskan seseorang. Impas.

“taeyeon~ahh.. mau bercerita?” ucap jessica lirih. Aku tau maksudnya. Ya, memang hanya dia yg mudah mengerti aku. Sekali lagi aku harus mengeluarkan pemikiranku untuknya.. aku mengangguk perlahan, sebagai jawaban setuju.

“emmm.. aku permisi ke toilet sebentar.” Jessica memberi alasan. Aku melihat dia mengedipkan sebelah mata kepada yuri. Kurasa aku tau maksud anak ini.

“mau kemana kita?” tanyaku lirih.

“yaa! Kau yang punya hotel ini. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. My chiki so cute.” Dia mencubit pipi kiriku.

“arraaa.. kita ke taman belakang saja. Sepertinya cuacanya mendukung. Tempat favoriteku di hotel ini memang ada di taman belakang. Aku sering sekali berdiam diri berjam-jam disana dari sore hingga malam tiba.

“kau tau, taman ini indah sekali taeyeon~ahh.. dari mana kau dapatkan design-design tempat seperti ini?” ungkap jessica. Sebenarnya kalau menurut diriku sendiri, taman belakang ini memang aku rancang lebih sederhana dari pada taman depan. Karena hotelku ini berada persis didepan lautan, jadi kurasa cocok jika hanya dengan tempat duduk santai, gazebo dan meja2 kecil ditemani pemandangan laut yang indah.

“kalau dibandingkan dengan taman depan, aku memang lebih memilih taman belakang. Suasana disini lebih clasic. “ aku mengulas senyuman.

“hmmm.. bagaimana dengan kehidupan cintamu?” jessica mulai masuk dalam pointnya. Huh! Benar2 tak berubah, menyeret lawan bicaranya kedalam mood yg baik, setelah itu pointnya memakan hati.

Aku berpikir sejenak sebelum menceritakannya. “emm.. kurasa aku tak seberuntung dirinya. Dia begitu bahagia bukan?” jawabku.

Jessica mengangguk “kau bodoh taeyeon~ahh.”
“ya, memang aku sangat bodoh. Kurasa memang aku belum layak untuk mendapatkan sebuah kebahagian dalam cinta. Aku sudah berhasil dengan karirku. But not for of love. Mianhe.”

“seperti inikah nasib chiki ku? Kau membuatku sedih. Kupukir kau sudah mempunyai anak disini. Ternyatan mengenaskan sekali.” Jessica menundukan kepalanya. Aku tau dia juga ikut terpukul akan kisahku ini. Dia juga bagian dari diriku.

“seandainya saja sejak awal kau tak melepaskanku. Aku pasti bahagia. Hahaha.. aku hanya bercanda.” Aku tak akan kembali bersama jessica itu yang pasti. Karena aku juga menyayangi yuri sebagai sahabatku, walaupun dia yang meminta kembali.

“kau membuatku menangis. Dasar nakal!” jessica memelukku erat, aku merasa kembali saat dulu kami masih bersama. Merasakan pelukan hangatnya, merasakan aroma tubuhnya. Cukup indah dimataku. Tapi tak jujur ini tak seindah hubunganku dengan tiffany. Gelap mata aku memutuskan hubungan dengannya, dan sekalang aku benar2 menyseal. Sangat tersiksa dengan keputusanku.

“kenapa kau harus menangis? Aku bukan milikmu lagi. Ini juga membuatku merasa sedih sooyeon~ahh.” Aku membalas pelukannya, tak kalah erat. Aku tak mau munafik, saat ini aku memang sedang membutuhkan ini.

“aku sangat menyayangimu,, lebih dari seorang sahabat. Dan kau tau itu. Jika kau seperti ini, apakah kau yakin aku tak akan menangis?” jessica menepuk pelan dadaku.

“jadi, kau harus bahagia. Anggap saja aku hanya sekedar mantan kekasihmu. Masalalumu yang tak pernah kau ingat2 lagi.” Ungkapku. Aku tau ini percuma untuknya, aku yakin dan aku tau jawaban apa yang akan dia katakan.

“kau pikir aku bisa seperti itu? Babo!” bingo! Tebakanku tak meleset. Jessica menatapku dalam dengan air mata yg sudah membendung.

“aku kuat sooyeon~ahh.. aku bukan taeyeon yang lemah. Kau lihat hasil kerjaku bukan? Aku akan membiarkannya bahagia. Karena aku tau, dia juga tak mungkin bahagia jika bersamaku. Saatnya kembali sooyeon~ahh,, mereka pasti menunggu kita.” Ajakku, melepaskan pelan pelukan darinya.

“aku ingin menciummu. Bolehkah?” aigggooo… anakk ini benar2 membuatku gila.

Satu gerakan cepat membuatku mati kutu. Lumatan lembut darinya, benar2 membuatku tak bergeming. Aku berusaha menahan untuk tak membalas ciumannya, tapi entah kenapa fungsi motorikku tetap memaksaku untuk melakukannya. Perlahan aku ikut membalas ciuamannya. Beberapa menit kami menikmati ciuman sederhana, emm.. menurutku lebih tepatnya lumatan sederhana. Dan setelah tatap kami bertemu. Masih sama. Matanya memang masih indah.

Dan kami memutuskan untuk kembali bergabung bersama teman-teman yang lainnya untuk melanjutkan perbicangan.

——————————————–

Tiffany POV

“yaaaa!!! Taeyeon~ahh,, kau benar2 hebat. Aku masih tak percaya kalau kau bisa sehebat ini sekarang.” Perbincangan kembali berlanjut setelah makan malam. Teman2 yang lain memaksa taeyeon untuk tidak kembali ke kantornya. Dan jelas dia akan menerimanya. Kurasa dia juga merindukan teman2. Aku hanya terduduk diam di atas sofa, sambil melihat photobook tentang hotel ini.

“ohh iyaa… aku hampir lupa. Miyoung~ahhh.. chukaeee. Ternyata kau mendahuluiku. Hahaha..” kenapa dia begitu tenang? Apa dia sedang beracting? Atau memang dia sudah memiliki calon? Aiiggoooo… taeyeon~ahh, aku saat ini sedang dilema, kenapa kau begitu setenang ini???
aku menarik nafas dalam sebelum berkata “gomawooo taeyeon~ahh..” canggung, sangat canggung! Really driving me crazy.

Suasana semakin ramai, dengan datangnya wine dari pelayan. 3 botol. Apa mereka ingin gila?? Aku menolak ajakan mereka untuk minum, karena besok mungkin ada acara dengan khun oppa. Aku masih terus membolak-balik photobook ini sambil sesekali mencari chanel TV yang bisa menghilangkan penatku.

Semua teman2ku sudah terkapar, tersisa aku seorang diri. Kulangkahkan kakiku perlahan menuju balkon kamar. Udara malam hari di paris sangat berbeda dengan korea. Disini lebih dingin. Kubiarkan angin yang berlalu-lalang menyambar dan meniup2 kulitku. Kupejamkan mataku, menurunkan penatku. Kurasa aku mampu dengan ini.

“kukira kau sudah benar2 terlelap tadi.”

“ahh.. anni,, aku tadi memang terlelap, tapi tak sepenuhnya tertidur. Kupikir kau ikut teler bersama mereka.” Aku menghindari tatapannya, kupalingkan tatapanku kearah pemandangan luar ruangan.

“bolehkah aku jujur?” ucapnya. Dia kini sudah berada tepat disampingku.mengikutiku menatap pemandangan.

Aku mulai bereani menatap wajahnya. Tak banyak perubahan dari wajahnya, hanya saja dia semakin cute. Mungkin benar apa yang dulu pernah dia katakan, kalau wajahnya semakin tua akan semakin cute.

“aku menyesal dengan apa yang aku lakukan terhadapmu. Tapi aku sadar, kalau aku sudah tak ada hak lagi atas kehidupanmu dan kebahagiaanmu. Kurasa memang benar, hanya kau kebahagiaanku. Haaahhh! Aku harus kembali ke kantor miyoung~ahh.. kurasa aku besok tak bisa menghadiri acara pertunanganmu. Aku sudah menyiapkan segalanya. Apapun. Mianhe. Aku menjadi pengecut seperti ini.” Taeyeon memelukku dari belakang. “mungkin ini akan menjadi pelukan terakhirku untuk mu. Annyeoong” setelah melepaskan pelukan dia bergegas pergi meninggalkanku.

Kenapa baru sekarang kau merasa menyesal taeyeon~ahh?? Kenapa baru sekarang!!!! I still have love for you.

“i still have. I still love you taeyeon~ahh.” Ucapku lirih untuk dirinya dan diriku sendiri.

Neoreul saranghae

Kkeut do eobtneun gidarim irado, gwaenchanha

Niga nareul dashi chajeul ttaemyeon, eonjena

Neoreul hyanghae useo julsu itneunde, Oh….

Suara deringan Hpku berbunyi dan menghamburkan segala lamunanku.

“neee oppaaa.. kau belum tidur??”

“harusnya aku yang bertanya seperti itu miyoung~ahhh.. kau harus tidur, besok acara besar kita.”

“ne oppaa.. ini aku juga akan pergi tidur. Kau juga tidur oppa.”

“arraaaa miyoung~ahh.. good night honey. Luv you.”
“nn..nneee oppaa.. Luv you too.” Aku menungu hingga suara disana menghilang. Kini suasana hatiku benar2 tak enak. Kenapa dipikiranku saat ini khun oppa belum hadir?? Kenapa dia yang harus hadir menghajar pikiranku??? Taeyeon~ahhhh.. aku ingin berteriak, meneriakan namamu, tapi sayang itu hanya bisa terjadi dalam hatiku sendiri.

——————————————

Taeyeon POV
hari ini. Ya.. hari ini adalah hari kebahagiaannya dan akhir dari kebahagiaanku. No problem, i can accept this. Miyoung~ahh.

Pemandangan pagi indah. Bunga matahari didepan jendela rumahku mekar dengan indahnya. It’s starting now.

“TaeTae.” Satu panggilan lembut dan parau memaksaku untuk memalingkan pemandanganku dari sang bunga matahari.

Deeeggg……. pemandangan ini lebih indah dari sang bunga matahari. Lebih bersinar. Apakah aku bermimpi?? Apa ini hanya fantasi dan fatamorgana yang tercipta karena aku sangat mengharapkan dirinya?

 

“Miyoung~ahh.. kau mencintainya bukan??” nickhun memberikan sebuah buku. Buku yang sangat tiffany jaga. Buku dimana semua tulisan tentang taeyeon tertulis disana.

“ahh oppaa. Kenapa bisa ada di oppa??” tiffany merasa sangat kacau saat ini. Selain memikirkan tentang taeyeon, dia juga harus memikirkan tentang jalan cintanya bersama nickhun.

“mungkin terjatuh di kamarku saat kau mau mengambil tasmu miyoung~ahh..” nickhun menarik nafas panjang sebelum dia melanjutkan bicaranya.

“semalam aku berniat mengembalikan buku itu. Tapi saat aku berniat keluar balkon. Aku mendengar semua. Mendengar semua curahan hati taeyeon padamu. Oleh karena itu aku terpaksa membaca apa isi buku ini. Kau selalu membawanya kemana-mana. Hampir tak pernah kau tinggalkan bukan? Aku juga merasa ada yg hilang darimu. 2 tahun sudah kita menjalin hubungan, aku merasa kita belum perfect, bahkan jauh dari perfect. Dan ternyata dia yang kau harapkan.”

“kau mendengarnya oppa?”

“semuanya. Aku mendengar kau mengatakan kalau kau masih mencintainya. Kau serius mencintainya?”

“anniioo oppa. Aku sudah milikmu sekarang. Kita akan melangsungkan pertunangan bukan? Aku ingin bahagia bersamamu.”
“kau akan lebih bahagia jika bersamanya bukan?? Dari buku itu aku bisa tau kalau kau sangat mencintainya. Bahkan tak ada tulisan yang kau tujukan untukku dibuku diarymu itu. Kalau kau benar2 mencintainya, gapailah. Aku tau kau juga tak bisa hidup tanpanya. It’s true right?”
“tapi oppa.. bagaimana-“
“jangan pikirkan aku miyoung~ahh.. aku memang sempat marah karena ini, tapi ini aku lakukan demi orang yang benar2 aku cintai. Aku benar2 akan merasa bahagia jika kau bahagia juga. Goo!!”

 

Taeyeon POV

“kenapa kau disini? Bukannya harusnya kau dan nickhun oppa-“ belumm sempat aku menyelesaikan kata2ku, dia berlari kearah dan merengkuh tubuhku dalam pelukannya.

“kenapa baru sekarang kau menyesal? Aku menunggumu. Aku selalu menunggu, aku yakin bahkan sangat yakin jika kau akan kembali padaku.” Tangisannya meledak. Aku tau ini semua salahku. Mianhe miyoung~ahh.. kau harus mengalami hal seperti ini. Mianhe khunie oppa.

“i’m so sorry. But, i have anythink else to say about that. I’m so speechles. But i still love you. Before, and forever.” Ucapku lirih.

Mata kami bertemu, best of eye contact yang selalu kami banggakan. Saling mengikatkan janji selamanya di tempat ini, untuk selalu mencintai satu sama lain. Hujan badai dalam hatiku sudah berlalu, pelangi indah kini menghiasi kehidupanku yang sebelumnya belum sepenuhnya berwarna.

-END-

yeeyyyyy!!! setelah sekian lama menghilang dari peradaban, saya kembali muncul ^^ mempersembah FF one shoot terbaru saya. ndak panjang2 deh, cuman ngasih saran aja, bacanya sambil ndengerin lagu mereka yakkk u,u annyeeoonngg.. trima kasih buat kunjungan dan masukannya :)

[Chap 7] Back To Reach Your Love

page

 

Author POV

Malam ini benar2 membahagiakan untuk orang2 yg berada diruangan. Kembalinya taeyeon membuat semua kawannya bersorak gembira, memeluknya, mencium2nya serasa bertahun2 mereka tak bertemu dengannya. Satu perkara setelahnya datang tiba2 bersamaan dengan sadarnya taeyeon dari kondisi kritisnya.

“taeyeon~ahh..” gadis ini mendekat kearah taeyeon yg sebelumnya berada jauh dari ranjang taeyeon. Tiffany menatapnya lekat. Tapi balasanyya hanya dengan tatapan kaku dan bingung dari pihak taeyeon. Jelas sekali jika tiffany juga merasa sangat senang karena kembalinya taeyeon. Dia berjanji akan meminta maaf atas apa yg selama ini terjadi, dan memintanya kembali, walaupun belum tentu taeyeon akan menerimanya, lagi. Teman2nya menatap kearah tiffany, masih bingung dengan tingkahnya tiba2 yg mendatangi taeyeon, terkecuali yuri dan jessica yg memang sudah tau menau tentang hal apa yg sebenarnya terjadi. Seulas senyum mereka dibibir tiffany, eyesmile yg indah kembali Nampak untuk gadis dihadapannya. Tapi disisi lain hanya menimbulkan kebingungan yg mendalam. Masker yg menutupi sekitar mulut taeyeon menyebabkan dia tak bisa berucap, dan lagi karena kesadaranya yg juga baru beberapa menit pulih.

Dokter dan suster yg menangani taeyeon, mulai memeriksa keadaan taeyeon. Kembali kedelapan temannya harus menunggu diluar.

“taeyeon daaeeebbaakkk!” seru sooyoung dengan bangganya. Kesenangan mereka benar2 tak bisa disembunyikan, karena gadis itu benar2 berharga bagi mereka. Nine Is One. Itu semboyan mereka bersembilan. Layaknya girl group.

Beberapa menit berselang. Dokter keluar dengan seulas senyuman bangga.

“hebat. Kondisinya naik sangat drastis. Benar2 gadis yg sangat kuat. Baru kali ini saya menangani pasien seExtream dia. Koma yg cukup panjang dan 2X hampir kehilangan nyawa, bukan kah itu sangat hebat? Hahaha. Saya merasa sangat bangga memiliki pasien sehebat dia. Kalian boleh kembali masuk kedalam.” Mereka tertawa bersama dokter itu, sambil menjabat tangannya. Berterima kasih karena selama ini juga ikut khawatir atas keadaan taeyeon.

———————————-

Tiffany POV
hatiku merasa berbunga-bunga bisa kembali melihatnya hidup. Aku akan mengungkapkan permintaan maafku juga mengungkapkan segala perasaanku setelah dia benar2 bisa kembali terlihat ceria, kembali tersenyum, tertawa dan melakukan hal2 konyol lagi. Aku akan menunggunya jika dia belum bisa menerimaku atau memaafku, tapi aku benar2 yakin dia akan memaafkanku walau belum bisa menerimaku kembali. Taeyeon bukanlah gadis yg buruk dalam memaafkan apalagi jika aku yg meminta maaf. Aku yakin itu.

“ya! Apa kau sudah benar2 sadar?” sooyoung dengan cepat mendekat kearah taeyeon dan dibalas dengan mehindari wajahnya yg sangat dekat dengan wajah taeyeon. Jelas dia belum bisa bicara dengan bebas karena masker oxy yg masih melekat disekitar mulut hingga menutupi hidungnya. Terlihat jelas kalau dia benar2 tak nyaman dengan itu. wajah tenangnya membuatku semakin ingin mencium pipinya. Bukan wajah tenang yg selama ini membuatku muak. Itu wajah tenang yg membuatku sangat gemas.

“apa ini membuatmu tak nyaman? aku bisa membantumu untuk melepaskannya.” Dengan refleks cepat jessica mengambil alih perhatian taeyeon. Taeyeon mengangguk sebagai jawabannya. Sudah kuduga sebelumnya kalau dia benar2 merasa tak nyaman dengan itu. dengan perlahan jessica membantunya melepas masker itu. kini taeyeon benar2 nampak seperi boneka. Wajah polosnya terlihat jelas, walaupun masih belum juga bersinar seperti biasanya bak mentari di pagi hari, tapi ini sungguh membuatku kembali teristimewa mengaguminya.
“kamsahee sooyeon~ahh. Wae? Kenapa aku bisa disini? Ada apa denganku? Kenapa banyak sekali kabel berserakan disekujur tubuhku?” tanyanya beruntun. Ini sedikit kelawatan bagi orang yg baru saja bangkit dari koma. Keadaannya dengan cepat naik membaik.

“kau benar tak mengingat apa2 taeng?” jessica balik bertanya, sesekali mengusap peluh wajah taeyeon. Aku ingin melakukannya tapi fungsi fisiologisku melarangku untuk itu. Karena itu akan membuatnya terkejut dan mungkin akan melakukan penolakan.

“kenapa dikepalaku rasanya hanya ada angin? Blank. Bahkan..” dia berhenti sesaat saat memandangku, mengalihkan pandangan kearahku. Menelaah tatapan mataku. Tatapan polos yg belum bisa aku artikan. Dia masih memandangiku, entah kenapa aku tak bisa menolak eye contact diantara kami. Apa ini pertanda bagus untukku?
“nuguyaa??” Tanya lemas, polos, dan membuatku terhentakk kaget. Semua mata kini tertuju kearah taeyeon. Dan satu lagi yg membuatku berpikir. Hanya aku yang tak dia ingat? Apa itu benar? Dia tak mengenaliku? Jantungku berdenyut kencang. Seketika itu juga pandanganku sedikit kabur.

“taeyeon~ahh..” jessica membuyarkan kesunyian.

“wae?” aku bisa makklum dengan jawabannya yg lemas, karena dia baru saja keluar dari masa komanya. Lirih, aku harus memasang telingaku baik2 untuk mendegarnya. Tapi tadi benar2 terdengar jelas. Benarkah dia tak mengenaliku??

“taetae? Aku miyoung. Tiffany hwang miyoung.” Aku mendekat kearahnya, menggenggam tangannya dan tak lupa terus menatap matanya berharap dia mengenaliku, dan tadi hanyalah imajinasiku.

“mianhee.” Setelah itu dia melepaskan genggamanku, berbalik meremas bagian kepalanya. Wajahnya kembali memunculkan raut kesakitan.

“waeee??” Tanya kami bersamaan. Tapi tak ada jawaban darinya, hanya erangan kesakitan yg terdengar. Dengan cepat sooyoung dan yoona berlali mencari dokter untuk pemeriksaan.

Dokter kembali datang dengan suster dan juga alat2 medis. Kembali taeyeon harus menerima suntikan penenang. Dia memang belom boleh banyak melakukan aktifitas, berbicara pun juga bagian dari aktifitas yg sedikit memacu kerja otaknya. Dia harus istirahat total. Perkataan dokter membuat kami masih belom puas dengan keadaan taeyeon. Sama halnya dengan tadi, aku terdiam lemas diluar ruangan taeyeon. Masih terngiang tentang pertanyaan simple tapi begitu menyakitkan untukku. aku tak bisa membayangkan jika taeyeon benar2 harus kehilangan ingatan tentangku, tentang kita, yg jelas tengtang masa lalu percintaan kami berdua.

“fany~ahh.. aku ingin memberitahukan sesuatu padamu.” Yuri menghampiriku. Wajahnya tampak gusar, seperti baru saja menerima informasi buruk.

“wae?” aku menyipitkan mataku.

“emmmhh… tadi aku sempat berbincang2 dengan dokter. Aku mnyadari karena tadi aku juga ikut mendengar dan ikut merasa khawatir. Dokter mengatakan kalau taeyeon mengalami amnesia desosiatif. Benturan dikepalanya itu penyebabnya. Gegarotak ringan, dan gantinya dia harus mengalami hal itu.  Memorinya tentang seseorang yg berharga baginya hilang.” Kakiku semakin melemah. Kepala pun kini sangat pusing, apa yg yuri katakan benar2 membuatku shock. Ternyata benar, ini memang balasan untukku, ini memang karma yg harus aku terima, karena selama ini akulah yg bersalah, akulah yg menyakitinya, menenggelamkannya dalam lautan kesedihan. Aku menerimanya, ya memang sejak awal aku sudah bersiap untuk menerima hal ini. Apapun yg terjadi, aku tetap akan berusaha untuk kembali membahagiakannya, untuk merengkuh kembali cintanya, tak peduli apakah dia menanggapinya atau bahkan membiarkannya. Hati benar2 susah untuk memaafkan diriku sendiri. Semua ini memang salahku. Dia terus memikirkanku. Teringat saat dulu dia pernah mengatakan…

Flashback :

“sudah sangat lama sekali aku ingin kesini bersamamu miyoung~ahh.. dan akhirnya kita benar2 bisa datang kemari.” Senyum dorknya yg selalu membuatku sangat gemas. Hari itu aku bersama dia pergi ke taman bermain. Dia begitu memaksa ingin pergi, dia merelakan sehari kuliahnya hanya untuk memaksaku menemaninya ke taman bermain. Lucu sekali.

“tapi seharusnya kita pergi kesini saat libur. Bukanya harus bolos seperti ini.” Omelku. Memang aku kurang setuju dengan apa yg dia lakukan. Tapi kalau dia sudah rewel dan sangat berisik, bagaimana bisa aku menolaknya.

“anddwwweee! Jika libur kau pasti pergi bersama sunny untuk jalan2 ke maall, dan melupakan aku yang masih tertidur di kamar..” Bibirnya mengerucut. Aku menganggap dia seperti anak SD yang masih sangat polos dan manja. Sama sekali tak mencerminkan anak kuliahan yg sibuk dengan berbagai tugas, paper dan sebagainya. Itu yg aku banggakan dari dirinya.

Banyak sekali wahana yg kami nikmati. Dari pagi hingga tak terasa sudah menginjak malam. Kami memutuskan untuk makan disebuah restoran paris. Lagi2 dia yg selalu memaksaku. Aku sudah memintanya untuk pergi ke rumah makan cina kesukaannya. Aku tau kalau dia tak begitu menyukai masakan barat. Alasanya karena dia ingin menuruti permintaanku, padahal aku tak meminta apa2. Tapi sudahlah, namanya juga cinta.

“miyoung~ahh.. sebenarnya apa tujuanmu hidup?” dia membuka bicara. Dengan polosnya, dan wajah kiddonya yg menggemaskan.

“hmmm.. aku ingin memotret semua yg ada didunia, memotret keindahan, dan kecantikan dunia. Tapi bukan dengan kamera. Dengan hatiku. Kenangan yg indah bersamamupun ingin kupotret dengan hatiku.” Ucapku dengan seulas senyuman. “lalu, bagaimana denganmu?” aku berbalik Tanya.

“kalau akuuu..” dia mengeluarkan aegyonya sebelum berucap. Anak ini benar2 bisa membuatku gila. Bagaimana bisa aku tidak mencintainya jika dia sampai setega ini melelehkan hatiku.

“aku sangat ingin memiliki kekasih yang benar2 bisa membahagiakanku. Dan aku percaya itu adalah Miyoungku tersayang. Aku rela harus menerima apa saja jika Miyoungku merasa bahagia, itu jelas sangat membuatku bahagia. Itu alasan aku hidup untuk saat ini. Miyoung is my reason.” Dia menarik tanganku dan meninggalkan ciuman dipunggung tanganku.

——————————

“fany~ahh.. jangan terlalu dipikirkan. Dokter juga mengatakan kalau itu bisa dikembalikan. Tapi memang membutuhkan waktu yg cukup lama. Kau sanggup bukan?” jessica ikut bergabung dalam perbincangan, sambil mengaitkan tangannya kelengan yuri.

“aku sudah mengatakan sebelumnya, aku sudah siap dengan ini. Jadi aku tak akan mundur. Sampai saat ini aku belum bisa membahagiakannya, hanya menyakitinya. Aku ingin mewujudkan tujuan hidupnya. Sooyeon~ahh, yuri~ahh.. aku membutuhkan kalian untuk ini.” Aku menundukan kepalaku, rasanya lelah sekali. Aku ingin tidur panjang, pening dikepalaku benar2 sudah membanjir.

“kami akan selalu disisimu fany~ahh.. masih ada teman2 yg akan membantu, kau tak perlu khawatir. Apa kau mau kuantar pulang?” ucap yuri. Sepertinya akan lebih baik jika aku memang harus beristirahat untuk beberapa saat. Pusing yg menghampiriku tadi semakin mengambil alih kondisiku.

Aku mengangguk meniyakan setelah beberapa detik berpikir. Yuri dengan sigap merangkulku karena melihat jalanku yg limbung.

——————————–

Taeyeon POV
seluruh tubuhku rasanya pegal, ingin sekali aku bangkit dari tidurku, meregangkan tubuhku, tapi kabel2 ini benar2 menggangguku, satu lagi yg membuatku susah, pegal2 ini nampaknya tak mengizinkanku untuk bangkit. Menyebalkan! Aku membuka perlahan mataku. Bosan dengan tidurku yg tadi. Suntikan penenang itu memang berhasil membuatku tertidur. Tapi tetap saja aku melawannya karena aku bosan terus2an memejamkan mataku dan beristirahat.

“yaa! Kenapa kau bangun?” dihadapanku kini sooyoung kembali mendekatkan wajahnya. Anak ini benar2 mengganggu.

“youngie~ahhh..” eluhhku. Detik selanjutnya dia menjauhkan wajahnya, disambung dengan usapan lembut didahiku.
“kenapa kau bangun? Kau harus banyak istirahat taeyeon~ahh..” sunny mengusap2 dahiku.

“aku bosan jika harus tertidur sepanjang hari.” Aku celingukan. “kemana jessica dan yuri?”

“mereka sedang pulang beristirahat. Kau tak mencari tiffany?” jawab sooyoung. Tiffanya?? Nuguya?? Nama itu rasanya tak asing untukku. tapi kenapa aku tak mengingat dia? Arrggghhh.. nuguyaaaa???? Ahhh jinnjjaaa… kenapa aku  tiba2 mendadak menjadi pusing begini??

“yaa! Taeyeon~ahh! Waeegurae???”
“kepalaku pusingg youngie~ahhh. Akhhhkkh..”

———————————–

Tiffany POV

Masih terasa pening yang tadi sempat bersarang dikepalaku, bahkan belum berkurang sedikitpun… itu mungkin karena sampai sekarang aku masih memikirkan taeyeon, aku merasa kalau ini adalah sebuah rencana yang sudah tersusun rapi dalam hidupku, membentuk sebuah labirin besar yang harus aku temukan jalan keluarnya.

Seorang Taeyeon yang mampu membuatku merasa tertekan. Bukan karena rasa sakit hati. But my feel make her so hurt, and because of me make her until now. Taeyeon~ahh,, kurasa saat ini adalah giliranku untuk menggantikan sang bulan untuk membahagiakanmu. Sang bulan yang dulu telah menyakitimu, dan kini bulan yang baru akan hadir untuk mewujudkan tujuanmu, dan juga membahagiakanmu. Kau kini begitu bermakna bagiku, layaknya dulu. Kau adalah hartaku yang tak ada harganya, bukan berarti gratis, tapi memang tak terhingga, sehingga tak ada satu orang pun yang bisa meraih cintamu.. memang aku sangat bodoh meninggalkamu waktu itu. aku menelan habis-habis preasaan cemburu dan membuatku tak mencari setitik kebenaran. Beruntun. Aku terima itu. mungkin kedepan masih akan ada tantangan yang masih harus aku terima dan harus juga untuk aku lalui.

“miyoung~ahh.. kau memikirkanku?” suara ini.. suara ini muncul kembali. Tak terasa membuatku harus mengeluarkan air mataku.

“taeyeon~ahhh??? Kau mengingatku?” tanyaku lemah.

“aku yang disana memang melupakanmu. Tapi aku yang sekarang yang berbicara denganmu sama sekali tak bisa dan tak akan melupakanmmu. Kuharap kau memintaku kembali, dan mengembalikan taeyeon ini ke taeyeon yang melupakanmu.” Dengan sangat lembut dia mengucapkan itu.

“aku minta maaf, aku terlalu egois oleh perasaanku dan membuatmu sampai sekarang.” Suaraku tenggelam dalam isakan, tak bisa menahan perasaan meluap ini, kesalahan dan cinta yang sangat kuat bercampur aduk menjadi satu.

“kau ingat kalimat yg aku ucapkan, saat-saat terakhir kita menjalin hubungan? Aku tak akan menerima permintaan maafmu, karena aku mencintaimu miyoung~ahh. Cinta tak mengenal kata maaf. Cinta tak membiarkan pihak miyoung dan taeyeon melakukan kesalahan, jika itu terjadi, maka kata maaf akan terucap dalam hati.” Aku merasakan. Aku merasakannya, dia menyentuh pipiku. Aku ingin menyentuhnya, aku ingin menggenggam tangannya dan merasakan kehangatan tubuhnya. Aku ingin memeluknya. Aku ingin kembali merasakan cintanya.

“taeyeon~ahh.. aku ingin memelukmu. Aku merindukanmu. Merindukan semua tentangmu. Aku sangat lemah sekarang. Begitu rapuh. Aku..akuu-“ tak kulanjutkan kata-kataku. Aku terlalu tenggelam dala tangisan dan itu membuatku susah untuk mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan didedapnya.

Kini tangannya berpindah mengusap rambutku. Aku merasa dia sangat dekat. Dia sangat dekat, wajahku dengan wajahnya sangat dekat. Aku bisa merasakannya. “miyoung~ahh.. apapun yang terjadi, aku selalu disisimu. Aku tak akan membiarkanmu sendirian.” Kini tubuhku rasanya semakin menghangat.

“kau bisa merasakannya?? Sayang sekali aku belum bisa merasakan ini. Kau sangat menginginkanku bukan?? Berjuanglah miyoung~ahh.. reach back taeyeon!” kehangatan yang tadi sempat menenggelamkanku dalam lautan kerinduan semakin lama semakin memudar, bahkan hilang. Dan kali ini tangisanku benar2 meledak. Aku ingin berteriakk.. aku ingin berteriak sekeras-kerasnya.

“ya! Kenapa kau malah semakin kencang menangis!?? Hapus air matamu. Sebentar lagi jessica akan menghampirimu. Aku harus pergi dulu. Miyoung~ahh.. saranghae.” Katanya. Dan setelahnya aku tak merasakan lagi kehadirannya.

———————————

Author POV

Mendengar tangisan tiffany dari kamarnya. Jessica pun datang menghampirinya, yang jelas dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada tiffany.

“fany~ahh.. gwenchana??” dengan langkah cepat jessica mendekap tiffany dalam pelukan. Dua gadis ini nampaknya benar2 sudah kembali seperti disaat mereka pertama kali kenal. Saling memperhatikan, dan tampak seperti saudara kembar.

“why? Kau membuatku takut. Kenapa kau menangis begitu kencang?” Tanya jessica lagi. Dipihak lain tiffany semakin tenggelam dalam pelukan jessica, menahan tangisannya supaya tak keluar. Tapi apa daya, dia tetap tak kuat.

“sooyeon~ahh.. kau mungkin tak akan percaya.” Dengan susah payah tiffany mencoba berucap. Suaranya masih saja tenggelam dalam isakan.

“wae?? Ceritakan padaku. Apa yg sedang kau pikirkan hingga menangis sangat kencang seperti tadi?” Tanya jessica, masih penasaran tentang hal apa yg membuat tiffany hingga sebegini sedihnya. Situasi memang sangat mendorong tiffany menjadi sangat sedih, tapi bagaimanapun juga jessica memang belum pernah mendengar tangisan histeris dari tiffany.

“dia masih mengingatku. Dia menyentuh pipiku, mengusap2 rambutku, bahkan dia memelukku. Aku merasakannya sica. Aku merasakan sentuhan2 lembutnya. Aku bahkan bisa berbicara dengannya. Aku. Aku. Ahhhh.. jinnja. Aku sangat lelah. It’s all make me crazy.” Bahkan saat tiffany berbicara dia sama sekali tak berenti mempererat pelukannya pada jessica.

“aku percaya itu fany~ahh. Sekarang kau tidurlah. Kau terlihat sangat lelah.” Layaknya seorang ibu, jessica menenangkan tiffany, mengusap2 rambutnya, sesekali menepuk lembut punggunya. Jelas sekali jika jessica ikut merasa sedih tentang apa yg terjadi pada sahabatny ini.

“apa kau mau kubuatkan susu hangat untuk penghantar tidur?” yuri pun ikut masuk dalam obrolan, yuri dan jessica benar2 tampak khawatir pada tiffany. jika dia tidak beristirahat, dia akan sakit juga. Tapi ternyata tak ada jawaban dari tiffany. jessica menyingkirkan helai demi helai anak rambut yg menutupi wajah tiffany. tak menyangka, ternyata tiffany sudah lelap dalam tidur.

“yul tubuhnya hangat.” Jessica meletakkan telapak tangannya didahi tiffany. dengan cepat yuri keluar dari kamar, mengambil air hangat.

“sepertinya dia benar2 terpukul. Baru kali ini dia seperti ini, saat berpisah dengan taeng, dia tak pernah sampai sebegini kacaunya. Penyesalan memang datang diakhir. Fany~ahh.. jangan putus asa, kami akan membantumu.” Yuri mengusap lembut dahi tiffany, selanjutnya jessica mengompres.

Terlihat sekali tiffany tertidur sangat tak nyaman. beberapa kali dia mengigau, wajahnya tampak pucat. Orang gadis yg masih berjaga disana ikut merasa tak tenang.
“apa lebih baik kita bawa saja dia kerumah sakit? Tampaknya dia memang membutuhkan perawatan dokter yul.” Ucap jessica.

“no sicaa.. aku hanya ingin tidur. Aku tak mau ke rumah sakit. Biarkan aku dirumah saja. Aku yakin besok aku akan sehat. Gwenchanna.” Tiffany memotong. Masih terpejam.

“arrraa fany~ahh.. tidurlaahhh..” jessica mengerti keadaan temannya itu. dan lagi, tiffany memang sangat anti dengan perawatan rumah sakit.

————————————-

Tiffany POV
Haruskah aku kembali menahan air mataku? Yang bahkan aku sendiri juga tak tau artinya. Malam ini sungguh dingin. Sedari tadi aku terus terpejam, tapi aku tetap terjaga. Rintik air yg berdenting di genting membuatku merasa hati ini sedikit perih mengingat saat ini adalah saat2 dimana aku harus  bergelut dengan emosi dan cinta. Jika saja hujan bisa menjawab dan membantuku menyelesaikan ini. Tapi sayang hujan hanya bisa mendengar. Kurasa memang hanya hujan yg mengerti aku.

Aku takut kembali harus membuka mata untuk suatu kisah yang baru. Akan kah adalagi?  Rasa lega yg sempat aku rasa di masalalu. Benarkah ini akan terjadi padaku? Benarkah begini adanya? Bayangmu semakin jauh didunia nyata, walau aku tau kau begitu dekat padaku.

Cinta seperti pembawa, bukan pemberi. Aku takut jika, aku menemaninya tapi dia tak singgah. Aku menemukannya tapi tetap mencari. Aku mengejarnya tapi dia disini. Akan kah hal ini terjadi? Taeyeon~ahh.. kenapa baru saat ini aku merasakan kegamangan yg begitu merebut segala hidupku? Aku baru sadar jika kau itu begitu berharga bagiku. Aku ingin menggapaimu. Aku merindukanmu, aku tak bisa lagi menggambarkan seperti apa aku membutuhkanmu.

Perlahan kubuka mataku, mengembalikan laju pandangku. Jessica dan yuri tertidur di sofa kamarku dengan hangatnya pelukan mereka. Membayangkan jika mereka itu adalah aku dan dia. Betapa indah rasanya.

Aku berjalan keluar kamar. Sedikit terhuyung, kepalaku masih terasa pusing, memang benar ternyata memang badanku hangat. Ini masih lebih baik dari pada saat di rumah sakit. Bahkan aku tak bisa merasakan apa2. Mati rasa.

Balkon, tempat ini begitu tenang tapi tetap dingin karena air hujan yg masih berjatuhan menimpa bumi. Kuletakkan tubuhku dikursi santai, menatap menerawang langit mendung. Menyerap dinginnya malam hujan ini.

“kau belum tidur?” suara lembut kini hadir lagi menyapaku, membuatku kembali harus menahan air mata.

“taetae. Kukira kau tak akan hadir lagi. Aku tak bisa tertidur. Aku terlalu memikirkanmu, membuatku merasa kalau rasa kantukku terhisap blackhole.” Sergahku.

“sudah kubilang, aku akan selalu datang untukmu. Kau sakit miyoung~ahh. Tidurlah.”

“aku masih ingin bersamamu, jebal temani aku.” Air mataku perlahan kembali mengalir membahasahi pipiku.

“arraaa.. aku akan menemanimu sampai tertidur, sekarang masuk ke kamarmu.” Ucapnya. Entah kenapa aku merasa suaranya itu benar2 taeyeon yg asli. Emm.. bukan hanya dibayangku saja.

Aku mengangguk lemah, berjalan kembali kekamar. Jessica dan yuri masih pada posisi seperti sebelum aku meninggalkan kamar ini. Tampaknya mereka berdu sangat kelelahan. Mulai kubaringkan tubuhku diranjang, kutarik selimut hingga tubuhku tertutup.

“With every appearance by you, blinding my eyes,
I can hardly remember the last time I felt like I do.
You’re an angel disguised.

And you’re lying real still,
But your heart beat is fast just like mine.
And the movie’s long over,
That’s three that have passed, one more’s fine.

Will you stay awake for me?
I don’t wanna miss anything
I don’t wanna miss anything
I will share the air I breathe,
I’ll give you my heart on a string,
I just don’t wanna miss anything.

I’m trying real hard not to shake. I’m biting my tongue,
But I’m feeling alive and with every breathe that I take,
I feel like I’ve won. You’re my key to survival.”

Aku bisa mendengarnya, senandung lembut nan merdu ini. Kembali sekian kali nya aku harus menangis. Aku bisa mendengarkan dia menyenandungkan lagu ini. Betapa menyentuh dan merdu suaranya.

“kau suka lagu ini bukan??” ucapnya.

 

I’m staring at the glass in front of me, 
is it half empty of our wins or have i ruined all you’ve given me?
I know I’ve been selfish, 
I know I’ve been foolish, 
but look through that 
and you will see, 
I’ll do better, I know, 
Baby, I can do better.

If you leave me tonight, I’ll wake up alone, 
don’t tell me I will make it on my own, 
don’t leave me tonight, 
this heart of stone will sing till it dies 
if you leave me tonight. 

Sometimes I stare at you while you are sleeping, 
I listen to your breathing, 
amazed how I somehow managed to 
sweep you off your feet girl, 
your perfect little feet girl 
I took for granted what you do. 
But I’ll do better, I know 
Baby, I can do better.

Aku pun ikut menyanyikan sebuah lagu. Lagu favoritenya. Lagu ini begitu menggambarkan diriku yg saat ini merasa sangat bersalah padanya. masih belum selesai segala penyesalanku. Aku masih marah, aku masih sangat membenci diriku sendiri. Belum bisa memaafkan segala yg aku lakukan, hingga menyakitinya.

“aku suka lagu tadi taeng. Kau membuatku menangis.” Isakanku kembali terdengar.

“kurasa bukan hanya kau yg menangis. Kau tau, lagu yg kau nyanyikan barusan? Ternyata kau juga masih mengingat betapa aku sangat menyukai lagu itu.” ya, aku juga mendengar perubahan suaranya.

“stay close don’t go! Taetae. Aku masih takut.”

“I will forever close to you miyoung~ahh. You’re my jewel. You’re my key to survival. Now, go sleep.”

Aku menganggukan kepala, sebagai jawaban.

pagi ada ketika malam berlalu, dan engkau ada ketika malamku berlalu. Sebuah cinta datang tanpa memberitahu kehadirannya. Tapi ia menyentuhku saat disampingku bisakah aku menyentuhnya juga, dan menggenggamnya ketika akan pergi.  ataukah ia akan tinggal selamanya ? atau hanya ada jika engkau ada?
Tuhan, bisikan aku sesuatu tenangkanlah jiwaku, biarkan hatiku mengerti tentang cinta
mengerti tentang apa yang kurasakan. Ini begitu menyiksakuu.. bukan hanya menenggelamkanku dalam lautan airmata, ini rasanya sudah mati tenggelam..

memejamkan mataku, kembali masuk dalam drama indah di dalam mimpi. Berlari-lari kecil, mengejar seorang gadis memutari air mancur. Betapa menggemaskannya gadis itu. pelangi di langit yg menghiasi taman indah ini benar2 menambah suasana hangat. I will reach you taetae! Wait for me. Aku akan tetap tegar untukmu. Tak akan menyerah hingga kau kembali padaku.

-TBC-

haaahhhhh!!! maaf readerss, lama menghilang dari peradaban, saya lupa bilang dichaps sebelumnya kalau mau hiatus dulu, banyak tugas yg menanti, dan ujian sudah dekat. kembali saya harus berusaha mencari waktu yg pas buat nulis, karena benar2 belum diijinkan oleh tugas dan update’an soshi yg makin bejibun >.<

dan sekarang saatnya saya menyampaikan, mau hiatus dulu sesaat, mungkin akan comeback sekitar 2mingguan :) caaaaooooo ^^